Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 99 : Kabur Sesaat


“Sayang.. ,” panggil Pram menepuk lembut pipi Kailla yang masih terlelap. Saat ini di ruangan tertinggal mereka bertiga.


Pram baru saja akan meraih tubuh istrinya dari pelukan Pieter, tapi Kailla menggeliat dalam tidurnya.


“Sayang, aku masih mau tidur,” gumam Kailla mempererat pelukannya pada Pieter. Mendengar dan melihat semua itu, emosi Pram langsung naik ke ubun-ubun.


“Apa-apan ini?” gerutu Pram.


Sedari tadi rapat dia sudah menangkap gelagat yang tidak baik dari keduanya. Kailla dan Pieter terlihat tertawa dan berbisik-bisik berdua. Suami mana yang tidak akan cemburu melihat pemandangan seperti itu di depan matanya. Walaupun sebenarnya dia yakin, tidak ada apa-apa antara istri dan teman baiknya.


Dengan kasar dia menyentakkan tangan Kailla dari leher Pieter. “Cukup Kai, bangun!” panggil Pram, segera menarik Kailla yang sedang tidur untuk berdiri.


“Pram, jangan kasar! Dia istrimu.” ucap Pieter yang tidak tega melihat Kailla yang masih belum sepenuhnya sadar langsung ditarik berdiri.


Mendengar ucapan Pieter, Pram hanya mengarahkan telunjuknya ke arah Pieter. “Karena dia istriku, makanya aku harus mendidiknya!”


Pram sedikit terpancing emosi saat ini. Tidak biasanya dia kehilangan kontrol.


“Hmmmm..” ucap Kailla masih mengusap kedua matanya. Kepalanya masih sedikit pusing, berdirinya pun masih limbung, dia harus berpegangan dengan sandaran kursi supaya tidak terjatuh.


“Maaf.. aku ketiduran,” ucap Kailla polos, setelah kesadarannya terkumpul kembali. Permintaan maaf Kailla seketika menghujam hati Pram. Baru saja dia membentak kasar Kailla dan saat ini istrinya sedang minta maaf padanya.


“Ikut aku!” Pram segera meraih tangan Kailla dan membawanya kembali ke dalam ruang kerjanya. Kailla yang menyadari kesalahannya hanya bisa diam dan tidak membantah. Dia tahu, tidur di saat rapat sungguh sangat memalukan. Bukan hanya untuknya, tapi suaminya pasti akan malu sekali karena kelakuannya. Padahal kemarin Pram sudah memberi kepercayaan penuh padanya.


“Kemasi barang-barangmu, kembali ke apartemen Kai!” perintah Pram, tampak dia mengecup sebentar kening Kailla.


“Aku akan meminta Bayu menjemputmu disini,” ucap Pram kembali setelah melihat Kailla sudah selesai bersiap.


“Aku saja yang turun ke bawah.” Kailla menolak. “Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa melakukan semuanya sendiri Sayang,” protes Kailla.


Melihat Pram yang masih enggan menuruti permintaanya Kailla pun kembali berkata.


“Bukannya kamu juga sudah berjanji tidak menganggapku anak kecil lagi?” Kailla mengingatkan Pram kembali.


Saat ini moodnya tidak terlalu baik. Biasanya dia akan jadi anak yang penurut dan tidak banyak protes pada Pram. Mungkin karena tadi dia sempat mengingat kekecewaannya kepada daddy, itu mempengaruhi perasaannya saat ini.


“Yakin?” Pram mengulang kembali pertanyaannya. Kailla mengangguk.


“Iya Sayang.” Kailla mengecup pipi Pram sekilas kemudian tersenyum. “Aku pulang,” pamit Kailla. Pram menyempatkan mengecup bibir Kailla sekilas, sebelum melepas istrinya itu keluar dari ruangannya.


Entah kenapa, perasaan Pram tidak enak saat ini. Apa karena baru saja dia membentak Kailla atau ada hal lain yang membuat perasaannya terganggu. Kailla sedikit berubah dan biasanya dia akan membuat kekacauan setelah ini. Pram benar-benar khawatir, ini di Wina bukan di Indonesia. Tapi dia harus melanjutkan rapatnya. Yang bisa dilakukannya adalah menghubungi Bayu untuk memastikan istrinya baik-baik saja.


