
“Baiklah, maafkan aku.” Pram berkata lembut, memilih mengalah daripada memancing emosi Kailla.
“Katakan apa kesalahanku padamu. Kalau memang benar aku melakukannya, aku akan berlutut sekarang di kakimu Kai,” lanjut Pram, meraih tangan Kailla dan menggengamnya.
Melihat Kailla yang tidak berontak, Pram memberanikan diri memeluk istrinya. Mengunci pinggang Kailla agar tidak menjauh darinya. Setidaknya cara ini lebih ampuh dibanding cara apapun. Dia bisa leluasa berbicara sekaligus mendengar semua keluhan dan kemarahan yang keluar dari bibir Kailla.
“Lepas!” berontak Kailla begitu Pram memeluknya. Dia berusaha mendorong dan memukul Pram. Pram sendiri hanya bisa pasrah untuk sementara membiarkan dadanya jadi sasaran empuk pelampiasan kekesalan Kailla.
“Iya.. iya, dengarkan aku, Kai,” ucap Pram lembut ketika pukulan demi pukulan diterimanya dari kepalan tangan Kailla. Dia memilih menerima pukulan ketimbang melepas pelukaannya. Akan lebih mudah menenangkan Kailla di saat seperti ini, daripada Kailla mendiamkannya.
“Maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu kesalahan apa yang sudah aku lakukan,” ucap Pram lembut ketika Kailla sudah berhenti memukulnya.
“Ayolah! Jangan seperti ini.” bujuk Pram lagi. Ketika melihat Kailla menunduk dan tidak mau menatapnya.
Kailla yang masih diam dan tidak mau menjawab menjadi kesempatan untuk Pram kembali mendekap erat istrinya lagi. Perlahan dia membelai rambut panjang Kailla yang berantakan. Berharap perlakuannya akan menenangkan emosi dan kekesalan Kailla.
“Katakan apa kesalahanku? Jangan diam saja seperti ini,” bisiknya lembut di telinga istrinya.
“Perempuan mana yang kamu bicarakan?” tanya Pram lagi, dia ingat tadi Kailla membahas masalah perempuan. Mendengar kata perempuan, kekesalan Kailla kembali memuncak.
“Siapa perempuan itu? Teganya Om meninggalkanku dan daddy demi dia.” ucap Kailla, matanya memerah dan mulai berkaca-kaca. Tapi dia berusaha menahannya, dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Pram.
“Perempuan yang mana?” Dahi Pram mengkerut berusaha memikirkan perempuan yang dimaksud Kailla.
“Perempuan yang Om peluk di restoran xxxx. Om lebih memilih menemuinya dibanding menemani daddy. Padahal besok kita akan ke Austria dan meninggalkan daddy untuk waktu yang lama,” cerocos Kailla.
“Tega sekali!” ucap Kailla lagi.
“Winny..,” ucap Pram ragu-ragu. Dia sebenarnya tidak terlalu yakin perempuan yang dimaksud adalah Winny. “Aku ada meeting dengannya di sana,” jelas Pram lagi, menatap Kailla penuh harap. Berharap istrinya itu mau mengerti dan menghentikan semua kesalah pahamannya.
“Tidak ada orang meeting peluk-pelukan, tertawa cekikikan,” todong Kailla.
“Itu salah paham, tidak ada peluk-pelukan,” jelas Pram lagi.
“Jadi maksud Om mataku rabun, tidak bisa membedakan mana meeting, mana pelukan!” Kailla mulai marah kembali. “Lepas!” Kailla mendorong Pram kembali. Kali ini dia berlari menjauhi Pram, agar suaminya itu tidak bisa memeluknya lagi.
“Aku tidak percaya semua yang Om katakan! Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat.”
“Ayolah Kai, itu beneran meeting. Tidak ada hal lain. Kebetulan saja Winny itu teman..” Pram belum meyelesaikan kalimatnya, tapi Kailla sudah memotong.
“Cukup! Aku tidak percaya padamu Om.”
“Baiklah, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa memastikannya dengan bertanya pada David. Dia juga ikut, walaupun datang terlambat.” Pram segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi David. Beruntung David segera mengangkat panggilan teleponnya. Segera Pram menyalakan speaker supaya Kailla bisa mendengarnya juga.
Dave, aku butuh bantuanmu. Istriku....”
“Biarkan aku yang bicara. Om cukup diam saja!” potong Kailla memberi kode kepada Pram supaya diam. Dia tidak yakin dengan suaminya. Dari yang biasa dia dengar, rata-rata sesama lelaki itu pasti punya kode sendiri untuk meminta bantuan temannya supaya bisa mendukung kebohongannya.
Mendengar ucapan Kailla, Pram langsung diam menutup rapat mulutnya.
