
Pram menepikan mobilnya di pinggir jalan setelah tidak tahu harus mencari kemana lagi. Dia sudah menyusuri jalanan dari kantor sampai ke rumah Kailla, ke kampus tetapi hasilnya nihil.
Terlihat dia menelungkupkan kepalanya di atas setir. Dia benar-benar mengkhawatirkan Kailla sekarang. Berbagai pikiran buruk menari-nari di otaknya, sekali lagi dia meraih ponselnya menghubungi nomor ponsel Kailla walau dia tahu kemungkinan besar tidak akan tersambung seperti sebelumnya.
“Kemana lagi aku harus mencarimu, Kai?” lirihnya. “Harusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian di kantor tadi siang,” sesalnya lagi. Saat ini dia benar-benar menyesal.
“Aaaarrrghhh!!!!” Teriak Pram memukul setir mobil berkali-kali. Di tengah putus asanya, dia teringat Bayu. Segera dia mencari nomor ponsel Bayu dan menghubunginya.
“Bay, bisakah kamu cari tahu posisi Kailla sekarang. Aku kehilangan dia,” perintahnya. Ada kekhawatiran dan ketakutan di dalam nada suara Pram.
Bagaimana tidak, Kailla biasanya selalu dalam pengawasannya atau pun Sam. Pagi tadi dia sendiri yang menjemput Kailla di rumah karena mereka akan melakukan sesi foto untuk pernikahan. Dia sendiri tahu, di luar sana ada beberapa pihak yang berniat tidak baik pada gadis polos itu. Dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Sejak 2 tahun yang lalu saat dia menyetujui pernikahan yang diusulkan Pak Riadi, dia sudah meminta kepada daddyny Kailla untuk bertanggung jawab penuh atas putrinya. Dan kalau terjadi sesuatu pada Kailla, dia benar-benar tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
“Terakhir Nona ada di RS.Xxxxx, sampai sekarang belum terlihat dia keluar, Boss.”
Deg—
Perasaan Pram campur aduk begitu mendengar kata rumah sakit. Kekhawatiran yang tadi hanya mengisi otaknya sekarang beralih membuat sesak dadanya.
“Apa yang terjadi? Apa dia baik-baik saja?” Otaknya sudah berpikir ke hal yang buruk.
“Tidak Pak, sepertinya baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda sakit atau semacamnya.” jelas Bayu lagi.
“Baik,” ucap Pram bernapas lega. Segera dia memacukan mobilnya ke alamat yang disebutkan Bayu. Wajahnya mulai tampak sedikit tenang, setidaknya tidak terjadi hal buruk pada gadis itu. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Kailla.
***
Di rumah sakit.
Kailla yang ketiduran baru terbangun saat Rika membangunkannya.
“Kai, kamu mau nginep disini atau pulang?” tanya Rika yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
“Terus yang jagain Dona siapa, Rik?” Kailla balik bertanya sambil mengucek matanya.
“Tuh!” Rika menunjuk ke arah Dion yang sedang terlelap di sofa.
Setelah mencuci mukanya dan membenahi barang-barang yang berserakan di dalam ruangan, Rika dan Kailla berpamitan pada Dion.
“Kai, entar pulang pake taksi juga kan?”
“He..em,” Kailla menjawab singkat. “Besok aku usahain kesini lagi deh,” sambungnya lagi.
“Udah malam gini susah dapet taksi kayaknya, Kai,” ujar Rika begitu mereka keluar dari rumah sakit. “Apa kita menunggu di halte depan saja, mungkin di pinggir jalan lebih mudah dapet taksi,” usul Rika
Setelah berjalan sekitar 5 menit, mereka pun tiba di halte yang dimaksud. Suasana di halte cukup sepi, hanya ada mereka berdua. Tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri, ada beberapa pedagang makanan yang berjualan di sekitar trotoar. Jujur saja, untuk Kailla sendiri ada rasa was-was ketika harus berduaan saja dengan Rika di tempat asing seperti ini. Berbeda dengan Rika yang memang sedari kecil sudah mandiri terbiasa harus naik angkutan umum.
“Kai, apa kita barengan aja jadi satu taksi?” tanya Rika ketika sebuah taksi berhenti tepat di depan mereka.
“Tapi kan rumah kita gak searah, Rik?” tanya Kailla sedikit ragu.
