Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 163 : Kepiting Saos Padang


Kailla sudah terlelap dalam dekapan Pram saat mobil berhenti di basement apartemen mereka.


“Kai....”


“Sayang.., bangun yuk,” panggil Pram mengelus lembut pipi Kailla yang halus. Istrinya itu tetap memejamkan matanya, tidak terganggu dengan panggilannya.


“Sayang, bangun ya,” panggil Pram lagi, berusaha membangunkan Kailla kembali.


Setelah merasa tidak ada pergerakan dari istrinya, Pram terpaksa mengusir keluar sang sopir dari mobil.


“Pak, bisa tinggalkan kami,” pinta Pram tanpa menatap ke arah sopirnya. Dia betah berlama-lama memandang wajah cantik Kailla. Sudah lama, Kailla tidak tidur di dalam dekapannya seperti saat ini.


“Ayo bangun Sayang.” Pram mengesek-gesekan wajahnya ke wajah Kailla. Kali ini usaha Pram membuahkan hasil. Istrinya bereaksi, mulai ada pergerakan di kelopak mata Kailla, tak lama kedua tangan itu sudah bergelayut manja seperti biasanya. Mengunci leher Pram.


“Sayang... , aku masih mengantuk,” rengek Kailla.


“Iya.., nanti sampai di unit kita, kamu bisa tidur sepuasnya. Tapi sekarang bangun dulu ya,” bujuk Pram, kembali menggesekkan wajahnya di wajah istrinya.


“Aaaahhh...., sakit!” teriak Kailla. Matanya terbuka sempurna, mengeluh saat pipinya terkena bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu Pram.


“Maaf Sayang. Hehehe,” ucap Pram terkekeh.


“Aduh, ini kenapa tidak dicukur habis sih!” keluh Kailla, masih mengelus pipinya.


“Ini sudah dicukur habis Sayang.” Pram membela diri.


“Ayo ..,”ajak Pram, turun dari mobil dan meraih tangan Kailla ikut bersamanya.


***


Saat masuk ke dalam unitnya, terlihat Bayu dan Sam sedang duduk santai sambil menatap layar ponsel di ruang tamu.


Suara ponsel Sam yang kencang, seketika menarik perhatian Kailla. Dengan buru-buru, dia menghampiri dan duduk di sisi Sam, setelah mengusir paksa Bayu.


“Bay, geser!” perintahnya. Kantuknya hilang saat mendengar suara food vlogger favoritnya yang sedang mereview makanan.


“Sam, makanan apa lagi?” tanya Kailla penuh semangat. Ikut menonton bersama.


“Kepiting soka saos padang,” jawab Sam.


“Wah.....!” Mulut Kailla langsung menganga, melihat tampilan kepiting dan jagung manis yang disiram.


“Itu enak Sam,” ucap Kailla menelan ludahnya. Dengan langkah gontai dia menuju kamarnya, memilih tidak menonton lagi. Dia yakin, suaminya tidak akan mau memenuhi keinginannya seperti biasa.


Ceklek!


Pram yang masih berpakaian utuh seperti sebelumnya, sedang duduk bersandar di ranjang menatap ponselnya. Begitu pintu kamar terbuka, Pram mengalihkan pandangannya ke arah Kailla yang sedang cemberut dan bersedih.


“Sayang, kenapa?” tanya Pram saat melihat wajah suntuk Kailla. Segera dia bangkit dan menghampiri Kailla. Melihat perhatian Pram, Kailla semakin sedih. Masih terbayang-bayang kepiting saos padang yang tadi dilihatnya. Pasti seperti biasanya Pram tidak akan mau mencari untuknya.


“Hei.. kamu kenapa Kai?” tanya Pram, menyimpan kembali ponsel di kantong celananya.


Kailla menggeleng, memilih berjalan ke arah meja riasnya.


“Kai, kamu kenapa?” tanya Pram lagi, menarik tangan Kailla supaya mendekat padanya. Sejak hamil, memang mood Kailla susah ditebak. Bisa tiba-tiba bahagia, tidak jarang juga tiba-tiba menangis.



“Hei, Nyonya. Jangan membuatku khawatir. Katakan ada apa?” tanya Pram, mendekatkan wajahnya, menatap istrinya dari dekat. Dia sedang mencari tahu, apa yang terjadi sehingga Kailla diam dan tidak mau bicara.


“Kalau aku menginginkan sesuatu. Apa kamu mau mencarinya untukku sekarang?” tanya Kailla ragu, menunduk. Bayangan makanan yang dilihatnya tadi benar-benar tidak bisa hilang dari otaknya.


“Katakan apa yang kamu inginkan?” pinta Pram. Dia sudah mulai paham, penyebab istrinya cemberut sedari tadi.


“Aku mau kepiting saos padang, seperti yang aku lihat di ponsel Sam,” sahut Kailla.


Tawa Pram pecah saat mendengar jawaban Kailla.


“Apapun yang kamu lihat, pasti kamu menginginkannya Kai. Kalau begitu, besok-besok aku tidak akan mengizinkanmu memegang ponsel lagi,” ucap Pram, masih terkekeh. Menekan telunjuknya di kening Kailla


“Huh!” dengus Kailla.


“Aku sudah tahu. Tidak ada satupun permintaanku yang bisa suamiku sanggupi,” gerutu Kailla kesal, menghentakkan kaki ke lantai.


“Suami macam apa ya aku ini. Bukankah begitu maksudmu Kai?” tanya Pram tersenyum.


“He..em,” gumam Kailla, masih tetap cemberut.


“Kamu tunggu disini, aku akan mengajak Sam mencarinya untukmu,” sahut Pram. Menepuk puncak kepala Kailla.


