
Pieter sedang menemani Pram di rumah sakit. Dia terpaksa meninggalkan pekerjaan karena Pram lebih membutuhkannya. Pram ambruk karena sakit kepala hebat yang diderita beberapa hari ini.
Tadinya Pram memilih menahan, karena Kailla lebih membutuhkannya. Istirahat yang cukup, dia pasti sudah sehat kembali. Dua minggu ini memang pekerjaanya menumpuk, belum lagi kehamilan Kailla yang begitu luar biasa rewelnya. Dia harus siaga dan selalu ada untuk Kailla.
Tapi kenyataannya, dia tidak sanggup. Tubuhnya drop seketika, bahkan dia tidak sanggup berdiri, semuanya terasa berputar. Dan seorang Pram berakhir di rumah sakit.
“Pieter, tolong urus kepulanganku. Aku tidak mau dirawat!” titah Pram, setelah sempat beristirahat beberapa jam.
“Tidak! Kamu harus dirawat! Kondisimu sudah tidak memungkinkan,” tolak Pieter.
“Apa kata dokter?” tanya Pram, masih duduk di ranjang rumah sakit.
Pieter menggeleng.
“Sementara hanya kecapekan saja, kurang istirahat, kurang asupan. Itu diagnosa awal. Tapi sedang menunggu hasil pemeriksaan,” sahut Pieter.
“Bagaimana sakit kepalamu?” tanya Pieter lagi.
“Masih, tapi tidak sehebat tadi pagi,” sahut Pram, masih memijat pelipis.
“Pieter, tolong urus semua. Aku serius, aku tidak bisa membuat istriku khawatir,” pinta Pram lagi.
“Aku hanya kelelahan. Tolong minta ke dokter, suntik vitamin, infus atau apalah. Minta dalam dosis yang tinggi. Aku harus pulang sebentar lagi,” ucap Pram masih menahan sakit kepalanya.
“Jangan gila Pram!” omel Pieter, berusaha menahan Pram yang hendak turun.
“Aku tidak bisa meninggalkan Kailla. Kalau aku dirawat, bagaimana dengan istriku,” jelas Pram.
“Pram, istirahat di sini dua hari saja. Aku akan membantumu mengurus semuanya,” ucap Pieter menenangkan Pram.
“Aku tidak mempermasalahkan perusahaan. Mau jungkir balik, sedikitpun aku tidak memikirkannya. Aku hanya mengkhawatirkan Kailla,” ucap Pram.
Terlihat dia bangkit, hendak melepas selang infus dari tangannya. Dia harus pulang sekarang, menemui Kailla.
“Jangan lakukan ini, aku akan membantu mengurus istrimu.” Pieter menahan tangan Pram.
Mendengar kata-kata Pieter, Pram langsung melotot. Sakit di kepalanya semakin hebat.
“Jangan coba-coba mendekatinya!” ancam Pram. Baru saja dia akan menarik tangan Pieter, bunyi ponsel menghentikannya.
“Ponselku? Dimana ponselku?” tanya Pram setelah menyadari ponselnya tidak berada di dekatnya.
Pieter membuka laci di dekat ranjang.
“Nih! Istrimu menelepon,” jelas Pieter, menyodorkan ponsel kepada Pram.
“Iya Sayang,” sapa Pram begitu menggeser tombol hijau di layar.
“Cih!” Pieter tersenyum kecut mendengar Pram menyapa istrinya dengan begitu manis.
“Sayang.., kamu sudah mengabari Pieter. Minta sopir mengirim semua bahan dan peralatannya. Siang ini aku akan membuatkanmu lapis legit,” ucap Kailla, langsung berbicara panjang tanpa titik koma.
“Iya, sebentar lagi ya,” jawab Pram sambil tersenyum.
“Kamu sudah makan siang? Sudah minum vitaminmu?” tanya Pram lagi.
“Sudah selesai makan. Aku sudah tidak mual-mual lagi sekarang,” cerita Kailla.
“Vitaminmu?” tanya Pram.
“Belum... Sayang,” sahut Kailla ragu.
“Minum sekarang, kalau tidak aku akan menggigitmu nanti malam,” ancam Pram sebelum memutuskan panggilannya.
Setelah melempar ponselnya di atas ranjang, Pram meminta Pieter mengirim bahan-bahan yang diminta Kailla.
“Pieter, kirim ke apartemen apa yang diminta Kailla. Dia mau membuat lapis legit untukku!Minta Mitha mencari tahu, apa saja yang dibutuhkan Kailla,” perintah Pram, membuat Pieter terbelalak.
“Haha.. yang benar saja Pram. Kamu meminta putri konglomerat itu membuatkanmu lapis legit?” tanya Pieter tidak percaya.
“Jangan banyak komentar!” omel Pram. Kesal menatap Pieter.
