
“Iya, aku tidak ke kantor hari ini. Kita ke dokter ya?” ajak Pram, mengecup pucuk kepala Kailla yang sedang memeluknya erat.
“Ke dokter?!” tanya Kailla heran.
“Iya, kita ke dokter. Kamu tidak ingin melihat jagoan kita?” tanya Pram.
“Jagoan? Aku merasa bayiku perempuan,” protes Kailla.
“Bagaimana bisa?” tanya Pram lagi.
“Setiap aku melihat laki-laki tampan, hatiku berdebar-debar,” jawab Kailla.
“Oh ya... melihatku bagaimana?” tanya Pram usil.
“Biasa saja, tidak ada debaran sama sekali.” sahut Kailla, jari-jari tangannya sudah sibuk membuka kancing kemeja Pram. Semakin hari, tangan Kailla semakin cekatan. Dalam hitungan detik, semua kancing sudah terpisah dari lubangnya.
“Bagaimana baksonya?” tanya Pram. Dia sedang menikmati kecupan Kailla yang membasahi dadanya.
Kailla menggeleng.
“Aku hanya mau bakso yang di komplek kita, tidak mau yang lain. Mau makan di pinggir gerobaknya langsung,” sahut Kailla, terlihat sedih.
“Sabar ya, daddy akan menyelesaikan pekerjaan secepatnya. Kita kembali ke Indonesia,” ucap Pram, mengelus perut Kailla.
Kailla mengangguk. “Aku juga merindukan daddy. Sudah lama perawat daddy tidak mengabariku."
Lama terdiam, Pram membuka pembicaraan kembali.
“Apa yang dikatakan Pieter?” tanya Pram.
“Tidak ada. Sayang, jangan berkelahi dengannya lagi,” pinta Kailla.
“Memangnya kenapa?” tanya Pram.
Kaiila menghela nafasnya, kedua tangannya sudah bergelayut manja di leher Pram.
“Buat apa... Aku tidak menyukainya, dia bukan typeku. Untuk apa menghabiskan waktu dan tenagamu mengurusi sesuatu yang tidak penting. Biarkan saja,” jelas Kailla.
“Bagaimana bisa? Ini menyangkut harga diriku sebagai laki-laki dan seorang suami,” tolak Pram.
“Aku tidak tertarik padanya. Kamu tidak perlu bersusah payah menendangnya. Aku yang akan menendangnya sendiri,” ucap Kailla.
“Kamu yakin?” tanya Pram memastikan.
“Akan lebih menyakitkan untuknya kalau aku yang melakukannya. Bukan kamu. Aku yakin dia akan pergi dengan sendirinya,” ucap Kailla.
“Lagipula, bukankah Pieter yang terbaik untuk perusahaan kita?” tanya Kailla.
Pram mengangguk. “Sejauh ini, hasil kerjanya luar biasa, dia profesional.”
“Kalau begitu biarkan saja dia tetap di perusahaan. Aku akan menjauhinya. Tidak akan membiarkannya mendekatiku lagi. Aku berjanji,”
“Are you sure?” Pram memastikan sekali lagi.
“Kamu seperti tidak mengenalku saja. Aku tidak semudah itu ditaklukan hanya dengan semangkok bakso,” jawab Kailla kesal. Suaminya itu seperti orang lain saja, yang tidak mengenal bagaimana sifatnya.
“Bagaimana denganku, apa aku typemu?” tanya Pram menunjuk dirinya sendiri. Saat ini dia sedang berusaha mencari tahu perasaan istrinya.
“Bukan typeku juga, tapi kamu pilihan daddy.” sahut Kailla.
“Kenapa mau? Sebenarnya kamu bisa menolakku,” ucap Pram.
“Daddy sangat menyayangiku. Bahkan dia memilih untuk tidak menikah lagi hanya untuk menjaga perasaanku. Daddy tidak mungkin menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya pada laki-laki sembarangan,” jelas Kailla.
“Kamu istimewa di mata Daddy,” lanjut Kailla.
“Dan kamu istimewa di mataku Nyonya,” ucap Pram sambil tersenyum, membingkai wajah istrinya.
Mengecup bibir Kailla di ruang makan apartemennya. Mengejutkan Bu Ida yang sedang memasak di dapur.
“Astaga!” seru Bu Ida saat melihat Pram sedang memeluk dan mencium istrinya dengan tidak tahu malu dan tidak tahu tempat. Dia segera menutup mulutnya agar suaranya tidak mengganggu kedua majikannya. Buru-buru dia berbalik, sambil mengelus dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Bekerja dengan kedua orang ini, lama-lama dia bisa gila.
Dan Pram beruntung, kali ini Kailla sudah mau membalas ciumannya, tidak seperti biasa. Tapi saat Kailla sadar mereka sedang di ruang makan, segera istrinya itu berontak. Memohon supaya Pram menyudahi ciumannya.
“Sudah.. ada Bu Ida,” bisik Kailla di sela ciuman Pram.
Mendengar ucapan Kailla, Pram segera melepaskan ciuman pada Kailla.
“Bu, bisa ke kamar sebentar. Aku mau mencium istriku. Dia terganggu olehmu!” perintah Pram pada Bu Ida. Seketika membuat mata Kailla terbelalak.
“Baik Pak,” sahut Bu Ida, langsung melepas celemeknya dan berjalan menunduk menuju kamar yang biasa ditempatinya setiap tidur di tempat majikannya.
Buk! Kailla mendaratkan pukulan di dada Pram.
“Sudah tidak ada gangguan,” ucap Pram pelan. Meraih tengkuk Kailla, supaya istrinya tidak menolak lagi. Kemudian mencium bibir tipis merona istrinya dengan lembut.
“Peluk aku sekarang Kai, jangan malu-malu,” goda Pram, saat melihat istrinya masih ragu.
Ciuman itu berlangsung lama. Kailla yang masih malu-malu di awal, akhirnya menikmati semua perlakuan Pram. Tangannya pun sudah melingkar manja di leher suaminya.
Bayu yang baru mau masuk ke dalam apartemen, langsung buru-buru keluar dan menutup pintunya kembali saat melihat majikannya sedang berciuman. Terpaksa dia duduk di lorong apartemen, menunggu Pram selesai dengan istrinya.
“Gila! Benar-benar sudah gila!” umpat Bayu sambil menggelengkan kepalanya, saat dikejutkan dengan ulah kedua majikannya.
Dia terpaksa menunggu di luar, sesekali mengecek apakah adegan ciuman itu masih berlangsung atau sudah selesai.
***
Pram dan Kailla sudah berada di ruang praktek dokter SpOG. Terlihat Kailla duduk di samping Pram, tangannya saling meremas karena gugup.
“Kai, kamu baik-baik saja?” bisik Pram setelah melihat kegelisahan di wajah Kailla.
“Aku takut... tidak disuntik kan?” tanya Kailla pelan.
“Tidak apa-apa,” ucap Pram menenangkan Kailla. Tangannya saat ini sedang menggenggam tangan istrinya yang dingin dan basah.
“Aduh perutku jadi sakit,” ucap Kailla pelan. Pram hanya bisa menggeleng melihat kelakuan istrinya setiap merasa gugup dan panik.
Tak lama dokter pun meminta Kailla berbaring di ranjang untuk melakukan pemeriksaan usg.
“Sayang, aku takut,” rengek Kailla, memohon pada Pram. Dia tidak mau melepaskan tangan Pram sama sekali.
“Iya aku ikut kesana,” ucap Pram menenangkan.
Masalah belum selesai sampai di situ, saat perawat meminta Kailla melepaskan celana dalamnya untuk melakukan usg transvaginal. Kailla langsung menolak, menatap Pram dan sang dokter bergantian.
“Aku tidak mau,” rengeknya pada Pram. Dia sudah hampir menangis.
“Aku mau pulang, aku tidak mau!” tolak Kailla memohon.
Pram tidak bisa berbuat apa-apa, dia juga tidak rela. Mereka belum pernah melakukan pemeriksaan sama sebelumnya, jadi tidak tahu prosedur yang akan mereka lalui seperti apa. Kalau memang harus melakukan usg transvaginal, Pram pasti mencari dokter perempuan untuk kenyamanan Kailla.
Setelah Pram bernegosiasi dengan sang dokter, akhirnya diputuskan melakukan usg transabdominal. Itu pun Kailla sedikit keberatan. Dia harus merelakan perutnya dipertontonkan di depan dokter dan perawat.
“Sayang jangan pergi,” pinta Kailla yang meminta Pram tetap berdiri di sampingnya. Tangannya tidak mau melepaskan tangan Pram sama sekali.
Pram mengangguk, berusaha menenangkan Kailla yang masih ketakutan.
Setelah melakukan pemeriksaan, mereka juga menyempatkan bertanya mengenai hal-hal yang harus dihindari, makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi Kailla. Ada banyak hal yang ditanyakan Pram pada sang dokter.
Pram yang cerewet dan banyak bertanya, berbanding terbalik dengan Kailla yang lebih banyak diam dan hanya menunduk. Saat ini Kailla hanya ingin secepatnya keluar dari ruangan dokter dan tidur dengan tenang di pelukan Pram.
***
Saat sudah berada di mobil, Kailla langsung menelusup ke dalam pelukan Pram.
“Aku tidak mau lagi ke dokter yang tadi!” gerutu Kailla.
“Iya, kita cari dokter perempuan nanti,” sahut Pram. Dia mengerti dengan penolakan Kailla.
“Kurang tampan! Aku harus melihatnya selama 9 bulan. Belum lagi harus menyerahkan semuanya dengan sukarela kepada si dokter. Aku tidak mau. Aku harus memilih sendiri,” protes Kailla.
“Dia harus masih muda, ketampanannya harus setara dengan aktor korea. Macho, pintar dan berkharisma,” ucap Kailla menyebutkan kriteri dokter yang dia inginkan.
“Kamu mau mencari dokter kandungan apa selingkuhan?” tanya Pram kesal mendengar syarat dokter yang disebutkan Kailla.
“Hehe... selama hamil, aku butuh asupan Sayang. Bukan hanya makanan, tapi batinku juga perlu,” ucap Kailla terkekeh.
“Ibu hamil itu harus selalu bahagia dan kebahagiaanku saat melihat yang bening-bening,” lanjut Kailla terbahak. Dia sengaja menggoda Pram kali ini.
“Sudah, tidur sekarang!” potong Pram, membawa kepala Kailla bersandar di pundaknya.
“Besok ke kantor ya. Mitha akan mengajakmu ke suatu tempat. Ambil kejutan untuk anakku di sana!” pinta Pram.
“Hah?! Ada kejutan lagi?” tanya Kailla memastikan tidak salah dengar. Hatinya sudah bahagia setiap mendengar kata kejutan.
“Jangan senang dulu Nyonya. Bukan untukmu. Itu untuk anakku!” ucap Pram mengecup kening Kailla.
****
Kailla & Pram
Terimakasih.