Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 114 : Perang Masih Berlanjut


“Kai...! Sayang..!” panggil Pram. Melihat istrinya tetap tidak mau menjawab, Pram dengan setengah berlari meraih tangan Kailla dan memeluk istrinya di saat itu juga.


“Bay, kamu tunggu di bawah!” perintah Pram, masih dalam posisi memeluk Kailla.


“Sayang.., kamu kenapa? Aku buat salah apa lagi sama kamu?” tanya Pram. Tangannya sedang mengelus rambut panjang terurai istrinya.


Kailla bergeming, tidak menjawab, tidak menangis, bahkan tidak membalas pelukan Pram. Pram langsung yakin ada sesuatu yang membuat Kailla marah. Dia menatap kedua tangan Kailla yang menjuntai di kedua sisi tubuhnya. Tangan yang biasanya akan memeluk erat tubuhnya.


“Sayang, kenapa tidak mau bicara padaku?” tanya Pram lagi, setelah tidak kunjung mendapat jawaban. Sekarang Pram memilih melepas pelukannya dan menangkup wajah Kailla yang menunduk dengan kedua tangannya.


“Kamu menangis?” tanya Pram. Matanya menatap sembab yang masih tersisa di kelopak mata memerah milik Kailla.


“Sayang.... Aku salah apa?” Pram bertanya, kembali memeluk istrinya.


“Kamu memasak untukku? Kenapa tidak membiarkan aku mencobanya? Aku berlari kembali ke sini hanya untuk bisa makan siang dengan masakanmu.” jelas Pram.


“Aku mau pulang!” ucap Kailla setelah sekian lama tidak bersuara. Dia masih membuang pandangannya ke tempat lain. Tidak mau menatap Pram sama sekali.


“Kamu tidak akan kemana-mana Sayang, sebelum menjawab pertanyaanku,” sahut Pram.


“Sayang...., kamu marah padaku?” bujuk Pram lagi. “Ayo katakan, apa kesalahanku. Maafkan aku,” lanjutkan Pram lagi berusaha memaksa untuk memeluk Kailla.


Pram masih berusaha membujuk dan merayu. Masih berusaha meluluhkan hati istrinya dengan memeluk dan mengecup tanpa putus asa, walaupun Kailla sudah menolak dan mendorongnya sampai terdengar ketukan di pintu.


Tok tok tok!


Pram yang masih berupaya meluluhkan Kailla memilih mengabaikan suara ketukan yan teratur dan tidak mau berhenti.


“Masuk!” perintah Kailla setelah merasa tidak ada niat dari Pram untuk menghentikan suara ketukan yang menurutnya sangat menganggu saat ini.


Tampak Mitha masuk dengan ragu-ragu setelah melihat pemandangan di dalam. Presdir sedang memeluk istrinya sambil menatap tajam padanya.


“Ma...ma.. af Pak Presdir, sebentar lagi kita harus rapat.” Mitha melaporkan dengan ragu dan wajah tertunduk. Dia memilih berdiri tidak terlalu jauh dari pintu supaya bisa secepatnya keluar.


“Baik, sebentar lagi saya kesana. Kamu keluar dulu, saya masih ada urusan!” perintah Pram.


Setelah memastikan pintu sudah tertutup rapat. Pram pun melanjutkan usahanya, bagaimana pun dia harus menyelesaikan masalah mereka secepatnya. Kailla akan semakin menjadi, kalau membiarkan masalah ini berlarut-larut.


“Kalau tidak mau mengatakannya, ayo ikut aku ke ruang rapat sekarang,” ajak Pram. Bagaimanapun dia tidak akan melepaskan Kailla saat ini. Yang ada Kailla akan berulah dan semakin sulit dibujuk.


“Aku tidak mau! Aku mau pulang!” tolak Kailla, mulai melakukan perlawanan kembali.


“Kai dengar, kamu tidak akan kemana-mana sebelum kita menyelesaikannya. Ayo ikut aku sekarang!” ajak Pram masih menggenggam tangan Kailla untuk ke ruang rapat.


“Aku tidak mau!” tolak Kailla. Saat ini Kailla sedang mengerahkan semua usahanya, bagaimana pun dia tidak mau lagi tertipu dengan bujuk rayu Pram. Dia memukul Pram dengan tangannya yang bebas, memukul apa saja yang bisa digapainya. Dada, tangan, lengan, pundak sampai wajah Pram pun tidak luput kena pukulan Kailla.


“Iya.. iya, setelah kita selesai. Kamu bisa pulang,” bujuk Pram, berusaha menghindar dan menahan semua pukulan Kailla. Tepat saat Pram akan meraih gagang pintu, kesempatan Kailla bisa memukul Pram dengan membabi buta. Saat itu, Pram sudah tidak bisa menangkis semua pukulan Kailla.


Buk!Buk!Buk! Pukulan bertubi-tubi menghantam seluruh tubuh Pram yang diakhiri dengan tamparan keras di wajah Pram.


Plak!! Tamparan keras itu mendarat mulus tanpa bisa dihindari Pram. Dia hanya bisa diam merasakan wajahnya memanas seketika. Kailla benar-benar menamparnya dengan sekuat tenaga.


Pram berusaha menahan emosinya dengan menunduk dan mengatur nafasnya berkali-kali. Tangannya menggenggam erat gagang pintu, berharap tidak melakukan hal diluar kendalinya saat ini. Sesaat setelah emosinya mereda, dia baru menatap Kailla kembali.


“Sudah?” tanya Pram, menahan nada bicaranya supaya tetap tenang. Dia sedang berusaha untuk tidak terpancing saat ini.


“Maaf...” Kailla hanya menunduk, sedikit bersalah karena tanpa sengaja menampar suaminya.


“Sekarang sudah puas? Kita sudah bisa bicara?” tanya Pram menatap Kailla.


“Lalu, mau mengumpatku apalagi? Katakan saja sekarang, aku siap mendengarnya,” lanjut Pram tersenyum kecut.


“Kamu jahat!” gerutu Kailla.


“Lalu aku apalagi?” tanya Pram sambil tersenyum.


“Cukup begini saja? Atau masih mau menamparku sampai puas?” tawar Pram setelah melihat istrinya terdiam dan menunduk.


“Pembohong! Penipu!” tuding Kailla. Matanya sudah berkaca-kaca dan siap menangis kembali. Dengan susah payah dia menahannya supaya terlihat tangguh di depan Pram.


“Sudah puas?” tanya Pram. “Mau menangis?” tanyanya lagi setelah melihat air mata yang mulai mengkristal di mata istrinya.


“Cium aku sekarang!” titah Pram sambil tersenyum menggoda Kailla.


“Aku tidak mau! Aku mau pulang!” tolak Kailla.


“Ayolah Kai, sebaiknya katakan ada apa? Kamu tahu kan siapa suamimu, aku pasti bisa mencari tahu penyebab istriku mengamuk seperti ini,” ucap Pram.


“Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” ancam Kailla.


“Baiklah, aku harus rapat sekarang, kamu bisa membunuhku setelah rapat nanti. Ayo, kamu mau aku kurung di dalam ruanganku atau ikut aku ke ruang rapat,” tawar Pram.


Mau tidak mau, dia terpaksa membawa Kailla ke ruang rapat kembali. Beruntung kali ini hanya rapat dengan staff kantor, bukan rapat dengan perusahan lain.


“Tidak mau. Kemarin itu adalah pertama dan terakhir aku ikut ke ruang rapat bersamamu!” tolak Kailla dengan wajah cemberut.


“Hahahaha...! Kamu mengembalikan kata-kataku Kai?” tanya Pram sambil tertawa.


“Ayo!” ajak Pram sambil mengenggam tangan Kailla, berjalan menuju ruang rapat.


“Jangan berpikir masalah kita selesai sampai disini. Aku tidak akan semudah itu berdamai denganmu!” gerutu Kailla. Terpaksa dia harus menuruti Pram saat ini. Bagaimana pun, suaminya masih ada tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dia akan melanjutkan pertengkaran mereka nanti.


“Baik, tidak masalah! Setelah rapat kita bisa melanjutkan pertempuran kita lagi,” ucap Pram sambil tersenyum.


“Jangan tersenyum! Aku sedang marah saat ini!” perintah Kailla.


“Iya, kita rapat dulu, aku harap kamu bisa profesional Nyonya. Ini masalah rumah tangga kita. Mohon kerjasamanya,” ucap Pram masih saja tertawa melihat raut wajah Kailla.


Begitu masuk ke ruang rapat, Pram langsung membawa Kailla duduk disampingnya.


“Mit, kamu cari tempat lain saja!” perintah Pram pada Mitha yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


“Pieter yang akan membantuku saat ini,” lanjut Pram sambil tersenyum menatap Kailla yang masih saja cemberut.


“Ayolah Kai, tersenyum, aku tidak mau orang lain melihat kita bertengkar!” bisik Pram di telinga Kailla. Tangannya masih menggenggam erat di bawah meja.


“Setelah ini, aku akan membuat perhitungan denganmu! Jangan panggil aku Kailla Riadi Dirgantara kalau tidak bisa menghancurkanmu!” ancam Kailla ikut berbisik.


“Iya, kamu boleh melakukan apa saja nanti padaku, tapi saat ini aku harus bekerja. Memastikan kamu tetap bisa menambah koleksi tas brandedmu di lemari kamar kita,” goda Pram sambil berbisik di telinga Kailla.


Pieter yang duduk di sebelah Pram sedang tersenyum menatap kedua orang disebelahnya. Dia tahu jelas sedang ada pertengkaran hebat di antara keduanya. Dia menyaksikan sendiri tadi sewaktu di ruangan Pram.


“Sepertinya mereka memang bukan pasangan yang cocok!” batin Pieter tersenyum manis menggoda Kailla yang saat itu juga sedang menatapnya.


***


Terimakasih. Love you all.