Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 181 : Sam, Tunggu Aku Di Sini!


“Jadi para gadis di Bali itu tahu, laki-laki ini sudah ada yang memiliki. Kalau mereka tidak yakin dengan cincin di jarimu, kamu bisa memamerkan karya seni buatanku Sayang," ucap Kailla, tersenyum penuh kemenangan.


“Tidak masalah untukku,” ucap Pram, mengangkat kedua bahunya sembari berjalan ke arah ranjang. Tangannya sudah meraih kembali jaket kulit dan mengenakan di tubuh kekarnya yang sudah terbalut kaos putih.


“Kalau gadis-gadis disana melihatku berjalan dengan ini,” ucap Pram, sambil menunjuk tanda merah di lehernya.


“Pasti mereka akan histeris semua, menganggapku laki-laki bayaran. Melihat seberapa banyaknya tanda ini, membuktikan seberapa berkualitasnya suamimu ini di atas tempat tidur,” lanjut Pram lagi, tersenyum usil.


“Aku yakin, mereka pasti berebutan ingin menikmati sensasi bersamaku di atas ranjang. Hahaha,” lanjut Pram, seketika berhasil membuat raut wajah Kailla berubah.


Pram sudah bersiap membuka pintu kamar tidur mereka, seolah tidak terganggu dengan semua tanda merah di leher yang dibuat istrinya. Tapi, tiba-tiba Kailla menghentikannya.


“Eiiiitttttttsss tunggu! Wait!” ucap Kailla, berlari menarik tangan Pram. Membawa suaminya itu duduk di depan meja rias.


“Tunggu dulu. Aku berubah pikiran!” lanjut Kailla, tersenyum. Dia berubah pikiran, setelah mendengar ucapan Pram mengenai hubungan antara lelaki bayaran dan tanda merah di leher.


Tangannya dengan cekatan, mengambil salah satu koleksi alas bedak berikut dengan bedaknya. Memolesnya sedemikian rupa, sehingga tanda-tandamerah di leher Pram yang di buatnya tadi menghilang seketika.


“Sayang, aku tidak apa-apa pergi dengan ini semua,” ucap Pram, menggoda istrinya yang sedang serius memperbaiki polesannya supaya terlihat natural.


“Tidak, aku tidak mau gadis-gadis di luar sana menjadi tahu. Seberapa hebatnya suamiku saat sudah berada di situ!” ucap Kailla, menunjuk ke arah ranjang mereka. Sontak membuat tawa Pram pecah.


“Benarkah? Aku seluar biasa itu?” tanya Pram. Menarik tangan istrinya untuk duduk di salah satu pahanya.


“He..em,” sahut Kailla, mengangguk. Setelah itu, dia menunduk, menutupi pipinya yang merona karena memuji Pram di atas ranjang.


“Oh ya? Sehebat itukah aku di matamu Kai?” tanya Pram, kembali menggoda istrinya.


“Jangan bertanya lagi. Ini sungguh memalukan!” omel Kailla, namun terdengar manja dan menggemaskan di pendengaran Pram.


“Kalau aku sedang tidak mengejar waktu ke bandara, sudah ku pastikan kita berakhir disana!” ucap Pram, ikut-ikutan menunjuk ke arah ranjang empuk mereka.


Senyum terukir di bibirnya, saat melihat wajah istrinya kembali merona. Sebuah kecupan mendarat di bibir Kailla.


“Sayang, aku mencintaimu. Kenapa kamu harus jadi begini menggemaskannya,” ucap Pram. Kedua tangannya sudah bergerak aktif. Dengan tangan kiri yang meremas gundukan di depan dada istrinya dan tangan kanan sudah melingkar di pinggang ramping Kailla.


“Ah... kamu jangan begini,” tolak Kailla, setelah merasakan tangan Pram yang sudah menyusup masuk ke dalam, tanpa permisi.


“Kai, apapun yang terjadi. Kamu tetap istriku dan aku tetap suamimu. Berusahalah bersamaku untuk menjaga hubungan kita,” ucap Pram, tersenyum. Menatap istrinya yang mulai terbawa suasana, karena ulah tangan nakalnya.


