Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 162 : Berkunjung Ke Rumah Winny


Kailla sedang bersiap di kamarnya saat Pram masuk dan melempar jas kerjanya di atas ranjang.


“Sayang, kamu sudah siap?” tanya Pram menghampiri Kailla yang sedang memoles lipstik berwarna soft pink di bibirnya.


“Sudah,” jawab Kailla tersenyum pada pantulan Pram di dalam cermin meja riasnya.


Cup!cup! Dua kecupan mendarat di pipi Kailla sontak membuatnya berteriak.


“Ah... Sayang, kamu merusak perona pipiku,” gerutu Kailla. Pram melotot, mendengar suara Kailla yang memekik tiba-tiba di telinganya.


“Aku tidak bisa membayangkan, kalau dia sudah lahir. Akan sehancur apa rumahku nanti,” ucap Pram tertawa. Pram segera berlutut, mensejajarkan kepalanya pada perut Kailla yang sedang duduk di depan meja rias.


“Hai Sayang, jangan menyulitkan daddy ya. Cukup mommymu saja. Daddy sudah tua, tidak sanggup lagi harus mengurus kalian bersamaan,” ucap Pram mengelus perut Kailla.


“Huh! Setiap hari kamu hanya menjatuhkan harga diriku saja di depan anakmu!” protes Kailla, mengomel.


“Hahaha..., kamu dengar Nak, mommy sudah mengomeli daddy lagi,” adu Pram, berbicara di depan perut Kaila.


Buk!Buk! Dua pukulan mendarat di punggung Pram. Bukannya berhenti, Pram semakin menjadi.


“Aw.., Sayang!” jerit Pram pura-pura kesakitan.


“Kamu dengar Nak, Mommy sedang memukul daddymu,” keluh Pram terkekeh.


Setiap hari Pram, akan diawali dengan berbincang dengan bayi di dalam perut Kailla dan saat tidur pun dia akan melakukan hal yang sama. Tidak jarang, dia mengelus perut itu, sampai Kailla dan dirinya tertidur. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi dia benar-benar sudah tidak sabar menunggu anak mereka tumbuh dan berkembang di dalam sana. Membayangkan Kailla dengan perut buncitnya, melakukan banyak hal gila atau kekacauan seperti biasanya.


Mendengar keluhan Pram pada buah hati mereka, Kailla langsung cemberut, kesal mendengar kata-kata Pram.


“Belum lahir saja kamu sudah mengajaknya bersekutu melawanku,” ucap Kailla kesal.


“Sudah! Aku tidak menggodamu lagi,” ucap Pram tersenyum.


“Jangan kesal lagi, nanti aku tidak tahan untuk menerkammu,” lanjut Pram.


“Aku mandi sekarang, kita berangkat sebentar lagi,” lanjut Pram.


***


Mobil yang ditumpangi Kailla dan Pram masuk ke sebuah rumah mewah bernuansa klasik di pinggiran Kota Wina. Sebelum berangkat tadi, Winny sempat mengirim alamat kepada Pram.


Kali ini, Pram tidak membawa pasukan asisten. Dia hanya berangkat berdua saja dengan Kailla.


“Sayang, Ayo kita turun,” ajak Pram, membuka pintu mobil dan menggengam tangan Kailla.


“Sayang, aku malu,” ucap Kailla pelan. Dia selalu teringat dengan kejadian menumpahkan jus ke Winny. Kalau bisa mengulang, dia tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu.


“Tidak apa-apa. Bahkan Winny sudah melupakannya,” ucap Pram menepuk lembut punggung Kailla, berusaha menenangkan istrinya.


Dalam beberapa hari ini, mereka akan kembali ke Indonesia. Jadi Pram memilih untuk menerima undangan makan malam dari Winny dan suaminya.


Dari pintu depan tampak Winny dan Hendrawan menyambut mereka.


“Hai Hen, Win,” sapa Pram, menyalami suami Winny terlebih dulu, sebelum akhirnya ikut menyalami Winny juga.


“Kai..,” panggil Pram, meminta Kailla ikut menyapa kedua temannya. Pram masih sempat menepuk punggung Kailla, untuk menenangkan istrinya yang terlihat canggung dan gugup.


Sejak awal menikah, Kailla selalu merasa tidak nyaman setiap bertemu dengan teman-teman Pram yang umurnya jauh lebih tua darinya. Bahkan tidak sedikit, yang memandangnya seperti anak kecil, padahal mereka belum pernah berkenalan sama sekali.


Sebagian kadang menyapa seperlunya dan tidak terlalu melibatkannya di setiap percakapan. Hanya sesekali ada yang bertanya tentang kesehariannya. Dia juga tidak mau berprasangka, mungkin karena umurnya jauh dari Pram, jadi mereka juga kebingungan untuk memilih topik yang tepat untuk memulai pembicaraan.


