Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 145 : Tidak Mau Ketiduran Di Pesawat


Setelah dari restoran Mitha berpamitan dengan Kailla dan Sam. Mitha harus kembali ke kantor sedangkan Kailla dan Sam kembali ke apartemen.


Begitu sampai di parkiran, tampak Sam berlari menyapa Bayu yang sejak tadi ternyata menunggu di dalam mobil.


“Bro..! Apa kabar?” sapa Sam pada Bayu yang setengah tertidur di kursi depan mobil bersama sopir.


“Astaga Sam! Kapan sampai?” tanya Bayu yang sama sekali tidak mengetahui kedatangan Sam.


“Belum lama, sopir tadi nurunin aku di depan!” sahut Sam menunjuk ke arah restoran.


Setelah Mitha berpamitan, Kailla langsung masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang disusul oleh Sam yang ikut duduk di sebelahnya.


“Non, tidak sekalian ke kantor Pak Pram?” tanya Sam berbisik sambil menatap sedih ke arah Mitha yang sedang berjalan menuju ke mobil yang satunya lagi.


“Buat apa Sam? Aku capek sekarang,” sahut Kailla, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya terpejam. Sejak hamil dia jadi mudah lelah dan mengantuk.


“Non, tidak khawatir dengan si penerjemah itu?” bisik Sam, takut ucapannya terdengar oleh Bayu dan si sopir.


“Memang kenapa Sam?” tanya Kailla membuka matanya. Dia ikut berbisik, setelah melihat Sam yang berbicara pelan.


“Aku tidak percaya dengannya, Non. Sepertinya bukan gadis baik-baik.” jawab Sam sambil menggelengkan kepalanya.


“Apa Non tidak khawatir, dia akan menggoda suami Non yang tampan, menawan dan rupawan itu?” lanjut Sam berbisik pelan.


“Cih! Kalau bukan demi Mitha, si gadis manis dan cantik itu, aku tidak sudi memuji macan tua yang sering mengamuk itu!” batin Sam.


Bagaimanapun dia harus mencari cara untuk bisa berkenalan lebih dekat dengan Mitha. Dan hanya Kailla yang bisa membawanya ke kantor tempat Mitha bekerja. Mau tidak mau, dia harus menggunakan trik ini, supaya majikannya itu lebih sering ke kantor untuk mengawasi suaminya. Dan pasti Kailla akan membawanya serta, sebagai asisten kesayangan majikannya. Tampak Sam tersenyum licik menatap Kailla.


“Mitha??” tanya Kailla memastikan.


“Iya Non......” Sam mengangguk.


Kailla tampak berpikir sejenak, menatap ke arah Sam. Mencari keseriusan dari kata-kata Sam.


“Iya juga sih, Mitha kan sejak awal suka menggoda Pram. Masa secepat itu bisa berubah jinak dalam sekejap,” batin Kailla.


Tampak Kailla mengangguk beberapa kali, wajahnya terlihat berpikir keras. Tapi dia memilih diam dan tidak mau membahasnya lebih lanjut dengan Sam. Dia akan menyelidiki sendiri, mencari tahu tentang Mitha lagi nanti.


Begitu mobil sampai di parkiran, tampak ketiganya turun. Kailla yang sudah kelelahan, memilih berjalan lebih dulu masuk ke lift, meninggalkan kedua asistennya yang sedang berbincang dan bercanda di belakangnya.


***


“Bu Ida...,” sapa Sam saat sudah memasuki unit apartemen majikannya.


“Sam..., kamu datang!” sahut Bu Ida histeris, hampir tidak percaya.


“Iya Bu dan sekarang aku lapar! Ada makanan apa?” tanya Sam yang langsung berjalan menuju dapur mencari makanan di sana.


“Bukannya barusan makan, Sam?” tanya Kailla terbelalak, menatap asistennya itu.


Sam menatap Bayu dan Bu Ida bergantian.


“Pantas kalian pada kurusan, makanan disini tidak ada yang enak. Terus porsinya kecil,” ucap Sam mendudukan tubuhnya di atas kursi ruang makan, disusul Bayu dan Bu Ida.


“Aku tadi cuma makan empal sepotong. Besarnya cuma 3 jari,” cerita Sam kesal, sembari menunjukan jari telunjuk, tengah dan jari manisnya bersamaan.


Dikasih lalapan, tapi gak dikasih sambelnya. Gak ada nasi juga. Mana bisa kenyang, Bay!” adu Sam pada kedua orang yang sedang duduk di dekatnya. Dia masih saja kesal setiap mengingat makanan yang disajikan di restoran tadi.


