Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 170 : Menantu Tidak Tahu Diri


Pram memutuskan pulang ke rumah, setelah memastikan semua administrasi Pak Riadi sudah beres semua. Dia menugaskan Donny untuk menunggu di rumah sakit. Dia harus pulang dan memastikan keadaan Kailla baik-baik saja. Selanjutnya, dia juga harus ke kantor, untuk mengurus beberapa pekerjaan. Saat tiba di rumah, waktu menunjukkan hampir pukul 07.00 pagi. Terlihat Sam dan Bayu sudah mengobrol sambil minum kopi di teras samping.


“Sam, Kailla dimana?” tanya Pram.


“Di kamar Pak,” sahut Sam sambil menyesap kopi hitamnya. Tanpa bertanya lebih jauh lagi, Pram bergegas masuk, berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.


“Kai..,” panggil Pram saat masuk ke dalam kamar. Istrinya sedang tidur, masih ada sisa-sisa air mata di pipinya.


“Jangan menangis lagi. Aku berjanji akan menjagamu,” bisik Pram, setelah menghapus jejak airmata di wajah cantik istrinya.


Mata sembab itu mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya membuka sempurna.


“Sayang, kamu sudah kembali. Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Kailla masih dengan suara serak khas bangun tidur.


“Aku baru saja kembali. Aku mau mandi dulu,” jelas Pram.


“Daddy...?” tanya Kailla dengan air mata yang kembali turun.


“Daddy masih di rumah sakit.” Pram terlihat ragu, harus berkata jujur atau tidak pada istrinya.


“Lalu.. bagaimana keadaan daddy?” tanya Kailla, turun dari tempat tidur dan menghampiri Pram yang sedang membuka kaosnya bersiap mandi.


Pram tersenyum. “Daddy koma lagi.”


“Tapi jangan khawatir, pasti akan baik-baik saja. Daddy sudah mengalami koma sebanyak dua kali dan baik-baik saja. Sekarang juga akan seperti itu,” hibur Pram. Dia tidak berani berterus terang keadaan daddy yang sebenarnya. Kenyataannya daddy hanya hidup karena alat bantu, begitu alat itu dilepas, bisa dipastikan daddy meninggalkan mereka semua.


“Mau memelukku?” tanya Pram, mengulurkan tangannya, meraih tubuh Kailla supaya memeluknya.


“Nanti aku mau ikut ke rumah sakit,” pinta Kailla, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Pram yang sedang bertelanjang dada saat ini.


“Iya, tapi kita mandi dan sarapan dulu, baru ke rumah sakit,” ucap Pram sambil menyelipkan rambut Kailla yang berantakan ke belakang daun telinganya.


“Mau mandi bersamaku?” tawar Pram, tersenyum menggoda menarik pinggang Kailla kian mendekat dengannya.


Kailla terbelalak mendengar tawaran Pram.


“Disaat seperti ini, otakmu masih mesum!” gerutu Kailla.


“Ayolah!” rengek Pram.


“Aku butuh pijatan dan usapanmu. Aku lelah Sayang,” lanjut Pram lagi.


Tanpa menunggu jawaban Kailla, Pram sudah menarik tangan istrinya ikut masuk ke kamar mandi.


“Kamu tidak mau kan, aku minta pijatan ke gadis di salon plus-plus.Hahaha,” ucap Pram tertawa.


“Berani mencobanya?” tanya Kailla menantang Pram. Dia sudah siap mengepalkan tangannya, siap melayangkan tinju ke suaminya.


“Makanya, ayo.. aku mau pijatan plus-plus dari mu,” goda Pram.


“Kepalaku sakit, Kai. Aku tidak tidur semalaman. Dari rumah sakit aku harus ke kantor,” cerita Pram, memijat pelipisnya.


“Kamu merindukanku?” tanya Kailla. Pram yang sudah paham maksud Kailla, langsung mengangguk.


“Aku butuh bertemu anakku, biasanya dia paling pintar menenangkan daddynya,” ucap Pram tersenyum usil.


***


Ada banyak pertanyaan yang menari-nari di otak Pram setiap mengingat apa yang mau disanpaikan mertuanya. Dia tidak punya gambaran sama sekali, memaksa berpikir pun rasanya hanya sia-sia. Hanya membuang waktu dan tenaga.


Kailla..


Hanya nama itu saja yang masuk akal. Daddy pasti sedang mengkhawatirkan putri kesayangannya ini. Seumur hidup Riadi Dirgantara, tidak pernah sekalipun tidak pernah memikirkan Kailla. Bahkan Pram bisa mengingat jelas beberapa tahun yang lalu, terucap tanpa sengaja dari bibir daddy.


“Kalau aku bisa memilih, aku memilih dia tidak terlahir dari darahku. Dari benihku. Dia lahir hanya untuk menjadi pelampiasan musuh-musuhku, orang yang menuntut balas akan perbuatanku di masa lalu.”


Kalimat itu masih jelas di otak Pram. Dan hampir setiap hari, ungkapan khawatir itu terucap. Lamunan Pram sedikit terganggu saat Kailla menggeliat kecil di dalam pelukannya, tatapan Pram tertuju pada istrin kecilnya yang sedang tidur lelap dengan wajah polos dan menggemaskan.


“Sayang, kamu boleh tidur lagi. Jalanan sedang macet-macetnya,” bisik Pram, mengecup aroma shampo di pucuk kepala istrinya.


Saat ini mobil mereka terjebak di perempatan lampu merah. Ada banyak penjaja makanan ringan, mondar mandir menawarkan jualannya. Dan dulu, dia adalah salah satu di antara mereka. Sampai bertemu dengan mertuanya. Dia tidak tahu masa kecilnya, orang tuanya. Saat dia mengenal dunia, dia sudah berada di jalanan bersama anak-anak lain, yang tidak memiliki orang tua juga.


Dia hanya mengingat, pertemuan pertamanya dengan Riadi, laki-laki itu langsung menawarinya untuk ikut pulang bersamanya. Tinggal di rumah mewah bak istana, yang membuat bibir Pram kecil tidak bisa mengatup.


Dia disekolahkan di sekolah terbaik di Jakarta, diperlakukan seperti anak kandung. Saat itu, nhKailla belum ada. Kailla hadir beberapa tahu saat kematian istri Riadi, Anna Wijaya.


Mobil masuk ke pelataran rumah sakit. Pram segera membangunkan Kailla dan mengandengistrinya masuk ke dalam rumah sakit.


“Kai, aku mungkin tidak lama, aku masih ada rapat dua jam lagi,” jelas Pram, menatap jam di pergelangan tangannya.


“Iya,” sahut Kailla singkat.


“Kalau lelah, kamu bisa pulang Kai. Biarkan Donny yang berjaga disini,” pesan Pram.


“Iya...”


Menunggu di sini berlama-lama juga percuma, dokter sudah mengatakan tidak akan ada perubahan apa-apa. Pak Riadi hanya bergantung hidup dari alat bantu, tapi begitu alat bantu dilepas artinya semua akan selesai. Dan Pram tidak punya keberanian untuk berterus terang pada Kailla. Dia memilih tetap mempertahankan alat bantu itu tetap terpasang di tubuh mertuanya, setidaknya sampai Kailla siap. Sambil berdoa semoga ada keajaiban.


“Sayang, aku harus ke kantor. Kamu mau ikut denganku?” tanya Pram setelah setengah jam berada di depan ruang ICU.


“Aku disini saja,” sahut Kailla, tetap menatap pintu ruang ICU. Dia belum bertemu dengan daddy dari awal tiba di rumah sakit.


“Ikut denganku ke kantor saya ya,” tawar Pram, berjongkok sambil menggenggam tangan Kailla. Dia tidak tenang meninggalkan Kailla sendirian di rumah sakit.


Kailla menggeleng.


“Baiklah. Kamu bisa menghubungiku kapan pun. Aku harus ke kantor sekarang Kai,” ucap Pram, mengecup kening istrinya.


***


Pram sedang serius mendengarkan presentasi di ruang rapat, saat Kailla menghubunginya. Pandangannya langsung beralih pada layar ponsel yang berkedip di meja. Senyum tersungging di bibir Pram saat nama Kailla muncul di sana. Tanpa membuang waktu, dia meraih ponsel mahalnya itu dan membawanya keluar untuk mendengar suara istrinya.


“Sayang, aku dan Sam sedang menuju ke makam mama sekarang,” lapor Kailla saat Pram menerima panggilannya.


Pram lupa, sejak menikah dia belum membawa Kailla berkunjung ke makam mamanya. Dia terlalu sibuk, sampai melupakan hal yang sangat penting untuk mereka berdua.


“Iya, tunggu aku di sana. Aku akan menyusul. Aku benar-benar menantu tidak tahu diri, sampai melupakan hal paling penting dalam pernikahan kita,” sahut Pram dari seberang telepon, tersenyum kecut. Menertawakan kelalaiannya sebagai seorang menantu.


***


Terimakasih. Love you all.


Mohon bantuan like share dan komennya.