
"Kamu itu enggak pernah tahu rasanya jadi Mommy seperti apa, rumah tangga yang terlihat romantis setiap harinya bisa berubah sangat menyedihkan hanya karena wanita itu! Dimana Mommy menyaksikan sendiri dengan mata kepala Mommy, bila suami yang sangat Mommy cintai telah menodai janji suci sebuah pernikahan!"
"Mommy tahu Mommy sudah tidak secantik wanita muda lainnya, Mommy sadar umur Mommy sudah berapa. Tapi, bukan gini cara Daddymu memperlakukan Mommy! Buat apa setiap menit dia romantis, bersikap manis dan sebagainya jika pada akhirnya menyakitkan? Buat apa, hahh!"
"Kamu itu jadi anak seharusnya mendukung salah satu dari orang tuamu yang benar, kamu rangkul dia ketika hatinya sedang tidak baik-baik saja. Bukan malah menyamaratakan Mommy dengan Daddymu yang gila kasih sayang itu!"
"Sakit, Naku. Sakit! Rasanya ingin sekali Mommy mengakhiri hidup. Tapi, Mommy ingat. Mommy punya kamu sebagai penguat! Terus apa yang Mommy dapatkan sekarang? Setelah kamu mengetahui semuanya, kamu malah tetap menyalahkan Mommy. Jelas-jelas di situ yang bersalah Daddymu, bukan Mommy. Jadi di sini siapa yang egois, hahh? Siapa!"
Luapan semua emosi yang Becca tahan, benar-benar meledak di depan Naku. Suara lantang, keras dan juga terdengar sangat sakit berhasil menyentuh hati Naku.
Sebenarnya dia tidak tega melihat Mommynya di perlakukan seperti itu oleh Daddynya sendiri. Akan tetapi, Naku juga sangat marah ketika semua itu harus di rahasiakan darinya selaku anak mereka sendiri.
Usia Naku memang masih di bawah 17 tahun, tetapi dia juga berhak untuk tahu apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Dan dia juga harus mengetahui semua masalah ini, supaya pikiran yang labil tidak sampai mengganggu mentalnya.
Becca menangisz lalu uduk di tepi ranjang Naku dalam posisi membungkuk sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menjelaskan tentang perasaannya pada Naku, dimana apa yang dia terima dari suaminya itu sangat melukai hatinya.
Namun, Naku yang masih memiliki pikiran yang bercabang belum terlalu bisa merasakan apa yang Mommynya rasakan.
Sampai akhirnya selama beberapa menit hanya terdengar suara isak tangis Becca dan juga tatapan Naku yang penuh kebencian. Kini, Becca kembali mengutarakan kata-kata yang mampu menarik emosi Naku. Sehingga kadar emosi yang sudah begitu penuh, langsung membludak tanpa henti.
"Baiklah, jika kamu terus menyalahkan Mommy. Sama saja kamu membela Daddymu sendiri yang jelas-jelas telah menyakiti hatiku dan merusak mentalku. Lebih baik, sekarang Mommy pergi dari sini. Kau bisa ikut Daddymu, mungkin itu jauh lebih baik. Maaf bila selama ini aku belum bisa menjadi seorang Mommy yang baik untukmu dan juga seorang istri yang sangat mencintai suamiku!
"Maaf, beribu maaf! Harapanku telah pupus, aku bertahan hanya demi anakku sendiri. Sebab aku belum siap untuk mengungkapkan semua itu padamu, tapi pada dasarnya. Aku juga yang harus menerima kenyataan, jika anak dan suamiku memang tidak pernah menganggapku ada!"
Becca berdiri dari ranjang Naku, lalu mengusap air matanya dengan kasar. Kemudian berjalan mendekati pintu dalam keadaan hati yang sangat hancur. Cintanya telah di khianati oleh suaminya, kini harus menelan kenyataan bila anaknya telah berpihak pada suaminya.
Disaat Becca berdiri di depan pintu sambil merogoh tas kecilnya untuk mengambil kunci kamar Naku. Dia mendengar suara tepukan tangan yang sangat nyaring dari Naku.
Posisi seperti ini membuat Becca menjadi bingung, jika memang Naku berpihak pada Gala. Lantas kenapa wajahnya terlihat begitu emosi setelah mendengar kalau Becca akan pergi meninggalkan mereka? Di situlah terjadi kegelisahan dan juga dilema di hati Becca.
"Sudah selesai sandiwaramu, Mom? Jika kita membicarakan soal mental, maka jawabannya bukan kalian. Melainkan aku! Dimana aku harus mendapati kedua orang tua yang memiliki keegoisan masing-masing. Daddy dengan kelakuan menjijikannya dan Mommy? Mommy tetap berusaha menjadi istrinya yang sangat sempurna, hingga tanpa sadar menutupi sikap salah suaminya yang mampu melukai hati anaknya!"
"Jika memang Mommy merasakan sakit atas perlakuan Daddy, kenapa Mommy tidak bilang sama Naku, hahh? Kenapa!"
"Apa Mommy lupa, Naku ini sudah besar walaupun umur Naku belum memasuki kategori dewasa. Akan tetapi, Naku sudah bisa mengerti bagaimana rasa sakit yang Mommy rasakan ketika melihat Daddy seperti itu. Hanya saja, Naku kecewa sama Mommy karena telah merahasiakan sesuatu sebesar ini dari Naku!"
"Ingat, Mom. Jika Mommy menginginkan yang terbaik untuk Naku, bukan seperti ini caranya. Lebih baik Mommy jujur ketika Mommy tahu perselingkuhan Daddy sama wanita kejam itu. Bukan malah terus diam membisu bagaikan wanita tidak punya harga diri!"
"Sekarang Naku tanya sama Mommy, di saat Mommy tahu semua tentang kelakuan Daddy bahkan sudah ada bukti yang kuat. Terus kenapa Mommy tetap diam. Hahh? Jangan bilang kalau semua itu demi menjaga perasaan Naku? Iya!"
"Alaaah, bulshit! Jika Mommy ingin menjaga Naku, bukan gitu caranya, Mom. Bukan gitu! Itu malah tambah menyakiti hati Naku, dimana Naku tidak tahu harus percaya dengan siapa lagi. Daddy yang sudah berkhianat, ataukah Mommy yang terus diam bagaikan orang to*lol? Katakan, Naku harus percaya dengan siapa, Mom. Siapa!"
Pada akhirnya, emosi yang Naku tahan telah meledak akibat dia tidak ingin Becca malah lebih memilih pergi untuk meninggalkan masalah dan juga anaknya. Tanpa Becca sadari, Naku ada di pihaknya. Hanya saja dia tidak ingin terus melihat Becca hanya bisa diam menerima semuanya, tanpa harus melawannya.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung