Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 136 : Kekagetan Bu Ida Jilid II


“Aku sedang bermimpi, jadi jangan sungkan. Aku milikmu Nyonya,” ucap Pram.


Bola mata Kailla langsung membulat saat telinganya menangkap kata-kata yang meluncur dari bibir suaminya. Sekali lagi dia memastikan, memperhatikan wajah terpejam suaminya.


Tangannya sudah mengepal, siap melayangkan pukulan ke dada Pram setelah mendapati suaminya itu hanya berpura-pura tidur. Dia baru menyadari, sedari tadi Pram mengetahui kelakuan memalukannya. Bahkan mungkin menikmati, saat dia dengan tidak tahu malunya mengecup leher Pram dengan penuh semangat.


Tapi baru saja tangannya siap menghantam dada kekar suaminya, bunyi dering ponsel mengacaukan segala rencana pembalasan yang sudah dirancang Kailla beberapa detik yang lalu.


Kailla langsung memejamkan mata serapat-rapatnya sampai beberapa kerutan tampak di sudut matanya. Saat ini, dia menempel erat di atas tubuh Pram seperti cicak menempel ke dinding. Kondisi Kailla berbanding terbalik dengan Pram, yang langsung membuka lebar matanya saat bunyi dering ponsel berteriak mengganggu kegiatan mereka.


“Mengganggu saja!” batin Pram, yang tadinya sudah pasrah menunggu singa betina menerkam tubuh dan mencabik-cabiknya.


Pram harus bersusah payah mengeluarkan ponselnya yang terjepit antara tubuhnya dan sofa. Belum lagi tangan kirinya harus mendekap tubuh Kailla yang sedang menindihnya supaya tidak terjatuh. Saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, Pram langsung berdecak kesal.


“Iya Dave!” sapa Pram ketus.


Belum sempat David berbicara, Pram sudah melanjutkan lagi.


“Sebelum menelepon, harusnya cek google dulu Dave. Di Wina sedang tengah malam!” gerutu Pram pada David yang mengganggu kesenangannya.


“Maaf Presdir,” ucap David dari seberang.


“Katakan!” perintah Pram.


“Saya hanya mau mengabarkan kondisi Pak Riadi yang sudah membaik. Kemungkinan besok atau lusa sudah bisa pulang ke rumah,” cerita David.


“Lalu..?” tanya Pram singkat. Wajahnya tampak kesal.


“Sam juga sudah kembali bekerja. Hanya itu saja. Maaf mengganggu Presdir,” ucap David memutuskan telepon secepatnya. Dia cukup paham, sang Presdir sedang tidak mau diganggu setelah mendengar jawaban ketus dari Pram.


Kailla yang sedari tadi berusaha mencuri dengar, tidak bisa mendapat info apa-apa. Dia hanya mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir suaminya saja.


“Baik, kamu mengganggu saja Dave. Kamu tahu sendiri kan, tengah malam itu jam-jam potensial untuk pengantin baru,” ucap Pram. Ponselnya masih tetap ditempelkan di telinga walaupun David sudah memutuskan panggilannya. Memancing reaksi Kailla yang sedang berpura-pura tidur di atas tubuh kekarnya.


Tampak Pram melirik pada istrinya yang saat ini sedang berbaring di atas tubuhnya. Dia sudah ingin tertawa saat ini.


“Iya Dave, kamu tidak tahu bagaimana istriku kalau kesenangannya terganggu. Dia sudah seperti singa betina yang kelaparan saat ini,” ucap Pram tersenyum licik menatap pucuk kepala Kailla.


Bisa-bisanya kamu menghubungiku, tepat di saat dia akan menerkamku. Hanya dalam hitungan detik, pasti aku terkapar kalau kamu tidak menggangguku dengan dering ponsel,” lanjut Pram lagi, bersiap menunggu Kailla mengamuk. Dia yakin, sebentar lagi istrinya akan meledakkan bom atom padanya.


Kailla yang mendengar ucapan Pram, langsung melotot. Dengan kasar dia merebut ponsel dari tangan Pram dan langsung menempelkan ponsel itu di telinganya. Bagaimanapun dia harus mengklarifikasi pernyataan suaminya. Pernyataan sepihak yang memojokkan harga dirinya.


Tuttt...tutt...


Dia bertambah kesal saat mengetahui kalau Pram kembali mengerjainya. Tidak ada siapa-siapa di seberang telepon. Suaminya hanya bicara sendiri.


Buk!Buk!Buk!


Pukulan yang sempat tertunda, sekarang sudah mendarat ke dada Pram tanpa perlawanan dari empunya.


“Kamu sengaja mengerjaiku!” gerutu Kailla, memaksa bangkit dari atas tubuh Pram.


Pram hanya tertawa melihat raut wajah istrinya yang sedang kesal.


“Kenapa tadi harus berpura-pura tidur?” tanya Kailla. Rasa kesal dan malu akhirnya membuatnya emosi.


“Aku hanya tidak ingin menghancurkan harga dirimu Nyonya. Makanya aku memilih berpura-pura tidur. Bukannya kamu sendiri yang memintaku untuk tidak bangun.” Pram terkekeh.


Dia hanya mengembalikan kata-kata Kailla, yang tadi dibisikkan padanya saat dia berpura-pura tidur.