Kailla yang kelelahan, memilih istirahat di kamarnya. Dia butuh istirahat sebelum bertanya tentang daddy pada Sam.


Selepas Kailla pergi, percakapan ketiganya pun semakin santai. Mereka lebih bebas membahas semua hal, termasuk menggosipkan majikannya tanpa takut ketahuan.


“Ayo dong Bu, keluarkan makananmu. Aku mau tidur sebentar lagi,” pinta Sam sekali lagi, perutnya masih lapar. Dia juga mengantuk. Terlihat Sam menguap beberapa kali.


“Gila Bro! Baru juga sampai sudah mau tidur aja!” celetuk Bayu.


“Aku tidak berani tidur di pesawat Bro,” cerita Sam.


“Kenapa?” tanya Bu Ida penasaran, sambil memanaskan makanan untuk Sam.


“Aku takut kelewatan!” jawab Sam singkat. Membuat kedua orang yang mendengarnya mengerutkan dahi keheranan.


“Memang kamu sudah pernah naik pesawat?” tanya Bayu. Dia penasaran dengan jawaban Sam yang mengambang.


“Belum, ini yang pertama Bro! Tadi waktu pesawatnya nanjak, aku sudah gemetaran panas dingin. Mana tidak ada yang dikenal lagi. Aku benar-benar modal nekat ini,” cerita Sam.


“Terus sampai di stasiun mana itu, yang disuruh duduk dan menunggu. Aku juga tidak berani tidur. Takut ketinggalan pesawat,” lanjut Sam lagi.


“Transit? Tempo hari kita transit di Dubai,” jelas Bayu.


“Iya kali. Aku tidak tahu jelas. Aku ikut orang saja. Untung ada bapak-bapak yang asli Indonesia juga mau kesini. Dia yang bantuin,” cerita Sam.


“Kan di pesawat bisa puas-puasin tidur Bro! Lagian di atas kan tidak ada pemandangan apa-apa!” lanjut Bayu lagi.


“Nah itu! Aku tidak mau sampai ketiduran. Si Donny sudah wanti- wanti sebelum berangkat. Pas nganterin ke bandara masih diingetin lagi. Jangan sampai ketiduran di pesawat. Takutnya nanti pas bangun sudah kelewatan. Bukan turun di Austria, malahan bablas sampai ke Inggris,” cerita Sam meniru kata-kata Donny.


Mendengar kata-kata Sam, tawa Bu Ida dan Bayu pecah seketika. Bahkan Bu Ida harus meletakkan pancinya ke atas meja, dia khawatir pancinya akan terjatuh saat dia tertawa terpingkal-pingkal. Bayu lebih parah lagi, dia sampai memukul meja berkali-kali mendengar cerita Sam.


“Bukannya apa-apa Bro. Soalnya Donny punya pengalaman ketiduran di kereta. Tujuannya waktu itu mau ke Cirebon atau kemana gitu, gara-gara ketiduran jadi bablas sampai ke Solo,” lanjut Sam lagi.


“Nih anak pasti dikerjain si Donny!” batin Bayu.


Sam menatap Bu Ida dan Bayu keheranan.


“Aku serius, mana aku tidak bisa bertanya dengan siapa-siapa di dalam pesawat. Ini saja aku modal nekad dan doa, supaya bisa sampai kesini. Berbekal bahasa Inggris pas-pasan waktu zaman SMA,” cerita Sam.


“Hahahaha..,” tawa Bayu. Dia sampai harus memegang perutnya mendengar kepolosan Sam.


“Sam.. Sam, kamu dikerjain Donny. Sudah! buruan dimakan. Habis itu istirahat, nanti keburu Pak Pram pulang,” ucap Bu Ida.


“Pak Pram masih galak gak?” tanya Sam pada kedua orang di hadapannya.


“Yah begitulah, apalagi sekarang. Hati-hati saja Sam. Non Kailla kan lagi hamil,” ucap Bayu seketika membuat Sam tersedak.


“Uhukkk..uhukkk...”


“Minum Bro.” Bayu menyodorkan minuman kepada Sam.


“Astaga! Bagaimana ceritanya, Non Kailla bisa hamil sama macan tua itu!” ucap Sam pelan, menggelengkan kepalanya. Menolak percaya. Majikannya yang begitu tangguh bisa takluk di tangan Pram.


“Sudah. Habiskan saja makananmu. Habis itu persiapkan dirimu menghadapi Pak Pram,” ucap Bayu menepuk pundak Sam.


***


Terimakasih dukungannya.