Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 171 : Berkunjung Ke Makam Mama


Kembali ke ruang rapat, pikiran sang Presdir sudah tidak tenang. Berkali-kali membenarkan posisi duduknya, otaknya penuh dengan Kailla. Padahal istrinya tidak pergi sendirian. Pasti ada Sam atau Bayu bersamanya. Apa dia yang terlalu berlebihan selama ini. Terlalu mengekang ruang gerak Kailla, sampai istrinya tidak bisa mandiri.


“Dave, tolong lanjutkan ya. Aku masih ada keperluan,” pinta Pram berbisik pada David yang duduk di sebelah. Setelah berusaha tenang, pada akhirnya pertahanan Pram jebol. Dia tidak bisa konsentrasi, semua materi rapat tidak bisa masuk ke otaknya. Isi otaknya cuma ada Kailla saat ini.


“Tolong sambungkan ke ponselku meeting hari ini, aku akan mengikutinya di perjalanan,” lanjut Pram berpamitan. Berlari menuju tempat di mana mobilnya terparkir.


Karena harus melakukan meeting di perjalanan, hari ini dia menggunakan jasa sopirnya. Selain alasan itu, makam ibu mertuanya terletak di luar kota Jakarta. Terlalu lelah harus menyetir sendirian.


Saat mobilnya masuk ke komplek pemakaman mewah itu, hari sudah menjelang pukul 02.00 siang. Dia sempat terjebak macet di tol. Sedikit menyesal, meminta Kailla menunggunya disini. Istrinya pasti kelelahan. Saat sampai di makam mama Kailla, terlihat Kailla juga baru turun dari mobilnya.


“Sayang, kamu baru sampai juga?” tanya Pram, menenteng sebuket bunga yang dibelinya di dekat pintu masuk pemakaman.


“Sudah dari tadi, aku keluar cari makan sianng,” jelas Kailla menatap suaminya sekilas.


“Kamu mau makan? Aku membelikanmu bakmi goreng. Ada di dalam mobil,” lanjut Kailla.


Sam dan Bayu terlihat sedang duduk di bawah pohon rindang beralaskan rumput, tidak terlalu jauh dari tempat majikannya berdiri. Menyesap kopi yang mereka di minimarket tadi.


“Boleh, tapi aku menyapa mertuaku dulu,” ucap Pram, menghampiri makam. Meletakkan buket bunga itu di dekat nisan.


“Ma, aku datang. Maaf, aku terlalu sibuk belakangan ini. Jadi lupa membawa putrimu berkunjung ke sini,” ucap Pram, mengusap batu nisan mama mertuanya.


“Ma, hampir saja lupa. Kailla sudah hamil, semoga dia dan bayi kami baik-baik saja sampai nanti melahirkan,” ucap Pram lagi. Tak lupa, dia juga melantunkan doa untuk ibu mertuanya.


Ini kunjungan pertamanya, setelah resmi menjadi suami Kailla. Sudah hampir 3-4 bulan mereka tidak ke sini. Seharusnya dia sudah membawa Kailla saat mereka kembali dari Austria.


“Sayang, makananmu!” teriak Kailla, saat melihat Pram menghampirinya.


“Sayang, aku makan di dalam mobil saja,” ucap Pram, membuka pintu bagian belakang mobil. Meraih kotak karton berlogo salah satu bakmi ternama di Jakarta itu dari tangan Kailla.


Kailla mengekor, duduk di samping Pram. Memainkan ponsel bersandar di dada bidang suaminya.


Makan siang dengan apa anak daddy tadi?” tanya Pram, mengelus perut Kailla, setelah melepas sumpit dari tangannya.


“Tadi mommy memberimu makan apa Nak?” tanya Pram, setelah menunggu istrinya tetap tidak menjawab.


“Nasi goreng, Dad. Kailla menjawab singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


“Kai, maaf. Aku terlalu sibuk belakangan ini, sampai melupakan jadwal kunjungan kita ke tempat mama,” ucap Pram. Tangannya dengan lincah terus-terusan memasukkan gulungan mie ke dalam mulutnya.


