
“Sam harus menanggung semua yang kamu lakukan. Pikirkan itu! Aku mungkin tidak sanggup memarahimu, tapi aku bisa menggila pada orang lain,” jelasnya lagi mengeratkan pelukan pada gadis dipangkuannya.
“Maafkan aku.” kailla berbisik lirih.
Pram menarik napas panjang, “ Mandilah! Aku akan memanaskan makanan untukmu.”
***
Kailla bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa lengket karena keringat dan debu apalagi dia sempat jalan-jalan di luar bersama Della. Berendam di dalam bath up, berlama-lama sambil mendengarkan musik klasik dari ponselnya dapat membuat pikiran menjadi tenang. Apalagi aroma buah-buahan dari sabun yang dituang di dalam bath up memberi sensasi tersendiri.
Setelah puas berendam Kailla pun bermaksud menyudahi aktifitas mandinya. Segera dia meraih handuk yang tergantung di dinding kamar mandi.
Jlebbb!! lampu mati, seketika suasana di dalam kamar mandi pun gelap gulita.
“Om..! Om..! teriak Kailla ketakutan dari dalam kamar mandi. Dia berusaha berjalan sambil meraba-raba dinding supaya tidak tersandung.
“Om..! Om..! Dia memanggil Pram kembali. Suasana di kamar pun tidak kalah gelapnya.
Ceklek!!
“Kai, kamu dimana?” Pram masuk begitu mendengar suara Kailla memanggilnya. Dengan bermodal cahaya dari ponselnya dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar.
Deg—
Gadis itu berdiri tidak terlalu jauh dari kamar mandi hanya terbalut handuk.
“Om..! Kailla langsung memeluk Pram. Dan bisa dibayangkan apa yang Pram rasakan saat ini. Memeluk Kailla yang setengah basah dalam keadaan hanya tertutup handuk. Pelan pelan Pram mengusap punggung polos gadis itu. Kailla yang ketakutan semakin mengencangkan pelukannya.
“Om.. Aku takut!”
“Iya.. tidak apa-apa.” Pram berusaha melepaskan pelukannya. Otak dan hatinya sudah mulai tidak sejalan.
“Kai, sebentar. Aku akan menyalakan lilin. Biasanya listrik padam cuma sebentar. Nanti akan menyala dengan genset cadangan milik apartemen.” Pram mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Kailla. Ia hampir kehilangan kontrol untuk dirinya sendiri.
“Jangan Di sini saja. Aku takut!” pinta Kailla masih tetap memeluk erat dan tidak mau melepaskan Pram. Rambutnya yang masih menetes membasahi sebagian kemeja Pram.
Pram berusaha menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali berulang-ulang. Dia sedang bertarung melawan hasratnya sendiri saat ini. Berulangkali dia membuang pikiran kotor di dalam otaknya, mengontrol supaya tetap berjalan di jalurnya.
“Kamu mencintainya Pram.. kamu mencintainya Pram!!” Teriak Pram di dalam hatinya.
“Kai, aku keluar sebentar ya. Mau cek listriknya kenapa bisa padam,” mohon Pram berusaha melepaskan dirinya dari pelukan erat Kailla.
“Om, jangan pergi!” pinta Kailla setengah memohon. Dia mengeratkan pelukan di pinggang Pram.
“Ya Tuhan.. cobaan apa ini!” batin Pram. Dia sedang frustasi saat ini, benar-benar sudah diujung kendalinya.
“Iya, aku tidak kemana-mana,” ucap Pram lembut mengelus punggung polos Kailla. Mengecup kening Kailla untuk menenangkan gadis itu. Di luar kendalinya, Pram meng*cup lembut bibir Kailla. Dia terhanyut, menikmati bibir merah delima yang begitu menggoda. Kailla yang sedang ketakutan saat ini, hanya bisa pasrah dan terdiam menyambut perlakuan lembut Pram.
Pram memperdalam ciumannya, penuh hasrat dan menuntut. Sesekali dia mel*mat bibir Kailla. Dia sadar Kailla belum mengerti apa-apa, bahkan gadis itu tidak membalas ciumannya sama sekali. Dari bibir, Pram beralih meng*cup leher jenjang dan memberi tanda kepemilikannya di sana. Dan pada akhirnya, Pram takluk dengan nafsunya sendiri, dia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Tangannya pun mulai bergerilya, mulai berani meremas.
“Ah..” desahan pertama keluar dari bibir mungil Kailla, merespon perlakuan lembut Pram. Mendengar suara indah itu Pram semakin terpacu.
“Om.. jangan!” pinta Kailla. Kesadarannya kembali, dia berusaha mendorong Pram menjauh. Tapi tenaganya tidak sebanding dengan Pram.
Pram sedang berusaha mencari ujung handuk yang melilit di tubuh polos Kailla ketika lampu dengan bersahabatnya menyala disaat yang tepat. Sretttt!! Dengan sekali tarikan handuk itu pun melayang di udara dan mendarat mulus di kaki ranjang.
Pandangan Pram membeku ketika matanya mulai bisa beradaptasi dengan cahaya, menatap tubuh polos dan indah milik Kailla yang tidak tertutup apapun. Sedangkan Kailla sebaliknya, dia panik berusaha mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya.
“Kai...Aku menginginkanmu.” pinta Pram lembut di telinga Kailla yang sedang bergerak kesana kemari berusaha melepaskan diri darinya
“Om! Aku gak mau!” Kailla masih memberontak, berusaha bangkit dari kungkungan tubuh kekar Pram.
Dengan sekali dorongan kecil dari Pram, Kailla yang setengah duduk terbaring tidak berdaya.
“Aku mencintaimu Kai..” Dia meng*cup setiap inchi tubuh Kailla membuat gadis itu menggelijang, memohon dalam desahannya.
“Om.. jangan!” pintanya lagi berusaha menyadarkan Pram kembali ke pikiran warasnya. Masih berusaha memberontak dan terlepas dari dominasi laki-laki yang hampir kehilangan akal sehatnya.
“Aku mohon Kai..” Pram yang memohon kali ini. Merengek penuh harap pada gadis yang masih berusaha melepas diri darinya.
“Aku gak mau Om,” mohon Kailla kali ini dengan senjata terakhirnya. Matanya mulai menganak sungai. Berharap pikiran sehat Pram kembali ke tempatnya. Ini bukan Pram yang seharusnya, ini hanya Pram yang lepas dari kontrol dirinya sendiri.
“Aku mencintaimu Kai.., “bisik Pram lembut penuh hasrat. Kata-kata itu yang terakhir bisa ditangkap Kailla, selebihnya dia memilih menangis dan berdoa semoga laki-laki yang meng*cup seluruh tubuhnya itu cepat tersadarkan. Terpaksa pasrah dengan perlakuan lembut Pram yang memabukan. Melawan pun hanya akan sia-sia, tenaganya tidak cukup untuk bersaing dengan tenaga Pram yang sekarang sedang dikuasai nafsu.
“Sakit... Om!” rintih Kailla begitu merasa sesuatu merobek inti tubuhnya. Air matanya kembali mengalir deras. Pandangannya kembali menatap laki-laki yang mengunci tubuhnya, yang kini
sama polos dengan dirinya.
Deg—
“Maafkan aku, Kai...” Pram tersadar begitu mendengar suara rintihan Kailla yang memilukan.
Tapi terlambat, semua sudah terjadi. Yang telah hilang tidak mungkin kembali pulang. Kailla seutuhnya sudah menjadi miliknya saat ini. Sudah sejauh ini, mundur pun tidak akan mengubah kenyataan. Dia bisa merasakan kuku-kuku Kailla yang sedang menahan kesakitan menembus kulit punggungnya. Menimbulkan rasa nyeri ketika luka itu bercampur dengan peluhnya.
“Maafkan aku.. aku mencintaimu, aku tidak akan menyakitimu, Kai.” Kata-kata itu mengalun berulang-ulang di telinga Kailla, mengiringi hentakan demi hentakan lembut yang Pram lakukan. Semua mimpi buruk itu berakhir dengan er*ngan Pram yang kemudian terjatuh memeluk tubuh kailla, yang tidak berdaya di bawahnya. Setelahnya dia mengecup kening Kailla berkali-kali.
“Maafkan aku, Kai.. aku mencintaimu!” bisik Pram. Melihat keadaan Kailla saat ini pertahanannya runtuh. Untuk pertama kali Pram menangis, menyesali kenyataan dia sudah menyakiti orang yang paling dicintainya.
Setelah melepas penyatuannya, Pram meraih selimut untuk menutupi tubuh polos yang melemas di hadapannya. Menatap gadis yang baru saja menyerahkan diri dengan terpaksa padanya. Air mata masih mengalir deras di wajah cantiknya yang sedikit sembab. Pram kembali mengecup kening Kailla.
Kailla memilih tidur membelakangi Pram, menggigit ujung selimut supaya suara tangisannya tidak keluar. Pram hendak menyusul membaringkan tubuh lelahnya di samping Kailla, seketika matanya terpaku pada bercak noda merah di sprei putihnya. Ada rasa haru dan bahagia menyatu menghangat di dalam hati Pram. Walaupun Kailla bukan yang pertama untuknya, tapi Kailla lah satu-satunya yang menyerahkan kehormatan dan kesuciaanya untuk Pram.
“Sayang... aku mencintaimu” bisik Pram memeluk Kailla dari belakang. Menelusupkan wajahnya di tengkuk Kailla yang masih menangis dalam diamnya.
***
Terimakasih dukungannya.
Love you all