
“Kalau begitu sebelum membatalkan kerjasama, aku harus memastikan investasi yang sudah aku tanam. Bagaimana progres-nya di dalam sana,” ucap Pram, seketika membuat mata Kailla melotot. Pram sudah mengambil posisi siap menyerangnya.
“Kamu mau apa?” tanya Kailla bergidik menatap wajah Pram yang sudah mulai menampakkan seringai harimaunya.
“Mau survey langsung ke proyek,” sahut Pram langsung mendorong tubuh Kailla dan menindih secepatnya. Tidak memberi kesempatan untuk istrinya berontak.
“Ah... aku tidak mau lagi. Capek yang tadi pagi juga belum hilang.” Kailla sudah mulai beralasan lagi.
“Makanya diam-diam saja. Jangan banyak berontak, jadinya capek,” bujuk Pram tersenyum, bersiap melahap istrinya.
“Ah.... Sayang, aku tidak mau,” tolak Kailla.
“Kamu cukup tiduran dan menikmatinya saja. Aku yang akan kerja keras Sayang,” ucap Pram lagi.
“Huhh!” Kailla mendengus kesal, membuang pandangannya dari Pram yang sedang berada di atasnya.
“Jangan menolak Kai, kalau mau masuk surga,” ucap Pram sambil terkekeh.
“Syarat apa lagi ini, aku baru pertama kali mendengarnya,” dengus Kailla . Saat ini Pram sudah melepas syal yang dikenakan Kailla dan melemparnya ke lantai.
“Ayolah Kai. Besok aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kita melihat salju,” rayu Pram.
Tangan Pram dengan cekatan melepas satu per satu pakaian yang menutup tubuh istrinya. Beberapa hari ini, jari-jarinya sudah terlatih melepas berbagai model pakaian yang dikenakan Kailla. Dia sudah tidak mengalami kesulitan seperti di awal. Kalau dulu dia akan mengomel, kalau sekarang dia sudah tidak peduli lagi. Kalau memang terlalu menyulitkannya dia tidak akan segan-segan untuk merusaknya. Dia ingat bagaimana Kailla mengomelinya semalaman setelah dia merusak bra keluaran victoria’s secret koleksi istrinya.
“Benarkah?” tanya Kailla, tersenyum sumringah. Dia sudah tidak terlalu memusingkan apa yang sedang dilakukan Pram padanya saat ini. Toh, menolak atau tidak, tetap saja Pram akan menang.
“Yes Mam, tapi itu tergantung performamu sebentar lagi,” ucap Pram sembari meremas gundukan di dada Kailla yang baru saja dibebaskannya dari bra putih berenda di pinggirannya.
“Aaahh... aku benar-benar i...mmmphtttt..” Kailla tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena Pram sudah membungkam bibirnya.
“Nanti saja baru membahasnya, aku butuh konsentrasi sekarang,” ucap Pram di sela ciumannya. Dia sedang menikmati bibir tipis istrinya saat ini.
“Sayang jangan di merah-merahin lehernya ya,” pinta Kailla saat Pram sudah bersiap memberi tanda kepemilikannya di leher jenjang istrinya.
“Kenapa lagi?” tanya Pram kesal. Entah kenapa hari ini Kailla bawel sekali. Terlihat dia menjauhkan wajahnya supaya bisa melihat ekspresi istrinya.
“Kita kan mau jalan- jalan besok, kalau leherku merah aku harus pake syal terus seharian.”
“Biarkan saja! Sudah diam sekarang,” ucap Pram, melanjutkan kesenangannya saat ini.
Tangannya sudah bergerilya, menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya. Tidak ada yang terlewatkan sama sekali. Melihat Kailla yang sudah pasrah dan tidak banyak bicara dia pun bisa melancarkan aksinya dengan tenang.
***
“Ayo sudah Sayang, kamu berat sekali,” ucap Kailla dengan mata terpejam, setelah Pram selesai menebarkan calon anak-anak mereka ke dalam rahimnya. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Pram pun masih belum rela berpindah dari atas tubuhnya. Masih belum mau melepaskan penyatuan di bawah sana.
“Sebentar lagi Sayang. Aku memastikan calon anak-anak kita tidak salah jalan,” ucap Pram sambil terkekeh.
“Aku takut mereka bukan jalan masuk ke dalam, tapi malah jalan-jalan keluar,” lanjut Pram tertawa, dengan nafasnya yang masih naik turun.
Melihat wajah kelelahan dan kekesalan istrinya saat ini, sungguh menyenangkan untuk Pram.
Dia sedang mencari celah untuk bisa melakukan serangan susulan.
Saat ini dia sedang berjuang, memastikan Kailla hamil secepatnya. Itu satu-satunya cara untuk mengikat istrinya yang masih labil. Kehadiran Pieter seakan menghantam kepercayaan dirinya selama ini. Walau dia berusaha tidak terpengaruh, tapi harus diakui dia juga takut. Setidaknya dengan kehadiran seorang anak diantara mereka, akan membuat Kailla berpikir dua kali untuk meninggalkannya. Karena di luar sana ada banyak Pieter-Pieter lain yang siap mengintai dan menggunakan segala cara untuk menggantikan posisinya dalam hidup Kailla.
Kailla tidak pernah kekurangan, dia tidak akan silau dengan semua yang Pram sediakan untuknya.
