
Dua hari bedrest di rumah sakit, Kailla hanya ditemani Sam dan Mitha. Pram mulai sibuk di kantor, biasanya dia hanya akan datang untuk menginap di malam hari saja, menemani Kailla tidur.
Nafsu makan Kailla juga sudah kembali normal, tidak ada lagi mual atau muntah. Dia bisa melahap apa saja tanpa rasa khawatir. Malam ini seperti biasa sepulang dari kantor, Pram akan langsung menuju rumah sakit
Ceklek!
“Sayang, kenapa?” tanya Pram saat melihat wajah cemberut dan kesal Kailla.
Mendengar pertanyaan Pram, Kailla langsung menangis. Tangannya menunjuk ke arah sofa, tampak Sam lagi tertidur bersama Mitha yang menyandar di bahunya.
“Apa maksudnya mereka coba?” ucap Kailla kesal.
“Mereka kesini harusnya menjaga dan menemaniku, tapi seharian Sam cuma ngelonin Mitha,” adu Kailla pada Pram.
Terus? Kamu mau dikelonin Sam juga?” tanya Pram, membuka jasnya dan melemparnya ke sofa.
“Bukan begitu, tapi seharian ini mereka berdua nempel terus,” gerutu Kailla, kedua telunjuknya ditempelkan, memperagakan pada Pram.
“Lalu? Masalahnya dimana?” tanya Pram, kembali membuat Kailla kesal.
“Huh!” Kailla sudah bermaksud turun dari tempat tidur, melampiaskan kekesalannya.
“Eittt, jangan turun dari sana!” Pram mengarahkan telunjuknya pada Kailla, mengingatkan supaya istrinya tetap di atas tempat tidur.
“Dua hari ini, mereka tidak mau mengobrol denganku. Kalau makan berdua, nonton berdua, ngobrol berdua. Membuat mataku sakit saja!” keluh Kailla.
“Kamu cemburu?” tanya Pram terkekeh.
“Sam bukan menjagaku, tapi sekarang menjaga Mitha,” cerita Kailla lagi, mengadu semua kekesalannya pada Pram.
“Hahahaha..., Bagaimana kalau Sam aku kirim kembali ke Indonesia?” tawar Pram, menghampiri Kailla.
Cup!Cup! Pram mencium kedua pipi Kailla. Tangannya pun sudah mendekap istrinya yang sedang manja-manjanya.
“Jangan, aku masih membutuhkannya untuk melampiaskan kekesalanku padamu,” ucap Kailla masih dengan wajah cemberutnya.
“Sudah, biarkan saja. Dia juga butuh waktu untuk dirinya sendiri. Kalau kamu mengganggunya terus-terusan, bagaimana dia bisa mendapatkan Mitha,” ucap Pram sambil tersenyum.
“Besok, kamu sudah bisa pulang ke apartemen. Minggu depan kita kembali ke Indonesia,” ucap Pram, memberitahu Kailla kabar yang selalu ditunggu-tunggu istrinya.
“Hah?! Benarkah? Aku sudah merindukan daddy dan semua yang di sana. Aku juga merindukan kamarku”
“Iya, makanya jangan marah-marah lagi. Kasihan anakku di dalam sini,” ucap Pram, membungkuk dan mengecup perut istrinya.
“Mommymu kerja marah-marah saja, Nak. Apa karena kelamaan tidak dikelonin daddy," bisik Pram di perut Kailla.
“Sayang, tolong usir mereka. Mataku sakit melihat kebersamaanya. Sam sudah melupakanku sekarang!” ucap Kailla menunjuk kedua orang yang masih terlelap di sofa.
"Biarkan saja. Kita juga bisa, kalau kamu mau," goda Pram, mengedipkan matanya.
***
Di apartemen, dua hari kemudian.
“Kai, masih ada flek yang keluar?” tanya Pram saat mereka sedang menikmati waktu berdua di depan perapian apartemennya. Sejak kemarin, Kailla sudah kembali ke apartemen.
“Sudah tidak lagi Sayang, “ jawab Kailla. Dia sedang berbaring diatas lantai yang berbulu karpet lembut, dengan paha Pram sebagai bantal.
“Sayang, suatu saat aku pasti merindukan Wina. Ada banyak cerita di sini,” ucap Kailla sambil menatap foto-fotonya dan Pram di layar ponselnya.
“Coba lihat ini,” sodor Kailla. Membiarkan Pram ikut melihat foto-foto mereka.
