Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 96 : Pasta Dan Steak


Pram sedang mel*mat bibir Kailla saat Pieter mengetuk pintu ruangannya. Dia memilih menulikan pendengarannya, masih belum puas menikmati bibir tipis yang selalu menggodanya setiap saat.


“Sa..yang..mmphtt..,” panggil Kailla di sela ciuman Pram, berharap suaminya segera menyudahi kegiatannya. Ketukan di pintu itu sungguh mengganggu, teratur, berkali-kali dan tanpa berhenti.


“Pieter br*ngsek!” umpat Pram dalam hati.


Pram sebenarnya tidak peduli. Pieter mau mengetuk sampai buku-buku jarinya bengkak pun, itu tidak akan menganggu kesenangannya saat ini. Tapi ketukan itu sudah mengganggu konsentrasi Kailla, itu artinya istrinya tidak akan mau lagi meladeninya.


Pram masih saja tidak mau berhenti, berkali-kali Kailla memukul atau mendorong dadanya. Dia tetap bergeming. Masih saja menikmati apa yang dilakukannya saat ini.


“Laki-laki ini benar-benar sudah gila!” ucap Kailla dalam hati.


Dia sudah menggunakan segala cara tapi Pram seolah tidak terganggu sama sekali. Terpaksa dia harus menggigit bibir Pram, cara ini saja yang terpikir olehnya.


“Aww.. Kai!” seru Pram setelah melepas ciumannya pada bibir Kailla. Tampak dia mengusap bibirnya yang digigit Kailla dengan ibu jarinya.


“Aku akan menggigitmu nanti malam Kai!” ancam Pram tersenyum, sambil berjalan ke arah pintu.


Ceklek! Pram membuka pintu ruangannya, membiarkan asistennya itu masuk.


“Masuk!” perintah Pram kesal. Dia memilih tidak mau menatap wajah Pieter sama sekali.


Pieter yang sudah mengetahui kekesalan atasannya itu hanya tersenyum kecut. Dia bukan anak kemarin sore, yang tidak tahu apa-apa. Dia tahu jelas apa yang terjadi di balik pintu ruangan atasannya. Kalau tidak terjadi apa-apa, tidak mungkin dia harus puluhan kali mengetuk, baru ada jawaban dari dalam. Tapi apa boleh buat, dia ada keperluan yang mendesak. Tidak bisa ditunda sampai Pram menuntaskan semuanya.


“Ini Presdir!” Pieter menyerahkan dua kotak berisi ponsel siap pakai ke hadapan Pram yang saat itu sudah duduk di kursi kerjanya. Kailla sendiri memilih duduk di sofa, setelah tadi sempat merogoh paksa saku celana Pram dan mengambil ponsel suaminya tanpa permisi.


“Yang satu tinggalkan di mejaku, yang satunya tolong berikan kepada asisten istriku, Bayu!” titah Pram.


“Baik Presdir,” jawab Pieter. Dia memilih memanggil Pram seperti itu saat di kantor atau saat ada orang lain di antara mereka berdua.


“Mobil juga sudah siap dibawah, lengkap dengan sopirnya, Presdir,” jelas Pieter. Kali ini dia melirik ke arah Kailla yang sedang serius memainkan game di ponsel Pram.


“Cantik!” ucapnya pelan tanpa sengaja. Dia lupa saat ini sedang berada di hadapan Pram. Jiwa casanova-nya seketika meronta saat melihat istri atasannya. Masih terbayang penampilan Kailla yang hanya tertutup kemeja kebesaran milik Pram dengan bekas kecupan hampir di seluruh dadanya.


Bibir Pieter belum menutup sepenuhnya usai berucap, sebuah pena sudah melayang tepat membentur dadanya. Pram menatapnya tajam, tanpa suara. Telunjuk dan jari tengah Pram mengarah tepat ke matanya. Pieter bergidik, tidak biasanya Pram yang dikenalnya menjadi laki-laki pencemburu seperti saat ini. Laki-laki ini biasanya akan menanggapi segala hal dengan santai.


“Kirim semua berkas-berkas yang harus aku tanda tangani kesini,” perintah Pram seketika mengubah ekspresinya.


“Oh ya, tolong hubungi Winny, kamu punya kontaknya kan?” tanya Pram lagi.


“Siap Presdir!” Pieter menjawab singkat.


“Minta David mengirim semua data-datanya kepadamu. Kamu boleh keluar sekarang!” titah Pram lagi.


Sepeninggalan Pieter, Pram memilih duduk disamping Kailla yang sedang sibuk dengan ponsel miliknya. Tangan kanan Pram tampak memegang sebuah ponsel baru berwarna rose gold berlogo apel sisa gigitan keluaran terbaru. Seri yang sama dengan miliknya, hanya berbeda di warna covernya saja.


“Kai, kamu tidak membutuhkan pundakku lagi?” tanya Pram setelah lebih dari 5 menit dia duduk disana, Kailla tidak mempedulikannya sama sekali. Masih sibuk bertarung untuk memenangkan permainannya.


“Hmmmm....,” gumam Kailla. Jari-jarinya tetap sibuk menggeser layar ponsel ke atas dan ke bawah. Mulutnya mengerucut, sesekali mendengus kesal. Keningnya pun ikut berkerut.


Pram tersenyum kecut, tanpa bertanya lagi, dia langsung meraih kepala Kailla dan membawanya bersandar di pundaknya. Kebiasaan yang sering Kailla lakukan saat memainkan game di ponsel.


“Kamu tidak mau melihat ponsel barumu Kai?” tanya Pram setelah menunggu lama, istrinya tetap sibuk dengan ponsel tanpa mempedulikan dirinya.


“Hmmmm...” Sedari tadi Kailla hanya bergumam, menatap Pram pun tidak.


“Benar-benar ini anak!” gerutu Pram dalam hati.


Tanpa banyak bicara Pram langsung merebut paksa ponsel dari tangan Kailla, melemparnya asal ke atas meja.


“Om.....!” rengek Kailla seketika. Langsung dijawab dengan tatapan tajam dari Pram.


“Ah....,” Kailla mendengus kesal. Baru saja dia ingin menghentakkan kakinya ke lantai, Pram sudah mengarahkan telunjuk padanya.


“Ei...ei.. mulai lagi!” ucap Pram menggeleng melihat kelakuan Kailla.


“Kalau begitu, aku mau pulang saja!” gerutu Kailla kesal. Bagaimana tidak kesal, sedetik lagi dia akan menjadi pemenang, setelah puluhan kali harus kalah. Dan Pram tanpa aba-aba, langsung merebut kemenangan itu dari tangannya.


“Ya sudah, pulang jalan kaki,” ucap Pram singkat sambil tersenyum.


“Ah.....,” Baru saja Kailla akan membalas ucapan Pram, terdengar suara ketukan di pintu.


“Masuk!” perintah Pram. Tampak Mitha masuk ke dalam sambil tersenyum menatap atasannya sedang duduk berduaan di sofa dengan istrinya.


Pram menatap Kailla, meminta jawaban istrinya yang saat ini sudah bermanis manja dengannya.


“Gadis di depanku ini sungguh luar biasa. Dalam sekejap istriku bisa jadi semanis ini,” batin Pram.


“Aku mau makan diluar saja Sayang,” ucap Kailla manja. Segera dia bergeser duduk menempel pada Pram. Memeluk erat lengan kekar suaminya dan menyandarkan kepalanyan disana.


“Baiklah kita makan di kantin kantor saja,” jawab Pram singkat.


“Hah? Sayang....,” rengek Kailla kembali.


“Kita makan di kantin saja, aku sekalian mau melihat langsung bagaimana kualitas kantin kita,” jelas Pram.


“Nanti sepulang kantor aku akan mengajakmu makan di luar,” lanjut Pram sambil tersenyum menatap Kailla. Bukannya dia tidak tahu, istrinya sedang cemburu pada Mitha.


“Baiklah Sayangku....” sahut Kailla sambil mengecup pipi Pram. Matanya sempat melirik sekilas ke arah Mitha, yang saat ini sedang melotot menatapnya. Dia sengaja mencium Pram di depan Mitha, untuk memukul mundur perempuan yang sering mencuri kesempatan pada suaminya itu.


“Aku terpaksa mengiyakan semua perkataan suamiku. Kalau sampai wanita terong ini melihat kami berdebat, pasti dia kira ada kesempatan mendekati suamiku. Suamiku bakal dilahap seketika. Tatapannya saja seperti orang kelaparan.”


Mitha tersenyum kecut melihat pemandangan di hadapannya. Sebenarnya dia sudah tidak punya niat lagi untuk mendekati Presdirnya, sejak dia tahu kalau Kailla adalah putri pemilik perusahaan. Tapi melihat Kailla yang seperti sengaja menyindirnya, emosinya sedikit terpancing.


“Cih, dia sengaja pamer di depanku. Awas saja!”


Melihat raut wajah Mitha yang kesal, Kailla tersenyum puas. Dia sudah bersiap pindah duduk ke pangkuan Pram, tapi untung saja Mitha cukup tahu diri. Belum sempat dia menjalankan rencananya, Mitha sudah berpamitan terlebih dulu.


***


Pram dan Kailla ditemani Pieter sudah berada di kantin . Kantinnya lumayan luas dan bersih, mungkin bisa menampung sekitar 100-150 orang karyawan. Pram juga menyempatkan masuk dan mengecek ke dapur kantin, meninggalkan Kailla yang lebih memilih duduk dan melihat menu-menu makanan.


“Lumayan..!” ucap Pram saat sudah kembali dari memeriksa dapur kantin. Dia memilih duduk tepat disamping Kailla, meletakkan tangannya di sandaran kursi istrinya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. Puas dengan kondisi kantin, dia pun merapatkan tubuh pada Kailla, ikut melihat buku menu yang ada di depan mereka.


“Kamu sudah pesan Kai?” tanya Pram menatap istrinya.


“Aku mau pasta saja,” jawab Kailla menunjukan foto di buku menu. Pram menatap sekilas, sebelum akhirnya menyetujui permintaan Kailla.


“Aku pesan steak, istriku pasta saja, minumnya air mineral saja.” Pram berbicara kepada Pieter yang saat ini sedang duduk di hadapan mereka.


“Oke..!” Pieter langsung berdiri dan mencari karyawan kantin untuk menyampaikan pesanan atasan mereka.


Tak lama, pesanan mereka pun datang. Sepiring pasta yang tampak menggugah selera lengkap dengan lelehan keju kesukaan Kailla dan 2 porsi steak pesanan Pram dan Pieter. Pram tampak mulai memotong steak yang ada di hadapannya dan menyuapkannya ke dalam mulut.


“Enak!” ucap Pram memberi komentar untuk rasa steak yang baru saja meluncur masuk ke dalam mulutnya.


“Pieter, kamu tinggal di dekat sini?” tanya Pram. Kembali memasukkan potongan daging yang sudah dilumuri saos itu ke dalam mulutnya.


“Iya Pram.” Pieter menjawab sambil terkekeh. Dia sengaja memanggil Pram supaya situasi menjadi lebih cair, apalagi saat ini jam istirahat dan mereka sedang berada di kantin.


Pram yang sedari tadi memperhatikan Kailla hanya menggulung-gulung pastanya dengan garpu tanpa memasukkannya ke dalam mulut, mengerutkan keningnya.


“Tidak biasanya!” batin Pram.


Tanpa permisi, dia juga ikut menggulung pasta milik Kailla dan coba mencicipi. Mencari tahu kenapa istrinya tiba-tiba menjadi tidak tertarik dengan makanan kesukaannya yang sudah tersaji di atas meja.


“Astaga, pantas saja Kailla tidak mau memakannya. Tidak ada rasanya sama sekali,” batin Pram.


Tampak Pram memotong kecil-kecil steak miliknya, sebelum akhirnya menyodorkan piring berisi steak siap disantap itu ke depan Kailla.


“Makanlah!” titah Pram. Dia mengambil alih pasta Kailla dan meletakkan di hadapannya.


“Mau pesan yang lain Pram?” tanya Pieter saat melihat Pram menukar piringnya dengan milik istrinya.


“Tidak perlu. Aku akan menghabiskannya,” jawab Pram singkat. Terlihat dia menggulung pasta itu dan memasukkan ke dalam mulutnya tanpa banyak protes.


Pram termasuk laki-laki yang tidak terlalu cerewet tentang rasa masakan. Apapun itu, asal masih bisa dimakan, dia akan tetap melahapnya. Bukan tanpa alasan, masa kecilnya dulu sebelum bertemu dengan Pak Riadi terbilang keras. Dia harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan sepiring nasi. Bahkan dia sering tidak bisa makan, kalau tidak mendapatkan uang. Dan itu masih membekas di ingatannya sampai sekarang.


“Makanlah Kai!” bujuk Pram. “Steaknya enak! Kematangannya sesuai dengan seleramu,” lanjut Pram lagi setelah melihat Kailla hanya menusuk-nusuk potongan daging itu dengan garpu.


***


Terimakasih.