“Hmmm,” gumam Kailla.


“Setelah ini mau pulang ke rumah atau kamu ada rencana lain Kai,” tanya Pram, mengalihkan pandangannya dari kotak bakmi, menatap pucuk kepala Kailla.


“Aku mau pulang saja. Aku lelah,” sahut Kailla.


“Lelah menangis seharian. Jangan terlalu dipikirkan, daddy pasti baik-baik saja.”


“Kamu sudah menceritakan kehamilanmu pada mama?” tanya Pram.


“Sudah, tapi mama diam saja,” ucap Kailla sambil tertawa.


“Kalau mama menjawab, apa kamu tidak lari ketakutan, hahaha ,” ledek Pram, menimpali jawaban istrinya.


“Ayo, kita pamitan sama mama, nanti kemalaman pulangnya,” ajak Pram, setelah menghabiskan bakminya. Terlihat Pram mengambil air mineral yang tersisa setengah botol dari pangkuan Kailla.


“Sedotannya mana Sayang?” tanya Pram.


Kailla menggeleng. Melihat jawaban istrinya, Pram langsung menuang habis sisa air mineral ke dalam mulutnya.


Deringan ponsel di saku jas Pram, menghentikan percakapan diantara keduanya. Setelah menerima panggilan dari Donny, Pram kembali bertanya kepada istrinya.


“Kai, aku harus ke rumah sakit sebentar, kamu mau ikut?” tanya Pram setelah mendengar kabar dari Donny, kalau adik ipar Pak Riadi datang berkunjung. Pram tidak bisa membiarkan laki-laki pembuat masalah itu selalu masuk ke kehidupan mertuanya ataupun Kailla.


Terlihat Pram berjalan ke arah makan untuk berpamitan.


“Aku ikut saja,” jawab Kailla, segera keluar dari mobil. Mengekor di belakang Pram. Tangannya langsung memeluk erat lengan Pram saat berhasil mensejajarkan langkah dengan suaminya. Rangkulan tangan Kailla tiba-tiba itu, membuat Pram menatapnya sambil tersenyum.


“Ma, lihatlah seberapa manjanya putrimu,” adu Pram saat sudah berdiri di depan makan.


“Jangan mengeluh, kalau aku manja dengan pria lain, baru kamu boleh mengadu pada mama,” ucap Kailla mengerucutkan bibirnya.


“Iya... iya,” sahut Pram.


“Ma, kita pamit. Semoga Kailla dan kandungannya baik-baik saja dan aku akan membawanya kembali menemuimu,” pamit Pram.


“Ayo Kai,” ajak Pram sambil menggandeng tangan Kailla menuju ke mobil.


***


“Selamat sore, Andi Wijaya,” sapa Pram, dengan tatapan sinis. Bayu dan Sam yang mengekor di belakang sudah bersiap, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Melihat tatapan Pram yang tidak bersahabat.


“Reynaldi Pratama, kelewatan sekali kamu! Bahkan kamu tidak mengundangku di pernikahanmu. Ckckckck!” sindir Andy, adik ipar Riadi.


Pandangan mata laki-laki yang sudah berumur itu beralih pada sosok cantik yang sedang mengenggam erat tangan Pram.


“Hai keponakan ku yang cantik,” ucap Andy.


Pram langsung menyembunyikan Kailla dibalik punggungnya.


“Apa maumu?” tanya Pram, tatapannya tetap dingin. Terlihat Pram berbalik, memanggil Sam.


“Sam, ajak Kailla ke kantin atau ke taman,” pinta Pram. Mendengar ucapan Pram, Kailla malah memeluk erat pinggang Pram.


Deg— Ingatan Kailla langsung tertuju saat Anita menculiknya dulu. Di mana Pram juga memintanya pergi. Dan dia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.


“Aku tidak mau,” rengek Kailla, menempelkan tubuhnya di dada Pram, mengeratkan tangan yang mengunci pinggang suaminya.


“Aku tidak mau. Aku mau disini saja,” rengek Kailla.


“Sayang, aku cuma sebentar ya,” bujuk Pram.


