
"Bumaa!" teriak anak kecil yang penuh kekhawatiran saat mengetahui jika orang yang sudah di anggap sebagai Mommynya jatuh sakit.
Siapa lagi kalau bukan Yola, anak dari Rio yang selalu mengagumkan sosok Becca. Dia berlari mulai dari pintu masuk sampai berusaha untuk naik ke atas bangkar atas bantuan Rio.
"Buma, jangan sakit! Buma enggak boleh sakit, kalau Buma sakit nanti Yola sama siapa? Yola enggak mau Buma kenapa-kenapa, jadi Buma harus sehat lagi ya. Please!" titah Yola, memeluk Becca cukup erat dengan mata yang berkaca-kaca.
"Buma gapapa, Sayang. Yola jangan khawatir ya, Buma cuman kecapek'an doang kok. Serius deh," jawab Becca membalas pelukan Yola.
Setelah mendengar jawaban dari Becca, tiba-tiba Yola melepaskan pelukannya dan duduk dalam kondisi wajah menatap Becca. Di mana matanya terlihat kesal dan juga marah ketika Yola tahu kalau Becca selalu memporsil tenaganya.
"Makannya, Yola udah bilang 'kan! Buma nikah aja sama Daddy, nanti Buma bisa di rumah aja main sama Yola sama Kakak. Jadi, Buma enggak usah kerja-kerja mulu. Lihat, sekarang Buma jadi sakit 'kan!"
"Kakak juga! Coba aja Kakak setuju Buma nikah sama Daddy. Pasti kita akan bahagia, Yola tidak lagi kesepian karena punya Mommy. Kakak juga punya teman buat main games sama Daddy!"
"Terus kenapa Kakak tidak mau Buma nikah sama Daddy? Emangnya Daddy Yola jahat sama Buma, iya? Kalau jahat, tenang aja. Nanti Yola hukum, biar Daddy enggak jahat-jahat lagi sama Buma!"
Perkataan Yola membuat ketiga orang dewasa itu terdiam saling menatap satu sama lain. Becca dan Rio menatap Naku, karena mereka takut jika Naku akan kembali marah serta kebawa emosi saat mendengar ucapan Yola.
Sementara Naku, dia bingung. Satu sisi Naku sangat tahu, bagaimana cintanya Rio kepada Becca. Akan tetapi, di sisi lain Naku belum begitu siap melihat Becca meneruskan hidupnya bersama pria lain yang bukan Ayah kandungnya.
Ketakutan Naku ada pada Rio, dia takut jika nanti mereka menikah Becca akan di sakiti lagi sama seperti bersama Gala. Dan Naku juga takut, apa bila Rio hanya akan sayang pada Becca serta Yola saja, tidak padanya.
"Kenapa kok pada diam sih?"
"Yola 'kan enggak mau Buma kenapa-kenapa, nanti kalau Buma sakit terus, siapa yang ngerawat Buma? Kakak sekolah, Yola sama Daddy jauh."
"Coba kalau Buma nikah sama Daddy, pasti Buma sehat-sehat. Soalnya yang kerja Daddy, jadi Buma bisa di rumah temenin Yola sama Kakak bobo, makan, main, dan belajar. Kalau Buma kerja mulu, Buma jadi sakit terus. Yola enggak tega lihatnya, Yola takut Buma pergi. Yola enggak mau, hiks ...."
Yola menangis di dalam pelukan Becca, rasa sayangnya yang begitu besar selalu membuat mereka menjadi bingung.
"Cup,cup,cup. Sayangnya Buma enggak boleh nangis ya, Buma gapapa kok, Sayang. Pokoknya yang harus Yola ingat, cuman satu! Mau nanti Buma jadi Mommy Yola atau tidak, Yola tetap anak Buma, sama kaya Kakak Naku!" tegas Becca, mencoba untuk menenangkan Yola yang ada di dalam pelukannya.