“Aku bahkan memintanya untuk hamil anakku. Dia istriku sekarang!”
“Kamu yakin dia bisa membuatnya untukmu?” tanya Pieter lagi.
****
Kailla dan Bu Ida hampir seharian menghabiskan waktu di dapur. Kailla sampai memilih duduk di lantai dapur karena kelelahan.
“Rasanya, sudah mau dibuang saja adonannya Bu!” ucap Kailla setengah putus asa.
Bu Ida yang melihat kelakuan majikannya hanya bisa menggelengkan kepala.
“Kapan selesainya Bu?” Lagi-lagi Kailla mengomel, melihat loyang baru terisi setengah.
“Sabar Non, namanya lapis legit ya gitu. Harus sabar dan telaten,” nasehat Bu Ida.
“Kenapa suamiku mengidamnya begini menyulitkan Bu,” keluh Kailla dengan wajah memelasnya.
“Yah namanya juga mengidam, tidak bisa ditentukan maunya apa. Kalau tidak dituruti nanti anaknya ileran,” jawab Bu Ida.
“Astaga!” Buru-buru Kailla berdiri melanjutkan melapis adonan di dalam loyang.
Suasana tenang di dapur tidak sampai lima menit, kembali Bu Ida mendengar teriakan Kailla.
“Ya ampun, lapisannya gosong Bu,” teriak Kailla mengejutkan Bu Ida dan kedua asisten yang sedang duduk di ruang makan.
“Bagaimana bisa?” tanya Bu Ida heran.
“Aku ketiduran,” sahut Kailla, wajahnya hampir menangis.
“Ini harus ditungguin Non, jangan sampai ketiduran.”
“Iya, menunggu adonannya matang, membuat mata mengantuk, aku nonton youtube saja kalau begitu, biar tidak ketiduran,” sahut Kailla. Memilih melanjutkan melapis adonan di dalam loyang.
“Lagian ketutup, suamiku tidak akan tahu ada bagian yang gosong,” batinnya.
Tak lama lagi-lagi Kailla berteriak. Lebih kencang dari sebelumnya.
“Ada apa lagi Non?” tanya Bu Ida.
“Lebih gosong dari yang tadi Bu,” ucap Kailla hampir menangis.
“Aku nonton acara gosip, aku lupa sama kue di oven,” cerita Kailla.
Dengan susah payah Kailla menyelesaikan semua adonan. Lapis legit itu baru selesai menjelang pukul 06.00 sore. Senyum terkembang di wajah cantiknya. Setelah membersihkan diri, Kailla memilih duduk di ruang makan sambil menatap kue lapis legit buatannya, menunggu Pram pulang kerja.
Satu jam menunggu, tetap saja tidak ada tanda-tanda kepulangan suaminya. Berkali-kali dia menatap ke arah pintu, berharap Pram datang. Dia ingin memberi kejutan pada suaminya. Walaupun kue lapis legit buatannya gosong sebagian, dia sudah berusaha membuatnya dengan sepenuh hati.
Sam yang baru masuk ke dalam, mengagetkan Kailla seketika. Baru saja dia mau berlari menyambut suaminya, tapi wajah tengil Sam yang muncul di balik pintu.
“Malam Non Kailla, sudah dandan cantik mau jalan-jalan kemana?” goda Sam, sembari duduk di sebelah majikannya itu.
Baru saja Sam duduk, dia sudah dikagetkan dengan tampilan kue lapis legit yang terpampang nyata di atas meja makan.
“Astaga Non, ini layak dimakan?” tanya Sam mengerutkan dahinya, menatap kue lapis legit yang menghitam sebagian.
Kailla rasanya sudah mau menangis mendengar kata-kata Sam, sudah kecapekan seharian, menunggu suaminya yang tidak kunjung datang, ditambah penghinaan Sam membuat perasaannya campur aduk.
“Sudah, jangan menangis Non. Aku becanda,” ucap Sam menghibur Kailla.
“Pak Pram dikasih makan apa saja, kalau Non yang membuatkan, dia pasti makan. Bahkan kalau racun tikus saja, Non merengek padanya. Pasti ditelan langsung sama Pak Pram,” ucap Sam lagi.
Baru saja Kailla akan menjawab, ponsel ditangannya berbunyi. Melihat nama Pram, senyum Kailla langsung tersungging di wajahnya.
“Iya Sayang... ,” sapa Kailla.
“Sayang, malam ini aku tidak pulang. Aku harus lembur,” ucap Pram dari seberang.
Kailla langsung mematikan ponselnya, tidak mendengar lagi kata-kata Pram selanjutnya. Memilih masuk ke kamar sambil menangis, meninggalkan Sam yang keheranan.
“Kenapa Sam?” tanya Bu Ida.
Sam menggeleng. Pandangannya beralih pada lapis legit di atas meja.
****
Terimakasih. Love You All