Kailla sudah tiba di lantai satu, bersiap mencari Bayu yang sedari tadi menunggunya. Dia. berusaha mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi tidak juga menemukan sosok si asisten. Dia berusaha bertanya ke bagian resepsionis, tapi hasilnya tetap nihil. Entah mereka tidak paham dengan pertanyaan Kailla yang menggunakan bahasa Inggris atau mereka benar-benar tidak melihat sosok yang dicarinya.


“Apa aku cari diluar saja ya,” ucap Kailla pelan sambil berjalan keluar kantor.


Begitu sudah berada di luar, dia terkesima melihat pemandangan gedung pencakar langit di hadapannya. Dia lupa dengan tujuan utamanya untuk mencari Bayu. Udara dingin kota Wina mengelitik hatinya, membangkitkan sisi nakalnya. Terlihat Kailla merentangkan kedua tangannya, menikmati kebebasannya saat ini.


“Aku bebas sekarang! Sementara tidak ada asisten pengganggu yang selalu mengikutiku.” ucap Kailla tersenyum licik.


“Aku hanya ingin berjalan-jalan di dekat sini saja, supaya bisa kembali secepatnya.”


Dia juga tidak ingin Pram mengkhawatirkannya. Tapi kalau dia mengatakan pada suaminya, pasti laki-laki itu tidak akan mengizinkannya.


“Sayang... maafkan aku.” bisik Kailla pelan sebelum berlari keluar dari pelataran kantor KRD.


Senyum terukir dibibirnya saat dia sudah menyusuri jalanan. Kailla merasa saat ini dia menjadi orang kebanyakan. Tidak ada asisten yang mengikuti seperti biasanya.


Kailla melewati jalanan utama, dia sempat terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan yang terlihat indah, belum lagi kotanya bersih dan tenang.


“Harusnya aku membawa uang tadi, jadi aku bisa jajan,” keluh Kailla saat melihat kedai-kedai di pinggir jalan. Dia sudah membayangkan betapa nikmatnya jajanan yang dijual di kedai-kedai itu. Dia yakin kalau merengek pada Pram, suaminya itu tidak akan mengabulkannya.


“Kai, kamu tidak boleh makan sembarangan!” Kailla mencoba meniru gaya bicara Pram sambil tertawa.


Tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, Kailla bisa melihat sebuah kereta kuda sedang melintas.


“Ah, itu pasti menyenangkan sekali!” ucapnya sambil terus-terusan menatap kereta kuda ktu menghilang di ujung jalan.


Yang membuatnya tambah sumringah adalah banyak toko-toko barang bermerek tempat biasanya dia dan Sam berburu barang diskonan.


“Ah... Sam, aku harus mengajakmu kesini!” ucapnya lagi. Dia menatap sekilas jam di pergelangan tangannya. Tidak terasa, hampir 1 jam dia menikmati acara jalan-jalannya.


“Aku harus kembali, sebelum suamiku mengomel.” Dengan langkah gontai dia menyusuri kembali jalanan yang tadi dilewatinya. Menatap sedih bangunan-bangunan yang nanti hanya bisa dilihatnya dari jendela mobil. Pram tidak akan mengizinkannya berjalan-jalan seperti saat ini.


“Kai, kamu tidak tahu di luar sana ada banyak orang jahat.” Kembali Kailla meniru ucapan dan gaya bicara Pram sambil terkekeh.


Dia sudah hidup selama 20 tahun bersama Pram. Dia sudah hafal semua perkataan suaminya. Bahkan tarikan nafasnya pun dia sudah bisa membedakannya, mana yang milik suaminya atau bukan.


***


Pram kembali ke ruangan rapat dengan perasaan tidak tenang. Dia sudah menghubungi Bayu agar segera mengajak istrinya pulang ke apartemen. Tapi sampai saat ini, dia belum menerima kabar apa-apa. Terlihat berkali-kali dia menatap ke pergelangan tangannya, berharap rapat ini segera selesai. Perasaannya tidak tenang, seharusnya tadi dia yang mengantar Kailla turun ke bawah.


Begitu rapat selesai, segera dia menghubungi Bayu kembali.


“Bay, kalian sudah sampai di rumah?” tanya Pram begitu Bayu menerima panggilannya.


“Saya masih di bawah Bos. Non Kailla belum turun sedari tadi. Saya sudah mencari, tapi belum menemukannya,” sahut Bayu.


Tutts...!


Pram langsung mematikan ponselnya, berlari menuju lift. Pikiraannya sudah kacau sekarang. Baru saja Kailla membuatnya dalam masalah karena tertidur di ruang rapat, sekarang istrinya menghilang.


***


Terimakasih.