Sampai sejauh ini Pram hanya takut, di salah satu sudut dunia ini ada laki-laki yang sanggup menggetarkan hati istrinya. Dia berharap dia lah laki-laki itu. Tapi seandainya itu bukan dia, sebisa mungkin dia akan menjaga Kailla untuk tidak bertemu dengannya. Pram memilih egois kali ini. Bukan hanya sekarang atau pun nanti, sejak 20 tahun yang lalu Kailla sudah ditakdirkan menjadi miliknya, dia tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun. Termasuk kalau harus menentang takdir itu sendiri.
***
Keesokan harinya.
“Sayang... aku akhirnya bisa melihat salju.” ucap Kailla pada Pram. Dia sedang bahagia, terlihat dia menangkup es itu dengan kedua tangannya.
“Kamu bahagia sekarang?” tanya Pram tersenyum melihat Kailla yang sedang menikmati acara jalan-jalannya.
“Kemarilah!” ajak Pram meraih tangan Kailla dan mengajak istrinya menikmati gumpalan salju yang menutupi bebatuan di sekitar mereka.
Sekarang mereka berada di atas ketinggian. Dari tempat mereka berdiri tampak pemandangan rumah-rumah penduduk yang terlihat seperti korek api.
“Kai... ,” ucap Pram memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Hmmmm,” gumam Kailla. Dia terlalu bersemangat hari ini. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya sejak mereka masuk ke kawasan yang ada di atas pegunungan ini.
“Aku berharap bisa melihat senyumanmu ini seumur hidupku. Berjanjilah.. menua bersamaku. Kamu mau?” tanya Pram, terlihat dia mempererat pelukannya.
“Iya...,” Kailla menjawab singkat. Tangannya mengusap tangan Pram yang sedang mengunci tubuhnya.
“Aku akan membuatnya di depan Notaris. Kamu harus menandatangani surat perjanjian itu di atas materai. Kalau kamu melanggarnya, aku akan menuntutmu,” ucap Pram terkekeh.
“Serius?” tanya Kailla seketika memiringkan kepalanya, menatap ke arah Pram.
“Aku serius. Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu ingat itu!” sahut Pram mencubit hidung mancung Kailla.
“Sayang, kenapa begitu mencintaiku?” tanya Kailla tiba-tiba.
“Semua berawal dari komitmen dan tanggung jawabku. 2 tahun lalu, daddy datang dan memohon kepadaku untuk menikahimu. Tahukah kamu, aku langsung menerimanya saat itu juga.” Pram mulai bercerita.
“Hmmmm,” gumam Kailla. Dia sudah siap mendengar cerita selanjutnya.
“Aku tidak hanya berjanji pada daddy. 20 tahun yang lalu aku sudah berjanji lebih dulu pada mamamu. Sesaat sebelum mama kehilangan kesadarannya, dia menitipkanmu padaku,” lanjut Pram.
Kailla terkejut mendengar ucapan Pram. Selama ini Pram tidak pernah menyinggung masalah ini. Tapi memang selama 20 tahun, hanya Pram yang menemaninya setiap kali ke makam mamanya. Daddy tidak pernah mau ikut bersamanya. Kailla tidak mengetahui alasannya.
“Daddy tahu janjiku pada mamamu. Dan dia memberiku kesempatan untuk menepati janjiku. Sejak kecil kamu lebih banyak bersamaku dibanding daddymu, bahkan guru-guru sekolahmu lebih mengenalku dari pada daddymu. Aku hanya meninggalkanmu beberapa tahun selama aku kuliah di Inggris.”
“Iya, daddy dulu terlalu sibuk bekerja, aku harus bersusah payah mencari cara untuk bertemu dengannya,” ucap Kailla mengingat masa kecilnya.
“Iya, dan itu menjadi kesempatan untukku menepati janjiku menjagamu. Aku berpikir, tanggung jawabku selesai saat kamu menikah suatu saat nanti,” ucap Pram, tampak dia terdiam sejenak. Ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
“Saat aku memutuskan akan menikahi Anita. Daddy memintaku memilih. Kalau aku tetap menikahi Anita, aku tidak boleh menjagamu lagi,” cerita Pram.
“Dan kamu meninggalkannya karena aku?” tanya Kailla.
“Tidak sepenuhnya karenamu. Aku meninggalkannya karena kalian. Kamu dan daddy. Aku tidak bisa mengorbankan keluargaku. Jadi aku memilih mengorbankan Anita dan perasaanku sendiri saat itu,” jelas Pram lagi dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan kami,” ucap Kailla. Dia memilih menunduk.
“Aku yang paling bersalah, bukan kalian atau Anita. Aku yang pengecut. Aku yang menjebak diriku sendiri di situasi itu. Harusnya sebelum memulai hubungan dengan Anita, aku mempertimbangkanmu dan daddy,” sesal Pram.
“Daddy terlalu baik, dia bahkan bisa menyayangi anak yang besar di jalanan tanpa jelas asal usulnya, seperti anaknya sendiri. Bahkan orang tuaku saja membuangku, dia tulus menerimaku. Bagaimana aku bisa mengorbankannya.”
“Dan kamu menikahiku juga karena daddy?” tanya Kailla lagi.
Pram menggelengkan kepalanya. “Entah sejak kapan aku tidak tahu. Rasa sayangku padamu berubah menjadi cinta. Aku tidak punya alasan dan aku juga tidak butuh alasan. Aku hanya tahu, aku mencintaimu. Dan cinta memang tidak butuh kenapa dan mengapa. Saat kita mencintai, kita akan menerima semuanya tanpa syarat.”
***
Terimakasih. Love You All.