
Kailla melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam makan siang, dia mengobrol dengan Pieter sampai lupa waktu.
“Apakah suamiku masih lama ya?” tanya Kailla pada Pieter. Dia sudah lapar dan mulai bosan menunggu.
“Kamu lapar, Kai?” tanya Pieter begitu melihat gelagat Kailla. Dia yakin, istri Presdirnya sudah kelaparan.
“Suamiku kapan kembali?” Kailla sudah sedikit khawatir. Membayangkan Pram dan Mitha berdua di luar sana, perasaannya jadi tidak tenang. Sejak tadi pun, setengah hatinya ikut bersama Pram.
“Presdir masih lama. Dia ada jadwal meeting di tempat lain. Kamu mau makan?” tanya Pieter lagi.
“Aku tidak lapar. Aku mau suamiku cepat kembali ke kantor..,”sahut Kailla.
“Kamu mau aku meneleponnya?” tanya Pieter lagi. Segera dianggukin Kailla dengan tersenyum. Begitu mendengar Pieter bersedia menelepon Pram untuknya, dia langsung bersemangat. Sebenarnya dia mau menghubungi Pram, tapi dia takut Pram bertanya tentang keberadaannya. Dia sudah merindukan suara suaminya.
“Tapi jangan katakan aku masih di kantor. Aku akan memberinya kejutan nanti,” ucap Kailla sambil tersenyum.
Tampak Pieter mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Pram.
“Kak, bisa nyalakan speakernya? Aku mau mendengar suaranya,” pinta Kailla.
Terlihat Pieter menyalakan speaker dan meletakkan ponselnya di atas meja supaya Kailla bisa ikut mendengar percakapannya dengan Pram.
“Iya Pieter,” terdengar suara Pram dari seberang telepon.
“Bagaimana meetingnya? Apakah sudah selesai?” tanya Pieter.
“Ada masalah di kantor?” Pram tidak menjawab, tapi dia balik bertanya.
“Tidak Presdir..,” sahut Pieter singkat.
“Kenapa menghubungiku? Kamu merindukanku Hah!” tanya Pram kasar. Tidak biasanya Pieter menghubunginya hanya sekedar untuk basa-basi. Dia sudah mengenal Pieter lama, bukan baru kemarin.
“Ti..tidak Presdir, saya hanya ingin mengetahui saja.” Pieter menjawab terbata-bata. Dia tidak bisa memberi jawaban yang lebih masuk akal. Ide untuk menghubungi Pram tercetus tiba-tiba. Itu pun karena dia melihat Kailla yang sedari tadi memikirkan suaminya.
Senyap—
Tidak terdengar jawaban dari Pram sama sekali. Sampai akhirnya hubungan telepon diputuskan sepihak oleh Pram dari seberang. Sebagai gantinya, tak lama kemudian ponsel Kailla yang berdering.
“Suamiku..,” ucap Kailla pelan, menatap Pieter begitu sudah mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan melihat nama Pram tertera di layar. Dia ragu untuk menjawab, tapi kalau tidak menjawab malah akan membuat suaminya khawatir.
“Iya.. Sayang,” jawab Kailla ragu dan sedikit takut. Kalau sampai Pram tahu dia masih di kantor, Pram pasti memarahinya. Mengomelinya tidak selesai-selesai.
“Kamu sudah makan siang, Sayang?” tanya Pram lembut.
“Belum..., kamu masih di luar? Masih lama kembali ke kantor?” jawab Kailla dan balik bertanya. Dia bernafas lega saat Pram tidak menanyakan keberadaannya.
“Aku belum tahu. Jangan lupa makan siang. Nanti aku akan menghubungimu lagi ya. Aku mencintaimu,” ucap Pram sebelum mematikan panggilan teleponnya.
Setelah mematikan panggilan teleponnya, Kailla langsung meraih tas tangannya dan berpamitan dengan Pieter.
“Kak, aku pulang dulu ya,” pamit Kailla sambil tersenyum.
“Kamu tidak jadi menunggu Pram?” tanya Pieter.
Kailla menggeleng, “ aku harus pulang sekarang.”
“Kamu belum makan siang kan. Mau aku pesankan? Makanan kesukaanmu? Mau?” tawar Pieter lagi.
Kailla menggelengkan kepala.
“Aku mau pulang saja.” Kailla menjawab tanpa ekspresi.
Entah kenapa, telepon Pram barusan sedikit mengganggu suasana hatinya. Rasa laparnya jadi hilang seketika. Ada secuil rasa bersalah, karena membantah ucapan suaminya. Pram sudah memintanya untuk pulang ke apartemen sejak tadi pagi. Tapi dia malah bersikukuh untuk menunggu suaminya itu di kantor. Dia tidak bisa membayangkan akan semarah apa Pram, saat mengetahuinya membantah dan berbohong.
“Kai..., kamu baik-baik saja?” tanya Pieter ketika melihat Kailla melamun dan tidak fokus.
“Eh... iya, aku baik-baik saja. Baiklah, aku pamit ya. Aku harus kembali,” ucap Kailla berjalan ke arah pintu.
