Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 177 : Mencari Tahu


“Sayang, sudah kan?” tanya Kailla dengan nafas tersengal-segal, setelah Pram menuntaskan semuanya. Suaminya itu masih belum rela berpindah, masih betah menindih tubuh polosnya.


Mendengar pertanyaan Kailla, Pram yang sedang menyandarkan kepalanya di dada istrinya langsung mengangkat kepala. Nafasnya masih belum teratur.


“Astaga! Dia masih belum lelah! Suaranya masih kencang. Apa harus main satu babak lagi ya. Agak lamaan dikit,” batin Pram tersenyum licik.


“Sayang, sudah kan? Ayo pindah, tubuhmu berat sekali,” rengek Kailla.


“Kan baru babak pertama Kai. Kalau main sepakbola itu dua babak. 2 x 45 menit, itu juga nanti ditambah perpanjangan waktu,” sahut Pram beralasan, berusaha menahan tawanya. Dia harus membuat Kailla lelah, supaya istrinya itu bisa cepat tertidur.


“Hah!?” Kailla kaget.


Dia menatap jam di dinding. Sudah hampir jam 10 malam. Acara tv kesukaannya pun sudah selesai. Dia hanya bisa pasrah kali ini. Tidak terlalu banyak protes.


“Tapi setelah ini kita tidur ya?” pinta Kailla dengan wajah memelas.


“Iya...” sahut Pram, mengangguk. Dia langsung setuju, setelah melihat Kailla benar-benar sudah kepayahan bersiap tidur sebentar lagi.


“Kita main pelan saja,” lanjut Pram.


***


Kailla sudah setengah tertidur saat Pram menyudahi semuanya. Bahkan istrinya sudah tidak bisa bergerak dan merespon panggilannya. Tidak jelas karena kelelahan atau mengantuk. Yang terpenting bagi Pram, Kailla sudah tertidur.


“Kai...., Sayang...,” panggil Pram, memastikan lagi kalau Kailla sudah terlelap.


Terpaksa dia membantu membersihkan dan mengganti pakaian tidur Kailla. Membangunkan Kailla saat ini, hanya akan menyulitkan dirinya sendiri. Dia jadi tidak bisa menyelinap keluar dan mencari tahu semua hal yang menghilangkan konsentrasi sejak sore tadi.


“Mimpi indah Sayangku,” bisik Pram , mengecup kening dan perut Kailla.


Dengan berjalan mengendap, dia perlahan membuka pintu kamarnya. Dia sudah tidak sabar untuk segera membongkar kembali berkas yang tadi sore sempat diacak-acaknya.


Saat ini Pram sudah duduk dengan map hitam terbentang di atas meja. Ada banyak hal yang disembunyikan mertuanya.


“Apa ini akta lahirku yang asli?”


“Tapi bagaimana bisa ada di tangan Riadi?”


“Kalau ini milikku, kenapa selama ini mertuaku tutup mulut?”


“Kalau ini milikku, berarti kedua nama itu adalah orang tuaku.”


Pertanyaan-pertanyaan itu yang sedari tadi menari di otaknya. Mata dan otak Pram sedang bekerjasama saat ini. Dia sempat terkejut saat melihat, bagaimana sepak terjang Riadi Dirgantara yang meminta istrinya sendiri, almarhumah Anna Wijaya mengalihkan semua aset termasuk perusahaan kepadanya sebelum meninggal.


Padahal seharusnya ada hak Andi Wijaya di sana, mengingat Wijaya Group adalah perusahaan keluarga Wijaya. Bukan hanya milik Anna Wijaya. Kalau mengingat statusnya hanya sebagai seorang menantu, dia tidak memiliki hak apa-apa untuk aset keluarga Wijaya. Dia hanya orang luar. Bahkan dia tidak meninggalkan sepeser pun untuk Andi Wijaya.


“Wow! Sisi lain Riadi Dirgantara. Benar-benar licik dan serakah!” ucap Pram pelan.


“Dia licik sekali, begitu mendapatkan semuanya, dia menonaktifkan Wijaya Group. Dan membangun Riadi Dirgantara Group sebagai gantinya.”


Pram kembali di buat terbelalak dengan selembar kertas berupa fotokopi tulisan tangan Riadi sendiri yang ditandatangani di atas materai.


“Wow! Apa yang diinginkannya. Dia merebut semuanya hanya untukku,” ucap Pram tidak percaya.


Di kertas itu tertulis semua aset atas nama Riadi Dirgantara dan Riadi Dirgantara Group akan diwariskan kepada Reynaldi Pratama. Bahkan Riadi mengizinkan Pram memakai nama Dirgantara. Pram sempat tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


Terlihat membaca ulang. Pram kembali menatap tahun dibuatnya surat wasiat itu. Ada banyak pertanyaan di benaknya saat ini. Untuk apa mertuanya melakukan semua ini.