“Mau...,” sahut Kailla, menarik tengkuk Pram, supaya dia tetap bisa mencium suaminya dengan leluasa.
“Oh ya, besok Winny mengundang kita untuk makan malam,” cerita Pram.
“Ah, aku malu sekali sudah menyiramnya dengan jus,” sesal Kailla. Dia teringat kejadian di gathering Kantor beberapa waktu lalu.
“Ya sudah kita kesana besok. Kamu bisa minta maaf langsung padanya,” ucap Pram.
“Sayang, apa aku begitu kekanak-kanakan?” tanya Kailla menatap Pram serius.
“Kadang-kadang iya. Tapi tidak selalu. Jadi dirimu sendiri, tidak perlu belajar menjadi dewasa. Kedewasaan itu tidak bisa dipaksakan. Itu hanya bagaimana. Kita bersikap. Sisi dewasa dan kekanakan-anakan itu pasti ada di dalam diri setiap orang.”
“Setua apapun umurnya, dia pasti memiliki sifat kekanak-kanakan. Dan berlaku sebaliknya, anak kecil sekalipun, dia pasti memiliki sisi dewasanya.”
“Seorang Pram saja masih bisa bersikap kekanak-kanakan, mungkin porsinya kecil. Jadi orang tidak mempermasalahkan.”
“Kai, sampai Indonesia, aku akan menambah pengawalan untukmu,” ucap Pram, sontak membuat mata Kailla membulat.
Tapi baru beberapa saat dia langsung bangun dan berlari ke dapur.
“Kai.., teriak Pram.
“Ada anakku bersamamu, jangan berlari.” Pram mengingatkan.
Tak lama Kailla muncul dengan kue lapis legit yang sempat terlupakan.
“Sayang, bukankah kamu memintaku membuatkannya untukmu,” sodor Kailla.
Pram terbelalak melihat lagis legit yang menghitam di bagian atasnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Pram heran. Baru kali ini dia melihat tampilan kue seperti ini.
“Aku ketiduran, jadi bagian atasnya gosong,” Kailla tersenyum. Dia sendiri malu melihat hasil buatan tangannya.
“Tidak apa-apa, aku akan tetap makan apapun yang kamu buat,” ucap Pram tersenyum. Menepuk pucuk kepala Kailla yang sedang mengiris kue untuknya.
Tepat saat dia akan menyodorkan kue ke tangan Pram, ponsel di kantongnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Terlihat Kailla mengerutkan dahinya. Ragu untuk membuka pesan, tapi akhirnya Kailla memilih
“Aku menunggumu kembali, keturunan Riadi Dirgantara. Sudah tidak sabar bertemu denganmu. Semoga kamu tidak bernasib sama dengan ibumu. Tidak! Tentu tidak, kamu bukan seorang ****** seperti ibumu, tapi tetap saja darah itu mengalir di dalam tubuhmu**.
Semoga suamimu itu bisa menyembunyikanmu dengan rapat, serapat dia menyembunyikan banyak kebenaran darimu***.”
Kaila tertegun membaca kata-demi kata dari pesan teks yang di terimanya. Tepat di bagian cerita ibunya, dia menangis. Seketika menatap Pram.
Dia menyodorkan ponsel dengan gemetar ke tangan Pram.
“Apa maksudnya ini?” tanya Kailla pada Pram sambil menangis ketakutan.
“Siapa dia? Apa maunya? Kenapa dia mengatakan mama seorang pel*cur. Tidak mungkin kan daddy menikah dengan orang sembarangan,” isak Kailla, mengadu pada suaminya.
Pram terkejut membaca pesan di ponsel Kailla. Dia tidak bisa bicara apa-apa. Segera memeluk Kailla, membiarkan istrinya menangis sepuasnya.
“Brengsek! Siapa dia? Bagaimana dia bisa mengetahui nomor ponsel Kailla.”
Pram mengedarkan pandangannya.
“*Apa ada pengkhianat di sekitarku. Bahkan peneror itu m*engetahui nomor ponsel istrinya.”
Pandangan Pram beralih pada Kailla, yang sedang berada di pelukannya. Saat ini dia benar-benar khawatir. Tidak bisa mempercayai siapa pun. Termasuk orang-orang disekitar mereka.
“Tidak apa-apa Sayang, mungkin hanya orang iseng saja,” hibur Pram menepuk lembut punggung istrinya.
***
Terimakasih dukungannya. love you all.