“Ada yang harus aku urus dengan laki-laki ini.” Pram beralasan.


“Yah sudah, kalau tidak mau minta Sam membawamu ke mobil,” tawar Pram. Kailla tetap menggeleng.


“Hahaha, kamu takut istrimu mendengarnya?” tanya Andi, tersenyum mengejek. Melihat pemandangan di depannya.


“Istrimu sudah seharusnya tahu, apa yang terjadi di masa lalu. Bukan begitu Kailla Riadi Dirgantara,” ucap Andi menatap ke arah Kailla.


Mendengar ucapan Andi Kailla langsung melepaskan pelukannya dan memilih menantang Andi.


“Apa yang tidak aku ketahui?” tanya Kailla, saat sudah berhadap-hadapan dengan lelaki yang pernah meminta memanggilnya Om.


“Kai, sudah jangan diladeni. Dia hanya ingin membuat kamu sedih,” ucap Pram, menarik mundur istrinya.


“Aku buka anak kecil lagi. Aku juga mau tahu apa yang harusnya aku ketahui sejak lama,” ucap Kailla menolak permintaan Pram.


“Tidak sekarang Kai, aku akan menjelaskan padamu pada saatnya. Bukan sekarang,” bujuk Pram masih berusaha lembut menghadapi Kailla yang mulai emosi.


“Aku tidak mau!” tolak Kailla, langsung kembali berdiri di hadapan Andi setelah menghempas kasar tangan Pram.


“Apa yang ingin anda katakan?” tanya Kailla menatang.


Melihat situasi yang tidak kondusif lagi, Pram terpaksa menyeret Kailla.


“Sayang.., ayo kita pulang,” ajak Pram.


“Aku tidak mau!” Kailla kali ini benar-benar berontak. Sudah saatnya dia tahu, bahkan dia bingung dengan status laki-laki yang mengaku sebagai adik ipar daddynya. Bukankah itu berarti, laki-laki itu adik mamanya, Om nya sendiri. Selama ini dia tidak mau ikut campur dan banyak bertanya. Tapi sekarang dia tidak mau jadi penurut dan seperti orang bodoh.


Sambil berlari, dia kembali mendekati Andi. Tapi langkahnya terhenti saat Pram tiba-tiba Pram sudah menggendong tubuhnya menjauh meninggalkan kedua tamu yang tidak diundang itu. Merasakan tubuhnya melayang dalam gendongan, Kailla langsung mengigit pundak Pram.


“Awww Kai,” teriak Pram kesakitan.


“Turunkan aku! Aku mohon. Kalau tidak, aku akan membuatmu menjatuhkanku,” pinta Kailla, memelas.


“Kai.., aku mohon,” pinta Pram.


“Aku harus tahu semuanya sekarang,” ucap Kailla.


Pram terpaksa menurunkan istrinya daripada mengambil resiko menjatuhkan Kailla dan akan berimbas pada kandungannya.


Tapi dia tidak tinggal diam, kali ini dia memaksa mencium Kailla. Meraih tengkuk istrinya, supaya tidak bisa menghindarinya lagi


“Maafkan aku. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Semoga ciuman ku bisa merendam emosi dan keingintahuanmu,” batin Pram.


Saat Kailla tidak berontak lagi, Pram meminta Bayu dengan kode matanya supaya mengusir Andi dan putranya dari sini. Tadinya Pram ingin berbicara langsung dengan Andi, tapi kehadiran Kailla disini ternyata tidak menguntungkannya.


Andi sendiri sebenarnya hanya ingin bicara empat mata dengan Pram. Dia tidak berminat berbicara dengan putri kecil Riadi Dirgantara. Ada yang mau dibahas, dan kalau bisa mencapai kesepakatan dengan Pram, bukan tidak mungkin dia bisa mendapat sedikit keuntungan.


“Lanjutkan di kamar saja! Aku tidak berminat melihat adegan ciumanmu yang menjijikan. Nanti aku akan ke kantormu!” ucap Andi, menepuk pundak Pram yang sedang mencium istrinya.


***


Terimakasih. Love You All.


Mohon dukungan Like kome dan share ya.