
“Kai, sebentar lagi aku menjemputmu. Aku masih di kantor, masih ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani.” jelas Pram sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
Baru saja Pram meletakkan ponselnya di atas meja, pintu ruang kerjanya dibuka secara paksa. Terdengar suara Stella yang sedang mencoba menghadang seseorang yang berusaha menerjang masuk.
Sebelum Stella masuk, orang itu sudah menerobos masuk tanpa permisi.
“Pram sayang, aku merindukanmu.” Anita langsung menghampiri Pram yang sedang duduk di kursi kebesarannya dan memeluk dengan tidak tahu malu. Pram yang sedang dalam posisi tidak siap terpaksa harus menahan beberapa detik sebelum mendorong perempuan dengan lipstik merah menyala itu.
“Aduh! Pram! Ada bayimu di dalam sini!” Anita mengelus perutnya, tersenyum licik menatap Pram yang bahkan tidak menatapnya sama sekali. Pram tetap sibuk dengan bolpoint di tangannya, melukiskan tanda tangan di lembaran kertas yang bertumpuk di atas meja.
Stella yang masih berdiri di dekat pintu melengos melihat atasan dan tamu perempuannya. Harusnya tidak bisa disebut tamu, melihat dorongan tangan Pram sudah bisa dipastikan masuk kategori tamu tak diundang.
“Untungnya bukan suamiku, kalau suamiku yang di tempel wereng sawah begini, sudah pasti kubasmi sampai tidak bersisa.”
Pram bergeming, menatap pun tidak. Seolah tidak ada siapa-siapa di hadapannya. Melihat respon Pram yang begitu tenang seolah tidak terganggu, Anita pun semakin kesal.
“Pram!” rengeknya lagi. Kali ini Anita memilih duduk di seberang meja Pram, mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Tampak foto hitam putih di sebuah kertas putih didorong maju mendekati lembaran kertas yang akan ditanda tangani Pram.
“Kamu tidak mau melihat bayimu?” Anita mencoba mengalihkan perhatian Pram dengan cara lain.
“Itu bukan bayiku! Berhentilah menyebutnya berulang-ulang di telingaku, An!” tegas Pram.
“Tega kamu Pram!” Anita mulai kehilangan kesabarannya.
“Kamu lebih tega padaku An! Kalau memang tidak mau menerima ayah bayimu, setidaknya jangan melemparnya ke tempatku!”
Pram menghela napas kasar, “Aku masih ada urusan, kalau memang tidak ada hal yang penting. Aku permisi.”
Pram berjalan meninggalkan ruangannya dan Anita yang membulat melihat reaksi Pram. Pram berhenti sebentar ketika melewati Stella yang berdiri di dekat pintu.
“Ste, kalau perempuan itu mau menginap di ruanganku, jangan lupa sediakan selimut untuknya. Kasihan dia sedang hamil.”
“Pram.. tunggu!” Anita segera menyusul Pram yang sedang berjalan menuju lift.
“Ibu mengundangmu minggu ini, Ibu sangat berharap kamu bisa hadir.” Anita menyodorkan undangan kepada Pram.
“Baiklah, kalau bayi ini tidak bisa melunakan hatimu. Ibu pasti bisa.”
“Kamu bisa menitipkannya pada Stella, dia yang mengatur semua jadwalku.” Pram menatap sekilas undangan berwarna biru muda yang ada di tangan Anita, kemudian masuk ke dalam lift. Meninggalkan Anita yang mencoba tersenyum di dalam kekesalannya.
***
Mobil Pram terlihat sudah masuk ke kediaman Riadi Dirgantara. Dengan setengah berlari, dia masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh Bu Sari, asisten rumah tangga yang sudah dianggap keluarga disana.
“Bu, Kailla dimana?” tanyanya sambil menenteng setelan jas yang masih terbungkus.
“Di kamarnya Pak.” Bu Sari menjawab singkat.
“Bapak?” tanyanya lagi sembari menyerahkan setelan jas kepada Bu Sari.
“Bapak dikamar.”
“Baiklah, tolong bawakan jasku ke kamar Kailla, aku akan berganti pakaian disana.” perintah Pram bergegas dia menemui Pak Riadi terlebih dahulu.
Pak Riadi sedang duduk di kursi roda saat Pram masuk ke kamarnya.
“Dad..,” sapa Pram memeluk ayah mertuanya.
