
“Kai..... , “ panggil Pram sekali lagi. Dia tersenyum menatap pemandangan di depan matanya. Pemandangan yang selalu sama setiap istrinya marah.
“Kali ini aku pastikan, kamu sendiri yang akan memohon padaku Kai!” ucap Pram dalam hati.
Pram berjalan menuju pintu, memanggil Bu Ida untuk mengeluarkan semua nampan makanan di dalam kamar dan menggantikannya dengan makanan baru. Terlihat dia menyampaikan sesuatu kepada Bayu sebelum masuk lagi ke dalam kamarnya. Dia memilih mendiamkan Kailla, membiarkan istrinya tetap bersembunyi di balik selimut. Senyum licik tersungging di bibirnya, membayangkan bagaimana sebentar lagi istrinya akan menempel padanya.
Tampak Pram berbaring di sofa empuk kamarnya dan mengeluarkan ponsel dari saku celana. Jari-jarinya terlihat sibuk menggeser layar dari atas ke bawah, mencari sesuatu yang menarik disana. Belum sampai 5 menit, dia sudah berteriak kaget, melihat berita yang terpampang di layar ponselnya
“Mengerikan sekali!” ucap Pram dengan setengah berteriak. Matanya melirik ke arah ranjang, melihat respon istrinya.
“Gadis cantik ini benar-benar terjun dari lantai paling atas apartemennya, ckckck... bisa dipastikan tubuhnya hancur dan rohnya akan gentayangan. Mengganggu semua penghuni apartemen,” lanjut Pram masih dengan setengah berteriak.
“Kai...., ayo kemari. Coba kamu lihat! Gadis ini cantik sekali. Siapa tahu kalau dia menampakkan dirinya padamu, jadi kamu tidak kaget lagi,” tawar Pram. Sekali lagi matanya melirik ke ranjang, belum ada pergerakan dari istrinya sama sekali. Tapi Pram yakin Kailla mendengar jelas dari balik selimutnya. Dia sudah memastikan suaranya cukup kencang, bahkan kalau Bu Ida jeli, dia akan bisa mendengar teriakan Pram.
“Sama cantiknya denganmu Kai.” Pram terkekeh. “Waduh menyedihkan sekali! Disini wajahnya hancur. Kalau kamu bertemu dengannya, mungkin kamu sudah tidak bisa mengenalinya lagi, Sayang,” ucap Pram serius.
Pram menghela napas, otaknya sedang berpikir keras. “Astaga! Kejadian ini di Wina Kai!” Pram pura-pura bergidik ngeri. Terlihat dia bangkit berjalan menuju jendela, menyibak kasar gorden putih dan melihat ke bawah apartemen.
“Mudah-mudahan bukan apartemen kita ya Kai,” celetuk Pram. Dia berusaha menahan senyum di wajahnya, takut tiba-tiba Kailla menyibak selimutnya dan melihat raut wajah berbohongnya saat ini. Dengan sengaja dia menutup kembali gorden itu dengan kasar, dengan harapan suara gorden itu bisa memberi efek kaget untuk istrinya.
Tak lama, Bu Ida mengetuk pintu dan membawa nampan makanan baru, masuk ke dalam kamar.
“Ini Pak,” ucap Bu Ida singkat.
“Terimakasih Bu. Kalau Bayu sudah kembali dari urusannya, kalian boleh kembali ke unit kalian Bu,” titah Pram.
“Baik Pak,”
“Kai, kamu serius tidak mau membacanya? Bisa saja ini terjadi di apartemen yang kita tempati sekarang!” cerita Pram kembali setelah memastikan Bu Ida keluar dari kamarnya.
Deg— Kailla terdiam di balik selimut. Matanya terbelalak seketika, dia menelan ludahnya berkali-kali. Dia tahu Pram berbohong padanya, tapi kenapa rasanya bulu kuduknya merinding saat ini.
