Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 196. Perlawanan Kailla


“Katakan apa maumu? Kailla tidak ada hubunganya dengan semua ini!” ucap Pram penuh penekanan, menatap tajam ke arah Andi yang masih saja tersenyum santai.


“Hehehe ...." Andi terkekeh, menatap Pram dengan wajah menyebalkan.


“Kita duduk dulu, bicara dengan tenang,” bujuk Andi, setelah melihat senjata yang masih digenggam erat Pram.


“Aku harus berhati-hati padanya. Kalau tidak, tamat riwayatku!” batin Andi.


“Kopi hitam kesukaanmu?” tawar Andi, tersenyum.


“Tidak perlu mengulur waktu. Aku ke sini untuk menjemput istriku.” Pram berkata, tanpa basa-basi.


“Kesepakatan apa yang kamu inginkan? Mari kita selesaikan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan.”


“Baiklah, bujuk istrimu untuk menandatangani pengalihan perusahaan atas namaku! Aku sudah mengecek, perusahaan itu sudah dialihkan. Bukan atas nama Riadi lagi,” pinta Andi, tersenyum licik.


“Oh ya? Hahaha ....” Pram terbahak kali ini. Ternyata Andi tidak sepintar yang dipikirkannya.


“Baiklah, katakan di mana istriku? Aku akan membujuknya,” jawab Pram tersenyum, setelah menghentikan tawanya. Ia yakin Andi tidak akan menyakiti Kailla sebelum mendapatkan tanda tangan istrinya yang tidak berpengaruh apa-apa. Perusahaan itu miliknya sekarang. Ya, RD Group milik Reynaldi Pratama, bukan Kailla.


Terlihat Andi berpikir lama. Ia menatap Pram yang berdiri mematung di depannya.


“Aku tidak bisa percaya pada Pram. Dia bukan laki-laki yang mudah ditaklukan!” batin Andi.


“Kalau tidak percaya padaku. Kamu bisa membujuk istriku sendiri!” gertak Pram.


“Tapi aku tidak yakin ... gadis nakal itu mau mendengarkanmu. Aku paling mengenal istriku. Hanya mendengar suaraku saja, istriku akan luluh lantah,” lanjut Pram.


Setelah lama berpikir, Andi mengeluarkan ponselnya. Jarinya mengusap layar gawai itu dengan lincah dan akhirnya menghubungi seseorang. Nada sambung di ponsel bisa terdengar jelas, Andi sengaja menyalakan speaker supaya Pram bisa ikut mendengar bersamanya.


Begitu panggilan tersambung, suara Kailla yang nyaring mendominasi di sana. Pram tersenyum, istrinya ternyata masih memiliki tenaga melawan. Masih bersuara lantang. Namun, senyum di bibir pria itu hilang seketika saat pekikan Kailla terdengar memilukan sekaligus mengerikan.


“Ahh ... sakit!” Kailla berteriak nyaring. Pekikan itu tidak berlangsung lama, karena sepertinya Kailla menggigit seseorang. Teriakan Kailla menghilang, berganti kemarahan laki-laki yang hanya bisa Pram dengar dari ponsel Andi.


“Aw! Kamu berani menggigitku! Aku akan membunuhmu sekarang!” teriak laki-laki itu dengan suara kasar.


“Jangan pernah menyentuh istriku, aku akan memecahkan kepala Andi saat ini juga!” teriak Pram.


“Apa yang terjadi?” tanya Andi pada seseorang di seberang telepon.


“Perempuan ini menyusahkan sekali, Bos! Kalau bukan karena Bos berpesan tidak boleh menyakitinya, sudah kupastikan dia lenyap di tanganku saat ini,” ucap anak buah Andi kesal bercampur marah.


Kalimat anak buah Andi yang baru saja didengarnya, seketika membuat Pram mengarahkan senjata ke kepala Andi. Kedua asisten Andi yang berjaga langsung bersiap untuk mengamankan bos mereka.


“Turunkan senjatamu, Pram, kalau tidak mau istrimu terluka,” pinta Andi dengan santainya.


“Aku ingin bertemu langsung dengan istriku,” pinta Pram.


“Aku berjanji akan membujuknya, memberi perusahaan padamu,” lanjut Pram.


Andi yang tidak habis akal, hanya bersedia menyambungkan panggilan melalui video.


Mengarahkan layar itu, ke depan wajah Pram saat panggilan video itu tersambung.


“Sayang ... kamu baik-baik saja?” tanya Pram saat wajah Kailla sudah memenuhi semua layar ponsel Andi. Hatinya hancur saat melihat Kailla yang berantakan, rambut acak-acakan dan ada darah di pelipisnya. Dan yang membuat Pram hancur, saat melihat sorot mata ketakutan Kailla yang mengirim signal memohon.


“Sayang .... tolong aku,” pinta Kailla dengan wajah memelas.


“Ya, jangan melawan mereka. Aku pasti menolongmu,” ucap Pram, menenangkan.


Pram sedikit lega. Istrinya masih memiliki tenaga untuk melawan. Tidak seperti dugaannya, Kailla ketakutan dan menangis. Akan tetapi, kondisi seperti ini, tidak akan menguntungkan Kailla. Bisa saja laki-laki kasar di sampingnya akan menyakiti.


