Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Ketakutan Vivi


Setelah selesai menuntaskan hubungan ranjang, mereka berdua pun segera membersihkan badannya satu sama lain. Habis itu, kembali ke ranjang dalam keadaan Vivi memeluk Leon sambil menatap ke layar televisi.


"Yah, bagaimana jika suatu saat nanti Naila akan meninggalkan kita?" tanya Vivi, sedikit mendongak untuk menatap suaminya yang sedang serius menonton film kesukaannya yang tayang tengah malam.


"Itu sudah pasti, Bun. Namanya juga anak perempuan, pasti akan meninggalkan kedua orang tuanya dan memilih untuk ikut dengan suaminya." jawab Leon. Tanpa mengalihkan matanya dari layak televisi.


"Kalau itu aku tahu, Ayah. Masalahnya yang jadi pertanyaanku bukan itu! Tapi---"


"Sudahlah, jangan membicarakan soal itu! Pasrahkan saja sama Tuhan, Naila itu anak kita yang sangat menyayangi kita. Tidak mungkin dia pergi dari kita, jadi aku mohon! Bunda jangan kembali mengingat mimpi yang buruk itu lagi, oke?"


"Tapi, Ayah. Mimpi itu benar-benar kaya nyata, aku serius loh! Bagaimana bila itu terjadi? Kita harus gimana nanti, aku tidak mau ya sampai kehilangan Naila. Dia adalah anak kita satu-satunya, jadi aku tidak rela bila Naila menjauh dariku!"


Leon yang mengerti betapa sayangnya Vivi kepada Naila, membuat dia langsung mematikan filmnya. Dan memilih untuk menenangkan istrinya yang sedang kembali mengingat mimpi semalam.


Vivi mimpi jika Naila akan pergi meninggalkan mereka berdua dalam keadaan marah. Entah apa yang mereka lakukan, intinya di mimpi itu Vivi kehilangan Naila untuk selamanya.


Maka dari itu, dia tidak ingin sampai mimpi itu kembali hadir ataupun menjadi kenyataan. Leon yang tidak tega mendengar tangis istrinya langsung memeluk serta menciumi keningnya.


Leno memberikan sedikit nasihat kepada Vivi, agar dia tidak sampai berpikir negatif tentang anaknya. Apa lagi yang namanya mimpi adalah bunga tidur, jadi tidak semua mimpi itu bisa terjadi jika bukan langsung pertanda dari Tuhan-Nya.


Tidak terasa lama-kelamaan mereka pun tertidur bersama, dalam posisi berpelukan satu sama lain. Sementara Naila, masih setia dengan tidurnya yang pulas. Tanpa tahu bila di sampingnya hanya ada guling, bukan Vivi.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Pagi hari, Naila sudah berangkat diantar oleh Leon ke sekolahnya. Akan tetapi, Naila tidak mendapati Naku yang duduk di sampingnya. Biasanya Naku datang lebih pagi dari dirinya, sekarang malah dia datang lebih dulu dari Naku.


Sampai bel masuk sekolah pun berbunyi, Naila tetap tidak mendapati Naku di sampingnya. Yang artinya, Naku tidak masuk sekolah. Dan benar saja, seorang guru wali kelas mereka masuk membuat semua murid menjadi tegang dan sedikit gelisah.


Guru yang terbilang galak ini, berhasil membuat suasana kelas menjadi sunyi tanpa sedikit pun terdengar suara. Hanya saja, ada kabar yang dia sampaikan kepada semua murid bila untuk beberapa hari ke depan Naku tidak akan masuk sekolah dikarenakan ada urusan keluarga.


"Yahh, Oppa tidak masuk. Terus bekalnya siapa yang makan? Masa aku menghabiskan 2 bekal sekaligus, yang ada nanti aku kekenyangan dan perutku jadi sakit. Mending aku kasih ke yang lain aja deh nanti, dari pada kebuang 'kan sayang." ucap batin Naila, raut wajahnya langsung bersedih.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Di rumah kediaman keluarga Naku. Hari ini adalah hari yang sangat berat bagi Gala, dia harus melihat istri serta anaknya yang sedang merapikan semua barang-barang serta pakaian yang mereka miliki.


Semua itu karena mereka berdua ingin pindah ke sebuah rumah yang Becca beli sendiri setelah mengetahui perselingkuhan Gala.


"Sayang, maafin aku. Aku janji aku akan melepaskan Lola, asalkan kita bisa kembali bersama. Aku cinta sama kamu, Becca. Aku sayang sama kamu, jadi aku mohon jangan pergi tinggalin aku ya. Please!"


Gala memohon sambil terus berusaha menyentuh Becca, tetapi Becca berusaha keras untuk tidak ingin di sentuh. Bagi Becca semua ini sudah berakhir dan status mereka bukan lagi suami-istri melainkan mantan suami-istri.


"Cukup ya, Gala! Aku tidak bisa lagi bertahan sama kamu, aku tahu kamu orang baik. Kamu banyak berjasa untuk kehidupan aku dan Gala, tapi atas sikapmu yang seperti itu. Aku tidak bisa memberikan kesempatan atau apapun itu. Aku memang sudah memaafkanmu, hanya saja aku tidak bisa menerimamu lagi. Hatiku sudah benar-benar hancur, dan aku tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga ini."


"Jika mungkin aku telah gagal menjadi istrimu, aku minta maaf yang sebesar-sebarnya. Akan tetapi, aku janji. Aku tidak akan gagal untuk menjadi seorang Mommy yang baik bagi Naku!"


"Untuk itu, jangan tahan aku lagi jika kamu tidak ingin melihatku jauh lebih menderita dari ini. Kalau memang kamu mencintaiku, maka belajarlah melepaskan orang yang kamu cintai demi kebahagiaannya. Dari pada kamu memaksakannya bersamamu yang akhirnya kamu juga yang menyakiti!"


Becca berbicara sambil memasukan satu persatu pakaian ke dalam koper yang cukup besar. Sementara Gala yang sudah tidak tahu harus bagaimana, hanya bisa meneteskan air matanya.


Setelah itu, Gala pergi meninggalkan Becca menuju kamar Naku. Gala berharap anaknya tidak sampai membenci dirinya atas kejadian ini.


Becca yang melihat Gala pergi, kembali meneteskan air matanya dan segera di hapus secepat mungkin. Kemudian kembali melanjutkan semuanya, agar bisa bergegas pindah dari rumah ini. Becca hanya takut, jika dia berlama-lama di sini itu bisa membuat dia kembali menjadi bimbang saat perasaannya masih terikat oleh Gala.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung