Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 23. Adik Ipar


Perayaan ulang tahun RD group berlangsung meriah. Pada acara puncak, Pak Riadi mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi Presdir dikarenakan kondisi fisik yang sudah tidak memungkinkan untuk tetap mengurus perusahaan dan mengangkat Reynaldi Pratama sebagai Presdir selanjutnya menggantikan dirinya. Selain itu, ia juga mengumumkan pertunangan putri tunggalnya Kailla Riadi Dirgantara dengan Reynaldi Pratama. Terlihat raut wajah bahagia Pak Riadi saat mengumumkan, tetapi jauh di lubuk hati ia sangat sedih harus melepas putri kesayangannya. Beberapa kali tampak Pak Riadi mengusap matanya yang berair dengan sapu tangan.


Terlihat sebagian besar tamu mendatangi meja tempat Pram dan Kailla duduk. Mereka bergantian menyalami dan memeluk Pram. Sejak Pram menduduki kursi Wakil Direktur, memang RD Group maju pesat. Beberapa juga ada yang menyalami Kailla yang kini tampak berdiri di samping Pram, mengucapkan selamat atas pertunangan mereka.


“Om, kakiku sakit,” keluh Kailla pelan takut didengar yang lain. Dari awal acara memang ia sudah merasa tidak nyaman dengan sepatu berhak 12 cm yang dikenakannya, tetapi apa boleh buat, Pram memilihkannya gaun yang panjang terurai sehingga ia harus memakai sepatu itu untuk menyiasati agar gaun itu tidak terlalu menyapu lantai.


“Kamu duduk saja, sebentar lagi kita pulang " bisik Pram yang masih menerima ucapan selamat dari para tamu.


Pak Riadi yang tadinya sempat menyalami beberapa tamu pun ikut duduk di samping Kailla. Ia juga mulai merasa sedikit kelelahan.


“Kamu kenapa lagi, Kai?” tanya Pak Riadi sambil memijat keningnya yang sedikit pusing.


“Kakiku lecet, Dad.” Kailla berkata sambil menarik gaunnya, mengeluarkan kakinya dari sepatu dan menunjukkan tumitnya yang lecet dan memerah.


“Astaga, Kai. Tapi masih bisa berjalan, kan?” Riadi memastikan


“Masih Dad, hanya sedikit nyeri saja,” ucap Kailla sambil memijat-mijat tumitnya. Pram yang sudah selesai menerima ucapan dari para tamu pun segera mendekati Kailla dan berlutut untuk melihat kondisi kaki Kailla.


“Astaga, Kai. Kenapa sampai begini?” Pram memanggil asisten Donny untuk meminta air hangat kepada pihak hotel. Begitu asisten Donny datang membawa satu baskom air hangat, segera Pram mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, membasuh dan mengompres tumit Kailla.


“Sudah merasa baik, kan?” tanya Pram beberapa menit kemudian. Kailla hanya mengangguk dan tersenyum menatap laki-laki yang sedang berlutut di bawahnya.


“Aih, dia manis sekali,” ucap Kailla dalam hati.


“Selamat malam, Kakak ipar? Bagaimana kabarmu?” Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh gempal datang menghampiri Pak Riadi dan tanpa permisi langsung duduk di sebelah Pak Riadi.


“Andi?” ucap Pak Riadi memastikan apakah benar orang yang di hadapannya adalah adik dari mendiang istrinya.


“Ternyata ... kamu masih mengingatku,” ucap laki-laki yang diketahui bernama Andi. Sekilas ia melirik ke arah Pram yang masih berlutut dan mengusap tumit Kailla dengan sapu tangan.


“Cih, memang tempat yang pantas untukmu itu di sana. Bukan menjadi seorang Presdir. Si tua bangka ini juga sungguh keterlaluan, bisa-bisanya dia memberi semuanya kepada anak jalanan itu. Anak yang tidak jelas asal usulnya. Padahal kami di sini jelas-jelas adalah kerabatnya, malah tidak dianggap sama sekali.”


Tak lama, terlihat ia memanggil seseorang untuk datang. Kailla segera bisa mengenali, laki-laki tidak tahu malu dan sok akrab yang mengganggunya tadi sebelum acara dimulai.


“Dennis, Om.” Dennis mengenalkan dirinya, setelahnya ia memilih duduk di salah satu kursi kosong sambil menatap Kailla dan Pram bergantian.


“Hai, Cantik Kita bertemu lagi. Selamat atas pertunanganmu,” ujar Dennis sambil mengulurkan tangannya kembali untuk bersalaman. Kailla hanya melirik sekilas kemudian mengabaikan tangan Dennis, membiarkannya menggantung di udara. Melihat itu, akhirnya Pram berdiri dan menyambut uluran tangan Dennis.


“Terima kasih, saya berharap anda bisa hadir di pernikahanan kami, Pak Dennis,” ucap Pram sambil tersenyum. Ia sengaja menekankan kalimat pernikahan untuk mengingatkan Dennis bahwa ia adalah calon suami Kailla. Pram sudah membaca gelagat yang tidak baik, ditunjukkan Dennis sejak awal acara. Di mana laki-laki itu berusaha mendekati Kailla sebelumnya.


“Haha ... selamat Pram, dengan kerja kerasmu selama ini akhirnya kamu berhasil menempati posisi ini,” ujar Andi, adik ipar Pak Riadi menyindir Pram. Ia mengenal Pram. Sebelum kakaknya meninggal dunia, Pram sering diajak oleh kakaknya setiap kali mereka bertemu.


Pak Riadi sejak tadi memang memilih diam dibanding berdebat dengan adik iparnya. Ia tahu bagaimana sifat adik iparnya yang selalu serakah dan bisa berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya. Jadi ia memilih untuk bersikap tenang menanggapinya.


“Baiklah, Kakak ipar, mungkin lain kali kita bisa berbincang lebih lama," pamitnya pada Pak Riadi.


Setelah pasangan ayah dan anak itu berlalu, Kailla pun mengajak Pram pulang. Ia berharap bisa mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.


“Kai, kamu bisa jalan sendiri? Mau kugendong?” tanya Pram sambil menyibak ujung gaun Kailla.


“Aku jalan sendiri saja, Om,” jawab Kailla sambil menggerak-gerakkan pergelangan kakinya.


Pram segera meminta Donny untuk mengambil sandal jepit di dalam bagasi mobil supaya Kailla lebih leluasa berjalan. Setelah kembali dengan sandal jepitnya, Donny segera meletakkan sandal di kaki kailla dan bermaksud membawa kembali sepatu yang tidak terpakai, tetapi dilarang oleh Pram.


“Letakkan di situ saja, Don. Nanti aku yang akan membawakan sepatunya Kai," jelas Pram, berjongkok dan mengambil sepatu Kailla yang tergeletak di lantai.


Setelahnya dengan satu tangan yang lain, terlihat Pram menggenggam jemari Kailla dan mereka berjalan menuju lift, menyusul Pak Riadi dan Donny yang sudah turun terlebih dulu.


***


T b c


Terima kasih.


Love you all