Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 112 : Cemburu Jilid II


Kailla tersenyum menatap lunch bag berisi makan siang yang ada di pangkuannya.


“Cerdas kamu Kai! Sekali merengkuh dayung 2-3 pulau terlampaui. Suamimu tidak akan menyangka, kamu ke kantor untuk memata-matainya, sebaliknya dia akan memujimu karena sudah membawakannya makan siang,” ucap Kailla dalam hati.


Berbeda dengan Kailla, Bayu yang duduk di kursi depan sedang pusing memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan. Kemarahan dan teriakan Pram masih terngiang-ngiang di telinganya. Padahal pada saat itu, dia hanya ingin menolong Kailla yang sedang ketakutan. Dia masih ingat jelas, Pram yang terlihat biasa saja di depan istrinya, tapi begitu hanya berduaan dengan Bayu, laki-laki itu seperti harimau kelaparan yang siap menerkamnya.


***


Flashback On


“Jangan pernah masuk ke kamar istriku tanpa seizinku! Sekali lagi kalau aku melihatmu berdua dengannya di dalam kamar, aku akan membunuhmu! Bahkan Sam saja tidak berani melakukannya!” teriak Pram saat mereka berdua sudah berada di ruang kerja Pram.


“Maaf Bos, Non Kailla ketakutan pada saat itu. Saya tidak ada niat berbuat macam-macam,” sahut Bayu sambil menunduk.


“Aku tidak masalah kalau dalam keadaan terpaksa kamu harus menyentuh istriku. Tapi aku tidak suka kamu berada di tempat tertutup dan hanya berdua dengannya. Apalagi di dalam kamar tidurnya. Asisten yang lain sudah paham, mungkin kamu masih baru,” jelas Pram.


“Mulai sekarang tugasmu bukan hanya menjaganya, kamu harus melaporkan semua yang dilakukannya padaku. Semuanya! tanpa terkecuali!”


“Baik Bos!” sahut Bayu.


“Carikan satu orang lagi untuk menjaga istriku! Tapi aku tidak ingin Kailla sampai tahu,” perintah Pram.


“Baik Bos!”


Flashback Off


***


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Bayu memutuskan mengabari Pram melalui pesan.


“Maaf Bos, Saya sedang mengantar Non Kailla ke kantor. Sepertinya Non Kailla membawa makan siang untuk Bos.” -Send-


Pram baru saja melangkah masuk ke dalam restoran bersama Winny saat sebuah pesan masuk di ponselnya.


“Bentar Win, kamu duluan saja,” ucap Pram saat melihat sebuah pesan masuk dari Bayu. Setelah membaca isi pesan Bayu, Pram segera menemui Winny yang sudah duduk di meja pojok.


“Win, aku harus kembali ke kantor. Istriku membawakan makan siang untukku. Maaf ya, next time aku akan mentraktirmu,” pamit Pram sambil berlari menuju mobilnya.


Dia sudah tidak mendengarkan jawaban Winny. Saat ini dia hanya ingin segera sampai ke kantor dan memeluk istrinya. Membaca pesan dari Bayu, hatinya langsung berbunga-bunga. Dia ingat tadi pagi Kailla bercerita akan memasak. Mungkin maksud Kailla adalah memasak makan siang untuknya.


***


Tampak Kailla turun dari mobil dan menenteng lunch bag di tangannya dengan senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Tujuannya saat ini adalah ruangan Pram. Dia ingin memberi kejutan untuk suaminya. Tadi pagi dia sudah memastikan, Pram tidak ada jadwal meeting di luar. Kemungkinan besar suaminya akan makan di kantor.


Tapi begitu masuk ke ruangan Pram, suaminya tidak ada. Hanya ada Mitha yang sedang menyusun berkas di atas meja kerja Pram.


“Siang Nyonya,” sapa Mitha sambil tersenyum. Senyum itu lebih tulus dibanding awal pertemuan mereka.


“Siang!” jawab Kailla seadanya. Dia tidak mau berbasa-basi dengan Mitha.


“Suamiku dimana?” tanya Kailla lagi, masih dengan wajah tidak sukanya. Terlihat dia meletakkan lunch bag di atas meja kerja Pram.


“Pak Presdir sedang makan siang di luar bersama Bu Winny,” sahut Mitha. Dia dengan sengaja menyebut nama perempuan yang dicurigai memiliki hubungan dengan Presdirnya. Di ingin melihat bagaimana reaksi istri Presdinya mendengar nama perempuan itu.


“Oh... sudah lama?” tanya Kailla lagi. Tidak ada nada cemburu atau tidak suka dalam kata-kata Kailla.


“Baru saja Nyonya.” Mitha menjawab, matanya menatap Kailla tidak berkedip. Dia heran melihat reaksi istri Presdirnya itu.


“Aneh! Kenapa Nyonya ini tidak cemburu. Tapi denganku dia mengajak perang. Padahal jelas-jelas Pak Presdir tidak memberiku kesempatan mendekatinya. Tapi Bu Winny bisa mengobrol akrab dengan Presdir tanpa dicemburui istrinya,” ucap Mitha dalam hati.


