
“Bay keluar sekarang!” perintah Pram lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih keras dan tegas. Tidak ada penawaran lagi di dalamnya.
Mendengar itu Bayu dan Kailla tidak bisa membantah. Apalagi Kailla, jantungnya langsung berdetak kencang tidak karuan. Suara berat suaminya saat ini di pendengaran Kailla seperti petir yang menggelegar. Hatinya langsung menciut, mengingat dia dengan sengaja mencuri ponsel demi memiliki alasan pergi ke kantor.
“Kai, kemarilah!” perintah Pram setelah memastikan Bayu sudah keluar ruangannya. Terlihat dia menepuk pahanya, meminta Kailla duduk di pangkuannya.
Kailla menatap Pram sekilas, sebelum akhirnya menunduk. Dengan langkah ragu-ragu, dia memilih mengikuti permintaan Pram. Begitu tinggal selangkah lagi kakinya mencapai posisi Pram, tangan kekar Pram sudah menariknya. Memaksanya duduk di atas pangkuan.
“Kenapa masih memaksa pergi ke kantor? Padahal kamu tahu, aku sudah menolak permintaanmu,” tanya Pram.
“Aku...aku..... “ Kailla tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia mengkhawatirkan Mitha yang mencari kesempatan menggoda suaminya.
“Kamu tidak mempercayaiku Kai?” tanya Pram, masih menatap Kailla yang menunduk.
“Aku..aku tidak mempercayainya..,” Kailla menjawab pelan sekali, hampir tidak terdengar.
“Kamu mempercayaiku?” tanya Pram lagi, masih menatap istrinya tanpa berkedip. Dia sengaja memiringkan duduk Kailla di pahanya, supaya bisa leluasa menatap wajah istrinya yang sedang ketakutan.
Kailla hanya mengangguk,tidak ada jawaban yang keluar di bibirnya.
Pram menghela napasnya, “Cukup percaya padaku saja! Tidak perlu memikirkan apa yang dilakukan orang lain. Mengerti?” ucap Pram menyentil kening istrinya.
“Kamu boleh pulang sekarang,” ucap Pram mengecup bibir Kailla sekilas.
“Aku mau menunggumu disini. Aku tidak akan membuatmu dalam masalah,” tolak Kailla menatap Pram sebentar, sebelum akhirnya menundukkan kepalanya kembali. Kailla berpikir dengan menunggu disini, Pram akan segera pulang ke kantor dan tidak menghabiskan banyak waktu di luar.
“Tidak ada siapa-siapa disini Kai. Kamu akan bosan. Kembali ke rumah ya Sayang,” pinta Pram.
Kailla menggeleng, “aku mau menunggumu disini, di rumah juga aku bosan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Ayolah izinkan aku mengambil kursus bahasa.” Kailla merengek kembali. Niatnya untuk belajar bahasa belum dikabulkan Pram.
Pram menatap pergelangan tangannya, sebentar lagi dia harus keluar kantor dan bertemu Winny bersama Mitha. Setelah itu dia masih ada meeting lagi di tempat berbeda. Jadwalnya hari ini lumayan padat. Dia akan menghabiskan makan siang di luar. Kalau meninggalkan Kailla sendirian disini, dia tidak akan tenang.
“Aku akan keluar sebentar lagi, kamu juga harus pulang. Aku janji akan pulang ke rumah secepatnya,” ucap Pram lagi.
Tok tok tok..
Terdengar suara ketukan di pintu ruangan Pram.
“Masuk!” perintah Pram. Buru-buru Kailla bangkit dari duduknya dan memilih menjatuhkan dirinya di sofa.
“Pagi Pak,” sapa Mitha sudah berdiri di depan meja kerja Pram dengan memeluk sebuah map.
“Oke, kita berangkat sekarang. Kamu boleh menungguku di luar,” perintah Pram. Tatapannya tertuju kepada Kailla yang saat ini sedang menunduk tanpa ekspresi. Dia tahu istrinya kecewa. Tampak dia meraih jas di sandaran kursinya kemudian menghampiri Kailla di sofa.
“Kai, aku berangkat sekarang,” ucap Pram, dia memilih berjongkok di depan istrinya. Dengan begitu dia bisa menatap wajah cantik Kailla yang sedang merengut dan bersedih.
“Aku mencintaimu,” ucapnya lembut, mengenggam kedua tangan Kailla.
“Kamu juga harus pulang sebentar lagi ya,” pinta Pram berusaha mengecup bibir istrinya.
Deg—
Untuk pertama kalinya Kailla menghindar, dia memalingkan wajahnya. Tidak mau menerima ciuman Pram.
“Kai...,” panggil Pram setelah melihat istrinya cemberut dan tidak mau menatapnya.
“Cium aku sekarang!” perintah Pram yang hanya dijawab sebuah gelengan oleh Kailla.
“Hehehe...” Pram terkekeh. Segera dia bangkit dan membungkuk, mengecup kening dan pipi Kailla sebentar.
“Setelah ini pulang ya. Minggu ini aku akan mengajakmu melihat salju,” janji Pram sambil menepuk puncak kepala Kailla. Tersenyum dan meninggalkan ruangannya.
***
Setelah setengah jam termenung di dalam ruangan Pram, akhirnya Kailla memutuskan pulang ke apartemen. Tapi baru saja keluar dari ruangan, tampak Pieter berjalan menuju ke arahnya.
“Pagi Nyonya cantik!” sapa Pieter mempersembahkan senyuman terindahnya.
“Presdir sedang ada rapat di luar. Mau menunggu di ruanganku?” tawar Pieter.
Kailla berpikir sejenak.
“Apa aku terima saja tawarannya, sekalian menunggu Pram. Lagipula di rumah juga tidak ada kerjaan.”
“Baiklah! Tapi jangan memanggilku Nyonya, aku tidak setua Presdirmu!” Kailla menjawab.
“Baiklah Kai, ayo ke ruanganku!” ajak Pieter sambil tersenyum.
***
“Kak Pieter, kenapa tidak ikut dengan suamiku?” tanya Kailla saat mereka sudah berada di ruangan Pieter. Dia memilih duduk di sofa hitam yang ada di dalam ruangan.
“Aku masih ada urusan di kantor,” jawab Pieter. Dia memilih duduk di sofa menemani istri Presdir sekaligus teman baiknya.
“Hmmmm..” gumam Kailla. Matanya menatap ke sekeliling, meneliti satu per satu perabotan di dalam ruangan Pieter.
“Lumayan nyaman!” celetuk Kailla setelah puas memandang interior ruangan asisten suaminya itu.
“Tidak senyaman ruangan suamimu Nyonya! Aku harus bekerja keras memenuhi keinginan suamimu yang bawel itu,” jawab Pieter menimpali ucapan Kailla.
“Itu karena dia ingin memberiku kejutan.” Kailla tersenyum mengingat desain ruangan suaminya yang persis seperti kamar tidurnya.
“Maksudmu Kai?” Pieter bingung dengan jawaban Kailla.
“Ruangan suamiku itu adalah desain kamar tidurku di Indonesia.” Kailla menjelaskan.
“Wow! Laki-laki tua itu sangat mencintaimu Nyonya!” ucap Pieter terkekeh. Dia tidak pernah tahu sebelumnya, kalau Kailla tidak menceritakan padanya. Dia akan tetap mengomel, setiap mengingat kebawelan Pram saat dia mengatur ruangan untuk temannya itu.
“Aku penasaran, bagaimana kamu mau menikah dengan laki-laki tua itu,” bisik Pieter, tersenyum menggoda. Terlihat dia menggeser duduknya, lebih mendekat dengan Kailla supaya bisa mengobrol dengan nyaman.
“Kami di jodohkan.” Kailla menjawab singkat, menatap ke depan.
“Astaga! Serius?” Pieter kaget mendengarnya, matanya membulat. Dia menatap Kailla tidak berkedip, mencari keseriusan dari jawaban istri Presdirnya.
“Iya....” Kailla memastikan lagi jawabannya.
“Dan kamu menerimanya?” tanya Pieter penasaran. Semakin lama mengobrol dengan Kailla, dia semakin tertarik. Sebenarnya dari awal dia melihat Kailla yang hampir t*lanjang di ruang kerja Pram, dia merasa wanita ini memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan saat Kailla memeluknya ketika tertidur di ruang rapat membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Kalau saja bukan istri Pram, dia akan memperjuangkannya.
“Daddy yang meminta padaku.” Kailla masih menjawab dengan polosnya. Dia bahkan tidak pernah membayangkan laki-laki di hadapannya saat ini memiliki niat lain. Bagi Kailla, Pieter teman baik suaminya.
“Astaga! Benar-benar ada perjodohan yang seperti ini di dunia nyata!” batin Pieter.
“Dan kalau itu bukan Pram, kamu juga akan menerimanya?” Pieter saat ini sedang merangkai kepingan puzzle yang membuatnya penasaran.
Kailla hanya tersenyum dan mengangguk.
“Aku sudah hampir menyelesaikan puzzle-nya. Pertanyaanku yang terakhir ini akan menjawab semuanya,” ucap Pieter dalam hati.
“Kamu mencintai teman baikku Pram?” tanya Pieter langsung menembak ke sasaran.
“Pertanyaan macam apa ini?” Kailla tersenyum cemberut dan tidak mau menjawab.
“Ayolah Nyonya, aku akan menjaga rahasia. Aku tidak di pihak siapa-siapa.” Pieter masih berusaha membujuk.
“Tidak ada jawaban, dia suamiku,” jawab Kailla singkat.
Dan Pieter bersorak sorai sekarang. Jawaban Kailla yang tidak seperti jawaban, memberi angin segar untuknya.
“Kailla tidak mencintai Pram! Kalau dia mencintai Pram, dia tidak akan menolak menjawabnya.”
***
Terimakasih. Mohon bantuan like komen dan share ya. Love you all.