“Surat ini dibuat sebelum Kailla lahir. Saat aku masih berusia 15 tahun. Apa tujuan mertuaku melakukan semua ini. Sebesar itu kah rasa sayangnya padaku,” ucap Pram pelan.


“Oh ya, pengacara pribadinya sempat menceritakannya padaku,” lanjut Pram lagi.


Setelah merasa tidak ada lagi hal penting yang bisa didapatkannya, Pram memilih menyimpan kembali semua data-data itu dan menghubungi seseorang.


“Tolong cari tahu, semua hal tentang Pratama Indraguna, Citra Wijaya dan PT Wijaya Indraguna. Aku mau informasi selengkap-lengkapnya!” perintah Pram.


“Iya Bos!”


“Oh ya, cari tahu juga tentang putra mereka yang bernama Reynaldi Pratama!” lanjut Pram.


“Siap Bos!”


“Aku butuh secepatnya!” titah Pram sebelum memutuskan panggilan teleponnya.


***


Kailla membuka gorden kamarnya. Jendela besar di kamarnya menampilkan pemandangan laut yang berada tepat di seberang jalan depan rumahnya.


“Cantik,” ucapnya pelan.


“Tapi tidak secantik istriku,” bisik Pram tiba-tiba di telinga Kailla.


“Astaga, kamu mengagetkanku Sayang,” ucap Kailla, memukul pelan tangan Pram yang sudah memeluk dan mengunci tubuhnya dari belakang,


“Cantik kan?” tanya Pram, telunjuknya sedang terarah pada kaca di jendela.


“Hmmmmm,” gumam Kailla.


“Aku jatuh cinta pada rumah ini tepat saat aku sedang berdiri disini juga, menatap lautan luas di depan sana. Dan aku yakin, istriku juga pasti akan merasakan hal yang sama,” cerita Pram.


“Benarkah?” tanya Kailla berbalik menatap Pram yang sedang berdiri memeluknya.


“Iya...,” ucap Pram, merapikan rambut panjang Kailla dan menyingkirkannya disisi kiri pundak istrinya.


“Aku membayangkan, kita menghabiskan masa tua dengan berdiri disini. Menunggu anak-anak kita pulang sambil menatap matahari sore yang tenggelam di ujung sana,” bisik Pram, meletakkan dagunya di pundak kanan Kailla.


“Sayang, aku tidak mau ditinggal sendiri,” bisik Kailla. Membayangkan umurnya yang berbeda 20 tahun dari sang suami, terkadang ada ketakutan sendiri di hati kecilnya. Dia takut Pram akan meninggalkannya terlebih dulu. Walaupun umur tidak ada yang tahu. Tapi rasa ketakutan itu, terkadang muncul di sudut hatinya.


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” janji Pram, mengecup pipi Kailla sekilas.


Cup!


“Benarkah?” tanya Kailla.


“Iya..,” sahut Pram, mengeratkan pelukannya.


“Ayo bersiap. Kamu mau ikut ke kantor bersamaku?” tanya Pram.


“Aku berangkat siang ya. Aku masih mau belajar memasak dengan Bu Ida dan Bu Sari,” jelas Kailla.


“Baiklah, aku mandi sekarang. Mau mandi bersamaku?” tawar Pram.


Kailla menggeleng. “Nanti malah jadinya lama!” ucap Kailla tersenyum. Dia sudah membayangkan apa yang terjadi, kalau mandi bersama Pram.


***


“Kai, nanti minta Sam dan Bayu mengantarmu ke kantor,” ucap Pram, merapikan kancing kemejanya.


Hmmmmm,” gumam Kailla, tidak menjawab dengan jelas. Dia masih saja betah berdiri di depan jendela.


Terlihat Pram mendatangi istrinya, menyodorkan dasi ke tangan Kailla.


“Tugas rutinmu, Sayang,” ucap Pram tersenyum. Kailla dengan cekatan langsung memasangkan dasi biru dongker itu di leher Pram.


“Sempurna!” komentar Kailla, tersenyum puas melihat dasi yang sudah terpasang rapi di leher suaminya.


“Hari ini anak daddy rewel?” tanya Pram, mengusap perut istrinya sebentar.


“Tidak Dad...,” sahut Kailla singkat. Sejak kembali ke Indonesia, bayinya tidak pernah rewel, tidak pernah minta yang aneh-aneh dan tidak pernah mual-mual apalagi sampai muntah.


“Baiklah, aku berangkat ke kantor sekarang,” pamit Pram setelah memastikan dasinya sudah terpasang sempurna.


“Sampai jumpa nanti siang, anak daddy,” bisik Pram, membungkuk mengecup perut Kailla.


“Nanti aku akan menghubungimu Kai,” ucap Pram, mengandeng tangan Kailla, ikut keluar kamar.


***


Terimakasih


Love You all


Mohon dukungan like komen and share ya...