“I..iya..,” sahut Kailla, nafasnya mulai pendek-pendek.


“Ayo antar aku ke bawah. Aku mencintaimu,” ucap Pram, kembali mencium bibir Kailla.


“Aku juga,” bisik Kailla pelan, tepat di telinga Pram.


Pram menggandeng tangan Kailla keluar dari kamar. Terlihat Sam sudah siap, duduk di ruang makan sambil memeluk tas ranselnya. Menikmati secangkir kopi panas dan singkong goreng buatan Bu Ida. Kedua asisten rumah tangga itu, Bu Ida dan Bu Sari sedang berkolaborasi di dapur mewah Pram, bekerja sama membuat sarapan untk sang majikan.


“Ayo Sam! Habiskan kopimu. Kita berangkat sekarang!” perintah Pram


“Sayang, kamu tidak sarapan dulu?” tanya Kailla, setelah melihat Pram sudah bersiap menuju ke luar sambil mengenakan kacamata hitamnya.


“Aku sarapan di Bali saja. Aku masih kenyang,” sahut Pram berjalan keluar mencari Donny atau Bayu yang akan mengantar mereka ke bandara.


Mendengar jawaban suaminya, Kailla langsung berlari ke dapur dan membuka salah satu lemari di kitchen set. Memgambil sebuah kotak bekal dan mengisinya dengan nasi uduk komplit buatan kedua asistennya. Lengkap dengan bihun goreng.


“Ayo Sam! Habiskan segera sarapanmu!” perintah Kailla, berlari keluar menyusul Pram.


Pram sedang berdiri di depan mobil berbicara dengan Donny dan Bayu, saat Kailla menghampirinya sambil memeluk kotak bekal.


“Sayang, kamu bisa makan ini di jalan,” sodor Kailla. Pram tersenyum, melihat tingkah Kailla saat ini. Istrinya hanya terbalut gaun tidur sederhana, rambut yang dikuncir tinggi dengan beberapa anak rambut berontak keluar dari ikatannya. Ditambah sandal bulu bermotif hello kitty.


Melihat itu semua, Pram bukannya meraih kotak bekal, tapi dia langsung merengkuh pinggang istrinya dan mengecup pucuk kepala Kailla.


“Jangan nakal di rumah,” pinta Pram tersenyum.


“Iya..,” sahut Kailla singkat, masih setia memeluk kotak bekal yang disiapkannya untuk sang suami.


Semilir angin pagi itu lumayan dingin, samar terdengar riak ombak kecil dari laut di seberang jalan rumah mereka. Donny masih saja sibuk memeriksa mobil dibantu Bayu. Kedua asisten itu memilih menyibukkan diri sendiri ketimbang mengintip kemesraan kedua majikannya yang sedang saling memeluk seolah akan berpisah lama.


“Seperti akan pergi jauh saja!” gerutu Bayu kesal melihat kedua majikannya yang terlalu berlebihan.


“Kai, ikut denganku ke bandara ya?” tawar Pram, masih belum mau melepaskan tangannya dari pinggang sang istri.


Kailla menatap ke arah suaminya. “Baiklah! Aku mengganti pakaianku dulu,” ucap Kailla.


“Tidak-tidak! Pakai gaun tidur ini saja. Minta Bu Ida ambilkan jaketku di lemari kamar,” sahut Pram. Tak lama, dia sudah memerintah Bayu untuk meminta Bu Ida mengambil jaket yang dimaksud.


“Aku tidak mau kamu berdandan, aku takut pulang mengantarku, kamu malah mampir ke mall tanpa sepengetahuanku,” ucap Pram, sedikit cemburu. Menempelkan hidungnya pada hidung Kailla, sambil tersenyum.


‘Kenapa harus begini menggemaskannya dirimu!” ucap Pram, meraih dagu lancip Kailla, dan mencium bibir tipis istrinya. Dia lupa, mereka sedang di halaman rumah.


