
Selama menyantap bubur di mangkok, Kailla diam seribu bahasa. Hanya Pram yang sedari tadi banyak bicara, menggoda dan merayu sambil menyuapi istrinya. Tapi Kailla tidak meresponnya sama sekali. Kalau Pram beruntung, dia akan melihat senyum tertahan di bibir Kailla.
Tepat di suapan terakhir, Kailla membuka suaranya.
“Sudah! Kamu boleh keluar,” usir Kailla dengan tidak tahu terimakasihnya.
“Hah?! Masih belum selesai marahnya Kai?” tanya Pram, meletakkan mangkok kosong di atas nakas.
Kailla menggeleng. “Kamu tidak tahu, bagaimana kami melewatkan sepuluh hari ini. Bagaimana bisa aku akan memaafkanmu hanya karena semangkok bubur ini.” Kailla mengemukakan alasannya.
“Kai, aku mohon maafkan aku,” ucap Pram pelan.
Kailla hanya diam dan menunduk, tidak menanggapi permintaan maaf suaminya. Entahlah..! Di balik rindu itu, masih terselip luka yang masih belum bisa sembuh seutuhnya. Selama beberapa hari ini, dia melewatkan masa-masa yang sulit, dan Pram tidak ada disininya. Pram malah sibuk bekerja. Bahkan suaminya lebih banyak menghabiskan waktu dengan tumpukan berkas dan tentu saja si Winny.
“Aku janji tidak akan lembur lagi. Aku janji tidak akan mengabaikanmu lagi,” janji Pram, meraih tangan Kailla lalu menggenggamnya erat. Seolah ingin memberi kepastian akan janji yang tidak akan pernah diingkari lagi ke depannya. Janji yang diucapkan dengan sungguh-sungguh.
“Kai....,” panggil Pram pelan, setelah lama menunggu istrinya tidak kunjung bersuara.
“Maafkan aku,” ucap Pram lagi, langsung memeluk erat Kailla yang tetap tidak bereaksi. Bahkan saat ini, Kailla tidak membalas pelukannya seperti biasa. Istrinya masih terluka karenanya. Luka yang disebabkan kelakuannya yang benar-benar kelewatan.
“Aku sudah terbiasa....,” jawab Kailla pelan. “Bahkan, aku sudah terlatih selama 20 tahun ini,” lanjut Kailla. Dua tetes bening itu jatuh dari matanya tanpa bisa di tahan lagi.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Pram.
“Aku hanya tidak menyangka anakku juga harus mengalami takdir yang sama denganku, bahkan di saat dia baru hadir disini,” jawab Kailla, mengusap perut ratanya.
“Kalian, orang-orang dewasa yang selalu menganggapku anak kecil, pernahkah sekali merasakan apa yang aku rasakan,” ucap Kailla melepaskan diri dari pelukan Pram.
“Kai....,” panggil Pram, berusaha menyentuh wajah istrinya. Tapi Kailla menolaknya kali ini. Kailla sedang mengeluarkan isi hatinya, siap meledakannya saat ini.
“Aku tidak butuh semua uangmu. Bahkan kalau aku bisa meminta, aku juga tidak mau semua uang daddy. Kamu tahu, aku harus membayar mahal untuk semua itu...” Kailla mulai terisak.
“Iya, maafkan aku. Aku tahu...,” sesal Pram.
“Aku harus merelakan waktuku bersama daddy demi uang-uang itu. Dan aku tidak mau anakku harus menjalani hidup sepertiku.” Kailla berkata sambil terus-terusan menangis.
“Tidak... aku tidak akan mengizinkannya. Anak kita tidak akan mengalaminya. Aku berjanji,” ucap Pram berjanji.
“Tapi kamu sudah melakukannya...,” tuding Kailla. Dia mengarahkan telunjuknya ke wajah Pram.
“Iya, maafkan aku,” ucap Pram menunduk. “Aku tidak akan melakukannya lagi.”
“Kamu tahu, sewaktu kecil aku menunggu daddy di depan pintu rumah setiap malam hanya untuk bisa memeluknya beberapa detik. Bahkan sering kali menunggu dan harus kecewa karena daddy lembur bahkan tidak pulang,” cerita Kailla dengan berlinang air mata.
“Dan kamu juga melakukan hal yang sama. Kamu mengabaikanku selama sepuluh hari ini, bahkan kamu membuatku menunggumu berjam-jam hanya karena bersama perempuan itu.”
“Maaf.. maafkan aku. Tapi aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.” Pram masih berusaha menjelaskan.
“Kamu tahu, tangan ini.. tangan yang barusan menyuapiku. Semalam sudah melayang siap memukulku,” ucap Kailla meraih tangan Pram, kemudian menjatuhkannya kembali dengan kasar. Menghempaskan tangan kekar yang dengan mudahnya, terangkat tinggi siap menamparnya di hadapan semua orang.
“Kamu selalu berkata kalau kamu mencintaiku, kalau cinta kamu tidak akan seringan itu mengangkat tanganmu untuk memukulku. Di tengah keramaian,” lanjut Kailla menatap sinis. Air matanya mengalir terus menerus saat ini.
Pram menggigit bibirnya, istrinya sedang mencatat satu per satu kesalahannya saat ini.
“Sudah, aku yang salah! Jangan menangis lagi,” ucap Pram meraih tubuh Kailla, memaksa istrinya masuk ke dalam pelukannya.
“Kamu boleh memukulku nanti,” tawar Pram. Mengelus rambut panjang Kailla yang sedikit berantakan.
“Aku tidak mau tidur denganmu!” ucap Kailla. Dia melepaskan pelukan Pram, kemudian berbaring membelakangi Pram.
“Baik, tapi jangan menangis lagi. Aku tidak tenang melihatmu seperti ini,” bujuk Pram.
Tangannya sedang membelai punggung Kailla beberapa kali, kemudian mencium pipi istrinya sebentar.
“Aku tidur di ruang kerja. Kalau kamu butuh sesuatu, aku di sana. Jangan menangis lagi. Aku mencintai kalian,” bisik Pram di telinga Kailla, sembari tangannya mengusap lembut perut istrinya.
***
Setelah mengeluarkan semua yang ada di hatinya, perasaan Kailla jauh lebih baik. Dia bisa tidur lebih nyenyak dibanding semalam. Tapi masalahnya muncul saat tengah malam. Ketika terbangun, dia begitu merindukan Pram. Tangannya menyentuh ranjang yang dingin di sebelahnya.
Semakin mencoba memejamkan matanya, semakin dia tidak bisa tidur.
“Ya sudah, kita menengoknya sebentar. Setelah itu kita kembali tidur,” ucapnya pelan. Dengan terpaksa dia keluar dari kamarnya, berjalan mengendap-endap.
“Aduh, kenapa kalau malam seperti ini jadinya menyeramkan sekali,” ucapnya saat melewati ruang tengah, tempat perapian kecil berada.
Kailla harus berlari dalam ketakutan, tapi dia benar-benar ingin melihat Pram saat ini. Begitu tangannya menyentuh gagang pintu ruang kerja Pram, dia langsung membukanya dengan buru-buru.
Benar-benar mengerikan!” dengusnya kesal. Dia mengusap dadanya berulang kali. Berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Dia berlari pontang panting tadi, bahkan sempat terguling karena kakinya tersandung karpet di ruang tengah. Lututnya masih terasa ngilu, karena terjerembab lumayan keras di atas lantai berlapis kayu apartemennya.
Ceklek!
Pemandangan yang pertama dilihatnya, Pram sedang tertidur lelap di sofa ruang kerjanya. Melihat itu, Kailla segera mengambil selimut coklat yang terlipat rapi di ujung sofa dan membungkus rapat tubuh suaminya.
“Huh! Bagaimana dia bisa tidur dengan lelapnya, disaat aku tidak bisa tidur karenanya!” Kailla mendengus kesal, mengusap lututnya yang sedikit memerah.
Kailla memilih duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di dekat pundak Pram. Menelusup di dekat sana, mencari aroma khas suaminya.
“Aku sudah gila sekarang,” ucap Kailla pelan dengan penuh kekesalan. Saat ini dia dengan tidak tahu malunya mengendus di leher suaminya. Melihat Pram yang masih terlelap, Kailla tersenyum. Tanpa ragu mencium leher Pram.
“Jangan bangun ya Sayang. Hancur harga diriku,” bisik Kailla pelan masih sibuk mengecup di leher Pram tanpa memperhatikan bibir Pram yang sedang menahan senyumannya saat ini.
Tanpa Kailla sadari, sebenarnya Pram sudah bangun sejak mendengar suara pintu ruang kerjanya terbuka. Puas menikmati aroma Pram, dia berniat kembali ke kamarnya. Tapi baru berjalan dua langkah, Pram menahan tangannya tiba-tiba.
Deg—
“Astaga!” ucap Kailla langsung menutup mulutnya. Dengan ragu dia berbalik, mengintip ke belakang.
Pram masih memejamkan matanya. “Apa dia cuma mimpi,” bisik Kailla sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Pram yang masih terlelap.
“Sayang...,” ucap Pram pelan, masih tetap memejamkan matanya. Menarik tubuh istrinya, jatuh menimpa tubuhnya.
“Aku merindukanmu,” bisik Pram pelan. Memeluk erat Kailla yang terbaring di atasnya sekarang.
“Apa dia mimpi atau pura-pura mimpi?” tanya Kailla setelah memastikan Pram masih terlelap dan memejamkan matanya.
“Aku sedang bermimpi, jadi jangan sungkan. Aku milikmu Nyonya,” ucap Pram.
***