Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 95 : Daddy Tidak Pernah Salah


Mitha masih saja menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya menatap Kailla yang sedang bersembunyi di balik punggung sang Presdir, pikiran Mitha masih menerawang kemana-mana.


“Tuan Putri ini kenapa mau menikah muda, bahkan dengan laki-laki yang umurnya jauh berbeda dengannya. Padahal dia tidak kekurangan sama sekali. Cantik dan dia memiliki segalanya.”


Mitha masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Membandingkan dengan dirinya yang harus bersusah payah mencari beasiswa untuk bisa kuliah di luar negri. Belum lagi harus sambil bekerja untuk bisa makan, tidak jarang harus mengoda laki-laki sana sini demi untuk mendapatkan uang saku lebih. Kalau dia ada di posisi Kailla, dia akan menyelesaikan S2,S3 kalau perlu sampai S teler.


Sekarang saja, dia terpaksa menunda dulu keinginannya untuk melanjutkan S2nya. Dia harus mengumpulkan uang untuk itu, kalau beruntung dia bisa mendapatkan beasiswa kembali sama seperti saat dia menyelesaikan S1 nya.


Pieter tampak menyenggol Mitha yang sedari tadi tertegun.


“Selamat pagi Nyonya,” sapa Pieter sambil tersenyum menatap Kailla, setelah bisa menguasai diri dari rasa terkejutnya tadi.


“Selamat pagi Nyonya,” sapa Mitha juga tersenyum. Kali ini senyumnya lebih ramah dibanding sebelumnya. Dugaannya tentang Kailla selama ini salah, walaupun dia tidak menampik pesona sang Presdir yang di atas rata-rata tetap memikat hatinya. Tapi dia cukup tahu diri untuk bersaing dengan Kailla.


Kailla hanya mengangguk dan tersenyum, tangannya sudah berkeringat karena menggenggam tangan Pram terlalu erat. Tidak sanggup menatap kedua orang ini terlalu lama. Dia ingat kemarin, mereka berdua ada di dalam ruang rapat, ikut menertawakan kebodohannya.


“Ayo Sayang!” ajak Pram. Terlihat Pram menggenggam tangan Kailla masuk ke dalam. Menyapa beberapa karyawan dengan senyuman. Dia tidak begitu paham sapaan yang dilontarkan staffnya dalam bahasa Jerman, walaupun Mitha sudah menjelaskan padanya barusan. Jadi satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah tersenyum, kebiasaan yang sangat jarang dilakukannya di Indonesia.


“Sayang.. jalannya pelan-pelan,” bisik Kailla sedikit menghentakkan tangan Pram dengan cemberut. Dia sedari tadi harus bersusah payah menyesuaikan langkahnya dengan langkah kaki Pram yang lebar-lebar. Suaminya ini tidak tahu apa saat ini dia mengenakan boot dengan hak yang lumayan tinggi.


“Presdir sedang menyeret istrinya. Hehehe...,” Mitha berbisik pelan pada Pieter yang berjalan di sampingnya.


Mitha yang berjalan tepat di belakang Pram dan Kailla terkekeh melihat ulah Presdir mereka.


Bayu yang tadinya mau mengekor, akhirnya memilih menunggu di lobby. Dia merasa tidak terlalu dibutuhkan untuk ikut naik ke atas, ke ruangan Pram.


Begitu masuk ke dalam ruangan Pram yang terletak di lantai 5, Kailla terkejut, matanya membulat dan mulutnya ternganga.


“Oh my God!” bisik Kailla pelan, langsung menatap Pram tidak percaya. Suaminya melakukan semua ini untuknya.


Ruangan itu hampir mirip dengan kamar tidurnya. Ada teleskop juga di pojok ruangan, ada banyak gorden putih dengan kaca yang besar-besar menyatu dengan balkon menampilkan pemandangan kota Wina lengkap dengan gedung-gedung pencakar langit disana. Yang membedakannya hanya tempat tidur. Di ruang kerja Pram tidak ada tempat tidur empuk miliknya. Itu diganti dengan satu set meja kerja Pram lengkap dengan kursi bernuansa putih sesuai dengan konsep ruangan.


“Kamu menyukainya?” tanya Pram memeluk Kailla setelah memastikan Mitha dan Pieter sudah keluar dari ruangan mereka saat ini. Pram sengaja meminta mereka keluar terlebih dahulu, sebelum memulai pekerjaannya. Ada yang mau dibicarakannya berdua dengan Kailla.


“Hmmmm... terimakasih, walaupun bukan aku yang akan menggunakan ruangan ini. Tapi aku suka.” Kailla tersenyum menatap Pram. Tangannya sudah bergelayut manja di leher Pram.


