Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 183 : I Love You


“Maaf, apakah disini rumahnya Ibu Citra Wijaya?” tanya Pram pada si wanita cantik, berambut panjang bergelombang, tergerai indah di bahunya.


“Maaf, dengan siapa ya Pak?” tanya wanita itu sopan, sedikit membungkuk.


“Saya Reynaldi Pratama, ingin bertemu dengan Ibu Citra,” ucap Pram mengenalkan diri.


Deg—


Wanita cantik itu, terlihat terkejut. Menatap lelaki tampan di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Apa ini putra Ibu? Ah, dia tampan sekali!” batin wanita itu.”


Lagi-lagi dia menatap Pram. Tapi tatapannya penuh kekaguman kali ini. Pipinya merona seketika, melihat Pram yang menatap ke arahnya.


“Maaf mbak, saya bisa bertemu Ibu Citra?” tanya Pram, memecah lamunan wanita cantik di hadapannya.


“Tunggu sebentar,” sahutnya ragu, bergegas masuk ke dalam rumah. Tidak lama, wanita itu muncul lagi, mempersilahkan Pram masuk dan menunggu di ruang tamu sederhana.


Ruang tamu itu hanya berukuran 3 meter x 3 meter. Perabotan di dalamnya pun tidak ada satu pun yang istimewa. Hanya ada satu set bangku tua lengkap dengan meja. Tidak ada sofa atau lemari pajangan disana.


Tidak lama wanita itu muncul lagi dengan menuntun seorang wanita tua. Kelihatannya wanita tua itu sudah mulai kesulitan berjalan. Pakaiannya sederhana, tidak ada sisa-sisa kejayaan di masa lalu sebagai pemilik perusahaan.


Yang membuat Pram heran adalah wanita tua itu langsung tertegun saat menatapnya. Air matanya langsung tumpah melewati pipi cekung yang mulai keriput tanpa bisa di tahan. Dia terus-terusan menatap Pram tanpa berkedip.


“Kinar, dia mirip sekali dengan papanya,” bisik wanita tua itu pada wanita yang lebih muda, yang dipanggilnya dengan nama Kinar.


Pram yang ikut mendengar hanya bisa tersenyum. Dia sendiri tidak yakin, dia putra kandung Ibu Citra. Karena semuanya terlalu kebetulan. Rasanya tidak masuk akal kalau memang dia Reynaldi Pratama yang dimaksud. Dia bisa diangkat anak oleh Riadi yang jelas-jelas terlibat dengan masa lalu orang tuanya. Dan dia melihat sendiri, hubungan Riadi dengan keluarga Citra Wijaya bukanlah hubungan yang baik, sampai ada pengalihan aset walau belum diketahui alasannya.


Ditambah selama ini, mertuanya sudah begitu baik memperlakukannya. Riadi tidak pernah membedakan antara dia dengan Kailla. Bahkan di surat wasiat Riadi, Pram mendapat bagian yang hampir sama dengan Kailla. Kalau memang dulunya Riadi merebut paksa kekayaan orang tuanya dulu, untuk apa dia mengembalikan kembali perusahaan itu kepadanya.


Lama tertegun sambil menunggu Ibu Citra sedikit lebih tenang, akhirnya Pram memperkenalkan diri secara langsung.


“Maaf, perkenalkan nama saya Reynaldi Pratama,” ucap Pram. Berdiri menghampiri dan menyodorkan tangannya pada Ibu Citra yang sudah duduk di salah satu bangku didampingi wanita cantik yang bernama Kinar.


“Reynald.. putraku,” ucap Ibu Citra pelan, berusaha menahan isak tangisnya kembali. Dia menggengam tangan Pram erat, sambil menatap ke arah Kinar.


“Benarkah dia Reynald putraku?” tanyanya pada Kinar, memastikan.


“Pram.., panggil aku Pram seperti yang lainnya,” pinta Pram. Nama Pram adalah nama pemberian langsung dari Riadi, walaupun sebagian teman-teman lebih sering memanggilnya Rey, termasuk Anita. Tapi panggilan Reynald, baru kali ini dia mendengarnya. Terdengar aneh dan asing.


Deg—


Ibu Citra bagai tersambar petir, saat mendengar nama itu kembali. Rasanya tidak percaya, ada kebetulan yang begitu nyata. Anaknya, Reynaldi Pratama yang hilang, kemungkinan besar diculik Riadi Dirgantara 39 tahun yang lalu muncul sebagai Pram.


