Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 70 : Bersaing Dengan Riadi Dirgantara


“Kapan kamu akan mencintaiku, Kai?” Pram berbisik lirih, mengeratkan pelukannya. “Aku masih menunggumu,” lanjut Pram lagi.


Kailla terdiam sejenak sebelum berkata-kata, “Aku menyayangimu Om.” Kailla membalikkan tubuhnya berhadap-hadapan dengan Pram. Dengan sedikit berjinjit, dia mengecup bibir Pram sekilas. Sebelum akhirnya memeluk erat tubuh kekar suaminya itu.


“Terimakasih, selama ini sudah menjaga kami.” ucap Kailla menatap dalam ke manik mata suaminya. Disambut senyuman tipis di bibir Pram. Terlihat Pram mengajak Kailla duduk di tepi ranjang, mendudukkan Kailla di pangkuannya.


“Kai....” panggil Pram lembut, sembari menyelipkan sebagian rambut ke belakang telinga Kailla.


“Kalau aku menginginkanmu sekarang, apa kamu akan menolakku lagi?” tanya Pram, berbisik di telinga Kailla. Kedua tangannya mengunci pinggang Kailla, seolah tidak mengizinkan istrinya itu pergi menjauh.


Mendengar pertanyaan Pram sontak pipi Kailla bersemu merah. Dengan malu-malu dia menatap Pram sambil tetap menunduk.


“Laki laki ini bagaimana dengan terang-terangan bertanya seperti ini.Aku harus menjawab apa.”


Pram masih menatap penuh harap, menunggu jawaban yang dia sendiri ragu Kailla akan menjawab apa. Melihat tatapan Pram, akhirnya Kailla mengangguk. Tidak mungkin juga terus-terusan menolak laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.


Jangan ditanya betapa bahagianya perasaan Pram saat ini, dia mengecup wajah Kailla bertubi-tubi. Sebelum akhirnya mengecup lembut bibir Kailla. Baru saja Pram berharap lebih, kegaduhan di lantai bawah membuat pikiran Kailla sudah terbang kemana-mana. Tanpa permisi dia langsung bangkit, tidak mempedulikan Pram yang masih bersemangat mengecup bibirnya.


“Daddy sudah pulang!” ucap Kailla tanpa memikirkan perasaan Pram saat ini. Pram terlihat frustasi karena lagi -lagi harus menghentikan aktivitasnya, terpaksa tersenyum. Dengan cepat dia meraih tangan Kailla yang beranjak pergi meninggalkan kamar.


“Kai, berjanjilah setelah ini tidak menolakku lagi.” pinta Pram mendekap Kailla dari belakang.


Hening— Tidak ada suara apalagi jawaban dari Kailla yang sedang diam mematung.


“Iya..” Akhirnya Kailla menjawab pelan, melepaskan tangan Pram yang membeli perut ratanya. Berlari meninggalkan kamar, menemui daddynya tanpa memandang Pram sama sekali. Meninggalkan Pram yang hanya bisa tersenyum kecut, sambil memijat pelipisnya.


“Selama 20 tahun aku bersamamu, menjagamu, merawatmu bahkan aku sekarang mengikatmu. Tapi kamu tidak pernah mau menyisahkan sedikit ruang dihatimu untukku.” Pram berkata lirih.


“Dengan apa lagi aku harus memperjuangkanmu, Kai.”


Pram merasa egois, kalau harus bersaing dengan Riadi Dirgantara. Sosok itu sampai sekarang tidak tergantikan di dalam hidup dan hati Kailla. Entah sampai berapa lama dia harus berjuang demi sebuah ruang kecil di dalahm hati dan hidup istrinya. Kalau bisa mundur, dia akan mundur 2 tahun yang lalu. Tapi tidak sekarang, dia sudah berjuang sejauh ini kalau menyerah bukankah menjadi pengecut dan pecundang untuk kedua kalinya.


***


“Dad..,” panggil Kailla sambil terisak. Memeluk daddynya yang sedang duduk di samping kolam ikan koi-nya.


“Kamu tidak tahu seberapa aku merindukanmu Dad!” lanjutnya lagi sambil berlutut menggengam tangan daddynya, mencium tangan itu berkali-kali.


“Dad..,” panggil Pram yang sudah menyusul di belakang Kailla. Memeluk mertuanya sekilas, kemudian meraih tubuh Kailla yang terus-terusan berlutut sambil menangis.


“Menangis di pundakku nanti, jangan di depan daddy!” bisiknya pada Kailla. Pram menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Kailla dan meminta istrinya itu untuk tersenyum.


“Dad, 3 hari lagi kami akan berangkat ke Austria, jadi aku mengizinkan putrimu menghabiskan waktunya selama 3 hari ini bersamamu.” ucap Pram tersenyum menggoda sang mertua.


Mendengar perkataan Pram, sontak Kailla langsung menghambur memeluk Pram. Berjinjit mencium pipi suaminya bertubi-tubi tanpa jeda. Melupakan perawat dan daddy yang sekarang sedang menatap ke arah mereka.


“Terimakasih,” ucap Kailla di sela-sela ciumannya. “Aku menyayangimu, sangat.. menyayangimu Om!” lanjutnya lagi penuh semangat. Pram hanya bisa terkekeh, menepuk lembut pucuk kepala Kailla.


“Kamu bahagia?” tanya Pram setelah mengajak Kailla menjauh dari daddynya.


Kailla mengangguk senang. Dari tadi bibirnya selalu tersenyum lebar tanpa henti.


“Iya....” Pram menjawab singkat. Melihat Kailla yang tersenyum bahagia, Pram juga merasakan perasaan yang sama.


“Ah... terimakasih,” ucap Kailla.


“Kamu boleh menciumku lagi. Tapi disini! Aku maunya disini!” ucap Pram menunjuk bibirnya sendiri sambil tersenyum. Raut wajahnya benar-benar penuh harap saat ini, seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.


Kailla mendekat, dan mencium bibir Pram sekilas. Baru saja hendak menjauh, Pram sudah meraih tengkuk Kailla dan menahannya, memperdalam ciumannya membuat istrinya melemas di pelukannya. Kalau Pram tidak mendekap erat tubuh Kailla, bisa dipastikan istrinya itu akan melorot ke bawah terhanyut oleh ciuman Pram.


“Tidak.. tidak disini!” ucap Pram menghentikan ciumannya. “Aku belum menginginkannya sekarang. Aku harus ke kantor sebentar lagi,” lanjut Pram lagi melepaskan pelukannya, menatap Kailla sambil tersenyum. Istrinya saat ini sedang terengah- engah merespon ciumannya tadi.


Dering ponsel di saku celana, memaksa Pram untuk menghentikan senyumannya.


“Iya Ste..” jawab Pram setelah memastikan sekretarisnya yang menghubunginya.


“Pak bisa kesini sekarang? Ada pengacara pribadi Pak Riadi dan beberapa orang yang tidak saya kenal mencari Bapak dan Nyonya Kailla.” jelas Stella dari seberang telepon.


Dahi Pram mengkerut, otaknya sedang berpikir. Dia menatap Kailla kebingungan. Tidak biasanya orang-orang ini mencari dirinya dan Kailla. Pasti ada hal penting yang ingin disampaikan.


“Kai, kamu ikut aku ke kantor!” perintah Pram setelah memutuskan panggilan teleponnya.


“Ada masalah di kantor?” tanya Kailla keheranan. Tidak biasanya Pram atau daddynya meminta dia ke kantor. Bahkan dia tidak pernah diikut sertakan untuk semua hal menyangkut perusahaan.


Pram menggeleng, “ Ada pengacara daddy dan beberapa orang yang tidak dikenal mencari kita di kantor.”


“Aku juga?” tanya Kailla bingung. Mengarahkan telunjuknya ke dadanya sendiri. Pram mengangguk, sebenarnya dia juga tidak kalah bingungnya di banding Kailla saat ini.


***


Setelah bersiap-siap Pram dan Kailla pun bergegas berangkat ke kantor. Pram sengaja meminta Sam yang mengantar mereka hari ini. Sedangkan Bayu membawa mobil Pram, menyusul di belakang. Pram mengerti saat ini Kailla pasti tidak mau terlalu dekat dengan Bayu. Sampai dia memastikan penyebabnya, dia tidak akan mengizinkan Bayu berada terlalu dekat dengan istrinya.






“Om.. apa ada masalah dengan daddy?” tanya Kailla khawatir setelah mereka berada di dalam mobil. Pram hanya menggeleng. Dia sendiri belum bisa menebak tujuan kedatangan pengacara mertuanya itu.


“Tidak perlu dipikirkan! Pasti baik-baik saja.” Pram menenangkan Kailla.


“Ada aku!” ucap Pram tersenyum meraih tangan Kailla yang duduk di bangku sebelahnya.


***


Terimakasih dukungannya. love you all. jika berkenan mohon bantuan like dan komennya.