
Ketika Rio ingin memasuki kamar Yola, tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat melihat melihat Becca dan Yola sedang berpelukan satu sama lain. Di mana Rio tanpa sengaja mendengar percakapan yang semakin membuat hatinya tersayat.
"Buma, Yola kangen banget sama Buma. Kenapa Buma jarang main ke rumah Yola, terus juga kenapa kalau Yola ingin main ke rumah Buma, Daddy selalu bilang Buma sibuk. Emangnya Buma sibuk apa? Kok sampai lupa sama Yola?"
"Apa jangan-jangan Buma sudah tidak sayang lagi sama Yola? Kalau gitu, Buma udah lupa sama Yola. Itu artinya Buma tidak akan pernah jadi Mommy Yola dong?"
"Terus gimana sama teman-teman Yola? Yola udah bilang sama mereka semua, nanti Yola akan kenalin Buma biar mereka tahu, Yola juga punya Mommy sama Daddy!"
Pelukan Becca mulai merenggang saat dia mendengar kata-kata anak seusia Yola. Becca tidak menyangka Yola bisa seantusias itu ingin menjadikan dirinya sebagai Ibu sambungnya. Sementara Becca saja, tidak tahu perasaan apa yang dia miliki untuk Rio. Terlepas dari semua rasa yang perlahan mulai hilang untuk Gala.
Berat rasanya bibir itu terbuka untuk menjawab pertanyaan yang terbilang mudah, tetapi sangat sulit di ungkapkan. Becca tidak ingin mengecewakan Yola, apa bila dia berkata jujur kalau akhir-akhir ini sikap Naku terbilang cukup susah di tebak.
Terkadang Naku dengan mudahnya memperbolehkan Becca bermain sama Yola, terkadang juga tanpa adanya badai. Naku melarang Becca untuk lebih dekat dengannya.
Itu yang membuat Becca sampai harus menjaga jarak sama Yola, meski beberapa kali Becca nekat bertemu Rio hanya sekedar membahas bisnis mereka berdua.
"Buma kenapa diam? Apa Buma benaran udah enggak sayang Yola lagi? Atau Buma takut sama Kak Naku, 'kan dia yang tidak suka kalau Buma jadi Mommy Yola," ucap Yola sekali lagi sambil menatap Becca. Matanya mulai berkaca-kaca.
Becca langsung menggelengkan kepalanya secara perlahan, kemudian menjawab apa yang harus dia jawab agar tidak membuat Yola menjadi salah paham terhadapnya.
"Enggak kok, Sayang. Buma sayang sama Yola, sayang banget malahan. Hanya saja, pekerjaan Buma sekarang lagi sibuk banget. Benar apa kata Daddymu, jadi maafin Buma, ya. Kalau Buma belum bisa main lagi sama Yola, lagi pula Buma juga tidak takut sama Kakak Naku. Walaupun Kakak Naku orangnya cuek, pemarah dan juga kata-katanya sedikit kasar, tapi Buma yakin. Kakak Naku itu sebenarnya juga sayang sama Yola, percaya deh!"
"Masa iya, Buma? Buktinya setiap Yola telepon Buma, terus Yola mau ngobrol sama Kakak Naku, dia selalu cuek. Terus juga kalau Yola mau main ke situ enggak di bolehin, 'kan ngeselin banget!"
"Uhhh tututu, Sayangnya Buma. Jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya ilang loh. Lagian Yola lagi sakit, jadi enggak boleh mikirin yang akan membuat kepala Yola semakin pusing ya. Oke?"
"Tapi, Buma. Kapan Buma bisa jadi Mom---"
"Ehh, tunggu dulu. Kok, sekarang Yola sudah lancar bicaranya? Wahh ... Buma ketinggalan berita nih, kalau Yola semakin hari semakin pintar. Sudah tidak cadel lagi ya hihi ...."
Becca sengaja memotong pembicaraan Yola, supaya bisa mengalihkan obrolan Yola yang susah di jawab untuk saat ini. Sebab, Becca juga tidak tahu sama perasaannya yang suka naik turun kepada Rio.
"Woo ... Jelas dong, 'kan saat Buma sibuk Daddy bawain guru les buat Yola. Jadi Yola bisa tambah pinter lagi buat belajar sama ngomong, dan sekarang sudah lancar deh hehe ...."
"Uhhh ... Pinternya, sayang Buma. Harus rajin-rajin sekolahnya ya, nanti kalau udah besar bisa jadi dokter sesuai cita-cita Yola. Terus Buma bisa berobat gratis deh, ya 'kan?"
"Pasti dong, buat Buma, Daddy sama Kakak Naku nanti Yola gratisin. Jadi bisa berobat sepuasnya deh hihi ...."
"Hyaakkk, enak saja. Di kira lagi belanja bisa sepuasnya kali ya, dasar bocil nyebelin. Rasain ini, hem!"
"Haha ... Geli, Buma. Geli hihi, aduh ... Haha."
Mereka berdua tertawa bersama saat Becca mulai mengajak Yola bercanda agar dia lupa akan kesedihannya. Di mana Becca tidak tahu, apakah dia nanti bisa menjadi Ibu sambung Yola atau akan tetap menjadi seperti ini.
Setidaknya Yola bisa lupa sejenak dengan pertanyaannya yang mulai mengarah ke arah yang lebih serius. Melihat kebersamaan mereka yang sangat asyik, perlahan Rio mulai mengukirkan senyuman di bibirnya.
Di balik senyuman itu, masih ada rasa yang tidak bisa Rio katakan pada Becca. Setidaknya bisa melihat anaknya kembali sehat saja, itu sudah membuat Rio sangat senang. Tanpa harus memikirkan hal lain selain kesehatan anaknya.
Langkah kaki Rio mulai kembali berjalan dan mencoba untuk bergabung bersama mereka. Akan tetapi, Yola malah memarahinya karena kedatangan Rio malah menganggu canda mereka yang sedang asyik.
Beberapa lama, Yola kembali tertidur pulas dalam keadaan suhu badan yang sudah tidak sepanas saat dia baru datang. Becca dan Rio yang dari tadi hanya terdiam menatap wajah Yola, tanpa mengatakan satu kata apa pun.
Setelah di rasa Yola sudah aman, Becca pun segera berpamitan kembali ke kamarnya meninggalkan Yola bersama Rio agar mereka bisa beristirat dengan nyaman.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung