
“Kailla hamil,” ucap Pram pelan, menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit dilukiskan.
Ia hampir tidak percaya, takut salah mendengar. Ia kembali menatap Bu Ida, mencari kepastian dari netra mata wanita tua itu. Sebuah anggukan penuh keyakinan Bu Ida, seketika menghantam pertahanan dirinya sebagai laki-laki. Mungkin kalau ia wanita, saat ini ia sudah menangis sejadi-jadinya.
Pram menatap istrinya, bibirnya tersenyum tipis. Hanya itu yang terlihat dari seorang Pram saat ini. Setelah lama terdiam, di saat sudah bisa menguasai dirinya kembali, ia meminta Bu Ida meninggalkan kamarnya. Dia perlu waktu sendiri saat ini.
“Bu, bisa tinggalkan kami. Aku yang akan mengurus Kailla. Terima kasih.” Pram berjalan membukakan pintu untuk Bu Ida. Mempersilahkan lebih tepatnya mengusir Bu Ida keluar dari kamarnya.
Ia mematung menatap pintu yang menutup perlahan, tetapi saat ia berbalik, ada dua tetes air yang jatuh dari kedua matanya. Mungkin ia bukan aktor yang bisa menangis dengan hebat seperti di sinetron-sinetron, tetapi saat ini ia benar-benar bahagia sekaligus kecewa pada dirinya sendiri. Seberapa bahagianya ia, sebesar itu juga kecewanya pada dirinya. Tampak ia mengusap kedua matanya, berusaha menahan agar tidak menjatuhkan kembali air mata yang tersisa.
Menatap istrinya saat ini, hanya akan membuat ia kembali tersentuh. Terlihat Pram berbalik menempelkan kepalanya ke dinding. Menggigit bibirnya supaya tidak terisak. Menahan agar kedua bola matanya tidak basah kembali, tetapi ia tidak bisa, Pram runtuh saat ini. Ia menangis sekarang. Ya, Pram menangis.
Setelah lima belas menit yang menguras emosi dan air matanya, ia kembali berbalik menatap Kailla. Terlihat ia menghela nafasnya berkali-kali, mengembalikan kepercayaan dirinya.
Perlahan menghampiri Kailla yang masih saja terlelap, berlutut di pinggar ranjang. Tangannyacsekarang sedang mengusap perut istrinya yang masih rata. Tapi ... di dalam sana ada buah cintanya dan Kailla.
“Sayang, terima kasih,” bisiknya. Ia harus bersusah payah mengucapkannya supaya tidak kembali meneteskan air matanya.
Tangannya sekarang sudah berpindah membelai wajah tenang istrinya.
“Aku mohon maafkan aku. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi. Tidak akan membuatmu menangis lagi,” ucap Pram pelan, mengenggam tangan Kailla. Mengecup tangan yang masih saja dingin itu berkali-kali sambil meneteskan air matanya kembali.
“Aku berjanji akan menjaga kesabaranku untukmu tanpa batas,” ucap Pram lagi.
“Berjanji ... kamu dan anak kita adalah prioritas utamaku mulai saat ini.”
“Menjadikanmu dan anak kita alasanku untuk tetap bernapas mulai dari sekarang.”
“Mulai detik ini kamu tidak perlu lagi bersaing dengan tumpukan berkas-berkasku,” ucap Pram.
Dia menyesal selama beberapa hari ini telah mengabaikan Kailla dan anaknya, hanya untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak pernah ada habisnya. Padahal sejak kecil, Kailla sudah sering mengeluh harus mengalah dengan semua pekerjaan daddynya. Dan ia pun melakukan hal yang sama pada Kailla sekarang.
“Maafkan aku, Kai. Aku benar-benar minta maaf,” sesal Pram.
Terlihat Pram menggigit bibirnya supaya tangisnya tidak pecah. Walau sebenarnya ia tidak peduli harus jadi laki-laki lemah karena menangis untuk istri dan anaknya.
“Maafkan aku. Cepat sembuh, Sayang. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu,” bisiknya di telinga Kailla, kemudian mengecup lama kening Kailla.
Pram melihat sekilas jam di atas nakas. Sudah pukul 02.30 berarti di Indonesia sudah pukul 07.30 pagi. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi David.
Tepat pada dering ketiga David menerima teleponnya.
“Ya, Presdir ....” sapa David dari seberang.
“Dave, minta Sam kembali bekerja untuk membantu Donny menjaga mertuaku. Aku tidak bisa pulang sesuai jadwal. Istriku hamil dan dia membutuhkanku. Aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan di sini sesuai rencana awal,” perintah Pram.
“Hah! Nyonya hamil?” David bertanya untuk memastikan.
“Ya, dan aku tidak bisa lembur lagi mulai sekarang. Tolong jaga mertuaku,” titah Pram. Senyum terukir di bibirnya setiap mengingat kehamilan Kailla.
“Selalu kabari setiap perkembangannya. Pastikan semuanya baik-baik saja. Istriku sangat mencintai daddynya. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada mertuaku.” Pram berkata.
“Baik Presdir,” sahut David.
“Oh ya, minta semua asisten untuk tidak mengabari apapun tentang kondisi mertuaku saat ini kepada istriku. Aku tidak mau istriku berpikiran yang macam-macam. Aku tidak mau semua informasi buruk itu mempengaruhi kehamilannya,” ucap Pram. Matanya tertuju pada Kailla.
“Baik Presdir.”
***
Setelah memutuskan panggilannya, Pram kembali menghampiri Kailla. Menempelkan tangan di kening istrinya.
“Masih panas,” ucapnya. Tangannya sudah meraih handuk di dalam baskon, memerasnya sampai kering dan meletakkan di dahi Kailla.
Pram kembali mengusap perut Kailla sambil tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup perut istrinya sambil berbisik.
“Hai, jagoan daddy, jadi anak baik di dalam sana. Sampaikan pada mommy, marahnya jangan terlalu lama, daddy kangen kalian,” ucap Pram.
Melihat panas Kailla yang tidak kunjung turun akhirnya memaksa Pram menghubungi Pieter. Dia hanya bisa meminta bantuan Pieter saat ini. Istrinya butuh dokter. Tidak baik membiarkan Kailla sakit berlama -lama apalagi saat ini dia sedang hamil.
Kurang dari satu jam, Pieter sudah datang ke apartemennya membawa seorang dokter.
“Bagaimana keadaannya Pram?” tanya Pieter. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Pieter.
“Masih panas seperti sebelumnya. Aku hanya bisa mengompresnya,” jelas Pram mengajak Pieter duduk di sofa kamarnya sambil menunggu dokter yang sedang memeriksa Kailla.
“Belum minum obat?” tanya Pieter lagi.
“Dia hamil, aku tidak bisa memberinya obat,” sahut Pram tanpa bermaksud menyakiti Pieter.
Namun, jawaban Pram sedikit mengusik ketenangan Pieter. Walau sejak kemarin ia sudah berusaha melepas Kailla. Sejak mendengar kehamilan Kailla dari Mitha, Pieter memilih mundur. Rasanya tidak pantas memperjuangkan perempuan yang sebentar lagi akan melahirkan seorang anak untuk suaminya.
Ia sempat menjadi laki-laki tidak tahu diri, tetapi itu karena ia yakin Kailla tidak mencintai Pram. Namun, sekarang ia sudah tidak punya harapan.
***
Setelah kepergian dokter, Pram meminta Bayu menebus obat untuk Kailla. Pram sendiri memilih tidur di sofa, sambil menjaga Kailla dan mempersiapkan dirinya menghadapi drama Kailla sebentar lagi. Istrinya susah minum obat dan takut disuntik. Ia belum terpikir akan menggunakan strategi apa untuk menghadapi Kailla saat ini. Yang ia tahu pekerjaan berat sebentar lagi sudah di depan mata. Kalau bisa memilih, ia lebih suka menghadapi tumpukan berkas dibanding membujuk Kailla meminum obatnya.
Tak lama, tampak Bu Ida masuk membawa obat milik majikannya.
“Pak, ini obat Non Kailla,” ucap Bu Ida saat sudah berdiri di depan Pram sambil membawa nampan berisi obat dan segelas air putih. Bola mata Pram hampir keluar saat melihat ada begitu banyak tablet dengan ukuran besar di sana.
“Harusnya aku minta diresepkan sirup saja tadi,” ucap Pram sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bu Ida yang sudah hafal dengan kebiasaan Kailla hanya bisa menutup mulutnya supaya suara tawanya tidak keluar. Dia sudah terbayang bagaimana kerepotan Pram saat membujuk Kailla minum obat.
***
Terima kasih.
Love You All - Reynaldi Pratama.