
Pram menyempatkan bertemu Sam di teras belakang, setelah berpamitan dengan Pak Riadi. Dia sengaja membiarkan Kailla memiliki waktu berdua saja dengan daddynya. Pasti ada yang mau dikeluhkan istri kecilnya.
“Sam, sementara Kailla di Austria aku meliburkanmu. Tapi jangan khawatir, David akan mengirim gajimu ke rekening seperti biasa.” jelas Pram begitu sudah berada di depan Sam.
“Baik Pak. Saya tidak dipecat?” Sam ragu-ragu.
Pram hanya mengangguk dan tersenyum.
“Yang di amplop itu tunjanganmu selama satu bulan. Sistem di perusahaan hanya bisa mengirim gaji pokoknya saja,” ucap Pram.
Seandainya lebih dari satu bulan kami di Austria, aku akan mengirim tunjanganmu melalui rekening pribadiku,” lanjut Pram lagi.
“Baik Pak, terima kasih.”
Baru saja Pram beranjak meninggalkan Sam, tiba-tiba ia sudah berbalik lagi. Sepertinya masih ada yang mau disampaikan.
“Sam, maafkan Kailla. Dia sering menyusahkanmu. Dia masih belum bisa mengendalikan emosinya sendiri. Dia masih terlalu polos. Apa yang ada di hati dan pikirannya, itu yang akan dikeluarkannya.”
“Iya Pak, saya mengerti,” sahut Sam.
“Dia masih belum bisa menyembunyikan perasaannya sendiri. Ketika bahagia, kesal atau sedih akan kelihatan sekali dari cara dia mengekspresikannya. Terima kasih sudah mau memahaminya. Selama ini aku tidak punya banyak waktu untuknya dan kamu mencuri banyak dariku.” ucap Pram terkekeh mengarahkan telunjuknya pada Sam.
“Tadinya aku pikir, kamu bukanlah orang yang tepat untuk menjaga Kailla, tetapi setelah beberapa hari ini aku melihat ... kamu bukan hanya sekedar asisten buat istriku. Kamu punya tempat tersendiri di hatinya. Aku dan Pak Riadi memang membatasi pergaulannya, mungkin itu akhirnya dia memilihmu.” jelas Pram.
“Maafkan aku Pak. Aku hanya melakukan apa yang Non Kailla inginkan.” Sam menjawab sambil tertunduk.
“Haha ... sebenarnya kita memakai metode yang sama untuk merebut hatinya. Aku tidak menyalahkanmu. Aku yang tidak punya banyak waktu untuknya selama ini dan itu kesalahanku,” ucap Pram.
“Iya Pak.”
“Selama ini kamu sudah mencuri sebagian tempatku dihatinya. Maaf aku tidak bisa membawamu ke Austria walau Kailla sudah merengek padaku. Dan ini juga salah satu alasannya. Kalau kamu tetap bersama kami, aku tidak bisa mencuri hati Kailla sepenuhnya. Aku akui, aku egois kali ini. Aku juga melakukan hal yang sama pada daddynya.”
Tampak Pram maju dan merangkul Sam, menepuk pundak anak muda itu.
“Setelah Kailla tidak membutuhkanmu lagi, datanglah ke perusahaan. Lanjutkan kuliahmu, aku akan membiayainya. Bekerjalah denganku. Aku akan memberimu posisi yang lebih layak dari sekarang,” titah Pram.
“Terima kasih, Pak,” Sam terharu dengan kata-kata majikan yang selalu memarahinya itu.
“Jangan jadi laki-laki cengeng!” ucap Pram setelah melihat Sam menangis.
“Aku hanya terharu Pak.” sahut Sam tersenyum.
“Aku memberimu karena kamu layak mendapatkannya. Aku berterima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untuk istriku,” ucap Pram.
“Saat kita akan berangkat, aku mohon jangan membuat Kailla sedih. Aku mengizinkan Kailla memelukmu nanti, tetapi tidak lebih dari lima detik. Lebih dari itu, aku akan membunuhmu,” lanjut Pram menatap Sam dengan tatapan mematikan.
“Baik Pak.” Sam hanya mengangguk, mempersembahkan senyum terindahnya untuk sang majikan.
“Baiklah, Dave akan menghubungimu nanti saat kita sudah kembali ke Indonesia. Kailla sangat menyayangimu, aku yakin dia pasti sangat merindukanmu,” ucap Pram meninggalkan Sam yang masih kebingungan dengan perubahan sikap Pram yang biasa suka memarahinya.
“Aneh! Tidak biasanya. Pak Pram seperti lagi kesambet!”
***
“Sus, nanti selalu kabari aku ya?” pinta Kailla pada perawat yang biasa merawat daddynya.
“Baik Non.” Perawat itu terlihat menghapus air mata yang menetes di pipinya, melihat bagaimana Kailla yang tidak mau berpisah dari daddynya.