“Hanya ini..?” tanya Pram terkekeh, sambil menggoda istrinya. “Tidak ada ciumankah?” Pram bertanya lagi.


Cup! Kailla mengecup bibir Pram sekilas.


“Haha, aku berharap di kejutanku selanjutnya akan mendapatkan hadiah lebih dari ini.” ucap Pram serius.


“Nakal!” gerutu Kailla memukul dada Pram.


Pram menghela napasnya, mengambil sebuah map hitam di atas meja yang memang sudah dipersiapkan Pieter untuknya.




Kailla langsung terbelalak menatap Pram. Segera dia menghampiri dan memeluk erat suaminya sambil menangis.


“Terimakasih Sayang. Sebenarnya ini tidak terlalu penting, tapi aku terharu dengan semua yang sudah kamu lakukan untukku,” ucap Kailla.


“Aku punya alasan melakukannya. Kemarilah Kai!” ajak Pram. Dia mengajak Kailla berdiri di depan jendela besar, kemudian memeluk istrinya itu dari belakang. Membiarkan Kailla dengan leluasa menikmati pemandangan di depan matanya.


“Kamu lihat gedung-gedung pencakar langit itu?” tanya Pram berbisik di telinga Kailla. Jarinya sedang menunjuk ke arah gedung-gedung tinggi di depan mata mereka. Pram sengaja meletakan dagunya di pundak Kailla supaya dia lebih leluasa menikmati ekspresi istrinya saat dia berbicara.


“Hmmmm,” gumam Kailla.


“Aku akan membawa dunia ke dalam genggamanmu! Aku berjanji,” ucap Pram.


“Seluruh kantor cabang di luar negri akan memakai namamu, Kailla Riadi Dirgantara. Dan akan menjadi milikmu, bukan milikku,” lanjut Pram lagi.


“Hah?” Kailla terbelalak. “Kamu akan membuka cabang baru lagi setelah ini?” tanya Kailla menatap Pram. Ada banyak kejutan yang disiapkan Pram untuknya hari ini.


“Iya! Aku akan membawa Kailla Riadi Dirgantara berkeliling dunia,” jawab Pram. “Bukankah itu impianmu sejak kecil?” tanya Pram lagi.


“Iya, tapi aku mau berkeliling dunia bersama daddy waktu itu.” Kailla menjawab sedih.


“Tapi sekarang aku yang akan membawamu,” Pram tersenyum.


“Terimakasih!” Kailla mengusap lembut tangan Pram yang sedang mengunci perutnya saat ini.


“Kai, sebenarnya aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Daddy mewariskan RD Group padaku dan aku tidak bisa menolaknya. Sebagai gantinya aku akan memberimu KRD. KRD ini milikmu, semua atas namamu. Kamu pemilik gedung 5 lantai ini. Siapa yang berani mempermalukanmu sekarang,” ucap Pram mengecup pipi Kailla.


Terimakasih.. Sayang,” Kailla meneteskan airmatanya saat ini, berbalik memeluk Pram. Perasaannya saat ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


“Tadinya aku tidak pernah tahu alasannya. Kenapa Daddy memintaku menikahi laki-laki ini. Ada banyak laki-laki di dunia, tapi daddy memilihnya. Daddy memilih menyerahkan semua miliknya, termasuk aku, putri kesayangannya. Aku menolak, sampai beberapa menit yang lalu masih ada penolakan itu di hatiku. Selama ini, aku masih menyimpan kecewaku padanya. Kenapa dia begitu sukarela menerima semua permintaan daddy. Apakah dia seegois itu, sampai tega mengambil semua milik daddy tanpa tersisa. Tapi aku tahu sekarang, kenapa daddy begitu sayang padanya. Bahkan daddy sudah memilih laki-laki ini sebelum aku lahir di dunia. Dan aku tahu, Daddy tidak pernah salah.......”


Kailla mencium bibir Pram tiba-tiba. Rasa malu yang biasa ditunjukkannya kemarin-kemarin sudah hilang tertiup angin dingin kota Wina. Saat ini dia hanya ingin mencium Pram, mencium laki-laki yang sudah bersusah payah untuk membahagiakannya setiap saat. Laki-laki yang telah bersabar menghadapi kenakalannya selama 20 tahun ini.


***


Terimakasih dukungannya, mohon bantuan komen, like dan share ya.. supaya banyak yang baca, jadi semakin panjang ceritanya. Love love you all


Om Pram & Kailla


Cara Pram meluluhkan Kailla itu bikin aku meleleh.. 😀😀😀