
"Lo-lola? Ka-kau nga-ngapain ada di rumah saya? Di-dimana istri dan anak saya? Ke-kenapa kita bisa ada di satu ranjang dalam keadaan yang seperti ini!"
Gala bertanya-tanya, lantaran nyawanya masih belum sepenuhnya ngumpul. Akibat efek minuman serta bangun tidur, membuat Gala seakan lupa apa yang sudah terjadi semalam.
"Saya kira Tuan adalah pria yang baik, pria yang setia. Tapi, nyatanya saya salah! Tuan sama saja dengan pria lain, bagaimana nasib istri dan anak Tuan jika tahu semua ini? Apakah mereka tidak akan kecewa!"
"Pokoknya saya tidak mau tahu, Tuan harus bertanggung jawab sama apa yang sudah Tuan lakukan sama saya semalam! Saya tidak mau jika saya hamil tanpa seorang suami, karena Tuan sudah berhasil menghancurkan hidup saya!"
Teriakan itu membuat hati Gala bergetar hebat, dia masih linglung atas semua yang sudah terjadi di antara mereka. Perlahan Gala mencoba mengingat semua itu, hanya beberapa menit. Gala sudah mulai ingat, dia segera kembali menoleh ke arah Lola yang meringkukkan badannya seperti orang yang sedang trauma berat.
"Saya sudah ko-kotor, Tuan. Saya sudah kotor hiks ... Saya pasti akan di anggap remeh dengan semua pria yang dekat dengan saya, karena mereka akan menganggap bila saya ini wanita panggilan. Tuan jahat, Tuan sudah menghancurkan semuanya, saya benci Tuan. Saya benci!"
"Hei, tenang dulu. Tenang, jangan berteriak seperti ini, nanti suaramu akan terdengar ke tetangga sebelah. Kamu harus bisa mengontrol emosimu. Ya, saya tahu, saya salah. Saya minta maaf karena saya sudah menghancurkan hidupmu, ini semua pasti kerena pengaruh minuman itu!"
"Padahal saya sudah berniat baik untuk mengantar pulang, Tuan. Cuman, Tuan selalu menolak. Tuan minta di bawa ke sini, tetapi saat saya ingin pergi Tuan malah menarik saya dan mengira kalau saya ini adalah istri Tuan, dan semua itu terjadi hiks ...."
Gala terdiam, membisu. Seakan bibirnya sangat kaku untuk mengatakan apa pun. Gala hanya bisa pasrah, akibat itu juga kesalahannya. Niat ingin menghilangkan masalah, kini malah kembali menambah masalah.
Sampai akhirnya semua itu berlalu, Lola yang melihat sikap Gala semakin semena-mena dengannya. Dia langsung memikirkan ide gila itu, sehingga kepikiran untuk melakukan aksinya berpura-pura untuk hamil.
Dan, Gala yang tidak tahu harus bagaimana serta dia bingung sama ancaman yang Lola berikan, membuat Gala menikahi Lola secara hitam di atas putih. Artinya menikah sirih, hanya mengandalkan surat yang membuktikan mereka menikah, tetapi tidak secara resmi.
Becca mendengar semua cerita itu sampai tidak bisa berkutik lagi. Betapa liciknya seorang Lola, saat dia menjebak Gala. Hati Becca sedikit tersentuh atas nasib yang Gala alami, dia mulai mengerti semua itu. Akan tetapi, tetap saja apa yang Gala lakukan adalah salah dan tidak bisa di benarkan.
Lola tersenyum bahagia melihat kekalahan di wajah Becca, tanpa di sadari ada sedikit keinginan untuk Becca kembali bersama Gala.
Namun, Becca merasa jika semua itu tidak akan mungkin. Dia sudah jauh lebih bahagia menikmati kehidupannya saat ini, mungkin memang cukup sampai di situ mereka berjodoh. Selebihnya mereka harus menjalani semuanya sesuai kehidupan masing-masing.
"Kamu benar-benar tega sekali, La. Kau tega menghancurkan beberapa hati, bahkan apa kamu tidak sedikit pun terlintas bagaimana perasaan anakku saat dia harus menghadapi semua ini? Dia sangat terpukul, La. Sangat terpukul!"
"Impian yang dia inginkan selama ini untuk hidup bahagia bersama kedua orang tuanya sudah kandas di bawa ombak. Naku dan Gala adalah dua orang yang paling sangat aku cintai. Akan tetapi, kamu telah merebut salah satu dari dia. Dan membuat kehidupan kami hancur berantakan!"
Becca meneteskan air matanya, lalu dia memaki-maki Lola sampai membuat beberapa orang yang baru datang menjadi salah paham terhadapnya.
Lola yang melihat adanya celah, kembali melakukan aktingnya. Dia berperan seperti orang yang sedang dianiaya oleh Becca. Semua itu demi menarik perhatian banyak orang agar berpihak padanya.
"Ma-maafkan aku, Kak. Semua itu bukan di luar dugaanku. Suamimu yang sudah lebih dulu menghancurkan masa depanku, sampai akhirnya aku mengandung anakmu."
"Sebelum kamu bercerai dengannya, aku sudah pernah bilang bukan. Kalau kita bisa hidup saling berdampingan, tidak apa kamu tinggal dengan suamimu dan aku sendiri. Setidaknya suamimu bisa adil membagi kasih sayangnya. Bukan padaku, tapi pada anak yang ada di perutku ini."
"Dia tidak salah apa-apa, Kak. Aku yang salah, aku yang sudah merenggut kebahagiaan Kakak. Tapi, itu bukan ke inginanku. Aku rela menjadi istri sirihnya hanya demi anak ini dan aku tidak masalah apa bila suamimu lebih menyayangimu dari pada diriku. Aku akan terima semuanya, karena aku sadar posisiku ini di mana."
"Jika bukan karena suamimu yang terpengaruh minuman, mungkin hidupku sudah bahagia bersama calon suamiku yang pergi meninggalkanku setelah tahu aku hamil anak pria lain. Di sini bukan hanya Kakak yang sakit, aku juga, Kak. Aku berusaha menahan agar kalian tidak bercerai, tapi kalian malah memilih selesai. Lalu, di mana salahku, Kak?"
"Kalau Kakak mau kembali dengan Mas Gala, gapap, Kak. Silakkan, aku akan pergi bersama anakku, aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan kalian. Aku akan rawat anakku snediri, jika Kakak tidak berkenan untuk membagi kasih sayang Mas Gala pada anakku!"
Playing victim yang Lola lakukan memang sangat luar biasa, dia seolah-olah telah menjadi korban yang sangat menderita.
Semua orang yang ada di sana malah menyalahkan Gala dan juga Becca, mereka percaya kalau Lola adalah korban sesungguhnya. Tanpa mencari tahu dulu, siapa yang benar dan siapa yang salah.
Perkataan Lola serta tangisan yang terdengar menyedihkan, berhasil menghipnotis semua Ibu-ibu yang ada untuk merangkul Lola untuk memberikan semangat.
Sementara Becca yang terkejut atas semua itu, langsung menampar muka Lola dan hampir mendorongnya, tetapi tidak jadi ketika tubuhnya di tahan oleh Ibu-ibu lainnya.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung