Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 124 : Mengalahkan Riadi


Pram terlihat menggenggam tangan Kailla keluar dari ruangan Pieter.


“Sayang mau langsung ke mobil?” tanya Pram.


“Iya, aku pulang dengan Bayu saja Sayang. Kamu kan masih ada pekerjaan,” ucap Kailla.


Jawaban Kailla seketika langsung menghantam hati Pram. Sakit dan remuknya seperti di hajar dengan godam. Seminggu dia meninggalkan istrinya untuk bekerja dan Kailla-nya yang manja hilang seketika. Ada rasa tidak rela, ada rasa menyesal. Dia merindukan Kailla yang setiap hari merengek padanya. Rindu pada Kailla yang setiap tidur hanya mau di dalam dekapannya. Kailla yang menangis di pelukannya untuk hal-hal tidak penting.


“Tidak, aku akan pulang bersamamu,” tolak Pram.


“Sayang, aku mau ke tempat Mitha dulu. Tas dan ponselku sepertinya tertinggal di sana saat aku tidak sadarkan diri tadi,” ucap Kailla. Dia langsung berjalan meninggalkan Pram yang belum sempat menjawabnya.


“Hmmmm... seperti bukan Kailla saja,” ucap Pram tersenyum menatap punggung istrinya yang berjalan menjauhinya.


Tak lama Kailla sudah muncul kembali menenteng tas berwarna pink yang baru dibeli Pram beberapa hari yang lalu. Tepatnya, Pram hanya membayar tagihannya saja.


“Tas barumu?” tanya Pram memastikan. Pertama kali dia melihat bentukan tas yang baru di beli istrinya itu. Dia tersenyum kecut melihat tampilan yang tidak sesuai dengan harganya.


“Iya..,” jawab Kailla dengan senyum sumringah.


Pram mengangkat tangan Kailla yang sedang menenteng tas di tangannya. Mengamati tiap sisi tas dengan seksama. Bahkan bagian bawah pun tidak luput dari pengamatan Pram.


“Kenapa Sayang?” Kailla bertanya heran.


“Kebeli 1 unit rumah 2 lantai. Aku benar-benar kaget. Aku kira, aku salah menghitung jumlah nol waktu tagihan itu muncul,” sahut Pram menggelengkan kepalanya.


Kailla tahu, Pram sedang protes secara tidak langsung.


“Terimakasih Sayang,” rayu Kailla saat melihat suaminya masih saja menatap tas di tangannya.


“Kamu harus membayarnya nanti malam. Tidak ada yang gratis Nyonya,” goda Pram. Dia sudah seminggu tidak menerkam istrinya. Pekerjaan membuatnya harus mengorbankan banyak hal. Pantas saja, Kailla sangat membenci dunianya. Kailla selalu mengatakan bisnis membuat orang jauh dari keluarga.


“Hah..! Perhitungan sekali,” gerutu Kailla. Tapi tak lama Kailla sudah tersenyum sambil memeluk lengan kekar Pram.


“Sayang, aku siap membayarmu untuk tas ini nanti malam.” Kailla tersenyum licik.


Mata Pram langsung membulat mendengar ucapan Kailla. Tidak biasanya Kailla bersedia melayaninya tanpa protes dan protokoler terlebih dulu.


“Tapi... selama kita menikah, aku belum membuat hitung-hitungannya Sayang. Sudah dapat berapa tas ya?” Kailla terlihat mengerutkan dahinya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan.


“Mungkin aku bisa beli unit di Pondok Indah, sebelahan dengan daddy.” Kailla tampak berpikir, terlihat dia menghitung dengan jari-jari tangannya. Sudah berapa malam yang dilewatinya dengan Pram.


“Iya, aku mau itu saja bayarannya,” lanjut Kailla lagi sambil tersenyum menggoda Pran.


“Aku tidak mau tetanggaan sama Bang Gledek,” tolak Pram sambil terkekeh.


Tapi aku mau sebelah-sebelahan sama daddy Sayang,” rayu Kailla


“Kita beli di dekat laut saja ya? tawar Pram. Tanpa meminta persetujuan Kailla, sebenarnya Pram sudah membeli rumah dan sekarang dalam tahap renovasi. Rumah di utara Jakarta itu adalah rumah impian Kailla yang dekat dengan laut dan lengkap dengan dermaga pribadi di belakang rumah.


“Jauh banget. Itu kan di Utara, daddy di Selatan. Aku gak mau jauh-jauh dari daddy,”


“Tidak jauh Sayang,” rayu Pram.


“Macetnya Sayang. Jalan Arteri itu macet sekali. Aku akan menua di jalan.” Kailla masih berusaha menolak tanpa tahu kalau Pram bahkan sudah membelinya.


Kita akan membahasnya nanti Kai. Ayo kita pulang. Kamu butuh istirahat sekarang,” ajak Pram sambil merangkul pundak Kailla. Dia tidak ingin berdebat untuk hal yang tidak penting saat ini.


***


Pieter masih mematung, ditemani Mitha yang berdiri di belakangnya.


“Pak, move on dong. Itu kan istri orang,” ucap Mitha pelan. “Lagian Nyonya lagi hamil, sudah tidak ada kesempatan buat bapak.” lanjut Mitha menjelaskan.


“Hah....?? Kailla hamil?” tanya Pieter langsung berbalik menatap Mitha. Mencari kejujuran dari netra si gadis penerjemah itu.


Mitha mengangguk. Pieter memilih pergi setelah mendengar ucapan Mitha. Harapan yang sempat menguncup sekarang layu sebelum sempat berkembang.


Tadinya dia sudah mengubur dalam-dalam keinginannya, begitu dia tahu perempuan itu benar-benar istri Pram, teman baiknya. Tapi dia melihat tidak ada cinta untuk Pram di mata Kailla. Cerita Kailla pun memperkuat semuanya. Tapi sekarang, Kailla hamil. Apakah selama ini dia sudah salah menduga. Apakah sebenarnya Kailla juga mencintai suaminya.


Dia sudah siap berjuang, seandainya Kailla tidak mencintai Pram. Dia sudah siap membawa perempuan itu pergi dari teman baiknya. Seandainya Kailla meminta, dia akan melakukan hal bodoh itu.



“Aku jatuh cinta padanya, tepat pada pandangan pertama. Saat melihatnya muncul tiba-tiba di tengah rapat. Gila! Bodoh kamu Pieter!” umpatnya pada diri sendiri.


***


Kailla baru saja terbangun dari tidurnya. Sejak pulang dari kantor Pram, dia memilih tidur. Setidaknya bisa membantu mengurangi pusing di kepalanya.


“Baru jam 7 malam,” ucap Kailla saat melihat jam digital di atas nakas. Setelah puas tidur dia memilih keluar dari kamarnya mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar. Dia belum mengisi perutnya dengan makanan berat sedari pagi.


“Bu, hari ini masak apa?” tanya Kailla pada Bu Ida saat sudah berada dapur. Tangannya sedang membuka kulkas kemudian menuangkan air dingin ke dalam gelas.


“Pak Pram minta dibuatkan sop ayam. Katanya untuk Non Kailla,” sahut Bu Ida.


“Oh, tolong siapkan untukku Bu, aku akan makan sebentar lagi. Perutku lapar,” pinta Kailla.


“Oh ya, suamiku ke kantor lagi?” tanya Kailla. Dia sudah menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi bersiap menyantap sop ayam yang dihidangakn Ibu Ida.


“Sejak Non tidur, Pak Pram di ruang kerja. Belum keluar-keluar sampai sekarang,” jawab Bu Ida menatap ke arah pintu ruang kerja majikannya.


“Oh... !” Kailla mengerutkan dahinya. “Aku akan melihatnya sebentar,” lanjut Kailla.


Saat Kailla masuk ke dalam ruang kerja, Pram sedang tertidur. Dia tersenyum menatap suaminya yang sedang memejamkan mata dengan laptop yang masih menyala di mejanya.