“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Kailla ketus. Dari awal dia sudah tidak suka dengan Mitha yang selalu menempel pada suaminya. Walau belakangan ini dia sudah tidak melihat Mitha mencuri kesempatan, tapi kesan pertamanya pada Mitha sudah tidak baik.


“Tidak Nyonya, saya heran saja kenapa Nyonya tidak menyukaiku,” ucap Mitha memberanikan diri bertanya.


“Karena kamu perempuan penggoda! Aku tidak suka dengan perempuan yang suka menggoda laki-laki, apalagi kalau laki-laki itu sudah beristri!” jawab Kailla langsung menembak ke sasaran membuat Mitha tidak bisa berkata apa apa.


“Maaf Nyonya, sepertinya Nyonya salah paham. Saya tidak berniat untuk menggoda Pak Presdir. Saya cukup tahu diri, siapa saya,” jawab Mitha berusaha menahan emosinya. Kata-kata Kailla tadi benar-benar membuat emosinya terpancing. Kalau tidak ingat dia butuh pekerjaan ini, pasti dia sudah menarik rambut istri Presdirnya ini.


“Itu urusanmu! Mau tahu diri atau tidak,” jawab Kailla kasar.


“Nyonya..” Mitha tidak dapat menyelesaikan kata katanya, Kailla sudah menyela.


“Maaf ya Mit, aku tidak berniat mengobrol denganmu!” potong Kailla tidak memberi kesempatan perempuan di hadapannya untuk berbicara lebih lanjut.


Melihat kesombongan Kailla, emosi Mitha benar-benar terpancing saat ini.


“Anda salah orang Nyonya, yang harus anda cemburui saat ini bukan saya, tapi perempuan yang sedang makan siang dengan Pak Presdir!” ucap Mitha dengan emosi.


Mata Kailla langsung melotot mendengar ucapan Mitha.


“Apa maksudmu? Kamu mengetahui sesuatu?” tanya Kailla. Dia memilih duduk di sofa menatap tajam ke arah Mitha.


Mitha tersenyum saat ini, melihat Kailla yang sudah terpancing kata-katanya.


“Ayo cepat katakan padaku! Jangan hanya senyum-senyum. Apa yang dilakukan suamiku dengan perempuan itu... eh.. siapa namanya tadi?” tanya Kailla.


“Ibu Winny, Nyonya.” jawab Mitha. Dia memilih duduk di sebelah Kailla. Sekarang Mitha seperti mendapat angin segar.


“Aku akan melaporkannya padamu, semuanya Nyonya,” ucap Mitha.


Terlihat Mitha bercerita pada Kailla, dari awal pertemuan Pram dan Winny sekaligus pertemuan mereka tadi pagi. Semua diceritakan Mitha tanpa ada yang terlewatkan. Bahkan ekspresi Pram ketika berbicara pun disampaikan ke Kailla.


“Ah, aku tidak percaya padamu Mit,” celetuk Kailla. Kali ini dia lebih bersahabat saat berbicara dengan Mitha.


“Sumpah Nyonya! Aku tidak berbohong. Aku saja tadi sudah ingin menjambaknya saat melihat dia menyodorkan cake ke Pak Presdir,” adu Mitha.


“Lalu kenapa kamu tidak menjambaknya, aku akan memberimu bonus kalau kamu melakukannya,” ucap Kailla sambil terkekeh kali ini.


“Serius Nyonya?” tanya Mitha memastikan.


Kailla mengangguk.


“Ah.. kamu terbaik Nyonya!” ucap Mitha, dia sudah ingin memeluk Kailla saat ini.


“Laporkan saja padaku, apa yang dilakukan suamiku diluar sana. Aku akan memberimu bonus. Deal?” tanya Kailla, sambil menyodorkan tangannya pada Mitha.


“Deal Nyonya!” jawab Mitha, menerima uluran tangan Kailla.


“Tapi kalau sampai aku melihatmu menggoda suamiku, aku akan menyeretmu keluar dari gedung ini. Kamu tahu kan siapa aku?” ucap Kailla mengancam Mitha.


“Siap Nyonya, mulai sekarang aku di pihakmu,” jawab Mitha sambil tersenyum.


“Oh ya, aku punya sesuatu untukmu Nyonya. Supaya kamu yakin, ucapan ku ini benar-benar bisa dipertanggung jawabkan. Bukan asal bicara.” Mitha tampak mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Pram dan Winny.



Wajah Kailla langsung berubah saat Mitha menunjukkan foto suaminya dan Winny. Foto itu tidak menunjukan perselingkuhan suaminya, tidak ada yang istimewa dari foto itu. Hanya foto biasa saja. Tapi yang membuat dia marah seketika, perempuan itu adalah perempuan yang sama, yang membuat Pram meninggalkannya dan daddy di rumah sakit.


“Ini kan perempuan yang berpelukan dengan suamiku di depan apotik,” bisik Kailla pelan.


Matanya sudah berkaca-kaca. Tangannya mengepal, dengan kasar dia mengusap air mata yang turun di pipinya.


“Perempuan yang sama! Kalau tidak ada apa-apa, kenapa dia harus mengikuti suamiku sampai ke Austria!” bisik Kailla pelan.


***


Terimakasih.