Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 150 : Anakmu Merindukan Daddynya


“Brengsek! Siapa lagi ini?” batin Pram, melempar ponselnya asal.


Pram menatap Kailla yang sedang tidur lelap disisinya. Kekesalan dan kemarahannya lamgsung menguap saat melihat wajah menenangkan sang istri. Kailla tidak terganggu sama sekali. Wajah polos dan tanpa dosa itu, bahkan tidak tahu apa yang mengancam hidupnya di luar sana.


“Aku akan menjaga kalian dengan tanganku sendiri,” bisik Pram di telinga Kailla. Mengecup lembut pelipis istrinya. Sebelum akhirnya ikut berbaring, memeluk erat Kailla yang sedang membelakanginya. Tangannya sedang mengusap lembut perut rata istrinya, tempat dimana buah hati mereka sedang tumbuh saat ini.


“Baik-baik di dalam sana ya Nak. Daddy akan menjaga kalian,” batin Pram menelusupkan wajahnya di tengkuk Kailla.


***


Pagi sekali Pram sudah terjaga dari tidurnya. Sejak menerima pesan misterius itu, dia tidak bisa tidur dengan tenang. Dengan mengecup pelipis Kailla yang masih terlelap, dia bangkit dari tidurnya. Dia harus menghubungi David secepatnya.


“Iya...Presdir,” sapa David.


“Dave.., “ sapa Pram begitu suara David terdengar di seberang telepon. Tampak Pram menatap jam di ponselnya. Masih pukul 05.00 pagi waktu Austria.


“Ya, Presdir.., ada apa?” sahut David dari seberang.


“Besok, tolong cek progres renovasi rumahku sudah sampai tahap mana. Aku ingin selesai secepatnya. Mertuaku akan pindah ke sana begitu renovasi selesai,” perintah Pram.


“Pak Riadi?” tanya David dengan polosnya. Matanya masih terpejam, dia belum sepenuhnya sadar.


“Istriku ada berapa?” tanya Pram kasar dan sedikit kesal.


“Maaf Presdir,” ucap Dave saat menyadari telah salah bertanya.


“Mertuaku cuma satu, hanya Riadi,” semprot Pram.


“Dave, tolong tambah pengamanan di rumah Pak Riadi. Tidak masalah, kalau memang harus ada tambahan security,” titah Pram lagi.


“Baik..,” sahut David


“Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Maaf, mengganggu waktumu,” ucap Pram, memutuskan panggilan ponselnya.


Pikiran Pram tengah menerawang, menduga-duga siapa pelaku yang mengirim pesan misterius padanya.


“Aku merasa daddy menutupi sesuatu padaku dan Kailla,” ucapnya pelan, mengusap kasar wajah dengan kedua tangannya.


“Tapi bagaimana bisa bertanya disaat kondisi daddy seperti ini,” ucapnya lagi. Tangannya sedang memutar-mutar ponsel di meja, otaknya berpikir keras, merangkai berbagai peristiwa yang sudah mereka lewati selama ini.


Pram sedang memejamkan mata, bersandar di kursi saat pintu ruangan terbuka.


“Sayang...,” panggil Kailla manja. Masih tampil acak-acakan dengan gaun tidurnya yang tipis, menampilkan lekuk tubuh rampingnya. Dia terbangun, saat merasa Pram tidak ada di sampingnya. Biasanya tangan Pram akan memeluk sepanjang tidurnya.


“Kamu berani keluar kamar hanya mengenakan gaun tidur ini?” omel Pram, melotot. Istrinya hanya terbalut kain tipis dan tidak memakai pakaian dalam. Puncak dadanya tercetak jelas di gaun tidurnya.


“Tidak ada siapa-siapa,” sahut Kailla menaikkan kedua bahunya, berusaha membela diri.


“Sebentar lagi jam 6 pagi, kalau sampai Bayu atau Sam masuk bagaimana?” tanya Pram kesal. Dia sudah sering kali mengingatkan, tapi Kailla selalu mengulanginya kembali.


“Sayang...,” panggil Kailla. Dia langsung duduk di pangkuan Pram. Bergelayut manja dan mengecup leher suaminya tanpa malu.


“Kenapa? Masih mau lagi?” goda Pram sambil tersenyum genit. Memeluk Kailla supaya tidak terjatuh dari pangkuannya.


“Aku tidak mau lagi,” sahut Kailla.


“Tapi... tapi anakmu sepertinya masih merindukan daddynya,” lanjut Kailla ragu-ragu, tersenyum malu-malu. Langsung memeluk erat leher Pram, menelusupkan wajahnya di ceruk leher suaminya.