Begitu Kailla membuka pintu ruangan Pieter, dia terkejut melihat Bayu sudah berdiri di hadapannya.
“Astaga Bay! Kamu mengagetkanku!” ucap Kailla sambil menepuk dadanya. Dia benar-benar tidak menyangka Bayu akan berdiri di balik pintu ruangan Pieter
“Maaf Non,” Bayu menjawab singkat.
“Sejak kapan kamu menunggu disini Bay?” tanya Kailla heran.
“Barusan Non. Pak Pram barusan menghubungiku. Minta aku menjemput Non disini,” jawab Bayu menjelaskan. Kailla langsung menutup mulutnya seketika.
“Suamiku tahu kita masih disini?” tanya Kailla sambil berbisik. Segera dia menutup pintu, supaya Pieter tidak mendengar percakapan mereka.
“Tadi Pak Pram menghubungiku dan bertanya sedang ada dimana. Maaf Non, aku cerita kita masih di kantor. Dan Pak Pram langsung memintaku menjemput Non di tempat Pak Pieter,” jelas Bayu lagi.
“Apa suamiku marah?” Kailla berbisik pelan, takut suaranya terdengar orang lain.
“Pak Pram tidak marah, dia hanya memerintahkanku menjaga Non,” jawab Bayu.
“Ayo Non, kita jalan. Sopir sudah menunggu di bawah,” ajak Bayu.
***
Sepanjang perjalanan, Kailla tidak bisa duduk tenang. Ada rasa takut dan bersalah di dalam hatinya. Dia berusaha memejamkan matanya, supaya pikirannya sedikit lebih tenang. Rasa lapar di perutnya seketika menghilang. Memikirkan Pram yang akan memarahinya seketika menghancurkan moodnya.
Setengah jam kemudian, mobil yang ditumpangi Kailla terlihat masuk ke dalam parkiran sebuah restoran. Sedangkan Kailla sudah terlelap di kursi belakang sejak beberapa menit yang lalu. Dia sudah tidak tahu apa-apa lagi, sampai seseorang membuka pintu mobil dan membangunkannya.
“Kai..., Kai... bangun,” panggil Pram sambil menepuk lembut pipi istrinya.
“Hmmmm, aku masih mau tidur,” sahut Kailla masih dengan mata terpejam. Tampak dia bergelayut manja di leher Pram yang saat itu masih berdiri dan membungkukan badannya masuk ke dalam mobil.
“Bangun Sayang! Ini aku, suamimu Pram. Bukannya kamu sejak tadi ingin bertemu denganku?” ucap Pram sedikit keras supaya istrinya terbangun.
Deg—
Mendengar suara Pram, kesadaran Kailla tiba-tiba berkumpul kembali, perlahan dia membuka matanya dan melihat Pram sudah ada di depannya. Awalnya dia tersenyum bahagia, tapi beberapa detik kemudian di menunduk, senyuman itu hilang seketika.
“Maafkan aku,” ucap Kailla pelan.
“Ayo kita makan! Aku sudah memesan makanan kesukaanmu,” ucap Pram lembut, sambil tersenyum. Tampak dia meraih tas Kailla di kursi mobil dan membantu istrinya turun dari mobil.
“Benarkah?” tanya Kailla tersenyum. Melihat senyuman Pram seketika ketakutannya hilang. Segera dia berjalan sambil memeluk erat lengan Pram masuk ke dalam restoran.
Tampak di atas meja sudah tersedia makanan kesukaan Kailla. Pram benar-benar memesan semua yang disukainya, sampai dia bingung harus memulai dari mana.
“Kamu menyukainya?” tanya Pram membantu Kailla duduk dan bersiap menyantap makanannya.
“He.emm..,” gumam Kailla.
“Makanlah! Setelah ini kamu harus segera pulang. Aku masih harus melanjutkan meetingku. Mereka sedang menungguku saat ini,” jelas Pram. Dia memilih duduk di hadapan Kailla supaya lebih leluasa menatap istrinya.
“Mitha?” tanya Kailla.
“Iya, Mitha yang menemani mereka saat ini,” jawab Pram.
“Kamu tidak makan Sayang?” tanya Kailla sambil menyendokkan salad ke dalam mulutnya.
Pram menggeleng, kedua tangannya tertumpu di atas meja.
“Sebelum ke sini aku sudah makan siang bersama klien,” jawab Pram singkat.
Pram benar-benar menikmati pemandangan di hadapannya. Istri kecilnya sedang menyantap makan siangnya dengan lahap. Sepertinya Kailla melewatkan sarapan paginya.
“Pieter kira wanita polos ini adalah gadis bodoh yang mudah ditaklukan. 20 tahun aku bersamanya. Aku sendiri tidak yakin sampai nafasku berhenti bisa menaklukannya. Sampai sejauh ini, hatinya hanya milik Riadi Dirgantara. Seutuhnya, hati itu masih milik Riadi karena dia sendiri menolak membuka hatinya untuk orang lain.
Pram tersenyum kecut.
***
Terimakasih. Love you all.