
“Kai! Aku tidak main-main ya. Kamu tidak kasihan dengan Sam.” bujuk Pram.
“10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5......”
Tepat di hitungan ke 5 terdengar suara Kailla dari balik pintu.
“Terserah Om! Aku tidak peduli dengan Sam. Dasar pembohong!” Kailla berkata dengan kesal.
Deg—
Sam menelan salivanya, bahkan saat ini Kailla sudah tidak menganggap dirinya. Kesedihan yang merayap di hati Sam, terlukis jelas di wajahnya yang tertunduk. Dia memilih duduk di lantai menekuk kedua kakinya. Satu-satu harapannya yaitu Kailla, dan majikannya itu telah menolak untuk menyelamatkannya.
“Kai, katakan apa yang terjadi?” tanya Pram mendekatkan dirinya ke pintu supaya suaranya terdengar oleh Kailla dan sebaliknya. “Aku tidak tahu apa kesalahanku, Sayang.”
Hening—
“Sayang.....” panggil Pram lagi begitu suara Kailla tidak terdengar lagi. “Jadi aku pecat saja Sam sekarang ya?” lanjut Pram masih mengertak Kailla.
“Kalau Om berani memecat Sam, Om akan berhadapan denganku!” teriak Kailla dari dalam.
Kata-kata Kailla barusan seketika melambungkan hati Sam. Dia mendongakan wajahnya yang tertunduk, memandang Pram yang sedang memunggunginya. Senyum tercetak di bibirnya.
“Bagaimana kamu bisa berhadapan denganku kalau pintunya tertutup seperti ini Kai. Ayo buka pintunya, biar kita saling berhadapan,” bujuk Pram lagi.
“Aku tidak mau melihatmu lagi Om! Jahat! Tukang bohong!” Kailla berkata. Segala julukan untuk Pram, yang terlintas di otak keluar dari bibirnya.
“Kai, buka pintunya Sayang,” bujuk Pram lagi. Dia sedikit lega, setidaknya Kailla sudah mau berbicara dengannya. “Kamu boleh memakiku! Tapi buka pintunya dulu,” lanjut Pram lagi.
“Aku tidak mau! Kamar di rumah ini banyak. Om bisa pilih salah satunya. Aku tidak mau berbagi kamar dengan Om!” Kailla berkata dengan ketus.
“Iya, aku tidak akan berbagi kamar denganmu, tapi buka pintunya. Kita harus bicara.” Pram memijat keningnya. Kali ini pandangannya terpaku pada Sam yang sedang duduk menatapnya.
“Astaga! Aku lupa masih ada Sam disini.”
“Kamu boleh keluar sekarang!” perintah Pram pada Sam.
“Ta... tapi maksudnya, saya keluar dari sini atau keluar dari pekerjaan Pak?” tanya Sam memastikan.
Pram menghela napas, mengurusi Kailla saja sudah membuat kepalanya pusing, ditambah asistennya yang tidak terlalu jauh berbeda dengan majikannya.
“Kalau kamu masih tetap disini, dalam hitungan ke 3 aku akan memecatmu!” ucap Pram kesal. Mendengar kata-kata Pram, buru- buru Sam berlari menuruni tangga dengan kecepatan penuh sambil tersenyum sumringah.
***
Pram masih saja sibuk membujuk Kailla agar membuka pintu kamarnya. Entah sudah berapa lama dia berdiri di depan pintu, terus menerus memohon kepada istrinya.
“Sayang.....” Pram masih tidak lelah-lelahnya memanggil Kailla. “Ayo buka pintunya, aku mohon. Bagaimana aku bisa menjelaskannya, kalau kamu tidak memberiku kesempatan.”
“Aku tidak mau Om!” Kailla masih tetap pada pendiriannya.
“Sayang, ini memalukan. Kamu tidak melihat, ada banyak asisten rumah tangga yang melihat kita bertengkar.” Pram melepas jasnya dan menggantungnya di pegangan pintu kamar. Tampak dia melipat tangan kemejanya sampai ke siku, kemudian melepas beberapa kancing teratas kemejanya.
“Aku tidak peduli!”
“Kai, ayo buka pintunya, disini gerah. Aku harus mandi Kai.” Pram mencari alasan lain.
“Cih! Pelukan dengan wanita lain sampai kegerahan!” cerocos Kailla.
“Tidak ada wanita lain, Kai. Aku tidak mengkhianatimu Kai. Aku bersumpah!” ucap Pram melembut. Dia sudah mulai lelah menghadapi Kailla yang seperti ini.
“Aku lelah, aku mau tidur Om! Terserah Om kalau mau tetap di depan pintu!” ucap Kailla. Dia sudah lelah mengomel di depan pintu. Dia mau mengistirahatkan otak dan pikirannya.
“Kai.. dengar sayang. Kamu salah paham.” Pram menghela nafas, suara Kailla sudah tidak terdengar lagi. Setelah merasa semua usahanya sia-sia, dengan langkah gontai dia memilih turun ke bawah dan mencari Bu Sari. Entah sudah berapa jam dia berjuang di depan pintu kamar, tapi semuanya sia-sia.
“Bu, bisa minta kunci cadangan kamar Kailla?” tanya Pram setelah berada di dapur. Terlihat dia membuka kulkas dan menuangkan segelas air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena terlalu banyak bicara dan berteriak sedari tadi.
“Ini Pak.” Bu Sari menyodorkan kunci kepada Pram.
Pram bergegas kembali ke kamar Kailla. Kalau membujuk tidak bisa, mau tidak mau dia harus masuk secara paksa. Pram baru saja memasukan anak kunci itu ke lubangnya, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana.
