
Kailla terkejut begitu terbangun dari tidur mendapati dirinya dalam pelukan hangat Pram. Deru nafas Pram yang teratur menandakan si empunya masih terlelap. Setelah beberapa hari, baru pagi ini dia menatap wajah tampan Pram lagi. Ada luka sobek di sudut bibir dan pelipis Pram.
“Ini kenapa ya, kemarin aku tidak terlalu memperhatikan,” batinnya.
Kailla memberanikan menyentuh luka disudut bibir Pram. “Ini pasti sakit sekali.” gumamnya.
“Kamu sudah bangun, Kai?” tanya Pram dengan suara serak mengeratkan pelukannya. Sentuhan tangan Kailla tadi membangunkan tidurnya.
Seketika Kailla membuang mukanya ke sembarang arah. Dia masih belum mau berbicara dengan Pram, hatinya masih sakit dibentak Pram beberapa hari yang lalu.
“Kamu tidak mau menyapaku?” tanya Pram lagi mengecup pipi Kailla yang cemberut.
“Lepas.. !”
“Kamu masih ngambek, Kai. Ayolah, maafkan aku. Kemarin di Bandung aku ada sedikit masalah.” jelas Pram lagi.
“Aku sudah bisa mengurus daddyku sendiri, aku tidak membutuhkan Om lagi!” tegas Kailla berusaha melepaskan diri.
“Aku tahu kamu sudah bisa mengurus daddy sendiri. Tapi kamu masih butuh aku untuk mengurusmu, Kai.”
“Tidak, aku bisa mengurus diriku sendiri.” Kailla menjawab ketus. Meninggalkan Pram yang masih menatapnya dengan tersenyum.
“Kailla-ku hampir kembali”
***
Siang itu Sam tiba di rumah sakit bersama dengan Rika dan Dion. Begitu mereka sampai di lobby terlihat Pram menyambutnya.
“Maaf merepotkan kalian. Saya Reynaldi Pratama, calon suami Kailla.” Pram menyodorkan tangannya pada gadis cantik di hadapannya, kemudian menyalami Dion.
Rika yang terkejut langsung menutup mulutnya yang ternganga. “Maaf,” bisiknya. Kailla tidak pernah bercerita,” lanjutnya lagi.
Pram tersenyum,” Tidak masalah!” jawabnya singkat.
“Terimakasih sudah bersedia datang kesini, Kailla pasti akan senang melihat kedatangan kalian.”
***
“Kai... !” panggil Rika setengah berteriak. Kemudian dia segera menutup mulutnya begitu sadar sedang berada di rumah sakit.
“Rika, Dion.. Bagaimana bisa sampai ke sini?” tanya Kailla.
“Tuh! Kita diundang spesial sama calon suamimu.” Rika berkata, melirik ke arah Pram.
“Kamu gak ngabarin kita, aku turut prihatin ya,” ucap Rika memeluk tubuh Kailla.
“Makasih ya,” ucap Kailla. Dia terlihat senang dengan kedatangan Kailla dan Dion. Apalagi Rika mengabarinya kalau Dona sudah bisa pulang ke rumah, walaupun masih belum bisa berjalan.
Melihat senyum tersungging di wajah Kailla merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Pram. Dia memilih menyingkir dan memberi kesempatan untuk Kailla dan temannya.
Kailla, Rika dan Dion memilih mengobrol di kantin rumah sakit, selain lebih leluasa mereka juga sekalian menikmati makan siang.
Pram sendiri memilih duduk menunggu di depan ruang ICU sambil mengecek email yang masuk di ponselnya. Sebenarnya Pram terpaksa mengaktifkan kembali ponselnya, karena ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan hari ini juga. Sejak kemarin malam, Pram mematikan ponselnya karena Anita menggila. Dia menghubungi Pram tanpa jeda, mengirimi pesan mengancam dan banyak lagi yang membuat Pram pusing sendiri.
Pram yakin saat ini pun Anita sedang mencari cara untuk mengganggunya. Beruntung, sejauh ini Anita belum mengetahui mengenai sakitnya Pak Riadi, kalau tidak bukan tidak mungkin wanita itu akan membuat kekacauan di rumah sakit. Memikirkan hal itu, ada rasa takut di dalam hatinya. Hubungannya dengan Kailla belum sepenuhnya membaik, ditambah kehadiran Anita malah akan membuat semuanya berantakan.
Saat sedang serius mengurusi pekerjaannya, tiba-tiba ada beberapa dokter dan perawat yang berlarian masuk ke dalam ruang tempat Pak Riadi dirawat. Melihat itu semua, Pram segera mendekati dan bertanya kepada salah satu petugas yang ikut masuk ke dalam.
“Maaf Pak, saya juga belum tahu pasti. Info dari petugas jaga kondisi pasien menurun.” Buru-buru sang perawat masuk dan meninggalkan Pram yang terpaku menatap pintu ruang ICU itu menutup.
“Dad...” Terdengar suara lemah di belakang Pram. Deg— segera Pram berbalik.
“Kai...” Pram langsung memeluk gadis yang berdiri kaku di depannya. Baru saja dia melihat wajah itu tersenyum tapi sekarang wajah itu menangis lagi.
“Dengar.. daddy baik-baik saja.” Terlihat dia menangkup wajah datar Kailla, menghapus air mata yang menganak sungai dan membawa ke pelukannya kembali.
“Daddy baik- baik saja,” ucap Pram berulang-ulang disela pelukannya. Sesekali dia mengecup lembut kening Kailla.
“Kalau daddy kenapa-kenapa, aku harus bagaimana?” ucap Kailla lirih di sela isak tangisnya.
“Dengar daddy akan baik-baik saja, Kai. Jangan seperti ini,” bisik Pram. Kailla tetap menangis tanpa suara, membuat siapa saja yang melihat akan terenyuh. Air matanya turun terus menerus tanpa bisa dihentikan.
Kai, jangan seperti ini. Aku mencintaimu.. aku mencintaimu,” bisiknya di telinga Kailla. Dia menepuk lembut punggung Kailla, mengecup gadis itu berulang kali.
Suara tangis Kailla pun akhirnya melemah, tubuhnya merosot, melemas di pelukan Pram dan berakhir tidak sadarkan diri.
“Kai.. Kai..!!“ panggil Pram menepuk pipi Kailla berulang kali.
Begitu tersadar, Kailla sudah berada di sebuah kamar rawat. Tidak jauh dari tempat tidurnya, Pram sedang memejamkan matanya bersandar di sofa meluruskan kakinya di atas meja.
Potongan ingatan sebelum dia tidak sadarkan diri mulai mengumpul dan membuat dia segera bangun dan berlari keluar.
“Daddy....” ucapnya sambil berlari menuju tempat di mana daddynya dirawat. Air mata yang sempat terhenti beberapa jam selama dia tertidur sekarang meluap dan tumpah kembali.
“Daddy dimana?” tanyanya begitu melihat tempat biasanya dia menunggu itu kosong. Tidak ada Sam, tidak ada Donny disana.
Daddy...!” Kailla membuka ruang ICU tempat biasanya daddynya tertidur. Kosong!
Airmatanya semakin deras, jantungnya berdegup kencang. Pikirannya sudah kemana-mana, dia berlari ke bagian administrasi, mencari informasi disana.
“Da- daddyku dima-na?” tanyanya terbata-bata sambil terisak. Nafasnya masih naik turun karena berlari kesana kemari. Pikirannya sedang kacau sekarang, bahkan dia lupa memakai alas kakinya.
“Maaf, pasien atas nama siapa?”
“Ria-adi ..Riadi Dirgantara, dirawat di ruang ICU,” jelasnya masih terbata-bata.
“Sebentar kami cek dulu ya. Nona silahkan duduk.” Terlihat seorang petugas administrasi menyodorkan air putih kemasan kepada Kailla. Mereka prihatin melihat kondisi Kailla yang sangat kacau. Gadis itu berlari tanpa alas kaki sambil menangis sepanjang lorong rumah sakit.
Setelah melakukan pengecekan,” Maaf Nona, pasien atas nama Riadi Dirgantara sudah dipindahkan ke....”
“Kai...!” Terdengar suara Pram berteriak memanggilnya.
“Om..” bisik Kailla mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Pram.
“Om.. daddy sudah tidak ada disana.” Kailla berkata, berlari memeluk Pram. Menangis sesengukan di bahu Pram.
“Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Pram. Melihat kondisi Kailla yang kacau, dia yakin kalau gadis itu sedang panik dan tidak bisa berpikir jernih. Pram langsung menggendong Kailla ala bridal style, membawanya menemui orang yang paling dicintainya.
***
Terimakasih atas dukungannya. love you all