
Rapat pun dimulai, terlihat Pieter membuka rapat dengan memperkenalkan Pram kepada klien mereka saat ini. Klien mereka hari ini diwakili oleh tiga orang laki-laki yang merupakan petinggi di perusahaan xxx.
Kekesalan Kailla masih terlukis jelas di wajahnya. Dia terus menatap ke arah Mitha dan suaminya yang saat ini sedang berbisik-bisik. Terlihat Pram mengangguk mendengar penjelasan Mitha. Melihat pemandangan itu, hatinya semakin panas. Tangan Kailla sudah mengepal di bawah meja, dia memilih membuang pandangannya. Tidak mau menatap ke arah suaminya atau pun Mitha, si penerjemah.
Terlihat Kailla berusaha menahan emosinya. Dia memilih menunduk dan mengatur nafasnya, supaya tidak meledak seperti biasanya. Setelah merasa bisa menguasai diri, dia mendongakkan kepala, menatap pemandangan di depannya
Deg—
Tampak seorang laki-laki tampan bermata biru juga sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Aih... aku terlalu fokus pada laki-laki tua dan si penerjemahnya itu. Sampai melupakan ada keajaiban dunia di depan mataku,” batin Kailla.
Kailla tampak membalas senyuman dari laki-laki tampan di depannya. Kali ini dia memilih fokus mendengar penjelasan dari ketiga klien perusahaan yang ada di hadapannya. Walaupun tidak ada satu kata yang dia mengerti. Tapi pada saat giliran laki-laki tampan yang tersenyum padanya berbicara, pandangan kekaguman semakin terlihat jelas di wajahnya. Dia serius mendengar.
“Sepertinya setelah ini aku harus mengambil kursus Bahasa Jerman,” ucap Kailla dalam hati.
Matanya tidak berkedip menatap laki-laki itu, dia bahkan lupa dengan status dan suaminya yang sedang menatap tajam ke arahnya.
“Om Pieter,” panggil Kailla pelan sambil menepuk tangan Pieter di sampingnya. Dia tidak mau suaranya mengganggu jalannya rapat. Pandangannya tidak beralih sedikitpun dari si tampan bermata biru.
“Ah.. Nyonya, aku belum setua itu.” protes Pieter sambil berbisik begitu mendengar Kailla memanggilnya untuk pertama kali. Tampak Pieter menggeser kursinya supaya lebih mendekat dengan Kailla.
“Kamu kan teman kuliah Om Pram, jadi aku harus memanggilmu Om juga.” Kailla menjelaskan sambil berbisik.
“Panggil Kak Pieter saja,” bisik Pieter.
“Oke.. aku juga tidak mau dipanggil Nyonya, aku tidak setua itu,” protes Kailla sambil berbisik.
“Panggil aku Kailla saja,” bisik Kailla lagi.
“Bisa mati di tangan Pram, kalau aku memanggil seperti dia memanggilmu,” celetuk Pieter sambil cekikikan. Terpaksa dia menutup mulutnya, supaya suara tawanya tidak menganggu rapat.
“Kamu tidak takut mati di tanganku, Kak Pieter? Presdirmu saja takut kepadaku,” jelas Kailla sambil terkekeh. Dia ikut-ikutan menutup mulutnya supaya suaranya tidak terdengar keluar.
“Kak, bisa bantu terjemahkan? apa yang dikatakan si tampan itu?” tanya Kailla mengarahkan pandangannya pada laki-laki yang sedang berdiri dan berbicara di hadapan mereka.
“Seleramu boleh juga Nyonya! Itu putra pemilik perusahaan,” ucap Pieter sambil terkekeh.
“Aku cuma mau tahu dia bicara apa? Aku tidak berminat. Kamu tidak melihat, laki-laki tua yang duduk disebelahmu itu akan melahapku kalau aku berani macam-macam,” bisik Kailla di telinga Pieter sambil tertawa.
Tampak Pieter berbisik-bisik pada Kailla, menjelaskan apa yang disampaikan laki-laki di hadapan mereka. Terkadang tampak Pieter dan Kailla saling tertawa dan pemandangan itu tak luput dari pantauan Pram.
“Brengs*k Pieter, dia mencari kesempatan di dalam kesempitan!”
Setelah puas mendengar penjelasan dari Pieter yang tidak dimengertinya sama sekali, akhirnya Kailla memilih mencorat-coret pensil di atas kertas putih yang baru dipinjemnya dari Pieter.
Bosan itu akhirnya datang juga. Tidak ada satu pun pembahasan di rapat ini yang menarik minatnya. Dari awal dia memang tidak tertarik dengan dunia ini. Kalaupun akhirnya dia mengambil jurusan ini untuk S1-nya, itu tidak lain karena daddy yang memintanya. Bisnis membuat seseorang jauh dari keluarga, itu yang tertanam di otak Kailla sampai saat ini. Bisnis sama sekali tidak ada di dalam cita-citanya. Sebenarnya dia ingin mendalami design interior, tapi daddy tidak mengizinkannya. Setiap memikirkan itu terselip kecewa di dalam hatinya.
Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah membuat kekacauan, disaat itu dia bisa menjadi diri sendiri, walaupun setelah itu dia harus menanggung akibatnya. Terkena omelan Pram dan daddy.
