Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 74 : Sahabat Lama


Pram buru-buru menemui Bayu di parkiran rumah sakit, begitu dia berpamitan dengan Kailla. Baru saja menuruni tangga, Bayu sudah terlebih dahulu berlari menghampirinya.


“Iya Bos,” sapa Bayu bersiap menunggu instruksi.


Aku mau ke kantor sekarang. Aku titip Kailla!” perintahnya pada Bayu yang sudah berdiri tepat di hadapannya.


Setelah mengambil kunci mobilnya, Pram langsung berlari menuju Bentley-nya yang terparkir tidak terlalu jauh dari pintu masuk rumah sakit. Pram harus buru-buru ke kantor untuk mempelajari data-data yang sudah dipersiapkan David untuk meeting hari ini. Dia sendiri belum pernah bertemu rekan bisnisnya kali ini. Beberapa minggu terakhir, Pram tidak punya banyak waktu mengurus perusahaan. Semua pekerjaannya di handle oleh David.


Tadinya, dia tidak berencana untuk ikut rapat, tapi mendadak David menghubunginya meminta untuk hadir, atas permintaan perusahaan yang akan terlibat kerjasama dengan RD Group.


***


Mobil Pram melaju dengan kencang, memasuki pelataran RD Group. Tak lama, tampak seorang sopir kantor menghampiri dan membantu Pram membuka pintu mobil.


“Pagi Presdir,” sapa sang sopir sambil menerima kunci mobil dari tangan Pram. Kacamata hitam masih menghias wajahnya. Tak tampak senyuman di sana, hanya wajah serius Pram yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju lift. Beberapa karyawan yang kebetulan berpas-pasan dengannya terlihat menyapa.


“Pagi Presdir.” Sapaan itu silih berganti terdengar mulai dari masuk ke dalam gedung sampai memasuki lift. Pram hanya menatap dan diam. Tak ada jawaban atau senyuman, kalau sedang tidak terburu-buru, mungkin Pram hanya akan mengangguk.


Ting—


Pintu lift terbuka, Pram berjalan dengan langkah cepat melewati Stella yang sedang sibuk dengan agendanya. Baru saja Pram masuk ke ruangannya, tak lama dia sudah menjulurkan kepalanya dari balik pintu memerintahkan Stella untuk memanggil David menemuinya.


“Ste, panggilkan Dave!” titahnya.


“Baik Pak.” segera Stella berlari ke ruangan David yang masih berasa di lantai yang sama.


Tidak butuh lama, David dengan dengan setumpuk berkas-berkas di tangannya masuk ke ruangan Pram.


Brukkk!


Suara berkas yang dijatuhkan ke atas meja atasannya itu menimbukan suara yang lumayan nyaring. Sebelum membacanya, Pram meminta David menjelaskan isi dari perjanjian kerjasama


yang akan mereka bahas beberapa jam ke depan.


“Pak, mereka minta diadakan pertemuan di restoran xxxx,” jelas David.


“Oke, jam berapa?” tanya Pram lagi melirik sekilas ke Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Jam 10 Pak.” David menjawab singkat.


“Masih 1 jam lagi. Baiklah tolong tinggalkan berkas itu disini. Aku akan mempelajarinya sebentar.” perintahnya.


Dave, nanti kamu tolong ikut juga ya. Aku tidak begitu memahami data-data ini. Aku membutuhkanmu,” lanjut Pram. Dijawab dengan sebuah anggukan oleh David.


30 menit berlalu, Pram memilih untuk berangkat terlebih dahulu ke restoran yang akan dijadikan tempat pertemuan. Sebelumnya dia meminta Stella, menghubungi David agar segera menyusulnya.


***


Jalanan hari ini tidak terlalu macet, dalam waktu 15 menit Pram sudah tiba di pelataran restoran. Kebetulan restoran ini tidak terlalu jauh dari kantornya.


Pram yang terburu-buru turun dari mobil sambil menerima pesan wa dari David, tidak melihat dari arah berlawanan tampak seorang wanita cantik juga berjalan menuju ke arahnya. Si wanita yang terlihat kerepotan membawa berkas di tangannya itu, juga tidak menyadari kehadiran Pram di jalannya. Dalam sekejap terjadilah tabrakan yang menyebabkan berkas-berkas di tangan si wanita berhamburan dan berantakan di halaman restoran. Kejadian tanpa diduga membuat si wanita dengan high heels 12 cm dan minidress merah maroon itu hilang keseimbangan. Pram yang melihat itu, dengan sigap meraih pinggang si wanita dan mendekapnya erat agar tidak terjatuh.


Pram sempat terpaku beberapa detik melihat wanita yang ada di pelukannya saat ini.


“Winny?” tanya Pram memastikan apakan benar Winny, wanita di pelukannya saat ini.


“Kamu Pram?” tanya si wanita.