Bagi Rio, permintaan anaknya memang tidaklah mudah. Seandainya Becca memang benar-benar ingin menikah dengannya, maka Rio sudah menanamkan di dalam hatinya untuk selalu menyayangi serta menjaga Becca maupun Naku. Sama halnya seperti Yola yang sangat berarti di dalam hidupnya.
Semua kembali lagi pada Naku, Rio sangat tahu kalau Naku masih mengharapkan keluarganya bisa kembali utuh tanpa memberikan pintu untuk orang baru masuk di dalam kehidupannya.
Beda sama Becca, dia merasa bingung. Apakah hubungan mereka bisa melebihi sekedar sahabat, atau memang mereka hanya di takdirkan seperti ini. Sebab, Becca juga merasakan hal yang aneh akhir-akhir ini ketika berada di samping Rio. Entah Becca sadar atau tidak kalau di dalam hatinya saat ini sudah mulai di selimuti oleh cintanya Rio.
Naku hanya bisa terdiam membisu, dia tidak bisa menjawab apa-apa lagi selain menatap mata Becca dan Rio secara bergantian. Mungkin Naku masih membutuhkan waktu yang tidak instans untuk memikirkan semua ini.
"Sepertinya monster di perutmu sudah mengamuk, Tuan Putri. Jadi, bagaimana kalau kita kasih makan dulu, kalau tidak nanti dia akan semakin marah dan membuat Tuan Putri menjadi sakit. Setelah itu dokter akan menyun---"
"Huaa ... Enggak! Yola enggak mau di suntik, ayo, Dad. Ayo makan!"
Rio tertawa kecil bersama Becca, kemudian mengajak Yola untuk makan di kantin bersama babysitternya dan meninggalkan Naku serta Becca yang ada di dalam kamar.
Selepas perginya Yola, Naku duduk di tepi ranjang Becca sambil menatap lekat wajahnya tanpa ekspresi apa pun.
"Kenapa lihatin Mommy seperti itu? Sudahlah, jangan di pikirkan. Kamu tahu sendiri 'kan Yola itu dari kecil belum pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ibu. Jadi, wajar saja kalau Yola selalu menginginkan hal-hal yang di luar nalar," ucap Becca, menasihati Naku.
"Apa Mommy mencintai Om Rio?"
Satu pertanyaan itu berhasil membuat Becca terdiam. Matanya membola besar akibat terkejut atas ucapan anaknya yang tidak terpikirkan olehnya.
Untuk menetralkan detak jantungnya, Becca langsung mengambil air untuk di minum sampai habis. Melihat kegugupan serta salah tingkah yang tidak bisa dibohongi, membuat Naku langsung paham.
"Kenapa? Kok gugup?" tanya Naku, kembali.
"Akhh, e-enggak. Si-siapa juga yang gugup, Mommy biasa aja kok. Lagian juga pertanyaanmu aneh, mana mungkin Mommy cinta sama Om Rio. Toh, Om Rio aja masih sangat menyayangi mendiang istrinya," jawab Becca, sedikit mengalihkan.
"Ya, sama kaya Mommy. Mommy pun masih memiliki perasaan buat Daddy 'kan?" ucap Naku, benar-benar berhasil membingungkan perasaan Becca.
"Ckk, apaan sih! Udahlah, jangan pernah ngomongin dia lagi! Mommy tidak mau mengingat semuanya, karena semua itu sangat menyakitkan!" seru Becca, kesal.
"Kalau Om Rio?" sahut Naku. Lagi-lagi pertanyaannya membungkam mulut Becca, membuat wajahnya yang marah berganti menjadi tersipu malu.
Becca yang sudah tidak bisa menyembunyikan wajah meronanya, bergegas untuk turun dari bangkarnya menuju kamar mandi. Dari pergerakan Becca yang aneh, Naku bisa menyimpulkan bahwa Becca pun mulai tertarik sama semua kebaikan yang ada di dalam hati Rio.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...