Mendengar jawaban Pram kembali emosi Kailla tersulut.


“Kamu...!” Kailla sudah bersiap menyerang Pram yang saat ini sedang berdiri di hadapan Kailla.


Kailla langsung memukul Pram dengan sekuat tenaga. Pram benar-benar mengerjainya saat ini.


“Iya.. iya, aku tidak mengerjaimu lagi,” ucap Pram setelah melihat Kailla bertambah kesal.


Dengan santai dia melepas kaos yang melekat di tubuhnya dan melemparnya ke sofa.


“Ayo, kemarilah!” ajak Pram, mendekati Kailla.


Melihat Pram yang melepas kaosnya, Kailla langsung berlari menghindar. “Kamu mau apa?” tanya Kailla.


“Kamu merindukan aromaku kan. Kemarilah, kamu bisa menciumku sepuasnya,” jawab Pram memberi kode dengan tangannya supaya Kailla mendekat padanya.


Kailla menggeleng.


“Ayolah, bukannya tadi kamu hampir gila menginginkanku Nyonya,” goda Pram membuat Kailla malu.


Blush...! Pipi Kailla langsung merona. Dia memilih menunduk. Membayangkan seberapa agresifnya dia tadi, semakin membuatnya malu.


Melihat Kailla tertunduk diam, Pram memilih menghampiri, meraih tubuh Kailla dan memeluknya dengan paksa.


“Aku tidak mau,” tolak Kailla, berusaha memberontak.


“Kita sedang bertengkar saat ini. Aku tidak mau.” Kailla memberi alasan.


“Bagaimana kalau kita berbaikan sebentar, aku benar-benar merindukanmu Sayang,” rayu Pram. Dia sudah lama tidak menerkam istrinya.


“Aku tidak mau!” tolak Kailla menyilangkan kedua tangan di dadanya.


“Kita selesaikan dulu, baru setelah itu kita bertengkar lagi. Kita masih punya banyak waktu melanjutkan pertengkaran kita. Tapi saat ini kita berdamai ya,” bujuk Pram. Tangannya sudah menelusup masuk ke dalam kaos putih yang dikenakan istrinya.


“Aku mau mengecek investasiku sebentar, perkembangannya sudah sejauh mana,” goda Pram. Tangannya sudah meremas benda kenyal di dada istrinya. Bibirnya sendiri sedang mengecup ceruk leher Kailla, seketika membuat tubuh istrinya menggelinjang.


“Aah... aku tidak mau,” rengek Kailla seperti biasanya. Dia sudah tidak bisa berontak lagi saat ini. Pram dengan mudahnya bisa melepas satu per satu pakaian yang yang menempel di tubuhnya.


“Sebentar saja. Sudah lebih dari seminggu aku tidak menggigitmu,” bujuk Pram, mengecup pundak mulus Kailla yang sudah polos. Tangan Pram terlihat kesulitan melepas celana dalam berenda milik Kailla.


“Jangan dirusak lagi, itu kesayanganku,” protes Kailla, tangannya sedang berusaha menahan tangan Pram yang sudah bersiap merobek miliknya kembali. Kailla sudah sangat hafal kebiasaan suaminya itu setiap mengalami kesulitan. Pram tidak akan segan-segan merusaknya.


Pram tersenyum penuh kemenangan. Rengekan dan protes Kailla berarti istrinya itu sudah tidak mampu melawannya lagi. Dalam hitungan menit saja, dia yakin Kailla pasti tumbang di tangannya.


***


Pagi itu Bu Ida dikejutkan dengan pemandangan tidak biasanya di ruang kerja majikannya. Tadinya dia hanya ingin mengecek kondisi Kailla. Tapi saat membuka kamar tidur majikannya itu, dia tidak mendapati siapa-siapa di dalam. Mencoba mencari di kamar mandi, hasilnya sama. Bu Ida mengedarkan pandangan ke sekitar, tetap tidak ada tanda-tanda istri majikannya itu.


Mendapati itu, Bu Ida langsung berlari dengan panik. Dia khawatir Kailla akan membuat kekacauan dengan kabur seperti biasanya. Dia tahu jelas, ada pertengkaran di antara kedua majikannya, sampai akhirnya Pram memilih tidur di ruang kerja dan memintanya ikut menginap.


Karena panik, Bu Ida langsung masuk ke ruang kerja Pram tanpa mengetuk pintu lagi. Dia harus melaporkan pada Pram, kalau istri majikannya itu menghilang.


Ceklek!


Pintu itu terbuka dengan kasar, mengejutkan kedua majikannya yang sedang tertidur pulas dalam posisi tumpang tindih di atas sofa tanpa pakaian. Hanya tertutup selimut.


“Ya Tuhan! Pemandangan apalagi ini,” ucap Bu Ida kaget dengan mulut ternganga. Ruang kerja itu berantakan. Pakaian kedua majikannya berserakan di lantai.


Bu Ida langsung menunduk, tidak berani beradu pandang dengan Pram yang sedang menatap sinis ke arahnya. Segera Bu Ida berbalik dan menutup pintu ruangan dengan buru-buru. Jantungnya masih berdetak kencang.


“Mimpi apa aku semalam,” ucap Bu Ida pelan, mengelus dadanya. Sedikit pun dia tidak menyangka Kailla sedang bersama Pram saat ini.


***


Terimakasih