Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 54 : Merindukan Mama 2


Anita mengamuk setelah berkali kali tidak bisa menghubungi Pram. Padahal dia sudah merasa senang, tadi pagi Pram mau menerima teleponnya. Namun lagi-lagi Pram mematikan teleponnya secara sepihak.


“Baiklah, kalau tidak bisa menggunakan cara baik-baik.” Anita tersenyum licik.


Dia mengirim semua foto-foto ketika mereka di hotel saat di Bandung ke ponsel Pram. Sekaligus mengancam akan memberitahu Pak Riadi dan putrinya mengenai kelakuan Pram selama ini.


“Pram sayang, kalau tidak mau foto-foto ini jatuh ke tangan calon istrimu dan ayah mertuamu. Cepat temui aku!” -send-


Walaupun pesan belum terkirim karena ponsel sedang tidak aktif, dia yakin pasti cepat atau lambat Pram akan menerimanya. Dia tinggal menunggu saja.


“Kita lihat sampai kapan kamu bisa melindungi tua bangka dan putrinya itu!! Bahkan nasibmu sendiri hampir diujung tanduk saat ini.” gumam Anita. Aku sudah cukup bersabar beberapa hari ini, berpikir kamu akan datang sendiri kepadaku!!” lanjutnya lagi.


***


Pram masih memeluk Kailla yang sekarang sedang tertidur di dalam mobil. Sebenarnya mereka sudah tiba di rumah sakit sejak setengah jam yang lalu, tapi karena Kailla yang tertidur akhirnya


Pram memilih menunggu sampai gadis itu terbangun.


Ketika sedang menunggu di dalam mobil, pandangannya tertuju pada mobil pajero hitam yang berhenti tepat didepannya.


“Dennis! Mau apa lagi dia?” ucap Pram, bergegas keluar dari mobil untuk menemuinya.


“Wah, Reynaldi Pratama, Presdir RD Group! Senang kita bisa berhadapan lagi.” Dennis berjalan menghampiri Pram dan menyodorkan tangannya. Tampak di tangan kirinya menenteng sekeranjang bunga mawar merah dan putih berhias renda merah jambu.


Pram memilih membiarkan tangan itu tetap menggantung, sehingga pemiliknya terpaksa menarik kembali tangannya.


“Apa maumu?” tanya Pram menatap tajam kearah Dennis. Dennis sendiri lebih tertarik dengan bayangan gadis cantik yang sedang tertidur di kursi belakang mobil.


“Dasar payah!! Tentu untuk menghibur calon istriku, seminggu ini dia hanya bisa menangis karena ulahmu. Haha...!” Dennis tertawa melihat perubahan wajah laki-laki di hadapannya.


“Kurang ajar!! Kamu masih mengikutinya?” Pram mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya saat ini.


Dengan lancangnya Dennis melewati Pram, dan mengetuk kaca jendela mobil yang ditumpangi Pram.


tok!tok!tok!


“Apa maumu?” tanya Pram lagi menarik lengan Dennis dengan kasar.


“Calm down, Bro!! Aku hanya ingin menyapanya.” Dennis menepis tangan Pram yang menariknya.


Pram tidak tinggal diam, kembali menarik kerah kemeja Dennis dengan kedua tangannya kemudian mendorong tubuh kekar Dennis sehingga terhimpit pada mobil disebelahnya.


Matanya memerah dengan tangan yang sudah mengepal di udara. Kalau bukan karena Kailla yang terbangun dan keluar dari mobil pasti akan ada pertarungan sengit lagi di antara kedua pria itu.


“Ada apa?” tanya Kailla dengan wajah lesu, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Pram terkejut, segera berbalik menghampiri Kailla.


“Kamu sudah bangun?” Pram bertanya lembut, merapikan rambut Kailla yang sedikit berantakan.


“Hai...! Bagaimana kabarmu?” tanya Dennis menyusul berdiri di belakang Pram.


Kailla hanya mengangguk, sekilas menatap laki-laki yang masih asing baginya.


“Nih!” Dennis menyodorkan sekeranjang bunga yang tadi ditentengnya. Melihat itu Pram langsung menyambutnya.


“Terimakasih!” Pram menjawab singkat.


“Bisakah aku menjenguk pamanku?” tanya Dennis masih menatap Kailla tidak berkedip.


“Maaf, daddy masih butuh istirahat. Mungkin, lain kali.” Kailla menjawab seadanya.


Dennis tersenyum seketika, “Baiklah! Tidak masalah, aku akan datang lagi lain waktu.” Senyum terkembang di wajahnya, sengaja dia melirik Pram yang terlihat berusaha menahan amarahnya.


“Baiklah aku permisi dulu kalau begitu, tolong sampaikan salamku untuk daddymu,” pamit Dennis.


Setelah mobil Dennis berlalu pergi, Pram mengajak Kailla segera naik ke ruang perawatan Pak Riadi.