“Kai, kamu membiarkan kuncinya menggantung di pintu ya?” tanya Pram masih berusaha menekan anak kunci itu supaya bisa diputar. Tapi lagi-lagi usahanya gagal. Bagaimana pun, dia harus bisa bertemu langsung dengan Kailla, berkomunikasi seperti ini tidak akan menemukan titik temu. Istrinya tidak akan bisa dibujuk kalau tidak dipeluk.
Terlihat Pram memijat pelipis,sebelum akhirnya kembali ke lantai bawah memanggil Bayu dan Sam.
“Iya Pak!”
“Iya Pak!” jawab keduanya hampir bersamaan begitu sudah berdiri di depan Pram.
“Carikan tangga!” perintah Pram. Sontak membuat keduanya melotot dan kebingungan.
“Bawa tangganya ke balkon kamar Kailla. Aku akan masuk ke kamar dengan memanjat!” jelas Pram.
Mendengar instruksi Pram, langsung kedua asisten itu bergerak cepat, bahu membahu menggotong tangga lipat aluminium menuju ke tempat yang dimaksud Pram. Tak lama tampak Pram datang menghampiri, setelah dilihat semuanya sudah siap. Melihat tangga yang sudah terpasang rapi menuju balkon, dia tersenyum menertawakan dirinya sendiri sambil berkacak pinggang.
“Nikmat mana lagi yang kau dustai, Pram,” ucapnya dalam hati sambil tersenyum kecut memandang ke atas balkon.
Melihat Pram yang masih memandang tangga dari atas ke bawah, akhirnya Sam memberanikan diri berbicara dengan majikannya itu.
“Pak, atau saya saja yang manjat.” tawarnya pada Pram. Pram langsung menatap tajam ke arah Sam.
“Di dalam kamar itu istriku. Jadi untuk apa kamu menemui istriku!?” tanya Pram kesal. Tatapannya seolah akan menelan Sam bulat-bulat. “Lagipula, kalau kamu becus menjaganya, semua ini tidak terjadi! Kerjamu hanya menyusahkanku saja!” omel Pram, seketika menciutkan nyali Sam.
“Pastikan tangganya tidak bermasalah! Aku akan memanjat sekarang,” titah Pram. Segera dia menaiki satu- persatu pijakan tangga yang mengantarnya menuju balkon kamar Kailla.
Setelah berhasil melompat pembatas balkon, dengan nafas yang masih naik turun dia mendorong keras pintu kaca menuju ke kamar.
Brakkk!!
Pintu itu terbuka dan menimbulkan suara yang lumayan keras karena dorongan tangan Pram. Terlihat Pram menyibak kasar tirai putih yang menghalangi jalannya menuju kamar. Begitu sampai di dalam kamar, lagi-lagi Kailla tidak mau menemuinya. Istrinya itu menutup tubuhnya dengan selimut tebal sampai tidak terlihat.
Pram tersenyum kecut melihat pemandangan yang sama setiap istrinya marah.
“Kai... jangan seperti anak kecil! Ayo kita bicarakan, apa masalahmu?” ucap Pram membuka pembicaraannya dengan Kailla.
Hening— Kailla tetap diam di dalam selimut, bergerak pun tidak.
“Kai..., kamu bukan anak kecil lagi, kurangi sikap kekanak-kanakanmu,” ucap Pram. Masih memandang lekat selimut yang menutup sekujur tubuh istrinya.
“Kamu itu sudah menikah. Belajarlah bersikap layaknya seorang istri!” lanjut Pram tegas. Tampak Pram maju beberapa langkah.
“Kalau masih seperti ini, aku akan menidurimu sekarang!” ancam Pram. “Aku akan memberimu waktu 5 menit dari sekarang.”
“3 menit!” Pram mulai menghitung dengan kedua tangan terlipat di dada.
Mendengar hitungan Pram yang belum apa-apa sudah 3 menit, sontak membuat Kailla kesal. Dengan kasar dia melempar selimutnya. Bangkit dan berdiri tepat di depan suaminya itu.
“Belum ada 3 menit! Kenapa curang?!” tanya Kailla dengan wajah tidak bersahabat. Matanya melotot menatap Pram dengan kedua tangan terkepal.
“Ayo Sayang, jangan marah lagi,” bujuk Pram menarik Kailla masuk ke dalam pelukannya yang hangat.
Tapi Pram hanya mampu memeluk Kailla beberapa detik saja, detik berikutnya istrinya itu sudah mendorong kasar tubuhnya.
“Jangan menyentuhku! Kamu baru saja memeluk wanita lain. Aku tidak mau.” protes Kailla.
“Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun. Ayolah Kai, berhenti marah-marah. Aku lelah, ingin beristirahat.” pinta Pram memelas, memijat tengkuknya.
“Pembohong!”
“Ayo, kita bicarakan baik-baik. Ada masalah apa? Aku tidak paham kesalahanku dimana,” ucap Pram lembut, mengajak istrinya duduk di tepi ranjang. Melihat kemarahan Kailla kali ini, dia yakin ada hal serius yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
“Aku tidak mau!” tolak Kailla menepis kasar tangan Pram.
“Baiklah, maafkan aku.” Pram berkata lembut, memilih mengalah daripada memancing emosi Kailla. “
“Katakan apa kesalahanku padamu. Kalau memang benar aku melakukannya, aku akan berlutut sekarang di kakimu Kai.” lanjut Pram, meraih tangan Kailla dan menggengamnya.
***
Ini Visual Abang Sam yah
***
Terimakasih. Mohon bantuan like dan komennya ya.