
"Oh dadi gitu, belalti alo Buma cama Daddy nikah teyus unya anak Yola altina Yola anak kecayangan yang anak dan aik. Api tan Yola ukan anak Buma, Yoka anak Mommy yang cudah di culga. Belalti apa yang teman-teman atakan alo Yola anak halam, itu benal? Teyus altinya Yola ukan anak aik gitu?"
Mata Yola berkaca-kaca saat dia mengetahui kalu dia bukanlah anak baik-baik. Perumpamaan yang Naku berikan benar-benar membingungkan Yola. Seharusnya Naku bisa memberikan contoh yang berkaitan dengan Ibu kandung Yola, bukan malah Rio dan Becca.
Namun, jika di pikir perumpamaan itu memang harus di contohkan dengan Becca dan Rio agar lebih mudah mencernanya. Akan tetapi, Naku melupakan bila kapasitas pemikiran dirinya dan Yola sangatlah jauh. Sehingga Naku hanya bisa menahan emosi di dalam hatinya yang mulai memberontak.
Kini, Rio berusaha untuk mencoba menyederhanakan bahasa yang Naku jelaskan pada Yola. Perlahan tapi pasti, Yola pun mulai mengerti bahwa dia adalah anak yang memang di harapkan oleh kedua orang tuanya. Bukan anak yang di katakan oleh temannya.
Dari sini tekat Rio semakin kuat untuk memindahkan Yola di sekolah yang baru, bertujuan agar Yola bisa belajar tanpa harus menerima perkataan yang mulai mempengaruhi mentalnya sejak dini.
Tidak lama, makanan pun datang. Mereka secara perlahan mulai menyantap semua makanan sesuatu sama pesanan masing-masing.
Becca memesan 2 steak daging yang dia samakan pada pesanan Rio, begitu juga Yola yang mengikuti apa yang di pesankan oleh Becca untuk Naku.
Makanan yang terlihat enak itu pun tetap terlihat biasa saja di mata Naku, karena dia harus memakan makanannya dalam keadaan yang masih kesal.
Rio dan Becca mulai makan makanannya secara perlahan, begitupun Naku. Akan tetapi, bukan Yola namanya jika dia tidak berhasil mengganggu ketenangan Naku.
"Loh, kok unya Yola ndak cama aya unya Kakak?" ucap Yola saat memperhatikan bentuk spaghettinya.
Spaghetti yang Naku miliki itu terdapat parutan keju sangat banyak dan rapi, berbeda sama Yola yang lebih banyak hanya saja sedikit berantakan.
Naku menoleh ke arah Yola, dahinya mengerut lantaran dia bingung saat melihat wajah sedih Yola yang cemberut.
"Hahh? Enggak sama gimana sih, ini itu sama. Lihatlah, perhatikan baik-baik!" ucap Naku, kesal. Dia menunjukkan mienya kepada Yola.
"Itu Kakak liyat aja, maca keju Yola cedikit. Teyus Kakak anyak, ihh cebel deh. Tan Yola biyang pecennya cama aya Kakak, Buma!" sahut Yola. Kakinya melayang-layangkan di atas kursi sambil menggetok-getokan alat makan di atas meja.
Mata Becca segera menatap Rio, dia bingung sama keinginan Yola. Padahal jelas-jelas itu semua sama rata, tidak ada yang berbeda. Sementara Rio pun juga ikut bingung, kenapa bisa Yola seperti ini.
Sebelumnya Yola sama sekali tidak pernah mempermasalahkan soal makanan, selagi itu enak dia akan terus memakammya sampai habis tanpa komen apapun. Sekarang berubah, setelah Yola menemukn sosok Kakak yang memang dia inginkan.
Naku menghembuskan napasnya secara kasar, lalu mengaduk spaghettinya dalam posisi sangat-sangat kesal. Kemudian dia pun mengaduk spaghetti milik Yola sama persis seperti dirinya.
"Gimana, udah sama?" tanya Naku, menekankan kata-katanya sambil menaruh piring sedikit keras di hadapan Yola.
"Nah, ini balu benel. Mie Yola cama aya mie Kakak hehe ... Ma'acih, Kakak ampan. Yola cayang buanget cama Kakak."
Yola menyengir bagaikan iklan pepsodent, dimana Becca dan Rio tersenyum saat menyaksikan Yola yang sedang mencari perhatian kepada Naku.
"Ckk, untung lu bukan adik gua. Beh, kalau sampai jadi adik gua, udah gua karungin terus gua iket yang kenceng, langsung gua buang ke sungai!" gumam Naku, sangat kecil. Hanya saja, Yola bisa mendengar apa yang Naku ucapkan untuknya.
"Buma, maca Yola mau di buyang di cungai cama Kakak. Teyus anti alo Yola di akan ikan yuyu gimana? Pasti Daddy cedih, ya tan?"
Naku membolakan matanya saat mendengar Yola yang mengadu perkataannya terhadap Mommynya, sehingga mata Becca menatap tajam ke arah Naku yang membuat Naku diam-diam melirik tajam ke arah Yola.
"Naku, minta maaf sama Yola. Lihatbitu wajahnya jadi sedih gitu, lagian kamu jadi Kakak kok jahat banget sih." ucap Becca.
"Dih, apaan. Dia bukan ad---"
Mata Becca semakin membola saat Naku terus membantahnya, padahal niatnya Naku ingin memarahi Becca atas semua perselingkuhan ini.
Namun, pada akhirnya malah dia yang di marahi olehnya akibat monster kecil yang sangat menyebalkan.
"Yayaya, ckk .. Menyebalkan! Untung aja Buma, ehh ... Maksudnya Mommy enggak hamil. Kalau tahu hamil, anaknya kaya dia. Aku suruh masukin lagi, bodo amat!"
Perkataan Naku yang asal ceplas-ceplos langsung berhasil membuat Becca dan Rio tersedak. Mereka segera minum untuk menetralkan tenggorokannya.
"Udah-udah, jangan pada berantem. Yola makan dulu ya habisin. Kasihan itu mienya, nanti nangis loh." ucap Rio, membuat Yola pun mengangguk dan mulai memakan mienya.
Untuk beberapa menit kedepan suasana kembali sunyi tanpa mendengarkan perdebatan antara Yola dan juga Naku. Sampai akhirnya, Yola kembali membuat Naku hampir hilang kesabaran yang setipis tisu di belah 2.
Ulah apa lagi yang akan Yola lakukan pada Naku, kenapa dia selalu senang mengganggu Naku? Itulah yang harus di cari tahu, yang intinya jangan lupa terus kasih dukungannya pada mereka ya. Terimakasih.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung