Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 194. Dua Orang Yang Membenci Kailla


Pram masih menunggu si penjual rujak buah menyiapkan pesanannya, saat pandangannya beralih menatap kerumunan orang-orang di dekat mobilnya terparkir. Ia tidak bisa melihat jelas, karena jaraknya lumayan jauh.


Ia harus mengantri lumayan lama hanya untuk seporsi rujak buah pesanan sang istri. Mau tidak mau, karena Kailla benar-benar menginginkannya. Pram bisa melihat sendiri, bagaimana istrinya menelan saliva beberapa kali tadi. Pria itu tidak tega menolak, seperti yang biasa dilakukannya.


“Terima kasih,” ucap Pram, mengeluarkan selembaran uang lima puluh ribuan setelah sebelumnya sempat bertanya jumlah yang harus dibayarnya. Meletakkan lembaran uang biru itu di atas meja gerobak. Tanpa menunggu kembalian atau jawaban penjual, Pram sudah melangkah pergi dengan senyum terukir di bibir menatap pesanan Kailla yang terbungkus kantong putih.


“Kembaliannya, Pak?” tanya si penjual setengah berteriak karena Pram sudah berlalu, bersiap menyeberang jalan yang lumayan padat siang ini.


Pram hanya tersenyum, tidak menjawab sama sekali. Dengan menenteng rujak buah pesanan Kailla, ia melangkah menuju mobil.


“Kenapa pada berkerumun?” ucap Pram pelan, saat jaraknya dengan mobil tertinggal beberapa langkah.


Perasaan Pram mulai tidak enak, tetapi ia memilih membuang jauh pikiran buruknya. Semua pandangan mata orang-orang yang berkerumun tadi tertuju padanya saat ia meraih gagang pintu mobilnya.


“Pak ....” panggil seseorang yang tidak dikenalnya dan ikut berdiri di trotoar, menatap mobilnya.


Deg—


“Kailla ... Sayang ....” bisik Pram dengan wajah memucat.


Panggilan orang itu tidak ditanggapi Pram. Ia sudah terlanjur terkejut melihat pemandangan di dalam mobil. Kaca jendela di sisi Kailla duduk hancur berkeping-keping, ada bercak darah menetes di jok kursi abu-abunya.


Namun, diantara semua kekagetan, yang membuat Pram menggila adalah Kailla tidak duduk di sana menunggunya. Istrinya menghilang.


“Pak, apa yang terjadi? Dimana perempuan yang duduk di dalam mobil ini?” tanya Pram berusaha tenang dan masih membuang pikiran buruk dari otaknya. Mudah-mudahan istrinya baik-baik saja dan sedang berada di dekat-dekat sini juga. Tampak Pram mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari sosok Kailla yang mungkin sedang menunggunya di luar mobil.


“Ada beberapa orang tadi mendatangi perempuan di dalam mobil bapak.”


“Lalu apa yang terjadi?” tanya Pram panik, wajahnya memucat. Ia sudah lupa di mana membuang kantong rujak buah yang baru dibelinya tadi.


“Eh ... dibawa pergi sama beberapa orang tadi, Pak,” jelas laki-laki asing itu.


“Sepertinya perempuan itu ....”


“Istriku ... perempuan itu istriku. Apa yang dilakukan mereka pada istriku. Kenapa tidak ada yang membantunya?” tanya Pram, memotong perkataan laki-laki tadi.


“Mereka membawa senjata, kami tidak berani mendekat, Pak. Mereka menodongkan senjata api pada kami.”


“Sepertinya istri bapak mengunci pintu mobil, sehingga mereka memaksa membukanya dengan menghancurkan jendela mobil,” jelasnya.


Saat ini Pram sudah panik. Pikirannya kosong seketika, yang bisa dilakukannya hanya menghubungi Bayu dan orang-orangnya supaya datang ke lokasi kejadian. Tampak Pram berusaha tenang dan bertanya banyak hal pada orang-orang yang melihat langsung kejadiannya.


Hatinya hancur saat seseorang bercerita padanya kalau istrinya sudah tidak sadarkan diri saat dikeluarkan paksa dari mobil. Tampak seorang perempuan, istri pemilik toko tempatnya bertanya menyodorkan segelas air mineral pada Pram.


“Terima kasih,” ucap Pram, tanpa berniat untuk meminumnya. Perasaannya berantakan sekarang. Terlihat Pram mendatangi mobilnya, melihat dari dekat apa saja yang tertinggal di dalam sana. Sejak tadi Pram hanya bertanya pada orang-orang, belum mengecek sendiri kondisi di dalam mobil.


“Kailla ....” Pram berkata lirih, meraih tas tangan istrinya yang terjatuh di kolong mobil. Mengecek semua isi tas, masih lengkap. Dompet, ponsel bahkan foto usg anak mereka masih rapi di dalam tas.


Tak lama, Bayu, Sam dan beberapa orangnya datang dengan beberapa mobil. Menghampiri Pram yang terlihat kalut.


“Apa yang terjadi, Bos?” tanya Bayu kaget melihat pemandangan mobil majikannya yang hancur.


“Cari tahu semuanya. Cek semua cctv, cari tahu identitas orang-orang yang membawa pergi istriku. Kalau perlu lapor polisi, lakukan apa yang bisa kamu lakukan. TEMUKAN ISTRIKU KEMBALI SECEPATNYA!” teriak Pram pada akhirnya.


Ia mengusap kasar wajahnya, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan menelungkupkan kepalanya di atas setir.


Tampak Pram mengeluarkan ponselnya, setelah berpikir kemungkinan orang yang menculik istrinya.


“Andi Wijaya!” bisiknya.


“Aku akan membunuhmu, kalau benar kamu yang melakukan semua ini,” ucap Pram lagi, mengepalkan tangannya. Memukul setir berkali-kali.


Emosi Pram kian memuncak, saat nomor ponsel Andi tidak dapat dihubungi.


“Brengse*k! Dia ingin main-main denganku!” ucap Pram kesal.


“BAY!” teriak Pram emosi.


“Seret orang ini ke depanku!” perintah Pram, menunjukkan foto Andi di ponselnya.


“Bos, sebaiknya Bos pulang. Aku akan mencari tahu semuanya.” pinta Bayu.


“Kerahkan semua anak buahmu. Temukan Kailla secepatnya, aku tidak mau terjadi apa-apa padanya,” perintah Pram sedikit melunak.


Sam yang berdiri tidak jauh dari mereka, memberanikan diri menghampiri Pram yang terlihat kacau. Majikannya itu sedang duduk di dalam mobil dengan wajah kacau.


“Pak, mau aku antar pulang. Kita menunggu kabar di rumah saja. Di sini tidak nyaman dan mengganggu banyak orang,” ucap Sam ragu.


Pram yang mendengar kata-kata Sam. Langsung mencekal kerah kemeja asisten itu. Ia sudah siap melayangkan tinju di wajah Sam. Kalau saja Bayu tidak mencegah, sudah dipastikan Sam akan menjadi korban berikutnya.


“Bos, tunggu di rumah saja. Aku janji akan memberi kabar secepatnya,” ucap Bayu.


“Biarkan Sam yang membawa mobil,” lanjut Bayu lagi , setelah melihat tampamg berantakan Pram, ia tidak yakin majikannya itu sanggup membawa mobil sendiri.


Pram tidak bicara sepatah kata pun, hanya menepuk lengan Bayu sebelum keluar dari mobil. Terlihat ia masuk ke mobil lain, yang sekarang sedang dikendarai Sam. Duduk di kursi belakang, tanpa bicara apapun. Pram hanya menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.Tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menemukan Kailla.


“Antarkan aku ke rumah Pondok Indah!” pinta Pram. Terlihat ia memijat pelipisnya. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada Kailla.


“Apa yang dilakukan Kailla sekarang? Apa dia menangis ketakukan?” ucap Pram pelan.


Sam berusaha menenangkan majikannya. Walau ia tahu nasibnya juga diujung tanduk kalau sedikit saja menyenggol Pram saat ini.


“Non Kailla tidak mungkin menangis, kalau dia masih bisa melawan Pak,” sahut Sam berusaha menenangkan.


Itu yang aku takutkan. Aku takut Kailla melawan dan itu akan membahayakan nyawanya. Aku tahu istriku dengan jelas,” ucap Pram pelan.


“Apa dia akan baik-baik saja, Sam?” Pram memberi pertanyaan bodoh kali ini. Ia saja tidak tahu jawabannya. Bagaimana Sam bisa menjawabnya.


“Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan Andi Wijaya!” ucap Pram, mengepalkan tangannya.


Deg—


Entah kenapa pikiran Pram juga tertuju pada Ibu Citra. Dua orang ini yang berkepentingan pada Kailla. Dua orang ini yang menginginkan kehancuran istrinya.


****


Tbc


Terima kasih.