“Astaga, belum minum kopi hangat, kenapa dadaku terasa panas,” ucap Donny mengelus dada, menatap pemandangan tidak jauh darinya. Sang majikan berciuman dengan tidak tahu malunya.


“Biasa saja! Sudah mau keluar bola matamu!” kejut Bayu, menepuk pundak Donny yang sedang menatap serius ke arah Pram dan Kailla.


“Aku baru kali pertama melihat siaran langsung ini. Biasanya cuma siaran ulang, itupun hanya review dari penonton. Mungkin kalian sudah terbiasa,” ucap Donny mengalihkan pandangannya.


Tak lama, dari pintu utama tampak Bu Ida keluar, menenteng jaket coklat dan menyerahkannya pada Pram. Dia menggelengkan kepala sambil berdecak, saat masih kebagian menonton adegan ciumannya majikannya.


“Pakai ini!” ucap Pram, membantu Kailla memakaikan jaketnya.


Tak lama keduanya sudah berada di dalam mobil. Dengan Kailla yang duduk, menyusup masuk ke dalam pelukan suaminya. Pram sedang menikmati sarapan paginya, berbagi dengan Kailla yang sedang sibuk memainkan kerah jaket hitamnya.


“Sayang, aaak...,” pinta Pram, menyuapkan sesendok penuh nasi uduk dengan tempe orek ke mulut Kailla.


“Sayang, nanti kabari aku terus-terusan. Aku mau video call, jadi aku bisa melihatmu,” pinta Kailla manja.


“Melihatku atau melihat sekitarku. Ada gadis yang menggodaku atau tidak. Begitu kan tujuanmu,” jawab Pram, tersenyum. Dia baru menyadari, seberapa besar rasa cemburu Kailla padanya. Padahal, jauh di dalam hatinya, dia lah yang sebenarnya ketakutan setiap kali meninggalkan Kailla seorang diri. Dia takut istri labilnya itu akan berpaling pada laki-laki yang jauh lebih muda darinya.


Sampai di bandara, Pram mengecup istrinya. Rasanya dia enggan berpisah dengan keduanya. Istri dan anaknya. Tapi urusannya kali ini, juga tidak kalah penting. Ada masa lalu, mungkin orang tuanya yang sedang menunggunya selama ini.


“Daddy jalan ya,” pamit Pram, kembali mengecup bibir istrinya, sekaligus perut yang masih rata, tempat buah hatinya tumbuh.


Sam yang berjalan mengikuti Pram, hanya melambaikan tangan. Mengekor sang majikan yang sudah terlebih dulu masuk.


***


Ruang tunggu bandara.



Pram yang terlihat tampan sedang duduk manis menunggu panggilan dari bagian informasi. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Citra Wijaya. Satu-satunya yang masih tersisa dari pasangan suami istri yang namanya tertera di akta kelahiran itu. Sang suami, Pratama Indraguna sudah meninggal dunia hampir 39 tahun yang lalu karena bunuh diri.


Sam masih sibuk menerima panggilan dari Kailla. Majikannya itu sedang memberi tips dan trik untuknya, sekaligus perintah khusus dalam menjalankan misinya untuk menjaga suami tercintanya.


“Kamu harus melaporkan padaku, apa yang dilakukan suamiku. Aku mau bukti foto!” perintah Kailla.


“Pastikan tidak ada gadis yang mendekatinya. Singkirkan segera dari suamiku!” lanjut Kailla, dari seberang telepon.


“Apalagi Non?” tanya Sam.


“Sementara itu saja!” jawab Kailla memutuskan panggilannya.


Sam baru saja akan menyimpan ponsel ke dalam tas ranselnya.



“Sam, kamu tidak perlu ikut denganku sampai ke Bali. Tunggu aku disini!” perintah Pram, membuat Sam terbelalak.


“Astaga! Bagaimana aku bisa melaporkan semuanya ke Non Kailla. Kalau aku ditinggal di ruang tunggu!” batin Sam.


***


Terimakasih.


Love You All.


Mohon bantuan Like komen dan share ya..