“Sayang, aku mau pulang. Aku lapar. Tolong aku,” rengek Kailla, mulai menangis.


“Ya ... kamu jangan nakal di sana, aku akan segera menolongmu,” pinta Pram, berusaha menyembunyikan tangisnya dengan memamerkan senyum menenangkan. Istrinya sendirian disana, dikelilingi laki-laki kasar yang setiap saat bisa saja menyakitinya.


Belum selesai Pram berbicara, Kailla sudah menggigit kembali tangan seseorang yang hendak menyentuhhnya.


“Sayang ... Sayang ... jangan lakukan itu,” pinta Pram mulai khawatir.


“Kamu jangan khawatir, mereka tidak akan berani padaku. Tapi aku lelah disini. Aku tidak bisa tidur, mereka menyebalkan semua. Mereka memintaku tidur di lantai,” keluh Kailla, berurai air mata.


Saat berhadapan dengan Pram, ia menjadi wanita lemah. Sebenarnya Kailla juga takut pada ketiga laki-laki kasar itu, tetapi ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan mereka. Kailla takut, kalau ia lemah, laki-laki itu akan menyakitinya dan anak di dalam kandungannya.


“Jangan mendekat, aku akan menggigitmu juga!” ancam Kailla saat salah satu laki-laki kasar itu kembali mendekat padanya.


Andi mengambil alih ponselnya, tidak mengizinkan Pram melihat lebih banyak lagi. Pram bisa mendengar Andi memerintahkan kepada beberapa laki-laki yang menjaga istrinya saat ini untuk tidak menyakiti Kailla sedikit pun.


“Kamu dengar sendiri, kan? Istrimu aman bersamaku. Bujuk dia menandatanganinya,” pinta Andi.


“Tidak. Aku akan membujuknya langsung. Aku mau menemuinya sendiri!” pinta Pram tersenyum.


“Aku pastikan istriku tidak semudah itu bisa ditaklukan. Kalau kamu mau, aku bisa membujuknya hanya dengan satu usapan saja!” Pram terkekeh. Setidaknya ia tenang, Andi tidak akan menyakiti Kailla sampai pria gempal itu mendapatkan tanda tangan istrinya.


“Hubungi aku kapan pun. Aku akan menolongmu mendapatkan tanda tangan itu. Tapi kalau kamu menyakiti istriku, aku pastikan akan menyeretmu ke penjara. Aku tahu semua sepak terjangmu terkait kematian Rania Sari, mertuaku,” ancam Pram, melangkah keluar dari rumah Andi.


Keluar dari pintu rumah Andi, David sudah berdiri di samping mobil, menunggu Pram. Ia terkejut melihat Pram yang berjalan keluar dengan menggengam sepucuk senjatanya.


“Tolong atur orang, untuk mengawasinya. Dia menculik istriku. Jangan bertindak, aku khawatir dia menyakiti Kailla,” bisik Pram, menepuk pundak David.


“Urusi mobilku!” perintah Pram, menunjuk ke arah Bentley hitam yang hancur di bagian depan.


“Mana kunci mobi? Aku mau menemui Bayu,” pinta Pram lagi.


Pria itu bisa bernapas lega saat ini, setidaknya Kailla masih baik-baik saja. Namun, ia harus segera menyelamatkan istrinya. Ia khawatir, Kailla berulah dan membuat kesabaran para lelaki yang ditugaskan menjaganya itu habis. Bisa saja mereka akan menyakiti tanpa ampun


Di sisi lain, David menggelengkan kepala, membayangkan seberapa banyak rupiah yang harus dikeluarkan perusahaan karena kegilaan Pram yang menabrak mobil mewahnya ke pagar rumah Andi.


****


Di sebuah gudang tua.


Suara teriakan Kailla membahana. Setelah sempat tertidur beberapa saat karena pengaruh obat bius.


“Lepaskan aku!” teriak Kailla pada laki-laki yang sedang mencekal kasar tangannya.


Kailla bisa menghitung ada tiga laki-laki berbadan kekar dengan tato dimana-mana.


“Cih! tato suamiku lebih keren dari pada punya kalian,” ucap Kailla masih dengan sikap angkuhnya.


“Lepaskan aku. Siapa yang membayar kalian menyekapku di sini?” tanya Kailla lagi.


“Hahahahaha.” Hanya terdengar tawa yang saling bersambut di antara ketiganya.


“Hanya seorang gadis kecil, tetapi nyalinya besar juga,” ucap salah satu laki-laki. Berdiri menatap Kailla dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Lepaskan aku! Aku bisa membayar kalian lebih banyak!” ucap Kailla, memohon.


Karena ketiganya tidak merespon, Kailla melempar mereka dengan barang-barang yang ada di sekitar.


Lemparannya berakhir saat salah satu laki laki itu menjambak kasar rambut panjangnya.


“Ah ... sakit! Kailla berteriak kesakitan. Dengan sisa tenaga, ia berhasil menggigit laki-laki kasar yang sudah berani menyentuhnya.


***


Tbc


Terima kasih.


Love you all