Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 73 : Heels


“Kai, kemarilah.” ucap Pram sambil menautkan jemarinya dengan milik Kailla. Terlihat dia menghela napas berkali-kali sebelum memulai kembali kata-katanya.


“Setiap orang punya masa lalu Kai. Dan itu tidak selalu baik, termasuk masa laluku. Masa laluku dengan Anita, aku menyesalinya. Tapi aku sudah tidak berniat mengulangnya, kalaupun masih ada kesempatan. Aku hanya akan memperbaiki apa yang telah aku hancurkan. Walau tidak akan pernah utuh seperti semula,” jelas Pram


“Dan mungkin daddy juga, apapun itu kamu harus menerimanya suatu saat,” lanjutnya lagi


Kailla menatap Pram, tidak ada ekspresi sama sekali. “Kalian selalu memperlakukanku seperti anak kecil.” Kailla mengerutu.


“Suatu saat ketika kamu merasa dirimu sudah dewasa, aku akan menceritakan semua yang ingin kamu ketahui. Tapi tidak sekarang!” ucap Pram terkekeh.


Lalu, bagaimana cerita tentang mertuaku?” tanya Kailla. Dia mulai penasaran dengan kehidupan Pram yang selama ini tertutup rapat. Tidak ada seorang pun membahas asal usul Pram yang tiba-tiba sudah ada di keluarganya sejak dia belum lahir.


“Hah! Sejak kapan kamu mengakui aku sebagai suamimu Kai?” tanya Pram menggoda.


“Sejak awal juga aku mengakuinya.” Kailla menjawab. Terlihat dia masih sibuk mengedarkan pandangannya di sekitar.


“Kalau begitu, kenapa tidak memberikan apa yang menjadi hak ku?” todong Pram. Mendekap istrinya dari belakang, mengunci tubuh mungil itu dengan kedua tangannya.


“Bukannya Om sudah mengambilnya di muka.” sahut Kailla malu-malu dengan pipi memerah.


“Haha... kamu perhitungan sekali Kai.” Pram tergelak mendengar jawaban Kailla


Terlihat Pram menundukkan kepalanya, berharap bisa melihat ekspresi malu-malu Kailla saat ini.


“Terimakasih, karena menyerahkannya padaku.” Pram mengeratkan pelukannya. “Aku berjanji di dalam hati dan hidupku hanya akan ada Kailla Riadi Dirgantara.” ucap Pram lagi.


“Lebay!! Kailla menepuk tangan Pram yang sedang membelit perutnya.


“Oh ya Kai, aku akan menyerahkan kembali jabatan Presdir ke daddy.” jelas Pram masih sibuk menelusupkan wajahnya di tengkuk Kailla. Hari ini dia terbantu dengan Kailla yang menguncir kuda rambutnya, sehingga dia leluasa mengecup area favoritnya itu.


“Kenapa?” Kailla terkejut. Tangannya tanpa sadar mengelus lembut tangan kekar Pram yang mengunci perut ratanya.


“Karena daddy masih hidup, aku juga tidak mau.” ucap Pram. Dia sudah bersiap mendengar kata-kata yang akan keluar dari bibir istrinya itu.


Tapi daddy kan sedang sakit, Om. Lagi pula daddy sudah tua, mana bisa lagi dia mengurus perusahaan.” Kailla memberi alasan.


“Aku akan mengurusnya, daddy tinggal tanda tangan saja.” Pram tersenyum, bersiap mendengar penolakan Kailla lagi.


“Apa-apan sih Om, tangan daddy saja tidak bisa digerakkan, mana bisa disuruh tanda tangan.”


“Makanya daddy harus cepat sembuh dan latihan. Bukan hanya masalah perusahaan, pasti ada banyak masalah lain yang membutuhkan tanda tangan daddy Kai.” jelas Pram.


Kali ini Kailla menatap Pram dengan kesal. “Apa maksud Om? Setelah Om menikahiku, lalu membawaku pergi darinya dan sekarang Om mau meninggalkan perusahaan dan membiarkan daddy yang tidak berdaya mengurusnya sendirian.” ucap Kailla keras. Matanya sudah memerah. Ada kekesalan dan kemarahan muncul menjadi satu di sana.


“Bukannya tadi kamu yang menginginkannya Kai. Aku hanya mengikuti keinginanmu saja.” jelas Pram lembut.


“Aku tidak pernah memin...” Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, segera dia menutup mulutnya. Kailla langsung menangkap maksud ucapan Pram.


“Ja..jadi..?” Kailla menatap Pram.


“Kai, daddy pasti sudah memikirkannya. Apapun itu, pasti yang terbaik.”


“Ayo kita pulang! Bukannya kamu mau menghabiskan waktu dengan daddy,” ajak Pram yang melihat Kailla tetap diam dan mematung mencerna kata-katanya barusan. Tampak Pram menggengam tangan Kailla dan mengajaknya kembali ke mobil.


“Besok kita akan mengantar daddy terapi.” lanjut Pram lagi. Yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan oleh Kailla.


Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, sudah terdengar suara teriakan Kailla.


“Astaga!” teriak Kailla seketika menghentikan langkah kaki Pram yang sedang berjalan di depannya.


“Ada apa lagi?” tanya Pram. Berbalik menatap istrinya yang sekarang memasang wajah memelas dan ragu-ragu.


“Heels.. heels ku patah Om!” sahut Kailla ragu melihat raut wajah Pram.


“Sudah kubilang dari tadi, ganti dengan sandal jepit. Lagian siapa yang mau melihat penampilan cantikmu disini,” omel Pram.


“Mau dibuang?” tanyanya pada Kailla. Lagian sudah patah begini, disimpan juga sudah tidak ada nilainya,” godanya. Itu heels kesukaan Kailla, bahkan asisten di rumah saja tidak dibiarkan untuk menyentuhnya.


“Jangan!” potong Kailla begitu melihat Pram siap melemparnya. “Ada perjuanganku di sana. Aku harus berebutan sampai tarik-tarikan untuk mendapatkannya,” gerutunya.


“Hahaha..., bukannya aku yang lebih berjuang Kai. Jangan lupa, aku harus meninggalkan meeting dengan investor dari Jepang demi benda tidak tahu diri ini.” ucap Pram mengangkat heels itu di depan pemiliknya. Sampai sekarang dia tidak mungkin melupakannya, bagaimana Kailla berkali-kali menghubunginya saat sedang rapat. Merengek, memintanya datang hanya untuk memukul mundur saingannya dalam memperebutkan heels hitam di tangannya saat ini.


Cerita belum berakhir sampai disitu, saat di parkiran pertarungan malah berlanjut. Bagaimana dia dan Sam harus melerai Kailla yang saling jambak dengan wanita yang sama. Beruntungnya suami si wanita itu baik, kalau tidak bisa dipastikan Pram harus berurusan dengan kantor polisi.






“Ayo Kai! Pram sudah berjongkok bersiap menggendong istrinya. “Itung-itung kita nostalgia.” lanjut Pram. Entah sudah berapa lama dia tidak menggendong Kailla lagi, mungkin 7 atau 10 tahun. Sejak SMP Kailla sudah menolak setiap Pram menawarinya.


Melihat Kailla yang ragu-ragu, Pram pun tertawa. “ Ayolah Kai! Kamu istriku. Tidak ada yang mempermasalahkannya.” ucapnya masih menunggu Kailla.




“Kai...., kamu bertambah berat. Hahaha,” goda Pram ketika Kailla sudah di gendongannya. Tawanya terdengar jelas, membuat Kailla bertambah kesal.


“Om yang bertambah tua!” sahut Kai, menepuk pundak Pram keras.


“Kai....” panggil Pram, setelah menghentikan tawanya. “Berjanjilah! Jangan pernah mengizinkan siapapun melakukan ini padamu,” lanjut Pram. Kailla mengangguk tanpa suara, hanya menelusupkan wajahnya di leher Pram.


“Aku ingin menjadi satu-satunya, Kai.”


***


Keesokan harinya.


Pagi ini Pram dan Kailla terlihat sedang menunggu daddy yang sedang terapi di ruang tunggu rumah sakit. Daddy di dalam hanya ditemani perawat pribadinya.


“Kai..” panggil Pram pada Kailla yang sedang serius mengeser-geserkan layar ponselnya.


“Emmmm...” guman Kailla.


“Kita ke dokter SpOG ya, sekalian nungguin daddy.” tawar Pram. Pram sudah mulai bosan menunggu disini, apalagi dari tadi Kailla sibuk sendiri dengan ponselnya.


“Kita konsultasi lagi, kamu kan sempat lupa minum pilnya.” ucap Pram menjelaskan tujuannya mengajak Kailla ke dokter kandungan.


“Ya Tuhan, aku bukan sempat lupa Om.” Kailla menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Aku belum sempat minum sama sekali.” Kailla berkata jujur. Wajahnya mulai terlihat cemas. Segera dia bangkit dan menarik tangan Pram mencari poli kandungan.


“Bagaimana ini?” tanyanya pelan. Baru saja dia akan bertanya ke bagian informasi, tiba-tiba Pram berhenti untuk menerima panggilan dari David.


“Kai sebentar, David menelepon.” ucap Pram memilih menjauh dari Kailla yang sedang berdiri di depan petugas informasi.


Setelah memutuskan panggilan teleponnya, tampak Pram tergesa-gesa menghampiri Kailla.


“Kai, aku harus ke kantor. Ada meeting dan mereka mau aku ikut hadir.” jelas Pram.


“Oh..... ya sudah. Om ke kantor saja. Aku bisa pulang dengan Sam,” sahut Kailla.


“Oke, Bayu menunggumu di luar! Aku akan membawa mobil sendiri.” ucap Pram lagi. Dia tidak tenang harus meninggalkan Kailla dengan Sam saja saat ini. Sejak peristiwa penculikan itu Bayu sudah secara terang-terangan mengawal Kailla.


***


Terimakasih dukungannya.