Sebenarnya dia tidak yakin dan tidak punya bukti kalau Riadi dalang dibalik kehancuran perusahaan dan keluarganya, termasuk penculikan putranya, sang pewaris tunggal semua kekayaan Pratama Indraguna. Dia hanya mendengar dari suaminya, yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena tidak bisa menerima kenyataan perusahaannya hancur dan putra satu-satunya menghilang.


“Bagaimana bisa nama ini muncul kembali di hidupku. Pram itu nama papanya sendiri. Kenapa dia memakai nama itu,” batin Ibu Citra, menatap Pram tidak percaya.


“Pram...,” ucap Ibu Citra ragu.


Dia berusaha menenangkan dirinya, mengendalikan emosi yang beberapa menit ini berusaha ditahannya.


“Apa yang bisa Ibu bantu?” tanya Ibu Citra. Dia memposisikan dirinya sebagai orang lain. Dia harus memastikan dulu, kalau laki-laki muda yang mengaku bernama Reynaldi Pratama itu adalah putra kandungnya. Walaupun wajahnya mirip sekali dengan sang suami, Pratama Indraguna.


“Saya tidak sengaja menemukan data perusahaan Ibu, di berkas mer..” Pram tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Terlihat dia berpikir sejenak, sebelum melengkapi kalimatnya.


Pram tidak bisa mengakui Riadi sebagai mertuanya. Dia tidak mau menyeret Kailla masuk ke dalam masa lalu Riadi atau mungkin masa lalunya sendiri. Sudah cukup istrinya harus berhadapan dengan Andi Wijaya. Dia tidak mungkin menyeret Kailla lagi di dalam masalahnya kali ini. Dia tidak tahu, orang-orang seperti apa yang ada di depannya ini. Dia tidak mau membahayakan istri dan anaknya.


“Maksud saya, di berkas ayah angkatku, Riadi Dirgantara,” jelas Pram.


Mendengar nama Riadi keluar dari bibir Pram, Ibu Citra langsung mengamuk.


“Apakah masih hidup pembunuh itu! Aku akan membunuh Riadi dan keturunannya dengan tanganku sendiri seperti yang dilakukannya pada keluargaku!” teriak Ibu Citra, kembali menangis. Tubuhnya gemetaran, pikirannya kembali pada kejadian puluhan tahun yang lalu.


“Maaf Bu..,” ucap Pram berusaha menenangkan.


“Bu, tenang...,” ucap Kinar mengusap lembut punggung Ibu Citra, kemudian berlari ke belakang mengambil segelas air putih. Membantu Ibu Citra yang gemetaran memegang gelasnya.


“Maaf Pak, Ibu sempat depresi dan dirawat di rumah sakit selama beberapa tahun,” jelas Kinar.


“Jadi setiap membahas hal-hal yang sensitif, yang membuat Ibu tertekan. Ibu susah mengontrol emosinya. Apalagi beberapa hari ini, emosi Ibu sedang tidak stabil,” lanjut Kinar.


Terlihat Kinar memeluk erat Ibu Citra, berusaha menenangkannya. Sedari awal dia sudah ragu untuk mempertemukan keduanya. Tapi dia berpikir siapa tahu laki-laki yang mengaku bernama Reynaldi Pratama itu benar putra Ibu Citra . Apalagi Kinar tahu selama ini, Ibu Citra sangat merindukan putranya yang hilang. Walaupun dia tidak yakin, tapi segala sesuatu itu bisa menjadi mungkin.


“Maaf Pak, saya harus membawa Ibu Citra ke kamar dan menenangkannya. Nanti kalau Ibu sudah tenang, Bapak bisa kembali,” ucap Kinar memberi solusi.


“Emm.., apa kita bisa bicara sebentar. Maaf siapa namanya Mbak?” tanya Pram menghentikan langkah kedua wanita itu. Dia tidak bisa mencari tahu banyak hal dari Ibu Citra langsung, setidaknya dia bisa mencari tahu dari wanita yang bernama Kinar.


“Kinar Pak,” jawab Kinar singkat.


“Baik, saya menunggu di luar,” pamit Pram.


***


Pram berjalan keluar dari rumah sederhana itu dan menunggu di mobil. Tapi baru saja Pram melangkah keluar, ponselnya sudah berdering. Buru-buru Pram berlari ke mobil, setelah melihat nama Kailla muncul di layar ponselnya. Kailla melakukan panggilan video.


“Iya Sayang, “ sapa Pram pada layar yang menampilkan wajah istrinya, saat sudah duduk di dalam mobil.


“Tunggu sebentar Sayang,” pinta Pram.


“Pak, bisa tinggalkan saya sendiri,” pinta Pram pada sopir yang masih setia duduk di belakang setir. Setelah memastikan sopir keluar dari mobil, Pram melanjutkan percakapannya dengan sang istri.


