Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 93 : Terimakasih Sayang


Kailla keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal. Tadinya dia berpikir akan menikmati acara berendamnya dengan tenang. Setidaknya Pram ada di depan matanya. Tapi yang terjadi malah Pram ikut masuk ke dalam bath up dan mengganggunya.Bukannya melepas lelah di dalam sana, kembali dia harus kelelahan karena ulah nakal Pram.


Berbanding terbalik, Pram keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri. Dia tersenyum setiap melihat Kailla yang mendengus kesal padanya.


“Jangan menempel lagi padaku!” gerutu Kailla. “Isi otakmu selalu itu-itu saja!” dengus Kailla lagi.


“Serius?” tanya Pram. Kailla mengangguk, wajahnya masih terlihat cemberut.


“Kamu sudah tidak takut lagi dengan gadis itu?” tanya Pram lagi.


“Jangan mengingatkanku lagi!” gerutu Kailla. Dia sedang duduk di depan meja rias, memakai cream malam pada wajahnya.


“Kai, besok kamu ikut denganku ke kantor,” ucap Pram. Dia berdiri tepat di belakang Kailla, memegang pundak istrinya dan tersenyum menatap sosok cantik di pantulan cermin.


“Aku tidak mau. Aku malu bertemu mereka,” tolak Kailla. Wajahnya langsung memerah dan matanya terlihat sedih. Setiap mengingat kecerobohannya tadi pagi, rasanya dia ingin mengutuk dirinya sendiri.


“Aku bersamamu. Jangan khawatir, tidak akan ada yang berani mempermalukanmu.” Pram berusaha menenangkan Kailla.


“Kai, dengarkan aku... aku memarahimu tadi pagi bukan hanya karena kamu muncul ketika rapat dengan tampilan seperti itu.” Pram memulai ocehannya seperti biasa.


“Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi keluar kamar dengan baju tidurmu atau pakaian yang tidak sopan seperti tadi pagi. Kita tidak tinggal berdua, ada Bayu dan Bu Ida disini.”


“Iya, maafkan aku. Aku akan berusaha mengingatnya,” Kailla menjawab dengan wajah penuh sesal.


Tampak Pram mengeluarkan sebuah kotak kecil biru dari shopping bag yang diberikan Bayu padanya tadi. Segera Pram menyodorkannya ke tangan Kailla.


“Bukalah..!” perintah Pram, sembari memeluk erat istrinya dari belakang.


“Ini..?” Kailla berbalik menatap Pram.


“Bukalah, itu hadiah keduamu setelah menjadi istriku,” ucap Pram. Dia ingat, saat malam pertama, dia sudah menghadiahkan Kailla foto mamanya.


Pram memilih berlutut dan membantu Kailla membuka isi kotak hadiahnya. Sebuah gelang indah dengan taburan berlian di sekelilingnya.


“Wah.. ini cantik sekali.” Kailla tersenyum menatap Pram.


“Kamu menyukainya?” Pram bertanya sambil membantu memakaikannya di pergelangan tangan Kailla.


Kailla menggangguk, tersenyum. Tiba-tiba dia sudah mengecup pipi Pram.


“Terimakasih Om,” ucap Kailla, pandangannya tetap pada gelang yang sudah melingkar sempurna di pergelangan tangannya.


“Kai, apakah aku boleh meminta sesuatu darimu?” tanya Pram lembut. Masih dengan posisi berlutut di hadapan Kailla. Dia harus mendongakkan kepalanya supaya bisa menatap Kailla dengan jelas.


“Hmmm.. katakan saja! Tapi aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Kamu sudah mengambil semuanya.” ucap Kailla tersenyum nakal pada Pram.


“Aku menginginkan semua yang ada didalam sini,” jawab Pram. Jari Pram terarah ke dada Kailla.


Kailla mengernyit keheranan, tidak mengerti apa yang dimaksud Pram.


“Aku mau di dalam hatimu cuma ada namaku. Aku mau di dalam pikiranmu hanya ada diriku. Aku mau di dalam hidupmu cuma ada aku, Reynaldi Pratama. Bahkan di dalam mimpimu pun, hanya boleh ada bayanganku.” Pram mengenggam erat kedua tangan Kailla.


“Kamu mengerti?” Pram tersenyum menatap wajah cantik dan polos istrinya. Pram tidak menemukan jawaban di sana. Setelah lama menunggu tidak ada jawaban dari Kailla, Pram pun membuka mulutnya kembali.


“Mau mengangguk atau tidak? Kalau tidak aku akan mempersulitmu malam ini,” ancam Pram terkekeh melihat wajah istrinya yang kebingungan.


“Hah?! Itu bukan meminta Om, itu namanya mengancam,” Kailla menjawab ketus.


“Sebenarnya aku tidak perlu meminta lagi. Saat kamu setuju menikah denganku, semua yang aku minta tadi sudah menjadi hakku. Tapi aku cukup berbaik hati, menunggumu sampai hari ini,” ucap Pram.


“Sebelumnya, aku masih menunggumu mencintaiku dengan sukarela,” lanjut Pram lagi.


“Tapi mulai malam ini, aku akan memaksamu untuk mencintaiku!” ucap Pram tegas.


Kailla melengos mendengar ucapan Pram. “Tidak bisa begitu!” protes Kailla.


“Bisa tidak bisa, kamu sudah menjadi istriku!” Pram menyentil kening Kailla.


“Mulai saat ini, jangan memanggilku Om lagi. Bukan hanya di depan orang lain. Aku tidak akan menjawab, kalau kamu tetap memaksa memanggilku seperti itu,” ancam Pram menatap Kailla yang sedang terkejut saat ini.


