Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 104 : Ketahuan


Mobil Pram sudah sampai di pelataran kantor KRD. Tampak sopir keluar dari pintu depan dan buru-buru membuka pintu untuk Pram.


“Pak, jam 10 aku akan keluar kantor, tolong mobilnya dicek,” perintah Pram pada sang sopir.


“Baik Pak,” jawab sang sopir singkat.


Pram masuk ke dalam kantor dengan senyum tertahan di wajahnya. Dia mengabaikan sapaan staff-staffnya. Pikirannya masih tertuju pada kelakuan istri kecilnya. Begitu masuk ke dalam lift yang mengantarnya ke lantai 5, Pram langsung tertawa. Pasti saat ini istrinya sedang tersenyum penuh kemenangan, menyombongkan kepintaran dan kelicikannya di depan cermin meja riasnya.


Tampak Pram memasukkan tangan ke saku celananya. “Istrimu memang luar biasa Pram!” ucapnya pelan.


“Bagaimana bisa dia berpikir aku tidak akan menyadari tangannya masuk ke dalam saku celanaku yang begini sempitnya,” ucap Pram pelan.


“Apa dia berpikir dengan menciumku seperti tadi, suaminya ini akan melayang sampai tidak menyadari ada pencuri kecil yang mengambil ponsel. Hahaha..” Pram tertawa memikirkan kepolosan istrinya.


Ting..! Bunyi pintu lift terbuka, seketika membuat Pram mengubah ekspresinya. Senyuman di wajahnya seketika menghilang. Dengan wajah datar dan serius dia masuk ke dalam ruangannya. Membuka kancing jas, melepas dan menyampirkannya di sandaran kursi putih miliknya.


Pram memilih mengecek berkas-berkas di atas meja, sisa pekerjaan kemarin sebelum menghubungi Kailla.


***


Kailla sudah bersiap-siap, sudah selesai mandi dan memoles tipis wajahnya. Dia sedang menunggu Pram menghubungi untuk memintanya datang ke kantor membawa ponselnya yang tertinggal. Senyum cerah terukir di wajahnya.


“Kamu luar biasa Kai, otakmu sungguh cemerlang!” ucapnya sambil tersenyum menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Bosan menunggu, akhirnya dia memilih berdiri.


Tampak dia mondar-mandir di depan meja rias sambil menangkupkan ponsel Pram dengan kedua tangannya. Dia sudah tidak sabar untuk segera berangkat ke kantor suaminya.


“Aduh kenapa lama sekali suamiku menyadari kalau ponselnya hilang,” gerutu Kailla.


“Apa aku menunggu di luar saja!”


Baru saja dia akan keluar dari kamarnya, tiba-tiba ponsel Pram berdering. Kailla langsung tersenyum. Tapi baru saja dia akan menggeser tombol hijau di layar, tiba-tiba dia mengingat sesuatu.


“Aduh aku lupa!” Kailla langsung menepuk kening dengan telapak tangannya.


“Kalau dia bertanya terjatuh dimana aku harus menjawab apa? Ah...katakan saja terselip di selimut. Hehehe...” Kailla terkekeh.


Buru-buru dia menggeser tombol hijau dengan jari lentiknya, menghentikan dering ponsel yang berteriak sedari tadi.


“Ehem.. Hallo,” sapa Kailla lembut.


“Ini kamu Kai?” tanya Pram dari seberang. Dia sudah berusaha menahan tawanya supaya Kailla tidak curiga.


“Iya Sayang..,” jawab Kailla tersenyum sumringah.


“Aku sudah khawatir, aku kira ponselku terjatuh di mana,” ucap Pram dari seberang telepon.


“Iya, tertinggal di kamar, Sayang. Aku akan mengantarnya ke kantor sekarang.”


“Oh.. tidak usah Kai, aku akan meminta Pieter membeli ponsel baru.”


“Hah!” Kailla terkejut menutup mulutnya. Seketika dia tidak bisa berkata apa-apa.


“Kai.., kamu masih disana?” tanya Pram lagi setelah dia tidak mendengar suara Kailla.


“I..iya Sayang. Kamu tidak perlu membeli yang baru, aku akan mengantarnya ke kantor sekarang.” Kailla tetap bersikukuh mau mengantar ke kantor.


“Tidak perlu Sayang. Kamu istirahat saja di rumah, bukannya dari tadi malam kamu selalu mengeluh capek,” tolak Pram. “Kamu istirahat sekarang, supaya nanti malam bisa melanjutkan proyek kita bersama,” lanjut Pram lagi.


“Aku tidak capek, Sayang,” ucap Kailla lagi.