“Jangan cemberut lagi.” Pram berkata. Setelah mengecup bibir Kailla sekilas, Pram langsung keluar dari kamar. Samar-samar Kailla bisa mendengar suara Pram tengah berteriak memanggil Sam.


Kailla tersenyum, untuk pertama kalinya Pram mau mencari apa yang diinginkannya.


***


Sepanjang perjalanan Pram mengomeli Sam. Tanpa bertanya pun dia sudah tahu, penyebab rengekan Kailla adalah Sam.


“Iya Pak,” jawab Sam.


“Istrinya yang bermasalah, kenapa aku juga harus kena,” ucap Sam pelan, tidak mau gerutuannya terdengar Pram.


“Kamu bilang apa Sam?” tanya Pram tiba-tiba, saat melihat mulut asisten istrinya itu komat kamit.


“Ti..tidak Pak,” sahut Sam, mendengus kesal.


“Dasar macan tua, kerjanya marah-marah saja!


Tak lama, sopir menghentikan mobilnya di depan deretan kios menjual makanan.


“Turun! Coba cari disana!” perintah Pram, menunjuk ke deretan kios yang menjajakan makanan.


Dengan ragu, Sam turun dan berjalan menuju kesana. Tapi tidak lama, dia sudah kembali lagi dengan wajah tertunduk.


“Ketemu?” tanya Pram.


Sam menggeleng. “Aku tidak tahu bagaimana bertanya pada mereka.”


Pram berdecak kesal. “Harusnya aku tidak membawamu kesini! Hanya menyusahkanku saja!”


Sam hanya bisa menunduk, nyalinya ciut setiap melihat kemarahan Pram.


Pram terpaksa turun, berjalan dari ujung ke ujung, menanyakan satu per satu kepada pemilik kios. Tapi hasilnya nihil.


Sopir pun membawa mereka ke pusat jajanan yang lain, dan tetap tidak bisa menemukan apa yang diinginkan Kailla.


Pram masuk ke dalam mobil, setelah kelelahan berjalan. Keringat membasahi kemeja bagian dalamnya.


“Huh..!” Pram menghela nafas.


Sudah tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak bisa membayangkan kalau pulang dengan tangan kosong. Kailla pasti akan marah-marah, bahkan mungkin menangis. Mengusap kasar wajahnya. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otaknya.


“Pak, ada tempat yang menjual kepiting yang masih mentah?” tanya Pram.


“Kalau tidak bisa membawa yang sudah matang, aku akan memasak saja untuknya,” ucap Pram.


“Kita ke supermaket saja kalau begitu Pak,” ucap sang sopir memberi ide.


Dan benar saja, di supermaket Pram bisa menemukan berbagai macam seafood disana. Dengan senyum terkembang dibibirnya, Pram menenteng semua bahan-bahan itu masuk ke dalam mobil.


***


Kailla masih terjaga di sofa ruang tamu, saat Pram masuk sambil membawa dua kantong belanjaan. Sam sendiri langsung kembali ke unitnya. Pram tidak mengizinkannya bertemu dengan Kailla malam ini.


“Sayang, kamu mendapatkannya?” tanya Kailla bahagia, begitu suaminya masuk membawa kantong belanjaan.


Segera dia berlari ke dapur, mengambil piring kosong. Dia sudah tidak sabar untuk melahap kepiting saos padangnya.


Mata Kailla membulat. Saat kantong belanjaan itu dituang, muncul kepiting mentah yang masih bergerak-gerak di atas meja.


“Ahhhh....., aku tidak mau yang ini Sayang!” rengek Kailla kesal. Dia sempat terkejut melihat kepiting yang tiba-tiba muncul di atas meja.


Baru saja dia akan beranjak pergi karena kekesalannya, Pram sudah meraih tangannya.


“Sayang, aku akan memasaknya untukmu. Aku tidak berhasil menemukan kepiting saos padangnya di sini,” jelas Pram. Sebenarnya saat ini dia sedang lelah sekali. Tapi permintaan Kailla tidak bisa ditolaknya.


“Jangan marah-marah lagi ya, kasihan anak kita kalau tiap saat kamu mengomel terus. Dia juga butuh ketenangan di dalam sana,” ucap Pram, menempelkan keningnya di kening Kailla



“Aku akan memasaknya sendiri untukmu, untuk anak kita,” ucap Pram lembut, masih berusaha membujuk Kailla.


"Iya.. ," sahut Kailla masih tidak bersemangat.


Cium aku sekarang kalau begitu,” pinta Pram, setelah melihat Kailla tetap diam. Dia mendekati Kailla, kemudian mencium bibir lembut istrinya itu lama dan dalam.


***


Terlihat Pram melempar jasnya asal, kemudian menggulung tangan kemeja sampai ke lengan. Sudut matanya masih bisa menangkap raut kesal dan tidak puas di wajah Kailla.


"Ayo, kemarilah! Tunggu aku di sana saja, aku butuh senyuman penyemangat," ucap Pram, meraih tangan Kailla dan mengajaknya duduk di ruang makan. Dari sini, Pram bisa melihat Kailla dengan jelas.


Pram masih sibuk memasak di depan kompor saat Kailla tiba-tiba datang dan memeluk erat pinggangnya dari belakang.


“Sayang, aku sudah mengantuk. Aku tidak mau makan lagi. Aku mau tidur saja,” ucap Kailla, merebahkan tubuhnya ke punggung Pram. Mengeratkan pelukannya pada Pram.


“Sebentar lagi Sayang.”


“Empuk dan nyaman,” gumam Kailla, memejamkan matanya. Mulai tertidur di punggung suaminya.


***


Terimakasih. Love You All.