“Terserah Om saja!” Kailla menjawab singkat berjalan meninggalkan Pram yang masih mematung. Senyum tersungging di wajah Pram. Untuk pertama kalinya Kailla mau berbicara dengannya setelah peristiwa semalam.


Setelah menyerahkan keranjang bunga kepada Sam yang berdiri tidak terlalu jauh dari mobil, segera Pram berlari menyusul Kailla yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah sakit.


“Kai, kita perlu bicara,” ucap Pram ketika dia sudah bisa mensejajarkan langkahnya dengan Kailla.


“Hmm..,” gumam Kailla.


“Aku sudah meminta Dave memastikan lagi persiapan pernikahan kita. Lusa aku akan menikahimu.”


Deg—


Kailla menghentikan langkahnya seketika. “Tapi aku tidak mau menikah dengan Om!”


Kali ini Pram yang terkejut. “ Kai...”


“Kai dengar, kalau kamu masih marah karena kejadian tadi malam, aku minta maaf.” Pram menarik tangan Kailla untuk mengikutinya.


“Sam!” teriak Pram memanggil Sam yang masih berjalan jauh di belakang mereka. “ Sam!” ulang Pram sekali lagi.


Iya Pak!” Sam berlari tergopoh-gopoh menghampiri Pram yang masih menahan tangan Kailla supaya tidak menjauh pergi.


“Berikan kunci mobilnya! Naiklah ke atas, kami harus pergi dulu, ada sesuatu yang tertinggal.” perintah Pram.


***


Setelah memastikan Kailla duduk dengan nyaman, Pram menjalankan mobilnya. Dia tidak banyak bicara, hanya sesekali memastikan kalau Kailla baik-baik saja. Untuk saat ini, mengajak Kailla bicara adalah hal yang sia-sia. Kailla tidak akan mau mendengar.


Setelah berkendara kurang lebih 1 jam, mobil Pram masuk ke komplek pemakaman. Sebelumnya Pram menyempatkan membeli seikat bunga untuk dibawa menemui mama Kailla.


“Turunlah! Kamu bisa mengeluhkan kejahatanku pada mamamu.” Terlihat Pram turun mengambil seikat bunga yang tadi dibeli, kemudian menyerahkannya pada Kailla


“Aku akan menunggu disini.” lanjutnya lagi sembari mengecup puncak kepala Kailla.


Pram memilih menunggu di dalam mobil, membiarkan Kailla mengeluh dan menumpahkan semua isi hatinya.


***


“Ma, aku merindukanmu.” Kailla memilih duduk disamping makam mamanya. Dia hanya bisa mengelus nisan yang tertulis nama mamanya. Itulah yang bisa dilakukannya ketika merindukan mama. Bahkan selama 20 tahun ini dia tidak pernah tau rupa dan wajah mamanya. Daddy dan Pram tidak pernah menunjukkan foto mamanya setiap kali dia meminta.


Entah sudah berapa lama dia menatap nisan itu tanpa berkedip, sampai Pram datang dan duduk disampingnya.


“Kamu merindukannya?” tanya Pram menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Pram sudah tahu jelas apa yang dirasakan Kailla saat ini. Ketika dia merasa sedih, dia hanya akan mau berkeluh kesah dengan mamanya, setelah itu keadaannya akan membaik. Sejak kecil dia yang selalu mengantarnya kesini bertemu mamanya. Kalau dia hanya berlama-lama menatap nisan itu berarti dia sedang merindukan mamanya. Dan kalau tidak diajak pulang, gadis itu tidak akan pulang. Dia akan duduk sampai tertidur.


“Aku merindukannya, tapi sepertinya mama tidak pernah merindukanku.” Kailla berkata lirih. “Bahkan dalam mimpi pun, mama tidak pernah mau datang.” lanjutnya sambil terisak.


“Mama juga sama, dia pasti merindukanmu.” Pram berbisik, memeluk erat gadis yang sekarang menangis hebat di pelukannya.


“Daddy dulu pernah berkata, aku harus jadi anak baik, dan mama pasti akan datang dalam mimpiku.” Terlihat Kailla mengusap kasar air mata yang turun tanpa henti.


“Apakah sekarang aku masih belum jadi anak baik, sampai 20 tahun dia masih belum mau datang juga. Aku masih menunggunya di setiap tidurku.” Kailla berkata lirih.


“Jangan menangis, mama pasti sedih kalau tahu kamu menangis.” Pram menepuk lembut punggung yang bergetar menahan tangisnya.


“Apakah karena mama tidak mengenaliku, sama seperti aku yang tidak mengenalinya?” tanya Kailla pelan.


“Tidak! mama orang yang paling mengenalimu. Dia berbagi banyak hal denganmu bahkan sebelum kamu lahir ke dunia.”


****


Terimakasih