“Iya Pak,” sapa David.
“Dave!” panggil Kailla.
“Ooh maaf, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?”
“To the point saja ya Dave. Perempuan yang ditemui suamiku di restoran xxx, yang kata suamiku ada meeting dengannya. Kamu kenal kan?” tanya Kailla.
“Oh.. Bu Winny. Ada apa ya?” tanya David.
“Dia itu siapanya suamiku?” tanya Kailla langsung menembak. Mendengar pertanyaan Kailla, mata Pram langsung melotot.
“Pertanyaan macam apa ini?” batin Pram.
Mendengar pertanyaan Kailla, David bingung harus menjawab apa. Dia berpikir sejenak.
Deg—
Jawaban David seketika menghantam kedua orang yang sedang mendengarnya dari seberang telepon.
“Brengs*k kamu Dave! Kamu mengacaukan semuanya! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kita murni meeting kan tadi. Aku saja baru tahu kalau Winny yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita.” Pram langsung bereaksi saat mendengar jawaban David. Tampak dia memijat pelipisnya, kepalanya tiba-tiba langsung pusing.
“Maaf Pak. Pertanyaannya seperti itu, bagaimana aku harus menjawabnya,” jelas David membela diri.
“Oke Dave, terimakasih bantuannya ya.” Kailla langsung mematikan telepon dan melempar ponsel Pram ke atas ranjang.
“Dengar kan apa kata David. Pembohong! Pakai alasan meeting segala! Keluar dari kamarku!” usir Kailla. Jari telunjuknya mengarah tegas ke pintu kamar.
“Kai, dengar! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku saja baru mengetahuinya,” jelas Pram.
Kailla yang tadinya hendak berjalan menuju ke ranjang seketika berbalik dan menatap Pram sinis.
“Dia benar teman kuliah, Om?” tanya Kailla memastikan.
Pram mengangguk, “tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.”
“Aku sudah melihat sendiri Om pelukan dengannya di parkiran.”
“Kamu salah paham Kai. Aku menabraknya dan dia hampir terjatuh. Aku hanya menolongnya, bukan memeluknya.” jelas Pram.
“Kalau memang tidak apa-apa, kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya dari awal. Kalau David tidak mengatakan padaku, aku tidak tahu dia teman kuliah Om.”
“Tadi aku mau mengatakannya Kai, tapi kamu sudah memotong kata-kataku,” Pram masih berusaha menjelaskan.
“Sudahlah aku lelah berdebat, aku ingin tidur!” Kailla menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Melihat itu, Pram pun ikut menyusul Kailla, berbaring telentang disisi istrinya dengan kedua tangan dijadikan bantal.
“Kai...” panggil Pram lembut. Matanya masih terpejam. Meladeni istrinya benar- benar menguras energinya.
“Dia hanya teman kuliahku. Aku juga tidak mengetahuinya. Dan perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaannya.” cerita Pram. Dia yakin Kailla mendengarnya meskipun saat ini Kailla memunggunginya.
“Drama yang seperti ini baru saja tamat beberapa hari yang lalu. Tapi kenapa sesion kedua cepat sekali tayangnya,” sindir Kailla.
“Aku tidak mempermasalahkan Om mau berhubungan dengan siapa pun, aku tidak suka dibohongi. Apalagi kami diabaikan karena Om lebih memilih bertemu dengan perempuan itu,” lanjut Kailla.
“Kai.. tidak ada yang mengabaikanmu. Aku mencintaimu,” ucap Pram berusaha memeluk Kailla yang sedang membelakanginya.
Dengan kasar Kailla menghempas tangan Pram yang melingkar di perutnya.
Terlihat dia menghela napas panjang,” aku hanya butuh istirahat sebentar, sebelum memulai perang dengan Om lagi.”
“Astaga Kai, kenapa jadi tidak selesai-selesai. Kepalaku pusing, aku mau mandi dulu,” ucap Pram bangkit, berjalan menuju kamar mandi. Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Pram heran melihat perlengkapan mandi miliknya sudah tidak ada di tempatnya. Dia ingat jelas, tadi pagi masih meletakkan semuanya disana.
“Kai, barang-barangku di kamar mandi kok tidak ada?” tanya Pram. Dia terpaksa kembali ke kamar, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari perlengkapan mandinya yang lenyap dari kamar mandi.
Deg—
“Koper pakaianku juga tidak ada Kai,” ucap Pram lagi, begitu menyadari kopernya sudah tidak ada di tempat biasa.
“Sam membuangnya tadi.” Kailla menjawab santai.
Mendengar jawaban Kailla, kemarahannya pada Sam yang sempat mereda kembali memuncak.
“SAM!!!
***
Terimakasih. mohon dukungannya ya.