“Iya Sayang, kenapa?” tanya Pram, kembali fokus pada istrinya.


“Kamu di mana Sayang?” tanya Kailla, heran melihat pemandangan di sekitar suaminya.


“Aku di mobil Sayang,” jawab Pram, tersenyum. Menatap wajah bantal istrinya yang masih memakai pakaian tidur yang sama saat tadi pagi mengantarnya ke bandara.


“Aku merindukanmu,” ucap Kailla masih berbaring di ranjang sambil memeluk guling.


“Aku mencintaimu,” jawab Pram, memberi sebuah kecupan dengan bibirnya.


“Kamu belum mandi Kai? Sudah jam berapa sekarang,” tanya Pram tiba-tiba, melihat Kailla yang masih menikmati aroma bantalnya. Berbaring dengan nyaman di atas ranjang mereka.


“Hmmmmm.. belum,” sahut Kailla ragu, tersenyum. Bersiap mendengar omelan Pram setelah ini.


“Kamu minta diterkam!” omel Pram, melotot ke arah layar ponselnya sambil tersenyum.


“Kamu sudah sarapan Sayang?” tanya Pram lagi


“Sudah, tadi sarapan di bawah dengan Bu Ida. Kamu mau jalan kemana Sayang?” tanya Kailla lagi.


“Mencari gadis Bali untuk dijadikan istri kedua,” goda Pram, tersenyum usil.


“Coba kalau berani!” gerutu Kailla, menatap tajam ke arah layarnya.


“Hahaha.. kamu satu-satunya. Tidak akan pernah ada yang lain lagi,” ucap Pram merayu.


“Disini sudah terisi dengan Kailla Riadi Dirgantara semua, tidak ada tempat lagi untuk wanita lain,” lanjut Pram, mengusap dadanya sendiri.


“Mandi sekarang!” perintah Pram.


“Hah! Kamu mau aku mandi sambil videoan?” tanya Kailla cemberut.


“Aku tidak mau melihat dari video, biasanya juga aku melihat langsung,” sahut Pram tersenyum usil.


“Makanya cepat pulang sekarang,” rengek Kailla.


“Sebentar lagi ya. Pekerjaanku belum selesai,” pinta Pram.


“Oh ya, mana Sam? Aku tidak melihatnya dari tadi,” tanya Kailla, heran.


Mendengar pertanyaan Kailla, Pram kebingungan.


“Aku tidak mengajaknya. Dia ketiduran sepertinya. Saat aku memanggil berulang kali di depan pintu kamarnya, dia tidak muncul-muncul juga. Jadi aku berangkat sendiri,” jelas Pram berbohong.


“Bukannya tadi dia mengatakan kalau kamu yang ketiduran di kamar. Dia masih mengirim fotomu. Siapa yang berbohong di antara kalian?” tanya Kailla kesal.


“Kamu tidak percaya pada suamimu?” tanya Pram, balik bertanya.


“Kalau kamu berbohong, aku akan meninggalkanmu!” ancam Kailla sambil mengelus perutnya. Dia sengaja melakukannya untuk menggertak Pram.


“Berani kabur dariku, aku akan melaporkanmu ke polisi. Kamu sudah menculik anakku yang masih di dalam perutmu,” jawab Pram terkekeh.


“Huh! Pulang secepatnya. Kalau tidak aku akan menyusulmu,” ucap Kailla, melotot.


“Nanti kita babymoon. Mau?” tawar Pram.


“Mau... Sayang,” ucap Kailla, sambil berguling-guling di atas ranjang.


“Mandi sekarang. Aku pulang malam ini, sambut suamimu dengan penampilan terseksimu Sayang. Oke?” ucap Pram, tersenyum genit sambil mengedipkan matanya.


“Hmmmm,” gumam Kailla mengangguk.


“Sebelum jam 12 malam ini. Kalau lewat dari itu, kamu tidur di luar Sayang,” ancam Kailla.


“Hahaha.... jangan terlalu sering mengusir suamimu ini tidur di luar. Kamu tidak tahu, di luar sana banyak perempuan yang menginginkan suamimu ini untuk tidur di dalam kamarnya,” sahut Pram tertawa.


“Sudah..sudah, aku akan menghubungimu lagi nanti ya. Sekarang aku masih ada urusan. I love you, Sayang,” lanjut Pram lagi, setelah matanya menangkap sosok Kinar sudah keluar dari rumah dan mencari keberadaannya.


“Love you too, muach!” sahut Kailla mematikan panggilannya.


****


Love you all


Terimakasih.


Mohon dukungan Like komen dan share ya.