Sopir taksi yang mendengar pembicaraan mereka pun bertanya. “Nona mau kemana? Saya mau sekalian jalan arah pulang. Kalau memang searah, tidak apa-apa.”
Setelah memastikan, Kailla pun membuka pintu penumpang untuk menyusul Rika yang sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi dari pintu sisi yang lain.
“Kai!!” terdengar ada yang berteriak memanggil namanya dari seberang jalan.
Segera dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari si empunya suara. Begitu matanya menangkap sosok Pram yang sedang berdiri di seberang jalan, dia segera meminta sopir taksi untuk menjalankan mobilnya.
“Jalan aja Pak, sepertinya saya sudah dijemput,” perintahnya pada si sopir taksi.
“Aku duluan ya Kai,” pamit Rika melambaikan tangannya.
Begitu memastikan jalanan sepi, Pram berlari menghampiri Kailla, langsung memeluk erat dan mengecup kening gadis yang terlihat kebingungan itu.
“Om kenapa?” Kailla bertanya heran melihat ekpresi Pram.
“Aku bisa gila kalau sampai tidak bisa menemukanmu malam ini,” bisik Pram membelai lembut rambut panjang yang terurai indah milik Kailla. Membawanya dalam dekapan, mengecup berulang kali puncak kepala gadis itu. Rasa malunya menguap begitu saja, ketika dia mendapati gadis yang mengisi kekhawatirannya beberapa jam ini. Lalu lalang pengguna jalan lain dan pedagang yang memperhatikan mereka, tidak dihiraukannya.
“Kenapa tidak mengabariku?” Pram bertanya lembut setelah melepaskan pelukannya. Dia menyingkirkan sebagian anak rambut yang menutupi wajah Kailla.
“Ponselku hilang, tadinya aku ingin meminjam ponsel Rika untuk mengabari Om. tapi aku... lu..pa,” kata terakhirnya yang terdengar seperti bisikan, tapi masih terdengar oleh Pram
Pletik—
“Aduh, sakit Om,” Kailla cemberut mengusap keningnya yang disentil Pram.
Pram meraih tangan Kailla dan membawanya masuk ke dalam mobilnya yang terparkir diseberang jalan.
“Jangan pernah melakukan ini lagi. Kamu tidak tahu seberapa khawatirnya aku,” tutur Pram begitu mereka berada di dalam mobil. Dia mendekati Kailla yang sedang duduk tenang disampingnya. Memeluk erat, membingkai wajah cantik itu dengan tangannya. Menurunkan kepalanya, mengecup lembut bibir merah Kailla.
“Aku mencintaimu Kai,” bisiknya di telinga Kailla, memeluk kembali tubuh mungil itu.
“Kamu mau makan apa, Kai?” tanya Pram setelah melepaskan pelukannya.
“Aku mau pulang saja, pengen tidur Om,” tutur Kailla menyandarkan tubuhnya ke kursi, memejamkan matanya yang mulai mengantuk lagi.
“Baiklah, kamu tidur saja nanti kalau kita sudah sampai aku akan membangunkanmu.” Pram melepas jaket yang dikenakannya. “Pakailah, aku harus menyetir, tidak bisa memelukmu sepanjang jalan,” lanjut Pram memakaikan jaketnya pada Kailla.
***
Begitu mobil Pram sampai di parkiran basement apartemennya, segera dia membangunkan Kailla yang sedang tertidur lelap.
“Kai, bangun. Kita sudah sampai,” panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Kaila.
Gadis itu menggeliat, berusaha membuka matanya. Setelah beberapa menit, dia baru menyadari kalau sekarang mereka sedang ada di basement apartemen Pram.
“Kenapa kesini Om?” tanyanya masih dengan suara serak khas bangun tidur.
Pram tersenyum, “Aku tadi membohongi Daddy. Aku takut dia mengkhawatirkanmu, jadi ku katakan padanya kalau malam ini putri manjanya ini menginap di tempatku.”
“Ayo,” ajak Pram, membantu Kailla keluar dari mobil. Merapikan lagi jaket yang dikenakan Kailla kemudian menggengam tangannya menuju unit apartemen.
***
Maaf telat up. Terimakasih dukungannya. jika berkenan mohon bantuan like dan komen ya ya. love u all