“Jangan-jangan Om serius?” batinnya.
“Kai, habiskan makananmu ya. Aku masih ada urusan dengan Bayu, aku harus keluar sebentar,” pamit Pram lembut setelah yakin ceritanya barusan sudah mempengaruhi otak istrinya.
Mendengar ucapan Pram barusan, Kailla langsung membuka sedikit selimutnya, mengintip suaminya.
“Serius dia mau meninggalkanku sendirian di kamar. Kalau gadis bunuh diri itu beneran ada, aku harus bagaimana?”
Tampak Pram berjalan menuju ke pintu, tepat saat gagang pintu itu terayun ke bawah terdengar suara Kailla dari balik selimut.
“Aku akan makan sekarang!” ucap Kailla, buru-buru dia melempar selimutnya dan meloncat turun mengambil nampan makanan yang baru diantar Bu Ida.
“Tapi Om jangan kemana-mana, temani aku makan ya,” pinta Kailla manja. Dia sudah duduk manis di sofa, memangku nampan makanannya.
Pram yang masih berdiri kaku di depan pintu berusaha menahan tawanya. Dia masih tetap ingin melanjutkan niatnya untuk keluar dari kamar mereka sekarang.
Ceklek!
Kailla langsung kaget, matanya melotot menatap punggung Pram. “Sayang.....,” rengek Kailla tiba-tiba. Segera dia meletakkan nampan itu ke atas meja. Berlari memeluk punggung Pram.
“Sayang, suapi aku makan ya,” rengek Kailla manja. Tangannya membelit kencang perut Pram. Tidak membiarkan suaminya itu melewati pintu kamarnya, kepalanya sudah bersandar di punggung Pram.
“Aku cuma sebentar Kai,” ucap Pram serius.
“Ya sudah, aku ikut keluar.” Kailla langsung bergelayut manja di lengan Pram. Tidak membiarkan laki-laki itu menjauh darinya. Begitu melewati ruang tengah, tepat di depan perapian Pram berhenti sejenak.
“Kai, kalau lihat perapian itu ingat film vampire dan manusia serigala ya,” ucap Pram sambil tersenyum.
Plakkk!
“Aku sedang tidak ingin mengingat apa-apa!” Kailla memukul lengan Pram kesal. Di saat dia sedang ketakutan, Pram malah mengingatkannya pada cerita yang menyeramkan. Sambil berjalan, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sepi!
“Bay, mana pesananku?” tanya Pram begitu mereka sudah berada di ruang tamu. Bayu dan Bu Ida yang melihat Kailla menempel di lengan Pram langsung mengulum senyumannya.
Baru saja dia melihat, bagaimana Kailla membungkus tubuhnya rapat-rapat dengan selimut saat mengantar nampan makanan. Bukannya dia tidak tahu kebiasaan majikannya setiap kesal atau marah.
Tampak Bayu menyodorkan shopping bag kepada Pram. “Ini Bos!”
“Oke, thanks Bay! Kalian boleh kembali ke unit. Jangan lupa pastikan pintunya terkunci. Aku tidak mau ada hal-hal mengerikan terjadi di dalam apartemenku.” ucap Pram tersenyum menatap Kailla yang masih saja menempel di lengannya.
“Baik Pak,” ucap Bu Ida.
“Oke Bos!” ucap Bayu.
***
Setelah masuk kembali ke kamar, Pram memilih duduk di sofa menemani Kailla menghabiskan makanannya.
“Kai, kamu belum mau mandi?” tanya Pram setelah melihat Kailla meletakkan kembali piring kosongnya ke atas nampan.
“Temani aku mandi Om. Aku takut!” pinta Kailla dengan wajah memelas.
Mendengar permintaan Kailla, Pram serasa memenangkan undian hadiah utama. Hatinya langsung berbunga-bunga, pikiran kotornya sudah berjalan kemana-mana. Dengan senyum lebar dia langsung menganggukan kepalanya. Seperti anak kecil yang diajak ibunya pergi ke taman bermain.
