
“Aduh kok jadinya begini!” batin Mitha.
Melihat perubahan wajah Kailla, Mitha jadi tidak enak sendiri.
“Nyonya, jangan dipikirkan. Segala sesuatunya kan belum jelas,” ucap Mitha berusaha menenangkan istri atasannya itu.
“Aku akan memastikannya dulu, baru aku akan kabari ke Nyonya lagi,” lanjut Mitha. Dia khawatir melihat perubahan sikap Kailla, yang tiba-tiba diam dengan mata berkaca-kaca. Apalagi kalau ternyata dugaannya salah, bukan tidak mungkin dia akan dipecat karena dianggap memprovokasi istri sang presdir.
“Aduh mati aku kalau begini! Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya,” ucap Mitha dalam hati dengan penuh penyesalan.
“Nyonya, aku kembali ke ruanganku ya,” pamit Mitha. Saat ini perasaannya was-was dan tidak tenang. Mudah-mudah tidak seperti yang dibayangkan.
Saat tertinggal sendirian di dalam ruangan, Kailla memilih menangis sampai puas. Perasaannya campur aduk, kesal, marah dan merasa dibohongi oleh suaminya. Setelah puas menangis, dia memilih menegakkan kepalanya. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Pram.
Tanpa sengaja, tatapannya tertuju pada lunch bag di atas meja kerja Pram. Tadinya semua itu disiapkan untuk suaminya, tapi sekarang dia berubah pikiran. Lagi pula suaminya saat ini sudah makan siang bersama perempuan lain. Dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bayu.
“Bay! Cepat ke ruangan Bosmu!” perintah Kailla.
Setelah menyimpan kembali ponselnya, Kailla membuka semua isi lunch bag, mengeluarkannya satu per satu di atas meja kerja Pram. Ada ayam kecap dan oseng sayuran yang tertata di kotak makanan dan ada 2 kotak berisi nasi putih lengkap dengan peralatan makan sendok dan garpu.
Tok..tok..tok. Terdengar suara ketukan di pintu. Kailla yakin itu adalah Bayu yang tadi dimintanya datang.
“Masuk!” perintah Kailla sambil membuka pintu.
Tampak Bayu yang ragu-ragu berdiri di depan pintu ruang kerja Pram.
“Non, saya disini saja,” ucap Bayu menolak masuk ke dalam ruangan Pram. Dia masih ingat dengan jelas kata-kata Pram kemarin. Dia tidak boleh berada di dalam ruangan hanya berdua dengan istri Bosnya.
“Aku bilang masuk ya masuk!” perintah Kailla mulai kesal.
“Tapi Non, saya tidak berani,” Bayu masih terdiam di depan pintu. Kakinya seperti terpaku, tidak mau bergerak.
Tampak dari kejauhan Pieter berjalan menuju ke ruangan Pram. Dia sempat tersenyum menatap Bayu dan Kailla.
“Hai adek cantik!” sapa Pieter pada Kailla, seketika mengejutkan Bayu. Bayu yang masih berdiri di luar ruangan menatap Pieter yang melenggang masuk tanpa berkedip.
“Hai Kak Pieter. Sudah makan siang? Aku bawakan bekal, tapi suamiku sudah makan siang di luar. Buat Kak Pieter saja.” tawar Kailla menyerahkan sekotak nasi putih kepada Pieter.
“Wah kebetulan ini, aku belum sempat makan. Ini lauknya yang di atas meja ya?” tanya Pieter. Dia sudah menyendokkan sayuran dan ayam ke atas nasi putihnya. Kemudian memilih duduk di sofa, menikmati makan siangnya.
“Bay! Ayo masuk!” panggil Kailla, meminta asistennya untuk masuk.
Melihat Pieter juga ada di dalam, Bayu pun akhirnya memberanikan diri masuk ke ruangan Pram.
“Habiskan semua yang ada di atas meja!” perintah Kailla, telunjuknya terarah pada makanan yang tersaji di meja kerja Pram.
“Tapi Non, itu kan jatahnya Pak Pram.” Bayu menolak. Dia benar-benar tidak berani. Kalau sampai ketahuan Pram, dia bisa kena semprot lagi seperti kemarin.
“Pak Pram-mu itu sudah kenyang. Dia makan siang di luar. Daripada dibuang, lebih baik kamu habiskan,” jelas Kailla, tetap memaksa.
