Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 41 : Anita Mantan Pacarku


Sampai di unit apartemen Pram, segera Kailla membersihkan diri. Sejak dari pagi, dia belum mandi dan berganti pakaian. Badannya pun sudah terasa lengket sejak tadi berada di rumah sakit. Setelah menyelesaikan acara mandinya, dia segera keluar kamar hanya berbalut handuk putih yang membungkus tubuh rampingnya. Berjalan menuju lemari sederhana yang ada di dalam kamarnya. Begitu membuka lemari, matanya langsung melotot keluar. Isi lemarinya sungguh bersih bersinar, tidak ada selembar pun pakaiannya tersimpan di dalamnya.


“Om, pakaianku di dalam lemari dikemanain?” tanya Kailla setengah berteriak menyembulkan kepalanya dari pintu balik pintu kamarnya.


“Ada di dalam lemari kan. Baru dua hari yang lalu aku minta Bu Ida membawa pakaianmu ke laundry, harusnya sudah selesai,” jawab Pram tanpa melihat ke arah Kailla. Dia masih sibuk membalas beberapa email yang harus dikirim malam ini juga.


“Gak ada Om. Apa Bu Ida lupa ambil dari laundry? Terus baju yang lama-lama juga gak ada,” ucapnya lagi.


Hening—


“Om...” Kailla berteriak kembali memanggil Pram setelah menunggu beberapa saat belum juga ada respon dari Pram. Tapi tetap tidak mendapat jawaban dari Pram. Kembali dia melongok keluar pintu melihat si pemilik rumah yang sedari tadi duduk di sofa.


“Aneh, kemana dia? Apa aku pinjem kaosnya Om Pram saja ya. Gak mungkin juga tidur pakai handuk kek gini.”


Setelah memastikan situasi aman, Kailla pun keluar dengan mengendap-endap menuju ke kamar Pram. Sengaja dia berjalan dengan perlahan supaya langkah kakinya tidak terdengar.


“Pasti akan malu sekali kalau ketahuan Om cuma dibungkus handuk begini, sudah kayak lemper.”


Kailla menggapai gagang pintu kamar Pram kemudian membukanya perlahan dan tanpa suara mencuri masuk ke dalam kamar Pram kemudian menutup pintunya kembali.


“Huh... Selamat.. selamat,” gumamnya menghela nafas lega sambil memegang handuknya supaya lilitannya tidak terlepas.


“Apanya yang selamat, Nyonya?” Suara maskulin Pram terdengar dari dalam kamar.


Deg—


“Astaga, kenapa aku gak ngecek dulu tadi,” kailla mengutuk dirinya sendiri.


Perlahan Kailla berbalik sambil menunduk, “Om..”


Pram mendekati dan menyerahkan kaos miliknya. “Ini pakailah dulu, mungkin Bu Ida lupa mengambil pakaianmu dari tempat laundry. Pakaianmu yang tidak terpakai sudah dibawa pulang Bu Ida untuk dibagi-bagi ke tetangganya.


“Aku memang menyuruh Bu Ida membereskan pakaianmu.... “ Pram tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Pandangannya terpaku saat melihat tampilan Kailla saat ini, hanya terbalut handuk dengan rambut tergerai basah, yang masih menetes di ujung-ujung rambutnya.


“Anak ini benar-benar membuatku susah melewatkan malam ini. Bagaimana bisa dia dengan santainya muncul di hadapanku dengan tampilan begini menggoda.”


Pram mengatur nafasnya, berusaha membuang pikiran kotornya, “Cepat kenakan pakaian, nanti kamu masuk angin.”


Pram membuang pandangannya ke sembarang arah, supaya tidak terus-terusan berpikiran aneh.


“Segeralah menyusul ke dapur, aku akan memanaskan makanan untuk makan malammu,” titah Pram. Bergegas keluar dari kamarnya, meninggalkan Kailla yang masih diam mematung.


***


Pram baru saja mengeluarkan semangkok sup ayam dari microwave, begitu Kailla menghampirinya. Dia meletakkan sup ayam yang masih mengepul itu di atas meja minibar.


“Makanlah,” perintahnya begitu Kailla mendudukan tubuhnya di atas kursi.


Pram pun menyusul duduk disebelah Kailla, masih sibuk dengan ponselnya. Diam diam dia mencuri menatap gadis disebelahnya yang terlihat tidak nyaman dengan kaos kebesaran miliknya yang tampak seperti dress mini di tubuh mungil Kailla. Senyumnya tersungging ketika dia melihat Kailla berulang kali menarik turun kaosnya supaya bisa menutup sebagian paha mulusnya.


“Kai, besok jam 10 pagi kita ada janji dengan dokter obgyn. Hubungi Bu Sari supaya menyiapkannya pakaianmu, aku akan meminta Sam membawanya kesini besok,” titah Pram.


Kailla terdiam menatap Pram sejenak, “Om, apakah akan sakit?”


“Kita hanya konsultasi saja, gak diapa-apain.”Pram menjawab singkat.


Terlihat Kailla mengangguk, masih sibuk menyendokan sup ke dalam mulutnya.


“Mulai malam ini, tidurlah di kamarku.... kamar kita,” ujar Pram.


“Hah!!” Kailla terkejut menatap Pram tajam.


“Hahaha, aku akan tidur di kamarmu. Pikiranmu itu kemana-mana, Nyonya,” ucap Pram mengetuk kening Kailla dengan jari telunjuknya.


“Selesaikan makanmu, ada yang mau aku sampaikan. Aku menunggumu di depan tv,” lanjutnya kemudian meninggalkan Kailla dengan mangkok supnya.


***


“Ada apa Om?” tanya Kailla begitu dia menghempaskan tubuhnya di sofa empuk tepat di sebelah Pram.


Pram yang sedang menonton tv, segera meraih remote dan mematikannya.


“Kai, beberapa hari lagi kita akan ke Bandung. Aku akan mengajakmu menemui ibunya Anita,” ucap Pram membuka pembicaraan.


“Emangnya kenapa harus menemuinya Om?” tanya Kailla.


“Kemarilah....” Pram meraih tubuh Kailla masuk ke dalam dekapannya.


“Anita..... sebenarnya mantan pacarku dulu. Sebenarnya kami hampir akan menikah 17 tahun yang lalu, tapi semuanya berantakan. Ini kesalahanku, aku sangat bersalah pada Anita dan keluarganya.. “jelas Pram mendekap erat tubuh gadis di pelukannya.


“Aku yang meninggalkannya saat itu. Aku... aku tidak termaafkan, Kai.” Terlihat Pram ragu mengatakannya. “A.. aku meninggalkannya dan bayi kami.”


Kailla terkejut mendengar Pram memiliki anak dengan Anita. Segera dia menatap Pram yang terlihat sedih. Matanya memerah, menahan tangis.


“Kalau Om mau kembali padanya, aku tidak keberatan.” ucap Kailla singkat tapi bisa menghentakan hati Pram.


“Kamu menyakitiku, Kai. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu..” ucap Pram menangkup wajah cantik tanpa ekspresi di sebelahnya kemudian mencium sekilas bibir Kailla.


Mendengar kata-kata Kailla barusan, hati Pram seperti tertusuk pisau. Begitu mudahnya tanpa berpikir dua kali, gadis itu melemparnya kepada perempuan lain. Sebegitu tidak berartinya kah dirinya di dalam hati Kailla. Dia sendiri sadar, sampai sekarang Kailla masih belum membuka hati untuknya. Entah perlu berapa banyak lagi perjuangan untuk meluluhkannya.


“Dengar, aku mencintaimu, jangan pernah coba-coba kabur dariku dengan alasan apapun.” lanjutnya lagi.


“Bagaimana dengan anak kalian?” tanya Kailla datar menatap Pram yang juga sedang menatapnya.


“Anak itu tidak pernah lahir ke dunia dan aku yang paling bersalah dalam hal ini. Aku menyesal. Tapi sesalku juga tidak akan mengubah kenyataan.” Pram berkata lirih.


“Om masih mencintainya?”


Pram menatap Kailla dalam, megirim seluruh isi hatinya lewat matanya. Ternyata cintanya selama ini masih belum cukup untuk meyakinkan Kailla.


“Kalau aku masih mencintainya, aku tidak akan menikahimu, Kai. Aku menceritakan semua ini karena aku tidak mau ada yang ditutupi. Aku menghargaimu sebagai wanita yang akan menjadi istriku,” jelas Pram.


Kai..., aku berharap kamu bisa menerima masa laluku, dengan begitu aku baru bisa memperjuangkan masa depanku. Dan masa depanku itu adalah Kailla Riadi Dirgantara,” lanjutnya.



“Kamu mau kan ikut denganku menemui ibu Anita? Aku akan mengenalkanmu padanya, sekaligus meminta maaf atas semua kesalahanku dulu. Sebelum kita menikah aku benar-benar ingin melepas semua masa laluku,” ajak Pram.


Kailla terlihat ragu. Dia sebenarnya mau saja ikut, tapi Dona kan juga membutuhksnnya saat ini.


“Aku belum tahu Om. Temanku Dona lagi dapat musibah, tadi siang dia kecelakaan. Besok harus menjalani operasi. Aku takutnya tidak bisa ikut.” jelas Kailla.


Meninggalkan Kailla kali ini, ada rasa tidak tenang di dalam hati Pram. Dis masih terbawa dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Terlihat dia mencoba menenangkan pikirannya dengan berkali- kali mengatur nafasnya, menyalurkan pikiran positifnya.


“Baiklah, ingat tidak boleh nakal, kasihan Daddy. Setelah aku kembali dari Bandung, kita menikah.” ucap Pram mencubit hidung mancung Kailla.


“Kamu tidak ada rencana untuk menghiburku kah? Aku pasti akan merindukanmu.” Pram tersenyum mengecup kembali bibir merah merona milik Kailla.


“Om...” Kailla tersipu , dia segera menunduk menutupi pipinya yang merona.


Menikmati sikap malu-malu Kailla adalah hiburan tersendiri bagi Pram sekarang, sehingga seringkali dia menggoda gadis itu demi melihat pipi yang merona indah.


“Selama aku tidak ada disini, jangan berbuat yang aneh-aneh. Kamu harus ingat masa depanmu itu ada di tanganku, Reynaldi Pratama.” tegas Pram mendekap erat Kailla.


“Dan satu lagi, begitu aku kembali dari Bandung, kamu sudah harus bisa menciumku dengan baik dan benar. Aku menunggu saat-saat itu, “ bisik Pram.


***


Maaf telat up.. terimakasih dukungannya. Mohon bantuan like komen ya kalau berkenan.