Terlihat senyum keduanya terkembang. Begitu kesadarannya kembali, Pram segera melepas pelukannya dan membantu Winny mengumpulkan berkas- berkasnya. Tanpa sengaja, Pram melihat selembar kertas berisi kerjasama perusahaannya. Matanya terbelalak lagi menatap Winny.


“Hah! Jadi kamu Reynaldi Pratama itu, Presdir RD Group?” Lagi-lagi Winny balik bertanya.


“Haha...!” Pram tertawa melihat pertemuan tanpa sengajanya dengan sahabat baiknya sewaktu di London.


“Sudah hampir 13 atau 14 tahun ya. Kamu tidak berubah sama sekali Pram.” ucap Winny menepuk pundak Pram.


Pram tersenyum, segera mengajak Winny untuk masuk ke restoran setelah berkas-berkas yang berserakan itu tersusun rapi. Begitu masuk ke dalam restoran, mereka sengaja memilih duduk di samping jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan di luar restoran.


Tampak Pram membantu Winny menarik kursinya karena Winny sendiri sedang kerepotan dengan berkas-berkas di tangannya. Setelahnya Pram memilih duduk di hadapan Winny menatap wanita itu sambil tersenyum.


***


Pram sepertinya sedang tidak beruntung saat ini. Semua pemandangan tadi tidak luput dari tatapan istrinya yang sedang berada di halaman apotik seberang restoran. Tadi setelah selesai menemani daddynya terapi, dokter yang menangani daddy nya memberi resep obat yang harus ditebus. Karena ada beberapa jenis obat yang kosong di rumah sakit, jadi mau tidak mau Kailla harus menebusnya di luar.


Dan baru saja melangkahkan kakinya turun dari mobil, matanya terpaku menatap Pram yang sedang berpelukan dengan seorang wanita. Belum hilang kagetnya, dia masih harus melihat pemandangan suaminya mengajak wanita itu masuk ke dalam restoran dan mengobrol sambil tersenyum.


“Om benar-benar jahat! Teganya dia meninggalkanku dan daddy demi seorang wanita. Kemarin-kemarin tante, sekarang siapa lagi.” Kailla terlihat kesal menatap pemandangan di depannya. Suaminya berpelukan dengan seorang wanita cantik di sebuah restoran.


Matanya mulai berkaca-kaca, pikirannya pun sudah berjalan kemana-mana.


“Bisa-bisanya dia berbohong padaku. Tadi dia sendiri yang mengatakan padaku kalau mau ke kantor.” ucapnya pelan. Kailla mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya. Kemudian melangkah masuk ke dalam apotik untuk membeli obat-obatan daddy.


Sambil menunggu obat-obatannya siap, Kailla memilih berdiri menatap ke arah restoran. Matanya masih fokus memandang suaminya yang sedang mengobrol dan sesekali tertawa lebar dengan wanitanya. Semakin melihat, hatinya semakin kesal. Kalau sedang tidak bersama daddy, dia akan ke sana dan menangkap basah Pram dan wanita itu.


“Akan aku cincang keduanya!” geram Kailla, dengan tangan mengepal dan mata memancarkan emosi yang memuncak.


Kailla langsung mengeluarkan ponsel dari Hermes Birkin-nya. Kali ini dia ingin memastikan sekali lagi. Dengan kesal di mencari nomor ponsel Pram dan menghubungi suaminya itu. Tepat di deringan ketiga, Pram menerima panggilannya.


“Iya Kai,” sapa Pram lembut.


“Om masih meeting?” tanya Kailla langsung menembak ke sasarannya.


“Iya Kai, ini lagi meeting” sahut Pram dari seberang.


Mendengar jawaban Pram, tanpa basa basi lagi Kailla langsung mematikan panggilannya.


Tutttt... tuttt..


Terlihat Pram menatap ponselnya keheranan. Dia berpikir ponsel Kailla kehabisan baterei, tidak biasanya Kailla mematikan ponsel dengan tiba-tiba.


Lain halnya dengan Kailla, begitu mendengar jawaban Pram kekesalannya semakin memuncak.


“Meeting! Meeting! Alasan aja!!” gerutu Kailla, menghentakan kakinya di lantai apotik berulang kali. Karena emosinya yang memuncak, Kailla sampai tidak mendengar karyawan apotik yang memanggilnya berkali-kali. Tampak security yang berdiri tidak terlalu jauh darinya mendatangi Kailla dan memberitahunya.


“Mbak, dipanggil dari tadi.” ucap security menunjuk ke arah kasir.


Kailla menyelesaikan transaksinya dengan wajah cemberut. Ucapan terimakasih dari sang kasir pun diabaikannya. Belum selesai di situ saja, begitu masuk ke dalam mobil dia menghempaskan kasar tubuhnya ke jok mobil. Lengkap dengan bantingan pintu mobil yang mengejutkan Sam yang sudah siap menjalankan mobilnya.


“Kok lama Non?” tanya Sam berbasa basi. Dia tahu ada yang tidak beres dengan majikannya.


“Iya, apotekernya sedang meeting!” Kailla menjawab dengan ketus.


***


Terimakasih