“Dad, aku belum pergi, tapi aku sudah merindukanmu,” bisik Kailla memeluk daddynya kembali.
“Dad, kenapa kamu menikahkanku dengannya? Lihat sekarang, dia membawaku pergi darimu,” ucap Kailla di sela-sela isaknya. Kali ini Kailla memilih duduk di lantai, dekat kaki daddynya.
Ia terus menerus menggengam tangan keriput daddy, yang semakin hari semakin mengecil. Tulang-tulangnya sudah semakin menonjol. Air matanya turun terus-menerus, tidak ada suara, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menunduk dan menangis. Satu-satunya yang ia miliki di dunia ini hanya daddy, dan sekarang ia harus meninggalkannya.
“Kai, kita berangkat sekarang,” ucap Pram yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar daddy. Ia kaget melihat Kailla yang duduk di lantai menangis di depan daddynya.
Kailla hanya menatap Pram sekilas, kemudian dia memeluk daddynya kembali dengan linangan air mata.
“Kai ....” panggil Pram setelah melihat mata istrinya bengkak, bedak yang sudah rapi sekarang luntur kembali. Segera dia merengkuh tubuh istrinya yang masih terus-terusan menangis.
“Aku mohon jangan menangis lagi, kasihan daddy. Bukan kamu sendiri yang sedih.” ucap Pram segera menghapus air mata yang turun terus menerus di pipi Kailla.
“Kamu boleh menangis lagi setelah keluar dari kamar ini. Sekarang tersenyum, aku mencintaimu.”
Tampak Pram memeluk mertuanya, membisikkan sesuatu di telinga Pak Riadi.
“Dad aku akan menjaga Kailla. Aku berjanji akan membuatnya menjadi seperti yang daddy harapkan. Setelah kita kembali, aku berharap bisa melihatmu memarahiku lagi. Kalau perlu kamu bisa menamparku nanti karena sudah membawa putrimu pergi jauh.” Pram terkekeh sambil menggenggam tangan Pak Riadi.
***
Kailla masih menangis sesengukan begitu keluar dari kamar daddynya. Begitu air matanya sudah terhapus semua segera dia mengeluarkan kacamata hitamnya, menutupi bengkak di matanya.
“Kalau tidak mau terlihat bengkak, tidak perlu menangis berlebihan. Kita cuma pergi satu bulan, bukan pergi berperang. Ayo, istriku!” Pram mengulurkan tangannya dan menggengam tangan Kailla.
Begitu keluar dari pintu utama, tampak Donny dan Bayu sedang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Ada Bu Ida juga berdiri di sisi mobil.
“Bu Ida ikut?” tanya Kailla menatap Pram.
“Iya, siapa mengurusmu di sana kalau dia tidak ikut. Kamu kan cerewet. Kalau aku mencari asisten disana belum tentu cocok denganmu,” jelas Pram mencubit hidung Kailla yang masih memerah.
Cup!
“Terimakasih,” ucap Kailla mengecup pipi Pram. Suaminya memang selalu mengerti dan memberikan yang terbaik untuknya.
Sam baru saja keluar dari mobil setelah memastikan kondisi mobil baik-baik saja dan tidak kekurangan bahan bakar. Begitu melihat Sam muncul, Kailla sudah siap berlari menghampirinya. Namun, seketika ia teringat pada kata-kata Pram. Kemudian ia berbalik kembali dan menghampiri suaminya.
“Aku boleh berpamitan dengan Sam?” tanya Kailla setelah membuka kacamata hitamnya.
Pram hanya mengangguk dan tersenyum pertanda ia mengizinkan. Segera Kailla berlari menghampiri Sam yang masih berdiri di sisi mobil.
“Sam maafkan aku, kalau aku salah. Aku sudah berusaha untuk membawamu ke Austria,” ucap Kailla begitu ia sudah di hadapan asistennya itu.
“Iya Non. Aku juga minta maaf sering mengusilimu, Non,” sahut Sam tersenyum.
“Ah ... aku pasti merindukanmu Sam. Tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan kalau kamu tidak bersamaku.”
“Tuh! Si Bayu!” Sam mengarahkan pandangannya ke arah Bayu yang sedang sibuk merapikan koper.
“Si Bay-bay tidak sekerenmu Sam. Kamu tidak tergantikan!” sahut Kailla. Sebelum memeluk Sam, sekali lagi ia menatap Pram. Terlihat suaminya itu tersenyum padanya. Melihat senyum tulus Pram, hati Kailla menciut.
“Aku pasti merindukanmu,” Kailla hanya menyodorkan tangannya ke arah Sam. “Tunggu aku pulang, kita akan membuat kekacauan lagi!” bisik Kailla tersenyum jahil.
***
Terima kasih.