“Bapak sudah jauh lebih baik. Kalau keadaan bapak kian membaik seperti ini, minggu depan sudah bisa kita mulai terapi.” jelas perawat.
Pram terlihat berjongkok di depan kursi roda Pak Riadi, dan menggengam tangan keriput yang terlihat mengecil dari biasanya.
“Dad, hari ini aku akan menikahi putrimu. Daddy harus sehat, supaya bisa bermain dengan cucu-cucumu. Daddy mau kan?” Pram tersenyum menatap ayah mertuanya.
“Aku akan memberimu cucu yang banyak. Supaya rumah ini tidak sepi lagi,” bisiknya lagi di telinga Pak Riadi.
Terlihat Pak Riadi mengangguk dan berusaha tersenyum dengan susah payah.
“Baiklah Dad, aku permisi dulu. Nanti aku kesini lagi bersama Kailla.” pamit Pram.
***
Kailla sedang bermain game di ponselnya ketika Pram masuk ke kamar. Menatap sekilas ke arah Pram yang berjalan tergesa-gesa dan kembali fokus ke ponselnya.
“Kai, jas ku diletakkan dimana? Tadi aku minta Bu Sari membawanya ke sini.” tanya Pram sembari membuka jas kerjanya dan melemparnya sembarangan ke atas tempat tidur.
“Di lemari Om! Yang paling pojok.” Kailla menjawab singkat tanpa beralih sama sekali dari layar ponselnya.
“Astaga aku kalah lagi, huh!!” Kailla berteriak kesal.
Mendengar teriakan Kailla, Pram yang sedang berganti pakaian di dalam walk in closet sampai menjulurkan kepalanya di pintu.
“Ckckck... istrimu memang luar biasa Pram!!” Pram berkata pada dirinya sendiri.
“Kai, cincin nikah kita di tempatmu kan? Aku akan mengantonginya, supaya tidak ketinggalan,” tanya Pram begitu dia sudah keluar dari walk in closet. Terlihat dia masih sibuk merapikan dasinya.
“Oh my God!! Aku lupa menyimpannya dimana.” Kailla menepuk keningnya, langsung berlari mengangkat dress dengan panik membongkar laci di meja riasnya. Tidak ada!
Terlihat Kailla membongkar semua lemari, rak dan nakas yang ada di dalam kamarnya. Tetapi tetap tidak menemukan cincin yang dimaksud Pram.
“Kamu letakkan di mana Kai?” tanya Pram ikut membantu mencari.
“Kalau aku ingat, kenapa juga aku harus capek- capek membongkar semua ini Om.” Kailla berkata dengan cemberut.”
Kailla berlari keluar, memanggil Bu Sari dan asisten lainnya untuk ikut membantunya mencari.
Tak lama, semua asisten ditambah Sam dan Donny yang baru datang pun ikut turun tangan menggeledah isi kamar Kailla. Semua lemari dan laci di dalam kamar Kailla di bongkar, sampai kamar mandi pun ikut dibongkar.
Pram memijat pelipisnya, menghela napas berkali-kali. Saat ini dia sedang berdiri di belakang Kailla yang sedang berjongkok, berusaha menguras abis isi salah satu laci pakaiannya. Mata Pram melotot melihat isi laci yang sedang dikosongkan Kailla. Pakaian dalam Kailla dengan berbagai warna dan model sudah berserakan di lantai, bahkan beberapa ada yang menimpa kakinya. Kailla benar-benar melemparnya tanpa berpikir lagi.
Pram mengedarkan pandangannya, mata Pram terpaku melihat Sam dan Donny berdiri tidak terlalu jauh dari mereka. Segera dia berjongkok disisi Kailla, memasukan kembali pakaian dalam Kailla secara sembarangan ke dalam laci.
“Apaan sih Om? Ini belum dikosongin semua. Aku mau cari di dalam sana.” ketus Kailla masih belum menyadari.
“Aku tidak mau barang pribadi istriku dilihat laki-laki lain,” bisik Pram masih terus melempar masuk pakaian dalam itu ke dalam laci.
Kailla langsung menutup mulutnya begitu memahami kata-kata Pram. Segera dia mendorong Pram menjauh dan melarang Pram menyentuh pakaian-pakaian itu. Wajahnya memerah, tertunduk malu.
***
Terimakasih dukungannya ya.