Tapi kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Baru saja dia akan menerobos masuk ke kamar mandi mengekor istrinya. Tiba-tiba Kailla menahannya.
“Om, tunggu disini saja!” ucap Kailla menunjuk ke dinding di samping pintu kamar mandi.
“Kamu tidak salah Kai?” tanya Pram memastikan lagi dengan mata melotot. Kailla tersenyum sambil mengangguk. Tanpa melihat lagi bagaimana ekspresi suaminya, dia sudah melenggang masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu.
Tapi baru sebentar masuk ke dalam, Kailla sudah menjulurkan kembali kepalanya dari balik pintu.
“Om jangan kemana-mana ya!” perintahnya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Pram. Pram hanya bisa mengangguk, tubuhnya melemas bersandar di dinding. Rencana nakal yang sudah tersusun rapi di otaknya, menguap entah kemana.
Tak lama, terdengar suara gemericik air shower dari dalam kamar mandi. Pram hanya bisa bersandar di dinding memejamkan matanya, menunggu Kailla selesai mandi.
“Om...” samar terdengar suara Kailla memanggil dari dalam kamar mandi. Suara itu bercampur dengan suara air dari shower. Pram yang tidak begitu jelas mendengar, tidak menanggapi sama sekali.
“Om...,” panggil Kailla lagi. Kali ini Kailla muncul dibalik pintu dengan rambut basah tergerai. Tubuh polosnya hanya terlilit handuk putih.
“Iya..” Pram menjawab singkat, membuka matanya menatap Kailla.
“Kenapa tidak menjawab panggilanku? Aku pikir Om sudah pergi.” protes Kailla.
“Aku tidak tenang jadinya!” lanjut Kailla mendengus kesal. “Pintunya aku buka saja, jadi aku bisa mengobrol denganmu setiap saat,” usul Kailla. Segera dia masuk kembali dan meneruskan mandinya.
Tapi tak lama, sudah terdengar lagi suara Kailla dari dalam kamar mandi. “Om.. kamu masih disana kan?” panggil Kailla setengah berteriak.
“Hmmmmm,” Pram hanya menjawab dengan gumaman. Matanya tetap terpejam, tubuhnya bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat di dada.
5 menit kemudian terdengar lagi suara Kailla memanggil Pram dan kejadian itu berulang setiap 5 menit sekali. Pram sampai bosan menjawab dan memilih mendiamkannya. Tidak menjawab sama sekali pada akhirnya. Dia sudah hampir tertidur di samping pintu kamar mandi, kalau Kailla tidak muncul dan mengagetkannya.
“Om, kamu menunggu di dalam saja!” pinta Kailla menarik tangan Pram masuk ke dalam kamar mandi. “Aku memanggilmu, tapi kamu tidak menjawab sama sekali.” lanjut Kailla kesal.
“Om menunggu disini saja!” Kailla membawa Pram berdiri di depan wastafel. “Aku masih mau berendam, aku tidak tenang kalau tidak melihatmu,” jelas Kailla.
“Ya Tuhan... Kailla,” Pram hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Menatap istrinya melepas handuk dengan tubuh polosnya masuk ke dalam bath up.
“Ini benar-benar gila Pram!” ucap Pram pada dirinya sendiri, setelah beberapa saat dia hanya bisa menonton Kailla yang sedang berendam sembari memejamkan matanya. Istrinya benar-benar menikmati acara berendamnya tanpa memikirkan perasaannya saat ini.
“Terserah sajalah, dia mau mengomel. Itu urusan belakangan. Lama-lama aku bisa gila, kalau cuma disuruh berdiri disini.” Pram berkata. Tanpa berpikir panjang dia melepas pakaiannya, ikut masuk ke dalam bath up menyusul istrinya.
***
Terimakasih.