“Aku tidak mau mendengar kamu mengeluh lagi, Sayang,” jelas Pram dari seberang.


“Tidak Sayang, aku tidak akan mengeluh.” Kailla berkata.


“Sampai pagi juga tidak mengeluh.. heheh?” tanya Pram terkekeh


“Tidak.. ups.. tadi kamu bicara apa, Sayang,” Kailla baru menyadari pertanyaan Pram.


Begitu panggilan terputus, Kailla langsung meraih tasnya dan berjalan keluar kamar dengan wajah berseri-seri. Begitu sampai di ruang tamu, tampak Bayu sedang menyesap kopi buatan Bu Ida.


“Pagi Non,” sapa Bayu begitu melihat Kailla datang dengan menenteng tas tangannya.


“Pagi Bay..,” sapa Kailla.


“Lets go Non, mobil sudah siap. Kita meluncur ke kantor!” ucap Bayu, segera bangkit dari duduk dan menyesap habis kopi di cangkirnya.


“Hah..! Bagaimana kamu tahu kita akan ke kantor?” tanya Kailla kaget.


“Loh, tadi kan ketemu Pak Pram waktu mau berangkat. Pak Pram pesan, suruh anterin Non Kailla ke kantor.”


“Kok bisa?” Kailla semakin penasaran.


“Iya, kata Pak Pram, Non Kailla disuruh anter ponselnya Pak Pram yang ketinggalan.” Bayu menjawab dengan polos.


“Bingung kan Non? Saya juga tadi bingung. Sudah tahu ketinggalan, masih ditinggal ponselnya,” jawab Bayu menggelengkan kepalanya.


Deg— Kailla langsung terkejut.


“Aduh! Bagaimana ini? Apa aku tidak jadi ke kantor ya. Tapi nanti si Mitha menempel ke suamiku lagi.”


“Bentar Bay, aku pikir-pikir dulu.” Terlihat Kailla menjatuhkan dirinya di sofa. Dia bingung saat ini. Tampak dia membentangkan jari-jarinya di atas meja sambil menghitung.


“Pergi-tidak-pergi-tidak-pergi-tidak-pergi-tidak-pergi-TIDAK! Tapi aku mau pergi ke kantor,” celetuk Kailla.


“Kalau begitu pas menghitung dimulai dari “Tidak” Non, jadi hasilnya pergi.” Bayu memberi saran.


“Ternyata aku baru tahu, cara berpikir Sam yang luar biasa itu terlatih dari hal-hal kecil seperti ini. Seorang mata-mata sepertiku saja sudah hampir bisa mengikuti kegilaan majikannya.”


“Ayo Bay, suamiku lebih penting dibanding apapun,” ucap Kailla. Dia sudah siap menanggung apapun, yang terpenting dia harus memastikan Mitha tidak menempel pada suaminya.


***


Tak lama, mobil yang ditumpangi Kailla dan Bayu sudah sampai di kantor KRD. Terlihat Kailla keluar dari mobil di temani Bayu.


“Bay, ikut aku ke atas ya,” perintah Kailla. Dia takut Pram akan mengomelinya. Setidaknya kalau ada Bayu, Pram akan lebih menjaga emosinya.


“Baik Non,” sahut Bayu berjalan mengekor di belakang majikannya.


Begitu mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Pram, terlihat Kailla ragu-ragu mengetuk pintu ruangan. Sekretaris yang memang sudah mengenalinya, membiarkan istri atasannya itu langsung masuk ke dalam ruangan.


“Bay, kamu saja yang mengetuk.” Kailla menarik tangan Bayu dan memilih berdiri di belakang asistennya.


Tok..tok..tok..!


“Masuk!” terdengar suara berat Pram. Dia sudah tahu siapa yang datang dan mengetuk pintunya. Dia sudah berpesan ke sekretarisnya, untuk mengizinkan istrinya masuk ke dalam ruangannya.


Bayu mendorong pintu ruang kerja Pram dan berjalan masuk, sedangkan Kailla memilih berjalan sambil menunduk di belakang asistennya itu.


“Pagi Bos!” sapa Bayu berdiri tepat di depan meja kerja Pram. Pram memiringkan kepalanya mengintip Kailla yang bersembunyi di belakang tubuh Bayu.


“Kai.... keluar!” perintah Pram saat melihat istrinya.


“Bay, kamu bisa menunggu di lobby,” perintah Pram pada asisten istrinya itu.


“Bay, kamu disini saja!” Kailla juga ikut memberi perintah pada Bayu.


“Mati aku kali ini! Bagaimana ini?”


***


Terimakasih.