“Sayang..,” panggil Kailla. Dia langsung duduk di pangkuan Pram.


“Sayang.....,” panggil Kailla lagi. Kali ini dia bergelayut manja sambil memainkan telinga Pram dengan jari-jarinya. Berharap suaminya terganggu dan membuka mata.


“Hmmmm,” gumam Pram yang masih memejamkan matanya. Tangannya sudah membelit pinggang Kailla.


“Ayo bangun! Aku lapar,” ucap Kailla. Berbisik di telinga Pram.


“Kamu sudah bangun?” tanya Pram saat sudah membuka matanya.


“Sudah...,” jawab Kailla singkat. Jari-jari lentiknya sedang menyusuri lekuk wajah Pram saat ini. Dari mata sekarang berpindah ke hidung. Baru saja akan menyentuh bibir Pram, jarinya sudah terlebih dulu digigit Pram.


“Aduh! Sakit Sayang. Kamu mengejutkanku,” ucap Kailla. Setelah berhasil menyelamatkan jari telunjuknya yang hampir dilahap Pram.


“Kenapa? Kamu baru menyadari suamimu begitu tampankah?” tanya Pram mengoda Kailla.


“Tidak jelek sih, tapi aku tidak pernah bercita-cita memiliki suami sepertimu. Hahaha,” sahut Kailla tertawa.


“Di dalam otakmu ingin suami seperti apa?” tanya Pram langsung mengetuk dahi Kailla dengan telunjuknya.


“Waktu SMA aku bermimpi punya suami setampan Lee Min Ho atau James Jirayu,” sahut Kailla, menutup mulutnya seketika.


“Berarti kamu beruntung Nyonya. Kamu mendapatkan keduanya sekaligus di dalam diriku,” jawab Pram dengan penuh percaya diri.


“Huh...!” dengus Kailla, memukul dada Pram.


“Oh ya, kamu yakin tidak mau ke dokter?” tanya Pram tiba-tiba serius.


“He..em, aku sudah baikkan sekarang. Hanya kurang asupan dan istirahat saja,” jawab Kailla.


“Atau karena kamu terlalu merindukan belaianku selama seminggu ini?” tanya Pram terkekeh. Dia menyukai wajah kesal istrinya saat ini.


Terlihat Pram mengeluarkan kotak dari dalam laci meja kerjanya.


“Nih! Bukalah. Aku harap pilihanku sesuai dengan seleramu,” ucap Pram sambil meletakkan kotak itu ke atas meja.


“Apa ini?” tanya Kailla.


“Kantor akan mengadakan gathering 2 hari lagi. Aku akan membawamu bersamaku. Aku akan mengenalkanmu pada rekan-rekan bisnis kita. Nanti juga akan ada Winny dan suaminya. Mungkin juga ada beberapa media,” jelas Pram. Dia harus menceritakan semuanya terlebih dahulu setiap hal menyangkut Winny. Dia tahu istrinya diam-diam memendam sesuatu, setiap kali mendengar nama Winny.


“Oh...!” Kailla menjawab singkat. Kedua tangannya sedang sibuk membuka kotak berwarna merah yang berukuran sedang.


“Wah.... ini cantik sekali!” Mata Kailla langsung melotot melihat gaun putih yang masih terlipat rapi di dalam kotak. Belum cukup sampai disitu, mulutnya kembali ternganga, saat melihat kartu yang terselip di antara lipatan gaun putih itu. Segera dia mengambil dan membacanya sekali lagi. Untuk memastikan dia tidak salah lihat.


“Oh my God! Ini designer favoritku. Suka sekali Sayang..,” ucap Kailla mengecup wajah Pram berkali-kali. Pram sampai harus menghindar karena Kailla terlalu bersemangat dan membasahi wajahnya dengan kecupan.


“Jangan lupa! Suamimu ini adalah satu-satunya orang yang paling mengenal dirimu. Bahkan mengalahkan Riadi,” ucap Pram dengan bangganya.


***


Terimakasih.