“Kenapa aku jadi tidak tahu malu seperti ini,” ucap Kailla dalam hati.


“Tidak apa-apa. Aku suka kamu memintanya langsung padaku,” ucap Pram tersenyum menepuk lembut punggung Kailla. Dia sempat terkejut saat mendengar ucapan Kailla.


“Terdengar seksi, Sayang,” ucap Pram, mengigit kecil telinga Kailla. Dia tahu Kailla pasti sedang malu sekali. Untuk pertama kali, Kailla meminta padanya. Kehamilan membawa perubahan besar pada istrinya.


“Ayo... mau dimana Kai?” tanya Pram, berbisik di telinga Kailla.


“Ah... jangan menggodaku lagi,” ucap Kailla.


“Mau disini lagi?” tanya Pram, menunjuk ke arah sofa di ruang kerjanya.


Kailla menggeleng. “Aku tidak mau, pinggangku sakit,” sahut Kaila, memukul dada bidang Pram.


“Ayo kembali ke kamar,” ajak Kailla segera turun dari pangkuan Pram. Berlari menuju sofa dan naik di atasnya sembari merentangkan kedua tangannya.


“Gendong aku,” pinta Kailla manja. Menatap Pram dengan senyum penuh harap.


Pram berjalan menghampiri istrinya, bersiap menggendong Kailla ala bridal style.


“Aku mau digendong di belakang. Seperti oppa-oppa di drama korea,” ucap Kailla, membalikkan tubuh Pram supaya membelakanginya. Kedua tangan sudah merangkul leher suaminya dari belakang, melingkarkan kedua kakinya di pinggang Pram.


“Awww.. Kai, tunggu sebentar,” pinta Pram mengembalikan keseimbangannya. Kailla melakukannya begitu tiba-tiba, untung saja dia tidak menjatuhkan istrinya.


“Oke, kita terbang sekarang!” ajak Pram.


“Kai buka pintunya,” pinta Pram lagi saat hendak keluar dari ruang kerja. Kedua tangannya sedang mengunci kedua kaki istrinya, memastikan Kailla tidak terjatuh.


“Sudah, Sayang. Ayo kita berlari!” ajak Kailla, mengecup pipi Pram sekilas.


Tepat saat melangkahkan kaki keluar dari ruang kerja, Bayu dan Sam masuk ke dalam apartemen. Keduanya langsung membalikkan tubuhnya seketika, melihat kedua majikannya sedang dalam posisi seperti itu.


“Biarkan saja, anggap saja mereka tidak ada!” bisik Kailla pada Pram. Dia tidak mau Pram menurunkannya. Dia masih menikmati berada di gendongan suaminya.


***


Setelah memastikan Pram dan Kailla masuk ke dalam kamar, Bayu dan Sam baru berbalik kembali. Berjalan menghampiri Bu Ida, yang sedang berdiri termenung menatap punggung Kailla menghilang di balik pintu kamarnya.


“Sudah lama tidak melihat pemandangan ini,” ucap Bu Ida pelan sambil tersenyum.


Mungkin sudah hampir 10 tahun, dia tidak melihat lagi Pram menggendong Kailla. Dulu kecil setiap merengek dan meminta sesuatu, Pram akan menggendong Kailla sampai tertidur. Itu satu-satunya cara menenangkan Kailla dulu.


Dan sekarang dia melihatnya lagi. Ada rasa haru melihat itu kembali. Mengingat bagaimana perjalanan hidup keduanya. Pram mengurus Kailla sejak kecil, bahkan sejak bayi.


Dia masih mengingat jelas, Pram yang menggendong Kailla, membawanya pulang pertama kali ke kediaman Riadi Dirgantara. Pada saat itu semua orang di rumah bingung, tiba-tiba Pram membawa pulang bayi. Tapi mereka tidak berani bertanya. Sampai akhirnya Pak Riadi kembali dari luar negri , langsung mengumpulkan semua asisten di rumah. Memberitahu kalau Kailla putrinya.


“Bu.., kopi hitam,” pinta Bayu membuyarkan lamunan Bu Ida.


“Saya juga Bu,” pinta Sam.


“Nah Sam, ini baru awalnya. Nanti-nanti, kamu akan melihat yang lebih lagi dari sekarang,” ucap Bayu menepuk pundak Sam.


“Coba tanya Bu Ida, bagaimana perasaannya. Dia sering mendapatkan jackpot dari Pak Pram hahaha..,” ucap Bayu sambil tertawa.


****


Terimakasih. Mohon dukungan like dan komennya.