“Tapi Non...,”
“Tidak ada tapi-tapian, duduk dan habiskan saja! Setelah itu kita pulang!” potong Kailla. Dia memilih duduk di sofa tepat di sebelah Pieter, setelah memastikan Bayu bersedia menghabiskan masakan yang dibuat dengan tangannya sendiri dibantu oleh Bu Ida.
“Enak kok ini Kai!” ucap Pieter memberi komentar.
“Benarkah? Ini masakan pertamaku,” sahut Kailla.
“Kamu belum mencobanya?” tanya Pieter heran.
Kailla menggelengkan kepalanya. Matanya masih menatap ke arah nasi dan lauk pauk di dalam kotak bekal yang dipegang Pieter. Tadinya, dia berencana mencobanya bersama Pram, tapi dia terlanjur kecewa dengan suaminya itu. Rasa lapar yang ditahannya sejak dari rumah, hilang seketika. Dia melewatkan sarapan paginya hanya untuk menyiapkan bekal ini.
Brakkk!! Suara pintu ruangan dibuka dengan kasar.
“Sayang...,” sapa Pram. Dia kaget melihat Bayu sedang duduk di meja kerjanya.
Tampak Pram mengatur nafas, keringat mengucur deras di dahinya. Dia berlari dari tangga darurat karena tidak sabar menunggu lift, begitu turun dari mobil. Dia ingin secepatnya bertemu dengan Kailla.
“Bay! Apa-apaan ini?” teriaknya saat melihat Bayu sedang duduk dan menyantap kotak bekal makan siangnya.
“Maaf Pak!” ucap Bayu pelan. Dia sudah melemas di tempat. Tidak tahu apa yang akan terjadi padanya beberapa menit ke depan.
“Siang Presdir!” sapa Pieter langsung berdiri dengan tangan masih memegang kotak bekal.
Deg—
Pram melihat istrinya sedang duduk di sofa, tidak jauh dari tempat Pieter berdiri. Kailla tidak mau menatapnya sama sekali. Hanya menunduk, memangku tas hermesnya.
“Kai....,” Pram mencoba memanggil istrinya. Dia yakin ada yang tidak beres dengan istrinya saat ini.
Kailla tetap diam, tidak mau menatap bahkan menjawab panggilan Pram. Pieter yang berdiri di antara mereka sepertinya menyadari sedang ada perang dingin di dalam rumah tangga atasannya.
Pram menghela nafasnya, sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Pieter, bisa tinggalkan kami. Kamu boleh membawa kotak makanan itu bersamamu!” perintah Pram.
Setelah memastikan Pieter keluar dan menutup pintu ruangannya, Pram pun kembali bertanya.
“Bay, apa yang terjadi?” tanya Pram.
“Maaf Pak, saya tidak tahu. Saya juga baru sampai di sini, diminta Non Kailla menghabiskan makanan ini,” jelas Bayu masih tetap menunduk.
“Bay, kamu boleh keluar sekarang, aku harus bicara dengan istriku,” perintah Pram.
Baru saja Bayu akan bangkit dari duduknya, Kailla sudah memerintahnya kembali.
“Bay, habiskan makanan di meja itu! Kamu tidak boleh kemana-mana sebelum menghabiskannya,” perintah Kailla.
“Ya Tuhan, begini ternyata rasanya. Aku harus bagaimana sekarang. Mengikuti perintah Pak Pram atau perintah Non Kailla,” ucap Bayu dalam hati.
“Bay, keluar sekarang!” teriak Pram. “Kalau kamu masih tidak mau mendengarkan, aku akan memecatmu sekarang!” lanjut Pram. Dia sudah berdiri tegak, menatap tajam ke arah Bayu.
Dengan ragu, akhirnya Bayu memilih mendengarkan Pram. Tapi baru saja meraih gagang pintu, istri Bosnya sudah bersuara kembali.
“Kalau kamu berani keluar selangkah dari ruangan ini, aku berjanji akan mempersulit hidupmu Bay!” ucap Kailla. Saat ini dia sudah berdiri di hadapan Bayu.
Seketika Bayu menghentikan langkahnya. Tertunduk lemas, tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
“Sam.. aku harus bagaimana?”
Setelah melihat Bayu yang terdiam, akhirnya Kailla memilih mengalah. Segera dia meraih tasnya di sofa.
“Ayo Bay kita pulang,” ucap Kailla tanpa mau melihat suaminya sama sekali.
“Kai.... Sayang...,”
****
Terimakasih.