“Hah! 20 tahun aku memanggilmu seperti itu. Lalu aku harus memanggilmu apa?” tanya Kailla dengan wajah polosnya.


“Ah..... !” dengus Kailla kesal.


“Kamu menyukai hadiahmu?” tanya Pram. Tangannya saat ini sedang memegang gelang yang ada di pergelangan tangan Kailla.


“Suka!” Kailla memjawab singkat sambil tersenyum menatap Pram.


“Jangan pernah melepaskannya tanpa seizinku. Dimanapun kamu berada, bersamaku atau tidak, gelang itu akan mengingatkanmu padaku. Aku berharap dengan melihatnya, kamu menyadari statusmu saat ini, istri dari seorang Reynaldi Pratama. Kamu mengerti?”


“Iya...,” Kailla menjawab singkat, memberanikan diri menatap mata suaminya.


Pram bangkit, dan mengecup kening Kailla. Tersenyum, kemudian membingkai wajah Kailla dengan kedua telapak tangannya.


“Mulai sekarang aku memberimu kepercayaan penuh. Bersikaplah selayaknya seorang istri. Mulai hari ini, aku tidak menganggapmu anak-anak lagi, jadi jaga kepercayaan dan nama baikku di luar sana. Kamu bisa?” tanya Pram.


“Iya...,” sahut Kailla.


“Cium aku sekarang!” perintah Pram sambil tersenyum. “Aku mau ciuman yang sama seperti biasa aku menciummu,” titah Pram lagi.


Kailla terperanjat, bagaimana bisa dia mencium Pram dalam keadaan seperti ini. Ciumannya yang terakhir itu terpaksa dilakukan karena ulah Sam dan berakhir dengan takluknya dia di tangan Pram.


Dengan jantung berdetak kencang, dia meraih wajah Pram dengan kedua tangannya. Sedikit gemetaran. Situasinya sekarang berbeda dari sebelumnya. Baru saja dia akan memajukan bibirnya, tapi dia jadi gugup sendiri.


“Bisa pejamkan matamu?” tanya Kailla polos. Bagaimana dia bisa mencium Pram disaat laki-laki itu menatapnya tanpa berkedip.


“Kamu saja yang memejamkan matamu Kai,” saran Pram tersenyum menatap Kailla yang maju mundur dan ragu-ragu.


Pram akhirnya menuntun Kailla, “pejamkan matamu, Kai.”


Terlihat Pram meyentuh kedua tangan Kailla yang sekarang sedang menangkup wajahnya. “Lakukan sekarang!” perintah Pram lembut.


Pram bisa melihat dengan jelas, Kailla yang sedang berusaha keras menciumnya. Masih dengan mata terpejam, Kailla memiringkan wajah demi bisa mencium bibirnya. Sampai pada akhirnya bibir tipis itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Pram terharu saat Kailla pertama kali meraih tengkuknya dan memperdalam ciumannya.


“Aku berjanji, akan belajar mencintaimu Reynaldi Pratama,” bisik Kailla di sela ciumannya.


Pram menangis mendengar kata-kata Kailla. Ucapan Kailla seketika menghancurkan pertahanan dirinya sebagai laki-laki selama ini. Dia rela menunggu dan bersabar untuk hari ini. Dan dia masih sanggup menunggu cinta Kailla menjadi nyata untuknya. Selama nafas masih ada di raganya, selama itu juga detak jantungnya hanya akan menyuarakan nama istrinya, Kailla Riadi Dirgantara.


Selama dua tahun dia berjuang memupuk perasaan di hatinya untuk Kailla. Itu bukanlah perkara mudah. Mereka melewati banyak hal bersama selama 20 tahun, bahkan dia sempat melabuhkan hatinya pada cinta yang lain sebelum berkomitmen untuk mencintai Kailla. Rasa sayang yang sudah terbentuk dari awal, butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa mengubahnya menjadi cinta. Bahkan setiap harinya dia masih berjuang dan menyakinkan hatinya. Bahwa rasa sayangnya untuk Kailla sudah berganti menjadi cinta.


Dia selalu menyakinkan diri, apa yang dilakukannya selama ini karena dia mencintai Kailla. Pengorbanannya selama ini karena dia mencintai Kailla. Di setiap tarikan nafasnya selalu terselip nama Kailla. Dan hari ini dia yakin dia mencintai Kailla. Saat airmata itu jatuh, saat itu juga dia sadar. Rasa sayang itu sudah berganti menjadi cinta. Entah sejak kapan, dia tidak peduli.


Masa depannya adalah Kailla


Hidupnya adalah Kailla


Napasnya adalah Kailla


Hanya ada Kailla.....


***


Kailla terbangun di pagi hari dengan senyum tersungging di bibirnya. Meraba disisi ranjang, Pram sudah tidak ada disana. Berlama-lama dia menatap gelang pemberian Pram.




“Buruan Kai, nanti kita terlambat!” ucap Pram mengagetkannya yang sedang tertegun menatap pergelangan tangannya. Baru saja Pram keluar dari kamar mandi, masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


“Hah! Masih pagi. Aku mau tidur lagi!” sahut Kailla bersiap memeluk guling kembali.


“Kamu tidak mau mengambil hadiahmu yang lain di kantor?” tanya Pram.


“Hah! Masih ada hadiah lagi untukku?” tanya Kailla sambil tersenyum. Pram mengangguk.


Segera Kailla berlari dan memeluk Pram. “Terimakasih Sayang,” ucap Kailla mengecup pipi kiri Pram.


***


Terimakasih.