“Win...ny,” sapa Kailla ragu. Menatap Winny sekilas sambil tersenyum, selebihnya dia kembali mengarahkan pandangannya pada Pram. Pram yang melihat kecanggungan di wajah Kailla hanya bisa tersenyum.


Winny yang jauh lebih dewasa, langsung memeluk Kailla.


“Apa kabar Kai?” sapa Winny sambil mengulas senyuman di bibirnya.


“Baik..,” sahut Kailla.


“Kami sudah berkenalan Pram. Bukankah begitu Nyonya Reynaldi?” Hendrawan berusaha mengingatkan Kailla, pertemuan mereka saat di acara gathering.


“Iya...,” sahut Kailla lagi-lagi menatap ke arah Pram.


Tak lama, mereka pun masuk ke dalam rumah, setelah acara sapa menyapa yang terjadi di depan pintu.


Begitu masuk ke dalam, Kailla langsung tersenyum menatap interior di dalam rumah Winny.


“Rumahnya cantik,” komentar Kailla pertama kali.


“Terimakasih Kai. Minta suamimu membangun istana seperti ini untukmu,” sahut Winny.


“Presdir perusahaan property terbesar di Jakarta, masa tidak sanggup membangun istana untuk istrinya,” celetuk Hendrawan menimpali ucapan sang istri.


Winny mengajak Kailla dan Pram berkeliling rumah, memamerkan ruangan lain di istananya.


“Aku suka,” komentar Kailla yang memang sangat menyukai design interior.


Setelah puas berkeliling, Winny mengajak tamunya untuk menyantap makan malam.


“Ayo, silahkan,” ajak Hendrawan mempersilahkan tamunya duduk di ruang makan. Sudah terhidang aneka masakan Indonesia di atas meja. Membuat Kaila langsung terperangah. Sudah lebih dari sebulan dia tidak menyantap menu rumahan, tapi saat berada di sini rasanya ini adalah menu yang mewah dan luar biasa.



Winny yang melihat ekspresi Kailla, langsung tersenyum.


“Sepertinya istrimu sudah merindukan Indonesia Pram,” ucap Winny.



“Iya, sangat. Dia merindukan bakso langganannya,” jawab Pram, tersenyum menatap Kailla.


“Benarkah?” tanya Winny ikut tersenyum menatap Kailla.


“Iya, walau pun Pieter sudah mencarikannya, tapi tetap dia tidak mau,” ucap Pram, meraih tangan Kailla yang duduk disampingnya.


“Oh ya, kalau begitu kamu harus makan yang banyak. Ini semua cheffku yang masak. Sengaja aku mempekerjakan koki dari Indonesia.”



Percakapan di meja makan itu pun mencair saat mereka mulai menyantap makanannya. Berkali-kali Hendrawan menggoda Pram saat mengetahui, istri Pram sedang hamil.


“Pram, kamu akan merasakan nanti saat perut istrimu sudah membuncit dan dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia juga tidak akan membiarkanmu tidur dengan tenang. Aku sudah melewatkan semua itu,” cerita Hendrawan, disambut gelak tawa Pram dan Kailla.


“Belum lagi, saat tengah malam meminta makanan yang aneh-aneh, di saat kita sudah mengantuk, mata sudah tidak bisa diajak kerja sama. Hadeuh!”cerita Hendrawan.


“Pram tidak sepertimu!” omel Winny.


“Itu karena dia baru pertama kali menghadapi kehamilan istrinya. Aku juga dulu begitu, sampai- sampai istriku tidur, aku perhatikan terus-terusan perutnya, menunggu ada pergerakan di dalam sana.”


“Belum lagi, kalau dia tidak mau mengidam. Sampai aku tawari makanan ini itu, karena penasaran bagaimana rasanya saat istri mengidam,” lanjut Hendrawan.


Percakapan mereka malam itu berakhir setelah Kailla mengeluh kelelahan pada Pram. Mendengar itu, Pram segera mengajak Kailla berpamitan pada kedua temannya. Saat akan berjalan menuju mobil, tiba-tiba Kailla berbalik, menghampiri Winny sambil menunduk. Sebenarnya dia sudah sejak awal ingin mengatakannya, tapi dia tidak punya kesempatan dan belum mengumpul keberanian.


“Win, maafkan aku ya. Kejadian di gathering beberapa minggu yang lalu, aku benar-benar minta maaf,” ucap Kailla, menunduk malu.


Winny tersenyum. “Tidak apa-apa, aku sudah melupakannya. Aku juga minta maaf, karena banyak menyita waktu suamimu saat itu. Karena pekerjaan, mengharuskan kami menghabiskan waktu lebih banyak.”


“Terimakasih. Saat berkunjung ke Indonesia, aku akan mengundangmu ke rumahku. Jangan menolaknya,” ucap Kailla tersenyum.


Winny hanya mengangguk dan tersenyum.


***


Terimakasih. Love You All