Tidak ada cerita yang menarik. Bisa memiliki segalanya, tapi tidak bisa melakukan apapun. Dia melewatkan banyak hal menarik dalam hidupnya, yang tidak akan bisa diulang kembali. Tidak pernah bisa merasakan bagaimana nikmatnya berdesak-desakan di pasar malam atau sekedar main petak umpet dengan teman sebaya di masa kecilnya. Kalau dia beruntung, dia bisa menonton anak komplek sedang bermain dari jendela besar rumahnya. Itu adalah hiburan masa kecilnya, menonton anak-anak bermain di depan gerbang rumah.
Pernah mencuri keluar dari istana Riadi Dirgantara dan ikut bermain dengan anak komplek. Tapi setelahnya akan ada barisan asisten dan security yang disidang oleh daddy atau Pram. Jadi pada saat Kailla kecil dia hanya bisa main petak umpet bersama asisten yang ada di rumah.
Belum lagi kalau merindukan daddy. Daddy hanya ada waktu setelah pulang kantor, bahkan sering tidak pulang karena kerjaan yang terlalu menumpuk. Kalau rajin merengek, daddy akan mengirim Pram untuk mengajaknya ke kantor. Melepas kangennya selama beberapa menit.
Kalau dulu, dia paling bahagia ketika ulang tahun. Bukan karena kado atau hadiahnya. Karena pada hari itu, daddy pasti ada waktu untuknya. Sesibuk apapun, daddy akan meliburkan diri di saat dia berulang tahun. Kata daddy, itu pengganti 364 hari yang sudah Kailla lewatkan tanpa kehadiran dirinya yang selalu sibuk dengan pekerjaan.
Ingatan masa lalu itu menemani goresan pensil Kailla. Dia berhasil menyelesaikan 2 buah sketsa di tengah rapat.
Tapi tiba-tiba kantuk datang menyerangnya. Kailla sebisa mungkin berusaha menahan kantuknya. Dia tidak mau mempermalukan Pram saat ini. Apa yang harus dilakukannya? Dia memilih menegakkan kepala dan menatap lurus ke depan.
Kailla mengedar pandangan ke sekeliling. Pram sedang serius berbicara dengan Mitha. Di sampingnya hanya ada Pieter. Terlihat dia memijat pelipisnya supaya tetap sadar dan tidak tertidur. Tapi pada akhirnya, dia tidak bisa berkompromi lagi. Matanya terpejam dengan sendirinya, kepala melemas bersiap membentur meja oval di ruang rapat. Beruntung Pieter melihat. Dengan sigap lengan kekarnya menahan kepala istri Presdirnya. Mengembalikan kepala itu ke tempat seharusnya.
“Nyonya....” panggil Pieter pelan, masih menahan kepala itu supaya tidak terjatuh lagi. Tapi kali ini Kailla memilih menjatuhkan kepalanya di pundak Pieter.
“Aku masih mau tidur Sayang,” gumam Kailla. Kedua tangannya langsung bergelayut manja di leher Pieter yang dikiranya sang suami. Menelusupkan kepalanya di dada kekar yang di dalam mimpinya itu adalah Pram.
“Mati aku! Tamat riwayatku!” ucap Pieter dalam hati.
Dengan ragu-ragu, Pieter memberanikan diri menatap Pram yang duduk di sebelahnya.
“Pres.... dir maafkan aku!” bisik Pieter terbata. Menunjukkan seberapa eratnya saat ini Kailla memeluknya.
Pram sedang fokus mendengarkan penjelasan Mitha saat Pieter memanggilnya. Setelah melihat Kailla sibuk dengan pensilnya, Pram sedikit lebih tenang. Dia tahu, setiap kali Kailla menggores pensil di kertas putih, dia tidak akan terganggu dengan hal apapun. Itu adalah salah satu kesenangan Kailla. Makanya dia tidak terlalu memperhatikan istrinya lagi, memilih fokus dengan rapatnya.
Tapi matanya terbelalak saat Pieter memanggilnya. Istrinya sedang tertidur lelap di dalam pelukan Pieter. Dia tidak tahu harus marah pada siapa saat ini. Rasa malu melihat Kailla yang tertidur lelap di tengah rapat tidak sebesar rasa kecewa pada dirinya sendiri. Kalau tadi dia tidak mengusir Kailla dari sampingnya, mungkin saat ini Kailla tidak tertidur. Bahkan dia akan membawa Kailla keluar ruangan sebelum istrinya itu tertidur.
“Presdir ini bagaimana?” tanya Pieter sedikit takut.
“Tunggu sebentar, aku tidak bisa menghentikan rapat disaat klien sedang berbicara. Tunggu sampai dia selesai berbicara.” pinta Pram sambil berbisik.
Pandangan matanya tidak lepas dari istrinya. Bahkan sekarang dia sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Penjelasan Mitha sudah tidak bisa masuk ke dalam otaknya. Di dalam pikirannya hanya ada Kailla.
“Kenapa lama sekali?” bisik Pram masih menatap Kailla. Dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi sekarang, melihat istrinya di pelukan laki-laki lain.
“Ya Tuhan... apa yang dibicarakannya, kenapa tidak selesai-selesai!” gerutu Pram mulai kesal. Saat ini menunggu 5 menit saja rasanya seperti 5 tahun bagi Pram. Kalau tidak memikirkan etika dan sikap profesionalnya, dia sudah menghentikan rapat sedari tadi. Dia tidak rela Kailla terlalu lama di dalam pelukan Pieter.
“Maaf, rapatnya ditunda setengah jam lagi!” ucap Pram setelah kliennya menyelesaikan presentasi. Dia langsung berdiri, mengambil alih Kailla dari dekapan Pieter. Dia sudah tidak peduli lagi dengan yang lainnya, saat ini Kailla membutuhkannya.
***
Terimakasih.